Category Archives: Uncategorized

(Kembali)

Lalu, saya merasa berdosa karena telah (kembali) berselingkuh dari WordPress ke Instagram.

Lantas, setelah beberapa lama, saya (kembali) merindukan penulisan panjang di halaman ini.

Mungkin, saya-kamu-kita, cuma butuh pergi untuk beberapa lama, untuk (kembali) mengecapi manisnya rindu.

Ah. Manusia. Hanya butuh pergi, butuh berkelana, butuh berpelesir ke sana ke mari, untuk kelak pulang kembali.

Bandung, 17 April 2016, 02.40 AM.

Hari #2: Karena, Kenangannya Kurang Banyak

Suatu Tempat, 15 Agustus 2015,

You’ll never know what you’ve got ’till it’s gone (or ’till you’ve gone, maybe?)

Yeoup! Kutipan kalimat di atas adalah sebuah quote sejuta umat yang diusung oleh para kaum anti-move on; penyesal; dan pecinta masa lampau. Biasanya, kutipan ini berkumandang kencang ketika seseorang sudah melepaskan sesuatu, lantas ia menyesal hebat karenanya. Karena ia tidak pernah menghargai segala sesuatunya, ketika hal tersebut masih ada, masih menunjukkan eksistensinya.

me·nye·sal v merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dsb) krn (telah melakukan) sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb)

sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Whoops!

Tapi, sepertinya, saya enggak terlalu setuju dengan definisi yang diungkapkan di atas. Perasaan sesal atau menyesal belum tentu lahir karena sesuatu yang kurang baik. Bisa jadi, perasaan itu tumbuh karena beragam alasan–mulai dari belum cukupnya waktu yang dihabiskan bersama; belum banyaknya jumlah kata yang ingin terucap; hingga jauhnya jarak yang memisahkan satu pihak dengan pihak lainnya.

Jika ditanya, apakah hal yang saya sesali akhir-akhir ini?

Bukan, bukan karena keputusan penting menyangkut sebuah hal pribadi, yang telah saya pilih untuk saya jalani. Bukan, bukan karena tanggung jawab baru yang kian membebani. Bukan, bukan karena anugerah yang diberikan Tuhan, tentunya.

Ya, saya cuma menyesali relativitas waktu yang berjalan begitu cepat. Begitu kilat. Hingga akhirnya, semua momentum itu saya lewati dalam detik sekelebat.

Lalu, saya–yang kini tak berada dalam momentum itu lagi–merasa ingatan tentang hal ini, hal itu; tentang kalian, mereka; tentang kamu dan kamu, dia dan dia; kurang banyak, kurang berlimpah, kurang lama.

Dan, rutinitas itu kian berganti, dari aktivitas kantoran–datang pukul 9.30 pagi; sarapan lontong isi dengan bumbu kacang; mulai berselancar di dunia maya; membuka Ms. Word dan mengisinya dengan judul yang dikarang-karang; makan siang pukul 12 siang; bercengkerama dengan teman seruangan; heboh mencari ojek dan mengejar objek liputan; minum teh tarik sore-sore sambil bergunjing hangat; lalu menunggu waktu pulang dengan menyicil pekerjaan dan mengontak narasumber–beralih menjadi seorang pencari channel televisi. Pencari acara penghibur di sana. Penyimak isu selebriti yang hangat di layar kaca.

Ketika itu pula, rasanya saya menyesal, waktu saya tak cukup banyak di sana. Relativitas waktu tak berjalan cukup lama di sana. Dan, saya terlalu gemar mengisinya dengan keluh kesah. Ya, saya menyesal, karena ternyata, saya begitu mencintai rutinitas saya.

Dan, rasanya, intensitas kenangan di sana masih kurang banyak. Kurang lekat.

🙂

IMG-20150703-WA0038

IMG-20150730-WA003020150703_181455

Now playing:
Nosstress – Kita.

Saat berpegangan akan lebih kuat kau berdiri.
Walau hanya satu kaki.
Saat berbagi menjadi hal yang sangat dinanti.
Aku, kamu, dan teman-temanmu.

Hari ini kita bertemu, mungkin besok kau jadi temanku.
Sekadar pertemuan tapi bukan itu yang kuharap.

Senyuman adalah letusan.
Kayuhan menjadi penentu.
Jalan hidup di hitamnya dunia.
Dan pertemuan ini jadi inspirasi antara ku dan masa depanmu.

Apa yang kudapatkan tak seberapa.
Maka yang kuberikan memang hanya sederhana.
Dan semoga saja kau tak akan lupa tentang kita.

-kandela-

Hari #1: Tentang Jarak, Tentang Rindu

Tangerang Selatan, 11 Agustus 2015,

Jarak-spasi-ruang itu ada, memberi kesempatan bagi rindu untuk bernafas, untuk bernyawa, untuk menunjukkan keberadaannya.

Rasanya, bukan kali pertama ini saya membahas tentang hubungan antara jarak dan rindu. Tentang  bagaimana mereka saling menciptakan, saling membutuhkan, saling melahirkan. Pasalnya, beberapa tahun ini, saya memang terpisah 120 sekian kilometer dari kota yang saya sebut: rumah.

Namun, belakangan ini, sejak hal A, hal B, hal C terjadi secara bertubi-tubi–seperti bom tersembunyi yang siap meledak dalam rentang waktu tertentu–rasanya sebuah jarak akan terbentang luas kembali dalam setiap lini kehidupan saya: keluarga-pertemanan-pekerjaan.

Pasca terbentuknya jarak, mungkin saya akan seperti seseorang yang mengalami konsep reinkarnasi, konsep terlahir kembali. Menjadi seorang yang baru, yang memiliki kehidupan baru, yang akan meninggalkan rutinitasnya yang sudah terbentuk selama hitungan tahun.

Mengenal jarak yang akan lahir inilah, rasanya sebuah perasaan menyesak mulai terbangun menggeliat. Menyesak karena tahu berbagai kemungkinan yang akan terjadi: kemungkinan dia akan mencibir, dia yang lain akan menjauh, dia yang lainnya akan berbeda, dia yang satunya lagi akan menganggap rendah, dia yang satunya pun akan menghindar perlahan, menjadi kumpulan kasak-kusuk di belakang.

Dari dalam sanalah, ia–sang perasaan sesak–bergerak perlahan, menaik-turunkan suhu tubuh yang terukur dari genggaman tangan, menggelitik bibir untuk tersenyum pahit, membuat wajah memerah hebat, lantas mendorong bulir-bulir air keluar dari rumahnya–kelopak mata.

Karena, pada akhirnya, mereka–dia, dia, dan dia–akan berjarak sangat jauh-jauh-jauh sekali, menyerupai sekian puluh ribu kilometer, dalam kecepatan sekian tahun cahaya.

Dan, fakta itulah–fakta bahwa kelak mereka akan menjauh, menyamar, lantas menghilang–yang membuat rasa rindu yang baru seumur jagung ini makin menjamur, makin meluas, makin membesar, tanpa diminta, tanpa kenal batasnya.

🙂

-kandela-

Dengan kaitkata ,

Melankolia Rutinitas

Jakarta, 21 Mei 2015,

Alah bisa karena biasa.

Memang, kebanyakan orang mengamini peribahasa ini, peribahasa yang berarti: jika telah terbiasa, setiap pekerjaan pun akan menjadi mudah. Ya, terasah karena rutinitas, karena kebiasaan, karena telah dilakukan berulang kali, hingga fasih, hingga khatam, hingga benar-benar ngelotok dalam dan luar kepala.

Namun, sepertinya, tak semua peribahasa berlaku sama pada setiap orang yang berbeda. Salah satunya, saya. Orang yang sudah mulai menekuni bidang tulis-menulis selama hitungan tahun. Yang sedang mencari jati diri, dengan mempelajari cara menulis ini, menulis itu, dan menyadari, bahwa saya sangat mencintai dunia tersebut sepenuhnya.

Ingatan saya jadi melambung jauh ke masa lalu, ke masa-masa di mana saya masih berbalut seragam putih abu. Masa-masa di mana saya masih mengidolakan sebuah bidang perkuliahan yang terhitung cukup berbeda dengan latar belakang keluarga saya. Bahkan berbeda jauh dengan hobi saya kala itu.

Kala itu, saya bertanya kepada seorang teman, yang kebetulan baru memasuki bidang perkuliahan tersebut, di sebuah kampus ternama di Kota Bandung.

“Eh, masuk jurusan XXX kayanya seru ya, iri deh lo masuk sana!”

“Percayalah, Neu, ketika lo udah berada di dalamnya, enggak seseru itu lagi deh!”

“Masa iya? Kan keren aja gitu, kuliahnya kayaknya artsy banget!” (Dahi berkerut, dengan muka tak percaya)

“Beneran deh! Enggak sefenomenal itu. Nanti, ada titik-titiknya lo ngerasa jenuh, ketika hobi yang lo anggap keren itu menjadi sebuah rutinitas. Sebuah kewajiban pengejar nilai.”

Ya, ucapan sang teman seperti tersimpan apik dalam ingatan saya, dan kadang-kadang membandel menyeruak membisikkannya ke gendang telinga. Memaksa saya untuk mengingatnya lagi. Untuk mengiyakan pernyataan sang teman.

Memang, setelah saya bertahun-tahun mengidolakan jurusan tersebut, akhirnya, pada tahun 2005, saya berhasil memasukinya, meskipun bukan di kampus negeri yang saya impikan sejak bocah.

Well, empat setengah tahun saya berkuliah di sana, rutinitas memang berhasil membunuh saya. Membunuh kecintaan saya akan dunia yang pernah saya anggap keren. Dunia yang pernah saya idamkan. Saya impikan. Membuat bisikan di gendang telinga saya berteriak semakin kencang: mungkin, ini bukan tempat yang tepat, Kandela. 

Lantas, cita-cita saya–yang semula menjadi seorang desainer–memudar perlahan. Terutama, sejak saya menyadari, bahwa dari segi skill dan kemampuan, saya sudah tertinggal jauh dengan teman-teman sekitar. Bahwa saya, terlalu malas untuk mengasahnya. Untuk menjadikan peribahasa itu nyata: alah bisa karena biasa.

Alhasil, beberapa bulan saya menganggur, saya seperti kehilangan identitas. Kehilangan cita-cita. Jujur saja, di tahun-tahun itu, saya–yang mulai cemas karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan–mulai melamar semua jenis profesi yang ada di sebuah situs: mulai dari marketing, desainer grafis, karyawan televisi, hingga freelancer di Event Organizer.

Perburuan itu berhenti ketika akhirnya saya mulai menyadari, saya enggak bisa melepaskan satu hobi “dasar” yang sudah saya lakukan sejak kecil. Ya, menulis, mengkhayal, merangkai kata, merupakan hobi yang nyaris terlupakan. Nyaris ditinggalkan. Nyaris menjadi fosil berjamur.

Berawal dari pekerjaan sebagai content writer di sebuah situs yang kini sudah bertitel “mendiang”, saya mulai mencintai profesi baru ini secara perlahan. Mulai belajar mencari berita, melihatnya dari berbagai sudut pandang, dan berlatih merangkai diksi dengan harmonis.

Bahkan, saking cintanya, saya rela mengorek kocek lebih hanya untuk mempelajari proses penulisan feature secara mendalam di sebuah lembaga pelatihan jurnalistik ternama.

Saat itu, peribahasa alah bisa karena biasa masih berlaku. Lambat laun, saya mulai fasih menuliskan diksi-diksi tersebut, merangkaikannya ke dalam sebuah artikel, essay, hingga tulisan fiksi–yang biasa saya torehkan dalam blog. Terutama, ketika awal-awal saya bekerja di tempat saya mendekam sekarang. Ya, bisa dibilang, itulah masa-masa keemasan saya. Masa-masa ketika otak saya masih cukup brilian, dengan bisikan gundah yang enggan lagi mampir dan menggema.

Namun, sekali lagi, sepertinya rutinitas–dan kebutuhan akan materi, tentunya–kembali menjadi pembunuh ulung bagi cita-cita saya. Bagi hasrat terpendam saya. Di tahun ketiga saya bekerja di sini, gundukan emas yang mengisi penuh otak saya sepertinya sudah berkarat. Berubah warna menjadi batu kali hitam pekat, yang membuatnya bebal dan enggan bergerak. Saya tak sebrilian itu. Saya tak secerdas itu. Saya tak sebertalenta itu.

Alah (justru tidak) bisa karena biasa. Ya, tangan saya rasanya enggan menari-nari bebas di atas tuts-tuts hitam lagi; otak saya enggan berkhayal, berputar keras lagi; nyali saya enggan memuncak, meninggi; seperti yang biasa saya lakukan beberapa tahun lalu. Seperti yang biasa saya gadangkan bertahun-tahun lalu.

Ke manakah dia? Ke manakah saya? Semudah itukah terbunuh rutinitas? Terbunuh luapan materi penghancur kualitas?

Lalu, ketika saya mulai membaca tulisan si A, tulisan si B, tulisan si C, sama seperti tahunan lalu–saat saya melihat karya-karya desain para kerabat–rasanya, saya sudah tertinggal jauh di sana-sini. Seperti terjatuh ke sebuah lubang hitam yang sama, untuk kesekian kalinya. Seperti terhisap ke dalamnya, terperosok di sana, lalu terperangkap lekat.

Dan, ketika siuman, saya sadar, saya (kembali) seperti makhluk kopong tanpa isi. Tanpa keinginan. Tanpa kemauan. Tanpa khayalan.

#np ljósið – ólafur arnalds

-kandela-

Diari Rendahan

Jakarta, 21 Januari 2015,

Pernahkah otakmu bebal, tersumbat, seperti ada butiran gundu yang bertarung di dalam setiap ruas lajurnya?

Ya. Itu saya. Saat ini. Yang mungkin, sedang sangat-amat tidak menyukai diri sendiri. Sedang merasa kecil, sekecil-kecilnya. Serendah-rendahnya. Sehina-hinanya.

Salah satu sumber suara di kepala saya tengah berkecamuk dengan lantangnya: “Kamu bukan apa-apa! Kamu cuma seorang beruntung yang diberkahi waktu seperti sekarang ini. Sisanya, kamu tak lebih dari angin lalu yang kemudian dilupakan. Kemudian dihapuskan dari ingatan. Ya. Kamu serendah itu. Serendah itu.”

Lalu kemudian, muka saya mulai memanas. Beriringan dengan benang-benang halus di ujung mata saya yang mulai memerah. Mulai beranjak perih. Pedih.

Lalu nafas saya mulai tersengal. Udara pun enggan masuk ke dalamnya. Enggan menyusup dan hinggap di paru-paru saya. Sesak. Seperti ada lubang besar menyelesak yang membuatnya menyerupai lubang hitam di angkasa raya. Iya. Itu tadi. Menyesak. Sesak.

Lantas, seperti yang sudah diprediksikan, pikiran saya meronta. Membabi buta. Ingin mencabik apapun yang bisa dicabik. Ingin melempar apapun yang bisa dilempar. Tapi, nyatanya, saya bisa apa? Saya cuma bisa mengeluarkan air mata, yang, mengalir, sangat, deras. Sangat keras. Tanpa suara. Tanpa kata. Tanpa omongan lantang, yang biasa dilakukan orang-orang.

Iya. Saya, yang rendah ini, cuma bisa menangis, melakukan pengaduan tak bertuan yang hanya bisa diteriakkan dalam diam.

Lalu saya tahu. Saya, yang rendah ini, mungkin harus pergi dari sini. Harus hilang dari sini.

Iya.

Hilang. Dari. Sini.

-kandela-

Ini Tanggal Sepuluh, Ini Harinya

Jakarta, 10 Desember 2014,

“Enggak ada Kanne seminggu, kamar jadi rapi banget, kaya ada yang kurang,” ujarnya, ujar wanita bermata cokelat muda yang tengah berbaring santai di sana. Di tempat tidur berangka putih, yang tepat berada di seberang kamar saya. Tempat saya—dan beliau—sering mengisi detik, menit, jam; dengan cerita, dengan tertawa, dengan tangisan, dengan gembira, dengan perih, dengan cemberut, dengan ini, dengan itu.

Lalu, ia tersenyum. Ia tersenyum karena melihat saya, anaknya yang telah ia tunggu sejak pagi tadi, baru saja pulang. Pulang membawa seutas bunga mawar putih, dengan sebatang cokelat kesayangannya. Ya. Beliau adalah penyuka cokelat. Adiktif. Dan penyuka bunga. Tentunya.

Dan, seingat saya, bunga mawar putih ini memiliki definisi: kasih sayang. Saya, yang sangat kaku dan enggan mengucap kata-kata itu lewat verbal, ingin beliau mengerti, kalau saya-sangat-menyayanginya-tanpa-perlu-syarat-apa-apa.

Saya ingat wajahnya yang selalu menunggu saya di depan pintu. Menunggu saya yang tak kunjung mengangkat telepon. Saya yang tak membalas pesan. Saya yang tak pulang-pulang, padahal hari sudah malam.

Wajahnya yang pasti cemberut, dengan mulut terkatup, dan membentuk bulan sabit terbalik. Mata tajamnya seakan enggan melihat saya. Saya yang susah diatur, menurutnya. Saya yang main melulu, menurutnya. Saya yang sepertinya enggak bisa diharapkan, menurutnya. Saya yang ngajak berantem terus, menurutnya.

Tapi di luar itu, di luar amarahnya yang sering tak stabil, sering berapi-api—terutama kalau saya dan dia tengah berdebat tentang ini, tentang itu—beliau tak sungkan-sungkan berdiri paling depan, bila ada sosok lain yang kasak-kusuk berbicara buruk tentang saya. Beliau akan selalu melindungi saya.

Tak terkecuali saat ini, saat beliau—orang yang saya sebut dengan Mama—sudah tak memiliki jasad bernyawa di atas tanah bumi.

Beliau adalah salah satu manusia yang akan selalu menyayangi saya, apapun keadaannya. Seperti apapun saya. Seburuk apapun saya.

Dan, sama halnya dengan saya.

Karena, perasaan mah enggak akan putus, berkat bantuan tumpukan lembaran memori di laci-laci maya. Berkat bantuan air mata. Berkat bantuan beragam memento yang jadi pemantik. Berkat bantuan bunga tidur. Berkat semua cerita yang pernah ada.

Dan, saya tahu, beliau tengah tersenyum di sana, melihat saya yang mengingatnya. Yang mengenangnya.

Karena beliau enggak pernah ke mana-mana, kok.

Happy birthday, Ma! Selamat mengulang hari kelahiran untuk kesekian kali!

I love you, as always.

#np Spice Girls – Mama

-kandela-

Tergelitik, Menggelitik, Lagi

Jakarta, 22 September 2014,

Kamu hebat.

Sudah 14 kali 24 jam, kamu memaksa mereka–para gelitik yang tengah nyenyak terlelap–untuk bangun lagi, setelah sekian lama mati suri.

Mungkin kamu menyiram muka mereka dengan air dingin 4 derajat Celcius. Mungkin kamu diam-diam memukul kentongan berbentuk cabai, yang nyaring layaknya Siskamling. Mungkin kamu memperdengarkan lagu berdistorsi tinggi, tepat di telinga mereka, sampai mereka membuka matanya.

Atau mungkin, kamu mengecup pipi mereka satu per satu, hingga wajah mereka memanas, memerah, membuat mereka terjaga seketika. Membuat mereka bergerak aktif. Mengepakkan sayapnya dengan lincah. Menyentuh dinding-dinding organ perut dalamku, menggelitiknya, lantas membuat jantungku berdebar keras. Berdetak kencang.

Apa yang kamu lakukan, ujarku. Tanyaku. Padamu.

Lalu kamu hanya bersandar pada tiang batu, tiang bebatuan kecokelatan yang menempel di depan terasku, sambil sesekali menghisap asap, asap nikotin, yang tersembunyi dalam batang putih-jingga di tanganmu.

Hey. Apa yang kamu lakukan, ujarku lagi, melihatmu yang tak mengeluarkan suara, barang satu patah kata.

Kamu terdiam. Berpikir. Lalu tertawa. Hingga kulit di ujung matamu mengerut, mengikuti gerak matamu yang menyipit, tulang pipimu yang terangkat, dan mulutmu yang menyeringai lebar. Pemandangan yang membuat gelitik di perutku semakin tak mau diam. Membuatku berusaha keras untuk menahannya.

Apa yang kamu lakukan, kuulang kembali pertanyaanku. Padamu. Kamu yang mencoba tidak menjawabnya. Ya. Yang pura-pura tidak mendengarkannya.

Aku ikut tersenyum melihatnya. Melihatmu. Melihat kamu yang mencoba mengalihkan perhatianku dengan perbincangan lain: politik, film, budaya, musik, sosial, filosofi, pekerjaanmu, pekerjaanku. Lalu, tentu saja, orientasi pertanyaanku teralihkan. Terlupakan.

Kali ini aku berhenti bertanya. Apa yang kamu lakukan, aku hanya mengeluarkan mimik ingin tahu-ku.

Lantas, aku mulai memperhatikan matamu, yang sibuk dengan koloni semut merah di sekitar tempat dudukmu. Memperhatikan bibirmu, yang sibuk menyesap kopi panas di cangkir biru itu. Memperhatikan urat-urat yang menyembul di antara jari jemarimu.

Lima menit aku menatapmu. Menyadari para kaum gelitikku terbangun karena hal-hal kecil darimu, dariku: obrolan seringan bulu, hingga diskusi kelas kakap; senyumanmu yang mengarah ke wajahku, senyumanku yang mengarah ke wajahmu; dan terakhir, mataku, matamu, yang saling bertukar cerita.

Lalu suara beratmu mulai menyeruak perlahan.

Katamu, mungkin saja kita berhenti. Mungkin saja aku tak bisa di sini. Kamu tak bisa di sana. Mungkin saja aku menghilang. Kamu menghilang. Mungkin saja aku menyerah. Kamu menyerah.

Katamu, mungkin gelitikku akan tidur lagi. Mungkin ia akan berganti jadi sesak berbuah luka. Lalu, ia akan menutup sendiri. Membuatku melupa lagi. Melupa bahwa gelitik itu pernah ada.

Apa yang akan kamu lakukan, ujarmu. Tanyamu. Padaku.

Gantian, sekarang aku yang terdiam. Aku yang enggan melihatmu. Aku yang sibuk memperhatikan koloni semut itu. Aku yang sibuk meneguk air yang sudah tak ada. Aku yang salah tingkah.

Gantian, sekarang kamu yang melihatku. Melihatku yang tak bisa menahan limpah ruah gelitik itu. Melihat wajahku yang memerah, memalu. Melihat isi pikiranku yang bercabang seribu. Bercabang dengan diksi “mungkin” yang ada di depannya.

Dan gerombolan gelitik itu bergerak tambah kencang. Membuatku mual. Membuatku pening. Pusing. Karenamu. Karenamu yang ada di sana. Sejauh tiga per empat meter dari pijakan kakiku. 

Tapi, kamu yang membuatnya. Pun kamu yang menyembuhkannya.

Sudah. Aku sayang sama kamu. Itu yang penting. Ya? 

Demikian ujarmu. Yang kembali membuatku terhenyak. Tersesat dalam senyap.

Lalu, aku, kamu, kita terhanyut bersama. Dalam sebuah rasa.

Dan sepertinya, kerumunan gelitik itu sedang berpesta pora di dalam sana.

#np Anda Perdana – Dalam Suatu Masa

-kandela-

30 Days Song Challenge: Eargasm, Heartgasm, to Write-able!

Jakarta, 4 September 2014,

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengikuti tantangan lucu-lucuan bertajuk “30 Days Song Challenge” dalam salah satu akun media sosial saya. Enggak cuma sekadar ikutan tren, ternyata tantangan seperti ini memaksa tangan saya mencari koleksi lagu di hard disk, lalu menyesuaikannya dengan tema per hari. Bahkan, saking niatnya, saya enggak jarang mencarinya di situs pemutar video dan lagu–seperti Youtube dan Soundcloud.

Jujur saja, tantangan lucu-lucuan ini memang sukses menjadi hiburan. Bikin mood yang lagi bosan-bosannya, kembali ke jalan yang seharusnya: menjadi bahagia. Jadi semangat lagi.

Setelah dipikir baik-baik, sepertinya enggak masalah kalau saya memindahkan tantangan ini ke WordPress saya, mengubahnya menjadi sebuah rangkaian kata–baik itu fiksi atau sekadar diari. Lagipula, selama ini, musik menjadi salah satu hal primer penghasil inspirasi, pembawa ide, penghadir mood menulis.

Who knows, dengan proyek pribadi iseng-iseng seperti ini, tulis-menulis kembali menjadi kebutuhan utama saya lagi, setelah selama ini kecintaan saya mulai dirusak, dirajam, dihancurkan oleh segala sesuatu berbau materi.

🙂

Here’s the challenge, anyway!

Candella Sardjito

So, enjoy my 30 days song challenge, please! 

-kandela-

 

Euforia 1708

Bandung, 17 Agustus 2014,

Beda pengalaman, beda masa, maka beda hati. Beda pola pikir. Beda sudut pandang. Ya, meskipun telah tertulis di kalender, telah terlontar dalam lirik lagu, telah tertoreh pada baliho-baliho berbiaya besar di pinggir jalan raya–bahwa tanggal 17 Agustus merupakan Hari Kemerdekaan Indonesia–rasanya setiap kepala memiliki pandangan beragam terhadap hari besar ini.

Hari ini adalah hari perayaan ketika panjat-panjat tiang dibebaskan, dan bisa makan kerupuk sepuasnya; ujar seorang anak menjelang remaja, penggiat Karang Taruna di perumahannya.

Hari ini adalah hari menyebalkan ketika pagi-pagi harus upacara, padahal tanggal merah; ujar seorang pria berseragam khakhi, pegawai institusi negara.

Hari ini adalah hari ketika si bungsu didandani pagi-pagi–memakai kebaya, sanggul sekian kilo, dan gincu merah menyala–demi ikut karnaval keliling kompleks; ujar seorang ibu berusia 36 tahun, dengan sedikit rambut putih menyembul dari ujung poninya.

Hari ini adalah hari ketika film-film lokal seru muncul di TV; ujar seorang mahasiswa, penikmat hari libur seperti orang lainnya, mantengin TV dari pagi hingga pagi lagi.

Hari ini adalah hari ketika diskonan beredar di mana-mana; ujar seorang wanita gila belanja, dengan tahi lalat di pipi kanannya dan jinjingan tas–yang biasa hadir di majalah-majalah fashion–tergantung manis di lengannya.

Hari ini adalah hari ketika puncak gunung penuh riuh oleh kami, yang ingin mengibarkan bendera di sana; ujar seorang pecinta alam, dengan tas carrier merah di punggung, kemeja kotak-kotak, celana PDL tebal, dan syal terikat di kepalanya.

Hari ini adalah hari penuh keriaan, ketika panggung hiburan dangdut akan memeriahkan terminal kami; ujar seorang pengemudi angkot berwarna hijau strip hitam, dengan handuk Good Morning lembap bertengger di leher.

Hari ini adalah hari di mana kami sibuk mencari quotes dan gambar bagus di internet, lalu kami post di akun sosial media kami; ujar seorang remaja penggiat dunia maya–yang setiap harinya biasa berbincang menggunakan bahasa campur sari, kadang Indonesia, kadang bahasa asing–dengan mata tertahan pada gadget, dan tangan sibuk menyentuh layarnya perlahan.

Hari ini adalah hari di mana rasa nasionalis palsu bermunculan di mana-mana, di sosial media, di blog, di status aplikasi chat; ujar seorang pria berwajah sinis, dengan kaus bertuliskan “REBELLION” di dadanya.

Hari ini adalah hari ketika kami mengambil gaun dan high-heels merah merekah kami dari lemari, mempersiapkan party nanti malam yang sudah dinantikan; ujar seorang perempuan muda, penyuka pesta, penganut paham hedonisme ibukota.

Hari ini adalah hari ketika playlist lagu nasional dan lagu cinta tanah air mengudara kembali di mana-mana; ujar seorang penyiar radio, dengan suara berat yang menjadi identitasnya.

Hari ini adalah hari ketika jantung kami berdegup kencang, takut bendera yang kami kibarkan terbalik warnanya; ujar seorang Paskibra, berseragam putih-putih, dengan topi semacam kopiah hitam beludru, dengan pin Garuda di salah satu sisinya.

Hari ini adalah hari penuh euforia, seperti apapun maknanya. Artinya. Tujuannya. Merayakan kelahiran Indonesia 69 tahun yang lalu, ketika kemerdekaan menjadi sesuatu yang dinantikan. Ketika siaran pembacaan Teks Proklamasi di radio membuahkan sorak gembira. Ketika, kala itu, entah seperti apa rupanya, bangsa Indonesia–yang kini seperti dibuai oleh dunia gemerlap mancanegara–berhasil meraih kemerdekaannya sendiri.

Ya. Kini, momentum kemerdekaan pun beralih menjadi keriaan, hingar bingar, perayaan; sisi positifnya, perayaan hadir tanpa memedulikan perbedaan suku bangsa, ras, agama, atau apapun itu, pencetus perpecahan yang belakangan marak diperbincangkan.

Sekejap, semua melebur tanpa kenal nama. Asal-usul. Latar belakang. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” tercapai, walau cuma untuk satu hari saja.

Ya. Harusnya, momen yang hanya berlangsung setahun sekali ini, adalah titik balik untuk jatuh cinta lagi pada tanah air sendiri. Untuk menghargai lagi konsep negara yang dimiliki Indonesia, seperti apapun isinya. Seperti apapun bentuknya.

Lalu, apa arti hari ini untuk saya sendiri?

Sederhana. Hari penuh euforia yang membuat tangan saya gatal untuk menulis lagi. Mendokumentasikan arti tanggal 17 Agustus dalam rangkaian diksi, menjadi sebuah kado kecil untuk yang sedang mengulang “kelahiran” hari ini.

Dirgahayu, Indonesia!

#np Pandai Besi – Menjadi Indonesia

-kandela-

Hari Raya: Tentang Euforia, Memento, dan Bersyukur

Bandung, 27 Juli 2014,

Malam ini, tentu saja, dipenuhi oleh suara kembang api yang memekik tinggi, berpadu dengan gema takbir yang berkumandang halus di rumah-rumah ibadah umat Muslim–masjid. Tentu saja pula, pusat perbelanjaan pengumbar potongan harga besar-besaran dipenuhi orang. Disesaki oleh gerombolan pencari baju baru, demi menyambut hari raya. 

Entah sejak kapan, hari besar agama menjadi sebuah keriaan. Perayaan. Perhelatan berbekal euforia. Ya, enggak munafik, saya pun berada di antara orang-orang itu, kok. Ada di antara orang-orang yang lebih senang mencari diskonan, ketimbang memanjatkan doa di rumah ibadah.

Di luar itu semua–entah apakah orang menganggap hari raya ini sebagai hari besar agama atau hari penuh euforia–sekali lagi saya melihat hari raya, sebagai sebuah memento. Mesin waktu. Peranti pengingat. Yang mampu membuat saya menatap kembali apa-apa saja yang telah berlalu. Apa-apa saja yang sudah raib, menghilang, dan tinggal cerita. Apa-apa saja yang masih ada, yang harus disyukuri eksistensinya.

Lalu, saya terdiam. Ya, tepat ketika rumah saya lengang tanpa seorang manusia pun, kecuali saya yang sedang sibuk menaati euforia hari raya, yang sedang sibuk mempersiapkan hari esok, hari suci dalam agama saya, yang sedang sibuk bercanda dengan perangkat masak, yang seakan mengindahkan suara-suara di samping kiri dan kanan saya.

Lalu, rasa itu muncul.

Ya. Rindu.

Rindu beliau yang berwajah ke-Turki-turki-an yang selalu heboh ke supermarket dengan matanya yang berbinar. Rindu beliau yang pernah marah-marah saat H-1 Lebaran, cuma karena saya ngerusakin karpet barunya dengan setrika. Rindu beliau yang rajin neleponin saya, terus bertanya, “Kanne di mana? Jam berapa pulang? Bantuin masak!”. Rindu beliau yang 3 tahun lalu masih ada. Masih ngebisikin apa saja yang harus saya lakukan untuk memasak hidangan hari raya. Iya. Rindu.

Jarak itu yang membuka ruang bagi rindu untuk bernapas. Untuk sekadar mampir dan menyentil, berbuah rasa sepi yang luar biasa.

Namun, mendadak, saya ingat obrolan saya dengan ayah saya tercinta beberapa saat yang lalu. “Sebenarnya, pada hari raya itu, sebaiknya silaturahmi dulu dengan sosok-sosok kerabat yang masih ada. Harusnya sih begitu,” ujar Ayah dengan mata penuh keyakinan. 

Intinya, meskipun memento itu kencang bergemuruh, lantas membuat nelangsa (yang mungkin) berkepanjangan, enggak ada salahnya menyimpannya di etalase rahasia. Tidak menutupnya. Tapi tidak pula rajin menyentuhnya. Biar dia ada di sana. Beristirahat di tempatnya. 

Lalu, dengan sendirinya, rindu pun berubah wujud. Jadi bersyukur. Jadi berterima kasih. Jadi berbahagia. Masih diberikan usia, kesehatan, kedamaian; untuk merasakan keriaan, untuk merasakan euforia, di hari raya. 

So, selain mencari diskonan, berburu kuliner khas Lebaran, berbelanja baju layak di hari raya, dan lain sebagainya; enggak ada salahnya, mulai memeluk orang-orang terdekat, bersyukur tanpa batas waktu, dan mulai mengucapkan tiga kata sakti di hari raya ini: Saya. Sayang. Kamu-anda-kalian.

Selamat hari raya Idul Fitri, semuanya! Selamat merayakan kemenangan dengan khusyuk, dan saling menghargai.

Mohon maaf lahir batin, jika terdapat banyak kesalahan yang saya lakukan, baik di kehidupan nyata, atau di dunia maya. 

Dan, jangan lupa, mari kita–saya, kamu, kami, kalian–bersyukur bersama! 

#np Float – Surrender

“Let’s just celebrate today!”

🙂

-kandela-