Diari Rendahan

Jakarta, 21 Januari 2015,

Pernahkah otakmu bebal, tersumbat, seperti ada butiran gundu yang bertarung di dalam setiap ruas lajurnya?

Ya. Itu saya. Saat ini. Yang mungkin, sedang sangat-amat tidak menyukai diri sendiri. Sedang merasa kecil, sekecil-kecilnya. Serendah-rendahnya. Sehina-hinanya.

Salah satu sumber suara di kepala saya tengah berkecamuk dengan lantangnya: “Kamu bukan apa-apa! Kamu cuma seorang beruntung yang diberkahi waktu seperti sekarang ini. Sisanya, kamu tak lebih dari angin lalu yang kemudian dilupakan. Kemudian dihapuskan dari ingatan. Ya. Kamu serendah itu. Serendah itu.”

Lalu kemudian, muka saya mulai memanas. Beriringan dengan benang-benang halus di ujung mata saya yang mulai memerah. Mulai beranjak perih. Pedih.

Lalu nafas saya mulai tersengal. Udara pun enggan masuk ke dalamnya. Enggan menyusup dan hinggap di paru-paru saya. Sesak. Seperti ada lubang besar menyelesak yang membuatnya menyerupai lubang hitam di angkasa raya. Iya. Itu tadi. Menyesak. Sesak.

Lantas, seperti yang sudah diprediksikan, pikiran saya meronta. Membabi buta. Ingin mencabik apapun yang bisa dicabik. Ingin melempar apapun yang bisa dilempar. Tapi, nyatanya, saya bisa apa? Saya cuma bisa mengeluarkan air mata, yang, mengalir, sangat, deras. Sangat keras. Tanpa suara. Tanpa kata. Tanpa omongan lantang, yang biasa dilakukan orang-orang.

Iya. Saya, yang rendah ini, cuma bisa menangis, melakukan pengaduan tak bertuan yang hanya bisa diteriakkan dalam diam.

Lalu saya tahu. Saya, yang rendah ini, mungkin harus pergi dari sini. Harus hilang dari sini.

Iya.

Hilang. Dari. Sini.

-kandela-

Iklan

Ini Tanggal Sepuluh, Ini Harinya

Jakarta, 10 Desember 2014,

“Enggak ada Kanne seminggu, kamar jadi rapi banget, kaya ada yang kurang,” ujarnya, ujar wanita bermata cokelat muda yang tengah berbaring santai di sana. Di tempat tidur berangka putih, yang tepat berada di seberang kamar saya. Tempat saya—dan beliau—sering mengisi detik, menit, jam; dengan cerita, dengan tertawa, dengan tangisan, dengan gembira, dengan perih, dengan cemberut, dengan ini, dengan itu.

Lalu, ia tersenyum. Ia tersenyum karena melihat saya, anaknya yang telah ia tunggu sejak pagi tadi, baru saja pulang. Pulang membawa seutas bunga mawar putih, dengan sebatang cokelat kesayangannya. Ya. Beliau adalah penyuka cokelat. Adiktif. Dan penyuka bunga. Tentunya.

Dan, seingat saya, bunga mawar putih ini memiliki definisi: kasih sayang. Saya, yang sangat kaku dan enggan mengucap kata-kata itu lewat verbal, ingin beliau mengerti, kalau saya-sangat-menyayanginya-tanpa-perlu-syarat-apa-apa.

Saya ingat wajahnya yang selalu menunggu saya di depan pintu. Menunggu saya yang tak kunjung mengangkat telepon. Saya yang tak membalas pesan. Saya yang tak pulang-pulang, padahal hari sudah malam.

Wajahnya yang pasti cemberut, dengan mulut terkatup, dan membentuk bulan sabit terbalik. Mata tajamnya seakan enggan melihat saya. Saya yang susah diatur, menurutnya. Saya yang main melulu, menurutnya. Saya yang sepertinya enggak bisa diharapkan, menurutnya. Saya yang ngajak berantem terus, menurutnya.

Tapi di luar itu, di luar amarahnya yang sering tak stabil, sering berapi-api—terutama kalau saya dan dia tengah berdebat tentang ini, tentang itu—beliau tak sungkan-sungkan berdiri paling depan, bila ada sosok lain yang kasak-kusuk berbicara buruk tentang saya. Beliau akan selalu melindungi saya.

Tak terkecuali saat ini, saat beliau—orang yang saya sebut dengan Mama—sudah tak memiliki jasad bernyawa di atas tanah bumi.

Beliau adalah salah satu manusia yang akan selalu menyayangi saya, apapun keadaannya. Seperti apapun saya. Seburuk apapun saya.

Dan, sama halnya dengan saya.

Karena, perasaan mah enggak akan putus, berkat bantuan tumpukan lembaran memori di laci-laci maya. Berkat bantuan air mata. Berkat bantuan beragam memento yang jadi pemantik. Berkat bantuan bunga tidur. Berkat semua cerita yang pernah ada.

Dan, saya tahu, beliau tengah tersenyum di sana, melihat saya yang mengingatnya. Yang mengenangnya.

Karena beliau enggak pernah ke mana-mana, kok.

Happy birthday, Ma! Selamat mengulang hari kelahiran untuk kesekian kali!

I love you, as always.

#np Spice Girls – Mama

-kandela-

#2: Sigur Ros – Hoppipolla

Jakarta, 3 Desember 2014,

A song that helps me clear my head. 

Brosandihendumst í hringi
Höldumst í hendur, allur heimurinn óskýr
Nema þú stendur…

(Sigur Ros – Hoppipolla)

Enggak jarang orang nanya: lo anaknya hipster banget yak, nggak tahu arti lagunya, tapi lo dengerin terus menerus, sampai bela-belain nonton konsernya deh. 

Well, kalau boleh jujur, salah satu grup musisi luar yang selalu mengisi playlist saya adalah Sigur Ros. Dan, lagu bertajuk “Hoppipolla” ini adalah lagu Sigur Ros pertama yang langsung merasuk ke telinga saya, sejak tahun 2006 lampau. Terhitung telat, sih, soalnya tembang ini ada di dalam album kelimanya, yang berjudul “Takk…”.

Band asal Islandia ini sendiri sebenarnya sudah terbentuk sejak tahun 1994. Yang pasti, saat itu saya masih mendengar lagunya Trio Kwek-kwek, dkk, sih. Ya iya lah, waktu itu kan saya masih 7 tahun, mana mungkin boleh ngedengerin beginian sama Mama. 

Tapi, satu hal yang saya ingat, band inilah yang bisa bikin saya rela menabung selama beberapa bulan, demi membeli tiket konsernya, pada Mei 2013 lalu, di Jakarta, tepatnya di Lapangan Tennis Indoor Senayan. Sebenarnya, saya nyaris menonton konser fenomenalnya di Singapore beberapa bulan sebelumnya–yang konon diwarnai oleh hujan nan magis, ketika encore mulai dimainkan–hanya ada satu dan dua kendala yang membuat saya batal berjodoh menontonnya kala itu.

Kembali ke “Hoppipolla”, yang artinya “Hopping into Puddles” (Melompat ke Genangan Air), sesuai tema hari kedua–a song that helps me clear my head–lagu ini selalu berhasil membantu saya berkontemplasi. Membantu saya menenangkan diri. Membantu saya menghimpun mood menulis saya yang kadang kabur dan berkelana entah ke mana.

Mulai dari dentingan piano di bagian intro, suara vokal falsetto khas Jonsi, serta aransemen klimaks yang penuh permainan emosi; semuanya mampu membuat saya terhenyak sesaat. Membuat saya terlelap, tersedot masuk ke dalam dunia lamunan untuk sejenak.

Omong-omong, arti lirik lagu ini pun bagus lho! Lebih baik mengerti isi lagu yang kita dengarkan, bukan, daripada cuma sekadar ikut-ikutan?

Smiling, spinning ’round and ’round
Holding hands, the whole world a blur
But you are standing

Soaked, completely drenched

No rubber boots, running in us
Want to erupt from a shell

The wind, and outdoor smell of your hair

I breathe as hard as I can
With my nose

Hopping in puddles

Completely drenched
Soaked, with no boots on

And I get nosebleed
But I always get up

[Hopelandic]

Jadi, ada yang mau ikut berkontemplasi dengan saya?

-kandela-
Dengan kaitkata

#1: Beach Boys – God Only Knows

Jakarta, 2 Desember 2014,

A song that makes me happy. 

I may not always love you,
But long as there are stars above you,
You never need to doubt it,
I’ll make you so sure about it…

(Beach Boys – God Only Knows)

Mungkin, sudah sepuluh tahun lamanya sejak saya pertama mendengar lagu ini. Sejak saya menonton film bertajuk “Love Actually”, tepatnya di scene-scene akhir di bandara: ketika semua tokoh bertemu dengan pasangan dan keluarganya, saling berpelukan, saling menggenggam tangan.

Setelah itu pula, lagu yang sebenarnya sudah dirilis sejak tahun 1966 ini selalu berhasil menghadirkan euforia dan kesenangan pribadi, ketika tiba-tiba saya mendengarnya secara tak sengaja.

Kebetulan, film “Love Actually” merupakan salah satu drama ringan yang enggak pernah bikin saya bosan untuk menontonnya berulang-ulang. Dan, kebetulan, film ini pula yang sedikit “menyembuhkan” rasa patah hati yang kala itu saya alami, ketika saya masih duduk di bangku SMA. Tak heran, film ini terasa begitu “personal” bagi saya, bukan?

Pun, entah kenapa, lagu yang sempat ngehits pada masanya tersebut memiliki lirik sederhana, yang membuat kupu-kupu di perut saya enggan diam di sangkarnya.

Seperti biasa, mereka membuat wajah saya memerah. Memaksa saya untuk tersenyum semanis-manisnya. Dan mendengarkan lagu ini sampai usai. Sampai berganti jadi lagu lain lagi.

Lantas, pikiran saya mulai jauh berkelana dengan bebasnya di luar sana. Menelusuri ke mana jejak kupu-kupu itu menuju. Ke mana kupu-kupu itu akan bertengger. Bergumul hebat di udara, mencari tempat mendarat yang tepat, pada saat yang tepat. Tempat saya menanamkan gelitik itu. Perasaan itu. Keyakinan itu.

Tempat yang membuat saya bisa melantunkan lirik ini, lagi: God only knows what I’d be without you…

Kapan ya…?

Pada saatnya, Candella…

Anyway, lagu ini jadi pembuka 30 Days Song Challenge yang tertunda sekian bulan. Kenapa? Tujuannya sederhana kok, biar seenggaknya, euforia bahagia mampir lagi ke hari-hari saya yang sedang super-stagnan ini.

Semoga berhasil membuat bahagia.

Amin.

🙂

-kandela-

Dengan kaitkata

Tergelitik, Menggelitik, Lagi

Jakarta, 22 September 2014,

Kamu hebat.

Sudah 14 kali 24 jam, kamu memaksa mereka–para gelitik yang tengah nyenyak terlelap–untuk bangun lagi, setelah sekian lama mati suri.

Mungkin kamu menyiram muka mereka dengan air dingin 4 derajat Celcius. Mungkin kamu diam-diam memukul kentongan berbentuk cabai, yang nyaring layaknya Siskamling. Mungkin kamu memperdengarkan lagu berdistorsi tinggi, tepat di telinga mereka, sampai mereka membuka matanya.

Atau mungkin, kamu mengecup pipi mereka satu per satu, hingga wajah mereka memanas, memerah, membuat mereka terjaga seketika. Membuat mereka bergerak aktif. Mengepakkan sayapnya dengan lincah. Menyentuh dinding-dinding organ perut dalamku, menggelitiknya, lantas membuat jantungku berdebar keras. Berdetak kencang.

Apa yang kamu lakukan, ujarku. Tanyaku. Padamu.

Lalu kamu hanya bersandar pada tiang batu, tiang bebatuan kecokelatan yang menempel di depan terasku, sambil sesekali menghisap asap, asap nikotin, yang tersembunyi dalam batang putih-jingga di tanganmu.

Hey. Apa yang kamu lakukan, ujarku lagi, melihatmu yang tak mengeluarkan suara, barang satu patah kata.

Kamu terdiam. Berpikir. Lalu tertawa. Hingga kulit di ujung matamu mengerut, mengikuti gerak matamu yang menyipit, tulang pipimu yang terangkat, dan mulutmu yang menyeringai lebar. Pemandangan yang membuat gelitik di perutku semakin tak mau diam. Membuatku berusaha keras untuk menahannya.

Apa yang kamu lakukan, kuulang kembali pertanyaanku. Padamu. Kamu yang mencoba tidak menjawabnya. Ya. Yang pura-pura tidak mendengarkannya.

Aku ikut tersenyum melihatnya. Melihatmu. Melihat kamu yang mencoba mengalihkan perhatianku dengan perbincangan lain: politik, film, budaya, musik, sosial, filosofi, pekerjaanmu, pekerjaanku. Lalu, tentu saja, orientasi pertanyaanku teralihkan. Terlupakan.

Kali ini aku berhenti bertanya. Apa yang kamu lakukan, aku hanya mengeluarkan mimik ingin tahu-ku.

Lantas, aku mulai memperhatikan matamu, yang sibuk dengan koloni semut merah di sekitar tempat dudukmu. Memperhatikan bibirmu, yang sibuk menyesap kopi panas di cangkir biru itu. Memperhatikan urat-urat yang menyembul di antara jari jemarimu.

Lima menit aku menatapmu. Menyadari para kaum gelitikku terbangun karena hal-hal kecil darimu, dariku: obrolan seringan bulu, hingga diskusi kelas kakap; senyumanmu yang mengarah ke wajahku, senyumanku yang mengarah ke wajahmu; dan terakhir, mataku, matamu, yang saling bertukar cerita.

Lalu suara beratmu mulai menyeruak perlahan.

Katamu, mungkin saja kita berhenti. Mungkin saja aku tak bisa di sini. Kamu tak bisa di sana. Mungkin saja aku menghilang. Kamu menghilang. Mungkin saja aku menyerah. Kamu menyerah.

Katamu, mungkin gelitikku akan tidur lagi. Mungkin ia akan berganti jadi sesak berbuah luka. Lalu, ia akan menutup sendiri. Membuatku melupa lagi. Melupa bahwa gelitik itu pernah ada.

Apa yang akan kamu lakukan, ujarmu. Tanyamu. Padaku.

Gantian, sekarang aku yang terdiam. Aku yang enggan melihatmu. Aku yang sibuk memperhatikan koloni semut itu. Aku yang sibuk meneguk air yang sudah tak ada. Aku yang salah tingkah.

Gantian, sekarang kamu yang melihatku. Melihatku yang tak bisa menahan limpah ruah gelitik itu. Melihat wajahku yang memerah, memalu. Melihat isi pikiranku yang bercabang seribu. Bercabang dengan diksi “mungkin” yang ada di depannya.

Dan gerombolan gelitik itu bergerak tambah kencang. Membuatku mual. Membuatku pening. Pusing. Karenamu. Karenamu yang ada di sana. Sejauh tiga per empat meter dari pijakan kakiku. 

Tapi, kamu yang membuatnya. Pun kamu yang menyembuhkannya.

Sudah. Aku sayang sama kamu. Itu yang penting. Ya? 

Demikian ujarmu. Yang kembali membuatku terhenyak. Tersesat dalam senyap.

Lalu, aku, kamu, kita terhanyut bersama. Dalam sebuah rasa.

Dan sepertinya, kerumunan gelitik itu sedang berpesta pora di dalam sana.

#np Anda Perdana – Dalam Suatu Masa

-kandela-

30 Days Song Challenge: Eargasm, Heartgasm, to Write-able!

Jakarta, 4 September 2014,

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengikuti tantangan lucu-lucuan bertajuk “30 Days Song Challenge” dalam salah satu akun media sosial saya. Enggak cuma sekadar ikutan tren, ternyata tantangan seperti ini memaksa tangan saya mencari koleksi lagu di hard disk, lalu menyesuaikannya dengan tema per hari. Bahkan, saking niatnya, saya enggak jarang mencarinya di situs pemutar video dan lagu–seperti Youtube dan Soundcloud.

Jujur saja, tantangan lucu-lucuan ini memang sukses menjadi hiburan. Bikin mood yang lagi bosan-bosannya, kembali ke jalan yang seharusnya: menjadi bahagia. Jadi semangat lagi.

Setelah dipikir baik-baik, sepertinya enggak masalah kalau saya memindahkan tantangan ini ke WordPress saya, mengubahnya menjadi sebuah rangkaian kata–baik itu fiksi atau sekadar diari. Lagipula, selama ini, musik menjadi salah satu hal primer penghasil inspirasi, pembawa ide, penghadir mood menulis.

Who knows, dengan proyek pribadi iseng-iseng seperti ini, tulis-menulis kembali menjadi kebutuhan utama saya lagi, setelah selama ini kecintaan saya mulai dirusak, dirajam, dihancurkan oleh segala sesuatu berbau materi.

🙂

Here’s the challenge, anyway!

Candella Sardjito

So, enjoy my 30 days song challenge, please! 

-kandela-

 

Euforia 1708

Bandung, 17 Agustus 2014,

Beda pengalaman, beda masa, maka beda hati. Beda pola pikir. Beda sudut pandang. Ya, meskipun telah tertulis di kalender, telah terlontar dalam lirik lagu, telah tertoreh pada baliho-baliho berbiaya besar di pinggir jalan raya–bahwa tanggal 17 Agustus merupakan Hari Kemerdekaan Indonesia–rasanya setiap kepala memiliki pandangan beragam terhadap hari besar ini.

Hari ini adalah hari perayaan ketika panjat-panjat tiang dibebaskan, dan bisa makan kerupuk sepuasnya; ujar seorang anak menjelang remaja, penggiat Karang Taruna di perumahannya.

Hari ini adalah hari menyebalkan ketika pagi-pagi harus upacara, padahal tanggal merah; ujar seorang pria berseragam khakhi, pegawai institusi negara.

Hari ini adalah hari ketika si bungsu didandani pagi-pagi–memakai kebaya, sanggul sekian kilo, dan gincu merah menyala–demi ikut karnaval keliling kompleks; ujar seorang ibu berusia 36 tahun, dengan sedikit rambut putih menyembul dari ujung poninya.

Hari ini adalah hari ketika film-film lokal seru muncul di TV; ujar seorang mahasiswa, penikmat hari libur seperti orang lainnya, mantengin TV dari pagi hingga pagi lagi.

Hari ini adalah hari ketika diskonan beredar di mana-mana; ujar seorang wanita gila belanja, dengan tahi lalat di pipi kanannya dan jinjingan tas–yang biasa hadir di majalah-majalah fashion–tergantung manis di lengannya.

Hari ini adalah hari ketika puncak gunung penuh riuh oleh kami, yang ingin mengibarkan bendera di sana; ujar seorang pecinta alam, dengan tas carrier merah di punggung, kemeja kotak-kotak, celana PDL tebal, dan syal terikat di kepalanya.

Hari ini adalah hari penuh keriaan, ketika panggung hiburan dangdut akan memeriahkan terminal kami; ujar seorang pengemudi angkot berwarna hijau strip hitam, dengan handuk Good Morning lembap bertengger di leher.

Hari ini adalah hari di mana kami sibuk mencari quotes dan gambar bagus di internet, lalu kami post di akun sosial media kami; ujar seorang remaja penggiat dunia maya–yang setiap harinya biasa berbincang menggunakan bahasa campur sari, kadang Indonesia, kadang bahasa asing–dengan mata tertahan pada gadget, dan tangan sibuk menyentuh layarnya perlahan.

Hari ini adalah hari di mana rasa nasionalis palsu bermunculan di mana-mana, di sosial media, di blog, di status aplikasi chat; ujar seorang pria berwajah sinis, dengan kaus bertuliskan “REBELLION” di dadanya.

Hari ini adalah hari ketika kami mengambil gaun dan high-heels merah merekah kami dari lemari, mempersiapkan party nanti malam yang sudah dinantikan; ujar seorang perempuan muda, penyuka pesta, penganut paham hedonisme ibukota.

Hari ini adalah hari ketika playlist lagu nasional dan lagu cinta tanah air mengudara kembali di mana-mana; ujar seorang penyiar radio, dengan suara berat yang menjadi identitasnya.

Hari ini adalah hari ketika jantung kami berdegup kencang, takut bendera yang kami kibarkan terbalik warnanya; ujar seorang Paskibra, berseragam putih-putih, dengan topi semacam kopiah hitam beludru, dengan pin Garuda di salah satu sisinya.

Hari ini adalah hari penuh euforia, seperti apapun maknanya. Artinya. Tujuannya. Merayakan kelahiran Indonesia 69 tahun yang lalu, ketika kemerdekaan menjadi sesuatu yang dinantikan. Ketika siaran pembacaan Teks Proklamasi di radio membuahkan sorak gembira. Ketika, kala itu, entah seperti apa rupanya, bangsa Indonesia–yang kini seperti dibuai oleh dunia gemerlap mancanegara–berhasil meraih kemerdekaannya sendiri.

Ya. Kini, momentum kemerdekaan pun beralih menjadi keriaan, hingar bingar, perayaan; sisi positifnya, perayaan hadir tanpa memedulikan perbedaan suku bangsa, ras, agama, atau apapun itu, pencetus perpecahan yang belakangan marak diperbincangkan.

Sekejap, semua melebur tanpa kenal nama. Asal-usul. Latar belakang. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” tercapai, walau cuma untuk satu hari saja.

Ya. Harusnya, momen yang hanya berlangsung setahun sekali ini, adalah titik balik untuk jatuh cinta lagi pada tanah air sendiri. Untuk menghargai lagi konsep negara yang dimiliki Indonesia, seperti apapun isinya. Seperti apapun bentuknya.

Lalu, apa arti hari ini untuk saya sendiri?

Sederhana. Hari penuh euforia yang membuat tangan saya gatal untuk menulis lagi. Mendokumentasikan arti tanggal 17 Agustus dalam rangkaian diksi, menjadi sebuah kado kecil untuk yang sedang mengulang “kelahiran” hari ini.

Dirgahayu, Indonesia!

#np Pandai Besi – Menjadi Indonesia

-kandela-

Hari Raya: Tentang Euforia, Memento, dan Bersyukur

Bandung, 27 Juli 2014,

Malam ini, tentu saja, dipenuhi oleh suara kembang api yang memekik tinggi, berpadu dengan gema takbir yang berkumandang halus di rumah-rumah ibadah umat Muslim–masjid. Tentu saja pula, pusat perbelanjaan pengumbar potongan harga besar-besaran dipenuhi orang. Disesaki oleh gerombolan pencari baju baru, demi menyambut hari raya. 

Entah sejak kapan, hari besar agama menjadi sebuah keriaan. Perayaan. Perhelatan berbekal euforia. Ya, enggak munafik, saya pun berada di antara orang-orang itu, kok. Ada di antara orang-orang yang lebih senang mencari diskonan, ketimbang memanjatkan doa di rumah ibadah.

Di luar itu semua–entah apakah orang menganggap hari raya ini sebagai hari besar agama atau hari penuh euforia–sekali lagi saya melihat hari raya, sebagai sebuah memento. Mesin waktu. Peranti pengingat. Yang mampu membuat saya menatap kembali apa-apa saja yang telah berlalu. Apa-apa saja yang sudah raib, menghilang, dan tinggal cerita. Apa-apa saja yang masih ada, yang harus disyukuri eksistensinya.

Lalu, saya terdiam. Ya, tepat ketika rumah saya lengang tanpa seorang manusia pun, kecuali saya yang sedang sibuk menaati euforia hari raya, yang sedang sibuk mempersiapkan hari esok, hari suci dalam agama saya, yang sedang sibuk bercanda dengan perangkat masak, yang seakan mengindahkan suara-suara di samping kiri dan kanan saya.

Lalu, rasa itu muncul.

Ya. Rindu.

Rindu beliau yang berwajah ke-Turki-turki-an yang selalu heboh ke supermarket dengan matanya yang berbinar. Rindu beliau yang pernah marah-marah saat H-1 Lebaran, cuma karena saya ngerusakin karpet barunya dengan setrika. Rindu beliau yang rajin neleponin saya, terus bertanya, “Kanne di mana? Jam berapa pulang? Bantuin masak!”. Rindu beliau yang 3 tahun lalu masih ada. Masih ngebisikin apa saja yang harus saya lakukan untuk memasak hidangan hari raya. Iya. Rindu.

Jarak itu yang membuka ruang bagi rindu untuk bernapas. Untuk sekadar mampir dan menyentil, berbuah rasa sepi yang luar biasa.

Namun, mendadak, saya ingat obrolan saya dengan ayah saya tercinta beberapa saat yang lalu. “Sebenarnya, pada hari raya itu, sebaiknya silaturahmi dulu dengan sosok-sosok kerabat yang masih ada. Harusnya sih begitu,” ujar Ayah dengan mata penuh keyakinan. 

Intinya, meskipun memento itu kencang bergemuruh, lantas membuat nelangsa (yang mungkin) berkepanjangan, enggak ada salahnya menyimpannya di etalase rahasia. Tidak menutupnya. Tapi tidak pula rajin menyentuhnya. Biar dia ada di sana. Beristirahat di tempatnya. 

Lalu, dengan sendirinya, rindu pun berubah wujud. Jadi bersyukur. Jadi berterima kasih. Jadi berbahagia. Masih diberikan usia, kesehatan, kedamaian; untuk merasakan keriaan, untuk merasakan euforia, di hari raya. 

So, selain mencari diskonan, berburu kuliner khas Lebaran, berbelanja baju layak di hari raya, dan lain sebagainya; enggak ada salahnya, mulai memeluk orang-orang terdekat, bersyukur tanpa batas waktu, dan mulai mengucapkan tiga kata sakti di hari raya ini: Saya. Sayang. Kamu-anda-kalian.

Selamat hari raya Idul Fitri, semuanya! Selamat merayakan kemenangan dengan khusyuk, dan saling menghargai.

Mohon maaf lahir batin, jika terdapat banyak kesalahan yang saya lakukan, baik di kehidupan nyata, atau di dunia maya. 

Dan, jangan lupa, mari kita–saya, kamu, kami, kalian–bersyukur bersama! 

#np Float – Surrender

“Let’s just celebrate today!”

🙂

-kandela-

Pura-pura

Jakarta, 7 Juli 2014,

Saya cuma enggak bisa tidur nyenyak-makan tenang-mendengar musik riang-melamun sambil tersenyum-mengerjakan yang harus dikerjakan-menikmati film komedi di TV-tertawa lepas seakan semua enggak pernah terjadi. Enggak pernah ada. Enggak pernah muncul. Enggak pernah terbesit.

Lalu, saya kembali mencuri lihat wajahmu dari kejauhan. Dari jarak belasan lampu merah dari tempatmu mengadu mimpi. Dari layar kaca berisikan dimensi maya di baliknya. Berisikan pengingat wajahmu. Senyummu. Tingkahmu. Ucapanmu. Ocehanmu.

Lalu, saya kembali mencari namamu dalam indeks memori saya. Nama yang berusaha saya hapus dari sana. Berusaha saya alihkan tempatnya–bukan sebagai pengisi hati, pengisi hari, tetapi berusaha melihatmu seperti kamu melihat saya: seorang teman yang biasa saja. Tanpa embel-embel apapun.

Lalu, saya mencoba merobeknya, merobek buku imajiner yang memuat namamu di dalamnya. Berusaha menyimpan lembarannya dalam sebuah peti bergembok baja lima puluh kilo. Biar saya tak sekali-sekali ingin membukanya lagi. Membuka perasaan saya lagi. Membuka harapan saya lagi.

Lalu, saya akan berpolah biasa ketika bertemu muka denganmu. Tidak berbinar. Tidak berdebar-debar. Tidak memerah. Tidak pula mengingat setiap detailnya dengan tersenyum. Tidak.

Karena saya akan berpura-pura, seperti biasa.  Berpura-pura, bukan kamu yang tanpa sengaja menyusupkan benih kupu-kupu di perut saya. Berpura-pura bahwa bukan kamu yang ada di sana, di labirin pikiran saya, di buku memori tentang perasaan saya.

Lalu kamu berlalu. Karena kamu tak tahu.

Lalu saya berlalu. Karena saya tak mengizinkan kamu untuk tahu.

Cukup, kok. Cukup.

-kandela-

Lepas

Jakarta, 2 Juni 2014,

Lagi. Jari saya kembali membolak-balikkan layar smartphone sembari sedikit menyentuhnya. Sampai-sampai, guratan jejak jari membekas di atas permukaannya. Ujung mata saya melirik sedikit, dengan soundtrack debaran kencang yang disertai nafas sesak. 

Lagi. Jari saya patah hati. Mata saya patah hati. Jantung saya patah hati. Paru-paru saya patah hati. Ya. Saya patah hati, tepatnya. Tidak ada notifikasi, tulis sang mesin pintar, otak di balik telepon genggam tersebut. Ya. Saya patah hati. 

Lalu, seperti anak kecil yang tersakiti, saya ingin membuangnya. Membuang harapan berupa aksara yang bertuliskan namamu di dalamnya. Membuang ingatan saya yang mengharapkannya. Pernah sangat mengharapkannya. Paling tidak, menyembunyikannya, sampai waktu membuat saya terbiasa. Jeda membuat saya terbiasa. Terbiasa tak melihat namamu di alam bawah sadar saya.

Lalu, suatu saat, mungkin saya akan lupa kalau kamu pernah ada. Mungkin saya akan lupa bahwa namamu pernah tertulis di sana. Mungkin saya akan lupa kalau saya pernah mengharapkan namamu tertulis di sana. 

Seperti kamu. Yang berusaha melupakan saya. Membuang saya. Paling tidak, menyembunyikan saya, sampai waktu membuatmu terbiasa. Jeda membuatmu terbiasa. Terbiasa tak melihat nama saya di alam bawah sadarmu.

Lalu, suatu saat, kita akan sama-sama terbiasa, bahwa kita tidak pernah ada. Bahwa saya dan kamu tidak pernah ada.

Sampai, suatu ketika, mungkin kita bertemu di sebuah persimpangan. Di sebuah bagian lembaran cerita yang bernama anti-kebetulan.

Lalu dalam beberapa detik, saya akan berhenti. Kamu akan berhenti. Mungkin saya akan membeku. Mungkin kamu akan menjadi batu. Mungkin mata saya, mata kamu, saling menghindari pandangan. Menghindari kemungkinan berkomunikasi melalui pupil saya. Pupil kamu.

Kita–saya dan kamu–akan saling membongkar kisah lama, tanpa saling bertukar kata. Tanpa saling bicara. Lalu, sama-sama tertunduk. Lalu saling menggumam dalam diam.

Lalu, bekuan detik itu kemudian meleleh. Mencair. Memaksa saya, memaksa kamu, untuk kembali bergerak. Kembali bertemu di persimpangan. Kembali pura-pura tak pernah saling mengenal. Tak pernah saling bercanda. Tak pernah saling berbicara. Tak pernah saling menyimpan cerita.

Lantas, saya, kamu, kita, akan kembali menyimpan sesak itu. Sesak yang sama seperti saat ini, saat saya, saat kamu, mencoba saling membuang. Saling menghapuskan. Saling menghilangkan.

Meski faktanya, saya, kamu, kita, memang masih belum bisa. Tidak bisa.

Lalu, saya mulai membuangnya. Membuangmu. Membuang kemungkinan untuk merasakan sesak itu. Paling tidak, menyembunyikanmu, sampai saya terbiasa. Terbiasa tak melihat namamu.

“This contact will be deleted.”

“Cancel? OK?”

#nowplaying

Pure Saturday – Sajak Melawan Waktu

Kita t’lah berjalan semua tak berubah
Ku tak mengenalmu seperti yang lalu
Seperti yang lalu…

Entah kau berada ketika kupergi
Kurelakan semua ketika kau pergi

Kehampaan di dalam hati kita
Adalah kenyataan yang makin terasa
Di tiap pijak anak tangganya
Waktu terus bergerak laju seperti yang lalu

Kehampaan di dalam hati kita
Adalah kenyataan yang makin terasa
Di tiap pijak anak tangganya
Waktu terus bergerak laju seperti yang lalu

Relakan aku seperti aku relakan semua
Relakan semua.

-kandela-