Category Archives: Travel

Kuil Putih yang Menabrak Pakem

Berbeda jauh dengan kuil lainnya di Negara Gajah Putih ini, Wat Rong Khun, atau yang biasa disebut dengan The White Temple, mendobrak paham dan aturan kuil yang berlaku. 

23

Kala itu, matahari bersinar begitu terik di Ban Rong Khun, sebuah wilayah di subdistrik Pa O Don Chai, Chiang Rai, Thailand. Tak jarang, pinggiran jalan raya Phahonyothin yang merupakan perbatasan Chiang Mai dan Chiang Rai tersebut, dipenuhi debu kendaraan yang sesekali melaju kencang. Kesan gersang pun semakin kental terasa.

Meskipun begitu, tak banyak kendaraan yang melewati area ini. Biasanya, selain bis antar kota dan kendaraan pribadi, hanya songthaew—angkutan umum khas Thailand—yang sering mampir di sana.

Tepat di depan sebuah jalan yang cukup besar di pinggir jalan tol utama di Thailand tersebut, sebuah bis berwarna putih dan bergaris hijau berhenti. Di sana, tampak lima orang perempuan  menuruni bis sembari menjinjing ransel. Penampakan fisik mereka tampak berbeda dengan masyarakat setempat, yang biasanya memiliki kulit kekuningan, serta wajah tirus.

Mereka mulai melihat sekeliling, lalu beranjak memasuki jalan besar tersebut. Setelah mereka berjalan kaki sekitar 3 menit, mereka berdecak kagum perlahan, seakan menemukan “harta karun” di pelupuk mata mereka.

P1070752   P1070822

Wat Rong Khun, atau yang biasa disebut dengan The White Temple, merupakan “harta karun” tersembunyi bagi para turis, baik domestik, ataupun mancanegara, seperti yang dirasakan oleh para wanita itu.

Berada di pojokan area Ban Rong Khun, kuil yang dibangun di atas tanah 3ha ini bisa ditemukan di balik bangunan hunian yang berjajar sepanjang jalan masuk tersebut. Layaknya istana khayangan di dongeng dan legenda, seisi kompleks kuil disusun oleh desain yang megah dengan balutan warna putih.

Gerbang yang tinggi menjulang, menyambut para pengunjung yang terlihat berbinar-binar melihat keindahan kompleks kuil modern ini. Di dalamnya, terdapat satu kuil utama yang terbesar, serta bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Bangunan agung ini dibalut oleh warna putih, dan aksen cermin-cermin kecil yang ditempelkan secara mendetail.

Dalam kompleks kuil ini, terdapat pula kolam jernih berisi ikan mas berwarna putih; serta taman rimbun, yang dihiasi elemen-elemen estetis berbau religi dan filosofis, seperti patung kepala di pepohonan.

P1070855   P1070847

Hasil Karya Seniman
Adalah Chalermchai Kositpipat, yang menjadi sosok penting di balik berdirinya The White Temple. Pria kelahiran 15 Februari 1955 ini merupakan seorang seniman ternama asal Chiang Rai, Thailand, yang selalu memasukkan unsur-unsur ajaran Buddha dalam setiap karyanya. Salah satu cita-cita terpendam Kositpipat—yaitu membuat karya arsitektur yang akan terus dikenang sepanjang masa—menjadi dasar awal ketika ia membangun proyek idealis ini.

Ingatkah Anda dengan nama Antoni Gaudi, arsitek legendaris asal Spanyol, perancang Gereja Expiatori de la Sagrada Familia yang akan selesai dibangun pada tahun 2026? Kositpipat juga melakukan hal yang sama. Pria lulusan Silpakom University ini menargetkan waktu yang relatif lama untuk menyelesaikan pembangunan White Temple. Proyek yang telah dimulai sejak tahun 1997 itu, ditargetkan akan rampung dibangun sekitar 60 tahun lagi.

Mendobrak Aturan 
Thailand, merupakan salah satu negara berkembang yang masih menggenggam nilai-nilai religi dan budaya secara kental. Wajar saja, bila wat atau kuil ini mudah ditemukan di seluruh pelosok Thailand. Bangunan kuil-kuil Thailand biasanya didominasi oleh warna emas, yang melambangkan kemakmuran dan kemurnian. Warna ini diterapkan di kuil-kuil besar yang menjadi objek wisata Thailand, seperti di kompleks Grand Palace, Doi Suthep Wat, dan Wat Arun.

Namun, dengan filosofi mendalam, Kositpipat mendobrak pakem dan kebiasaan tersebut. Bahkan, seniman yang banyak memadukan gaya kontemporer ke dalam karyanya ini, mengaplikasikan warna putih sebagai penghias dominan di kompleks White Temple. Padahal dalam kultur Asia, warna putih identik dengan nilai kematian dan duka cita. Namun, Kositpipat berpendapat lain. Menurutnya, warna putih melambangkan kedamaian dan kemurnian Buddha.

Selain arsitektur serba putih, Kositpipat kembali menghadirkan sisi artistik dalam dirinya, dalam melukis mural di dinding dan langit-langit interior kuil tersebut. Berbeda dengan kuil pada umumnya, yang dihiasi oleh mural konservatif, Kositpipat memasukkan tokoh-tokoh modern ke dalam muralnya tersebut, seperti Harry Potter, Freddy Kruger dan Michael Jackson. Dengan kemampuannya di bidang seni, Kositpipat menerjemahkan ajaran Buddha dalam cara yang lebih kontemporer.

Penuh Filosofi di Tiap Sisi
Meskipun bangunan kuil ini berbicara tentang ajaran religi dalam cara kontemporer, namun seperti kuil-kuil lainnya, rancangannya tak asal dibuat begitu saja. Setiap penerapan bentuknya masih mengacu pada filosofi yang matang dan kental, mulai dari aksen di ruang terbuka, hingga elemen-elemen yang melekat erat pada bangunan.

Untuk memasuki area kuil utama, para pengunjung harus melewati jembatan yang melambangkan siklus kehidupan, dengan artwork yang menggambarkan lubang neraka di kiri dan kanan jalan. Tampak ratusan patung tangan, yang seakan ingin menggapai dan meminta pertolongan dari bawah lubang tersebut. Tak jarang, di antara patung tangan tersebut, terdapat patung-patung kepala berwajah mengerikan, tengkorak yang tengah mengerang, ataupun tangan yang menyodorkan guci.

Di area terdepan jembatan, yang biasa disebut dengan “Gerbang Surga”, terdapat 2 sosok patung pria berwajah garang, yang membawa senjata pedang dan gada. Patung tersebut melambangkan sosok “Kematian” yang menjaga “Gerbang Surga”. Tak lupa, di sepanjang jembatan dan railing yang mengelilingi sisi kuil, terdapat patung dan relief Naga, hewan legenda yang telah ternama secara turun temurun.

Selain area berdoa di dalam kuil, terdapat pula artwork menyerupai pohon yang memuat permohonan untuk keberuntungan dan kesejahteraan, serta area yang memfasilitasi ritual melempar koin harapan.

Secara keseluruhan, White Temple menjadi bukti, bahwa ajaran religi dan kesenian, merupakan 2 hal yang bisa saling menyatu dan berkesinambungan. Bahkan, seni kontemporer pun dapat merangkum ajaran religi dengan cara yang lebih ringan, santai, dan mendobrak pakem atau kebiasaan.