Tag Archives: #nelangsa

Nelangsa Hari Ini

Jakarta, 2 Desember 2013,

ne·lang·sa a sedih (sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Mungkin, hari ini saya tak menunjukkan ekspresi nelangsa saya seperti biasa: muram, pura-pura menguap–untuk menutupi air mata, tentu saja–, lantas menyendiri dalam ruang kontemplasi. Bersemedi. Menjadi antisosial. Menjadi strangers. Lalu, mulai memenuhi otak saya dengan energi-energi negatif, yang akan membuat saya tidak mood seharian.

Hari ini, saya merasakan nelangsa. Sedih. Suram. Hanya, tak seperti biasanya.

Saya nggak punya alasan logis untuk merasakan lara. Saya nggak punya sebab musabab rasional untuk menikmati sendu. Pun, saya sedang enggan berkecimpung dalam dimensi drama.

Lalu, kenapa, di antara ruang-ruang di hati saya, seakan terdapat benang gelasan kusut yang bertalian menyayat perlahan?

Kenapa saya melihat tinta hitam membuat garis tabrakan tak beraturan di otak kecil saya?

Kenapa saya meresapi suara letupan berdendang nyaring di kepala?

Kenapa saya merasakan nestapa?

……..

Mungkin, karena sedih itu konsumsi publik. Kosong itu tak berarti sepenuhnya hampa. Lalu, air mata adalah klimaksnya.

Mungkin, karena masa depan itu nisbi. Masa lalu itu memori. Dan masa kini bergerak layaknya kilat.

Atau, mungkin–paling mungkin–karena akhir-akhir ini, saya merasakan satu hal: saya bukan saya.

Nestapa hari ini aneh. Tak biasa. Tak seperti biasanya. Tak mampu membuat saya menangis, barang setetes pun. Tak mampu mengubah emosi saya secara merajalela. Tak mampu menghunuskan sembilu imajiner tertuju di hati.

Kemanakah “saya”? Apakah sedang berlayar di tengah gelombang jalang? Ataukah terasing dalam sebuah penjara maya? Ataukah terperangkap dalam balik dimensi kaca nun jauh di sana?

Atau, kenyataannya, inikah “saya”, yang tak lagi merasa suatu apa?

#np Polyester Embassy – Faded Blur

kandela-

Iklan
Dengan kaitkata , ,
Iklan