Category Archives: Review

HIMYM: Ini Cerita, Ini Realita

Jakarta, 7 April 2014,

Beberapa hari terakhir, ungkapan kecewa banyak terlontar dari para penikmat sitkom ini. Ya. Serial bertajuk “How I Met Your Mother”–yang terdiri atas 9 season–ini ibaratnya kehidupan nyata. Punya dinamika. Punya hal membosankan. Punya kisah yang nggak bisa dipercaya. Punya gereget. Punya hal-hal tolol.

Dan, akhirnya pun nggak bisa ditebak. Membolak-balikkan “hati” para penikmatnya, dengan ending yang disebut-sebut sebagai bad way to end those awesome storiesEnding yang nggak sesuai ekspektasi.

Tapi, bagi saya pribadi, saya nggak kecewa berlebih terhadap film ini. Toh, selama beberapa tahun terakhir, film ini banyak mengisi “lubang dalam” yang tertanam di hati saya.

Sebelum lebih jauh beropini, sebenarnya, apa yang membuat saya jatuh cinta dengan serial yang mulai rilis sejak tahun 2005 ini? Ada apa sebenarnya, sehingga saya sangat “memuja” serial bergenre komedi ini?

Oke. Film ini memang sering disandingkan dengan “F.R.I.E.N.D.S”, sitkom terdahulu yang pernah sangat sukses di masa tayangnya, bahkan sampai detik ini. Tapi, entah kenapa, mungkin karena saat itu, saya masih belum terkontaminasi oleh pemikiran ini-itu yang terlalu berfilosofi. Makanya, bagi saya, film “F.R.I.E.N.D.S” adalah sitkom yang keren. Indeed. Tapi ya, kurang “menerap” di pikiran saya.

Beda halnya ketika saya pertama menonton “How I Met Your Mother”, tepatnya pada akhir 2009 (oke, saya telat menontonnya, but it’s OK!). Kala itu, saya sedang menyelesaikan tugas akhir saya, hingga akhirnya, saya berada dalam tahap “kebosanan”, yang wajar dialami oleh para mahasiswa tingkat akhir.

Alhasil, 4 season berhasil saya lumat habis hingga awal 2010. Beda usia, membuat saya beda “merasakan” esensi sebuah film. Mungkin, ketika saya masih remaja, saya belum berpikir terlalu dalam tentang “the right one”, pesan moral, atau apapun itu.

Yang pasti, kali pertama saya menonton HIMYM ini, saya langsung “meleleh”. Ted Mosby, sang tokoh utama yang selalu mencari “the right one”; Barney Stinson, sang playboy super percaya diri dengan beragam siasat tolol; Marshall Erikssen, soulbro-nya Ted yang selalu punya tingkah-tingkah konyol nan nggak penting; Lily Aldrin, soulsist-nya Ted yang juga merupakan istri Marshall; dan terakhir, Robin Schebartsky, “movie-darling” yang selalu jadi “unfinished business” bagi Ted, bahkan hingga episode paling terakhir.

Cerita sederhana, karakter yang kuat, lelucon yang kadang hiperbola, hingga pesan moral yang menohok.

Memang, big applause untuk para pemeran dan “dalang” dari belakang layar. Satu hal yang membuat saya merasa film seri ini sangat berbeda dengan serial lainnya, adalah kalimat-kalimatnya yang sangat quoteableCatchy. Simpel, tapi membuat perasaan tiba-tiba tak keruan.

Pesan moralnya pun begitu. Nggak terhitung lagi, episode-episode mana saja yang bisa membuat saya berlinang air mata. Bukan karena kisah sedih secara eksplisit. Bukan sama sekali. Hanya, pesan tersiratnya seketika memaksa mata saya berkaca-kaca. Cirambay, kalau kata orang Sunda mah.

Saya inget banget, ada satu episode yang sangat saya suka, dari seluruh season di HIMYM ini. Saya agak lupa judul episodenya, tapi, kira-kira, ceritanya berkisar tentang kebencian masing-masing tokoh pada seseorang. Kala itu, hasrat terpendam dari kebencian masing-masing tokoh ini adalah melihat mereka terpuruk di sumur terdalam. Tapi, pesan moral di penghujung episode, adalah ketika mereka mulai sadar, bahwa sebenarnya, yang membuat “lubang” itu adalah diri mereka sendiri. Dan, caranya cuma satu. Letting go.

Ahwaw banget!

Anyway, menurut saya, film yang baik, adalah film yang nggak hanya memberikan hiburan dan mimpi indah dengan happy ending semata. Tapi, film yang bisa menyadarkan para penikmatnya, bahwa di balik setiap ending, pasti ada kisah lain. Ada cerita lain yang nggak bisa diduga nalar. Ada suratan lain yang nggak akan berhenti sampai penghujung nyawa.

Karena, rasanya, akhir kehidupan setiap manusia pun nggak bisa diprediksi sama sekali, kan?

That’s why, hidup itu abu-abu. Dan abu-abu itu seru. Nggak ada yang pasti. Bahkan, seringnya, nggak sesuai ekspektasi.

Satu hal yang saya sesali sih: saya kehilangan alasan lagi untuk menunggu pergantian minggu, ketika episode HIMYM baru akan tayang secara rutin. Kehilangan alasan itu.

Mari kita hijrah. Bukan hijrah hati. Hanya berpindah kebiasaan saja. Beralih rutinitas. Tapi, HIMYM tetap di hati. Dan di memori.

🙂

-kandela-

“HER” : Teknologi, Anti Sosial dan Masalah Hati

Jakarta, 4 Februari 2014

Entah kenapa, rasanya saya cukup tergila-gila dengan film-film yang mengusung tema alienasi di dalamnya. Kesendirian. Kesepian. Anti sosial. Lebih tepatnya, film-film yang memaksa saya menontonnya sendirian, memutar otak lebih keras, lalu merasakan munculnya sebuah “lubang” imajiner di hati, yang membuat saya menyesak. Perih seperti tersayat-sayat.

Yeoup. Film berjudul singkat ini merupakan salah satunya. Kali pertama saya menonton trailer-nya di sebuah situs unggahan video, saya melirik nama Spike Jonze berseliweran di antaranya. Siapakah dia?

Well, pria asal Maryland, Amerika Serikat ini merupakan seorang sutradara favorit saya yang cukup piawai dalam menciptakan film-film absurd dengan jalan cerita keluar nalar. “Where The Wild Things Are” merupakan salah satu contohnya. Selain film-film layar lebar, Spike Jonze juga merilis beberapa film pendek, seperti “I’m Here”–film yang mengangkat kisah percintaan dunia robot. Nggak heran, kan, saya begitu penasaran dengan film “HER” ini sejak pertengahan tahun 2013 silam?

Akhirnya, saya baru bisa menonton film “HER” dengan mata kepala saya sendiri di pertengahan bulan Januari 2014. Yang pasti, saya ingin sendirian ketika menontonnya secara perdana. Saya ingin menjadi seseorang yang mengasingkan diri, barang 2 jam saja. Selimut, bantal, penganan dan segelas susu cokelat menjadi rekan yang tepat untuk menyaksikan film ‘alienasi’ ini.

Seperti biasa, film semacam ini dibuka oleh irama musik yang sendu. Dan hebatnya, dengan tone warna gambar yang nggak kalah sendu, film ini mampu melahirkan nelangsa dari hati para penontonnya sejak awal film dimulai. Theodore Wombly, yang diperankan oleh Joaquin Phoenix, merupakan sang tokoh utama, tentunya memiliki kepribadian yang sesuai dengan efek bebunyian dan tampakan visual suguhan film ini.

Alkisah, Theodore merupakan seorang pria patah hati yang berada dalam proses perceraian dengan sang istri–diperankan oleh Rooney Mara. Lembaran kenangan adalah hal-hal yang terbesit di otaknya; lama kelamaan membuat harinya terasa hampa. Begitu-begitu saja, tanpa dinamika berarti. Hidupnya hanya berkisar antara kantornya–perusahaan jasa pembuat surat cinta; operating system membosankan; flat di tengah kota; serta game-game hologram super canggih. Bahkan, pesan dari sahabatnya saja dianggap angin lalu.

Sampai akhirnya, Theodore melihat iklan sebuah teknologi OS terbaru, di mana OS1–nama software tersebut–dapat membantu kegiatan sang penggunanya dengan cara yang lebih interaktif dan menyenangkan. Setidaknya, sih, mengurangi rasa sepi yang dimiliki oleh para pekerja ibukota, akibat teknologi dan pekerjaan yang terlalu membabibuta.

Dalam scene tersebut, Theodore menatap lamat-lamat area penjualan OS1 itu. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk membelinya, membeli teknologi buatan manusia yang mungkin dapat menyembuhkan kekosongannya.

Ketika memulai OS1, beragam pertanyaan bersuara lelaki terlontar bertubi-tubi. Salah satunya: “Are you social or anti social?”. Setelah Theodore menjawabnya, OS1 pun mulai bekerja sebagaimana mestinya.

“Hai!” suara perempuan bernada riang muncul dari arah PC tersebut. Nama di balik suara ini adalah Samantha–yang diisi dengan sempurna oleh Scarlett Johansson. Tak seperti software kaku lainnya, bagi Theodore, berbincang dengan Samantha, seperti mengobrol dengan sesama manusia nyata. Layaknya teman imajiner, Theodore tak sama sekali bisa melihat wujud fisik Samantha. Hanya indra pendengaran yang digunakan Theodore untuk mengenali Samantha.

Samantha sendiri digambarkan sebagai sosok suara yang menyenangkan, pandai bergurau, dan perhatian. Bahkan, entah teknologi seperti apa yang menciptakan Samantha dan teman-temannya, ia bisa mengetahui isi hati sang penggunanya. Sang Tuannya.

Seperti dalam film genre drama lainnya, kisah romansa muncul di dalamnya. Tentunya, antara Theodore dan Samantha–sang program komputer. Satu hal yang cukup menohok bagi saya, ketika Theodore menikmati hubungan virtual ini dengan wajah berbunga-bunga. Pipi merah merona. Jantung berdebar-debar. Senyuman pun tak lepas dari bibirnya. Meskipun faktanya, Samantha itu teknologi. Buatan manusia. Imajiner. Sementara. Tak bisa disentuh. Tak bisa dilihat. Dan mungkin saja menghilang dalam sesaat.

Mungkin, kalau bisa saya rangkum pesan di dalamnya, Spike Jonze ingin menyinggung bahwa suatu saat, akan datang masa di mana teknologi berubah menjadi “penjajah”. Bahkan, menjajah perasaan dengan kejam. Membungkus setiap penghuni bumi dengan topeng antisosial. Menggantikan relasi realis dengan hubungan virtual yang menyenangkan.

Ngeri juga ya?

Jadi, selagi semua perasaan yang kita miliki itu nyata–baik itu sedih, senang, sakit atau perih–ada baiknya kita bersyukur. Menikmatinya. Meresapinya.

Ya. Sebelum teknologi menggantikan semuanya. 

Penasaran dengan film ini? Berikut trailer-nya, yang berhasil membuat saya penasaran selama berbulan-bulan.

Selamat menonton!

-kandela-

Dengan kaitkata , , , ,

“Si Bandel” Favorit Mama

Jakarta, 12 November 2013,

Bisa dibilang, buku adalah kambing hitam terbaik, ketika saya terpaksa harus menggunakan kacamata sejak kelas 4 SD. Padahal, kala itu, kacamata merupakan sebuah penanda kepintaran dan kecupuan seseorang. Berbeda jauh dengan sekarang, di mana kacamata telah menjadi bagian dari gaya hidup. Fashion. Mode.

Meskipun begitu, saya akui, buku adalah barang terfavorit nomor satu yang pernah ada di dalam kehidupan saya. Diari, dongeng, komik hingga novel, merupakan teman-teman kecil saya, mengingat Mama melarang saya terlalu banyak bermain di luar rumah (sepertinya sih, saat itu, lingkungan genggong krucil di rumah saya kurang bagus). Gadget pun belum ada. Untuk bermain komputer saja, saya harus main ke kantor Ayah saya, untuk mengutak-atik PC yang kala itu masih menggunakan disket.

Jika diurut secara runut, maka buku berjudul “Si Bandel”, karya Edith Unnerstad ini merupakan novel pertama yang saya baca secara menyeluruh. Melumatnya habis. Membayangkan setiap kejadiannya, lalu menyimpannya dalam salah satu kotak kecil memori. Lucunya, sampai sekarang, saya masih ingat detail ceritanya. Well, seperti apakah buku cerita ini?

sibandel_2430

Judul: Si Bandel
Penulis: Edith Unnerstad
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 198

Buku bersampul kuning ini berada di tengah-tengah tumpukan buku dalam lemari kayu Mama. Buku itu terapit oleh judul-judul buku yang sering Mama ceritakan pada saya, seperti “Malory Towers” karya Enid Blyton dan “Trio Detektif” karya Robert Arthur Jr. I do judge the book by its cover, that day, by the way! Ya, saya mengambilnya, karena warnanya kuning. Mencolok dan mentereng. Wajar saja. Kala itu, saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ketika elemen visual masih merajai pilihan saya.

“Si Bandel” adalah judulnya. Ringkas. Padat. Jelas. Sampul bukunya saja sudah dihiasi oleh ilustrasi seorang anak laki-laki berwajah usil, dan bapaknya, berdiri di depan pintu rumah. “Sepertinya, inilah wujud Si Bandel,” batin saya berucap kala itu. 

Prediksi saya tepat! Si Bandel adalah seorang anak berusia 5 tahun, yang hidup dalam Keluarga Larsson, keluarga sederhana yang bahagia. Nama asli Si Bandel sendiri adalah Patrick Larsson, yang memiliki 4 orang kakak dan seorang adik yang nggak kalah jenaka. Sebenarnya, buku ini sangat sederhana, menceritakan tingkah laku Si Bandel yang ajaib, didasari oleh sifatnya yang keras, tetapi diselingi kepolosan, layaknya anak kecil pada umumnya.

Beberapa bab cerita merangkum kehidupan Si Bandel beserta keluarganya, terutama kehangatan khas yang dimiliki oleh keluarga menengah di belahan Swedia sana. Salah satu cerita yang masih bercokol erat di ingatan saya, adalah ketika Si Bandel kehilangan bebek-bebekan–temannya mandi sehari-hari–bahkan mencarinya hingga ke tempat yang sangat-amat-jauh, seorang diri. Alkisah, Si Bandel merasa khawatir akan keberadaan sang bebek yang entah ada di mana. Otaknya berputar kencang. Ia pun menyadari, sang bebek tertinggal di sebuah kapal bernama Rudolfina, di sebuah daerah yang cukup jauh ditempuh, terutama bagi anak usia 5 tahun.

Tapi, dasar Si Bandel, ia tetap bersikeras pergi, tanpa meminta izin pada kedua orang tuanya. Berbekal wajah polos dan sekantong roti kismis hangat yang baru jadi, Si Bandel pergi menjemput sang bebek tercinta seorang diri. Petualangannya pun ada-ada saja.

Di bis, ia bertemu seorang pria paruh baya, dan entah kenapa, membuat sang pria paruh baya tersebut merasa ‘sayang’ dengan sendirinya, pada Si Bandel, terutama setelah ia memberikan seonggok roti kismis menggiurkan di kantong kertasnya tersebut. Buktinya, sang pria ternyata diam-diam memberikan potongan cokelat besar ke dalam kantong kertas milik Si Bandel, sebelum turun duluan dari bis tersebut.

Kenekatan Si Bandel ternyata tak berhenti dalam taraf menaiki bis seorang diri saja. Untuk mencapai kapal Rudolfina, Si Bandel harus menyeberangi Blueviken–entah itu nama danau atau laut. Kala itu, Blueviken merupakan hamparan danau beku yang bisa dilewati tanpa alat bantu, tentunya dengan bobot yang mencukupi pula. Dengan polosnya, Si Bandel yang baru saja melihat tapak kaki burung di atasnya, menganggap danau beku tersebut aman-aman saja untuk dilewati. Demi sang bebek kesayangan, Si Bandel pun tak mengurungkan niatnya untuk berjalan menuju Rudolfina.

Pesan moral dari buku “Si Bandel” sangat sederhana, kok. Nggak rumit dan jelimet. Edith Unnerstad hanya ingin menggambarkan, bahwa di Swedia–atau di negara apapun–kebahagiaan keluarga bukan sekadar materi saja. Kehangatan dan keakraban berarti segalanya, dalam buku yang memiliki judul asli “Pysen” ini. Konon katanya, seri keluarga Peep Larrson ini merupakan gambaran kehidupan keluarga Edith Unnerstad di masa lampau.

Overall, kenapa bagi saya, buku ini berharga? Pertama, karena buku ini adalah novel pertama yang saya baca seluruhnya, sampai saya lumat habis berkali-kali, dan tak ada bosan-bosannya hingga detik ini. Kedua, buku ini adalah salah satu buku yang membuat saya memiliki cita-cita menjadi penulis sejak masih ada di bangku SD.

Dan, terakhir, buku “Si Bandel” adalah buku favorit Almarhum Mama, yang selalu ia ceritakan terus menerus, sebelum saya tidur. Sebelum beliau tidur. Sebelum kami terbaring lelap dalam mimpi kami berdua.

Ya, buku ini adalah kenang-kenangan. Pengingat. Memento. Penyimpan sejarah. Perekam kisah. 

🙂

-kandela-

Dengan kaitkata , ,

Namaku Joni, Namaku Susi!

Jakarta, 16 Oktober 2013,

Ketika Joni dua satu, dan Susi sembilan belas,
hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas.
Kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas,
dingin dan cemas.

Namaku Joni, namaku Susi.
Namamu Joni, namamu Susi.
Hey hey, Joni! Hey hey, Susi!
Hey hey, Joni! Hey hey, Susi!

Denting keyboard membuka kisah “Balada Joni dan Susi” yang baru saja saya beli beberapa hari lalu. Suara berat mengiringi dentingan tersebut, menyusun rangkaian cerita yang terangkum dalam 12 judul lantunan irama.

Dia bukan vokalis. Dia bukan penyanyi. Bukan pula anggota paduan suara. Dia, lebih dari semua itu. Dia–Ugoran Prasad–adalah bagian dari sang pencerita. Sang pendongeng. Melancholic Bitch, adalah nama besar dari kelompok para pencerita tersebut. Nama lainnya: Yosef Herman Susilo, Teguh Hari Prasetya, Yennu Ariendra, dan Septian Dwirima; merupakan rekan Ugo, dalam menjalin sebuah cerita. Sebuah kisah. Sebuah balada. Sebuah legenda. Oh, tidak. Maksud saya, Melancholic Bitch sendiri, adalah legenda. Ya. Legenda. 

Sebenarnya, saya terbilang sangat terlambat mengenal nama para pendongeng, yang terbalut profesi musisi ini. Sangat telat. Mereka telah lahir di pinggiran Yogyakarta sejak akhir 90an, masa-masa di mana mata saya masih tertuju pada boyband luar, standar remaja kala itu. Saya, baru mengenalnya tahun 2012 lalu. Luar biasa, saya kemana saja ya selama ini?

Apakah yang membuat band ini terlihat ‘berbeda’ bagi saya, yang semula hanya mendengar musiknya barang sepenggal-dua penggal saja?

Sebagai gambaran, saya akan menceritakan pengalaman indra saya, tentang album yang telah rilis sejak 2009 lalu. Again and again, saya tertinggal jauh dalam mengikuti perkembangan musisi ini. Judul album ini, adalah “Balada Joni dan Susi”. Bahkan, bagi saya, kepingan CD itu bukanlah album lagu. Bukan! Kepingan bersampul tersebut merupakan buku cerita, yang dilafalkan dengan suara dan nada. Indah! Banget!

Dua belas lagu di dalamnya, memuat perjalanan dan kisah cinta Joni, yang berusia 21 tahun, dan Susi, yang baru menapaki umur 19 tahun. Siklus kisah percintaan dua belia yang mengalami beragam konflik realitas dalam perjalanannya. Jatuh cinta, melarikan diri bersama, lalu berakhir dalam pahit, menghadapi kenyataan yang biasa dibilang kejam. Menyesak. Roman ini sama sekali tak terbelenggu oleh rona picisan. Sungguh anti-picisan!

Kali pertama saya mendengar album ini sepenuhnya, rasanya emosi saya terombang-ambing. Sebentar naik. Sebentar berbunga-bunga. Sebentar lagi jatuh, sejatuh-jatuhnya. Kemudian, akhirnya, terkapar tak berdaya.

Tak hanya nuansa, nada, tambahan musik elektronik, dan distorsi saja yang mampu mempermainkan emosi saya seperti ini. Layaknya sebuah buku cerita, Melbi–demikian julukan Melancholic Bitch–mampu menghimpun diksi untuk saling bekerja sama, menyusun rangkaian lirik terkemas dalam sastra yang cantik, tanpa dipenuhi istilah rumit.

Namun, berbeda dengan lagu-lagu cinta umumnya, yang menjual mimpi, gombal, dan ekspektasi belaka, “Balada Joni dan Susi” mengusung kisah kasih kaum menengah, yang menghadapi kehidupan nyata. Fakta. Seperti halnya dalam lagu “Dinding Propaganda”, suara Ugo menyanyikan lirik yang realis:

Minggu pertama pelarian kita; tataplah mataku dan temukan telaga.
Susi demam dan terbaring gemetar. Joni gusar dan tangannya terkepal.
Miskin takkan membuatnya putus asa. Lapar memaksanya merasa berdaya.

Joni tak gila ketika didengarnya dinding berbisik, pelan berbisik:
curilah roti, curilah roti
Takkan kubiarkan engkau mati.

Kehidupan jalanan ini seakan akrab di telinga, bukan?

Selain lagu-lagu yang memuat kepedihan kisah pelarian cinta, salah satu lagu favorit saya, adalah “Mars Penyembah Berhala”, yang memuat quotes menohok, semacam: “Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita punya televisi, semesta pepat dalam 14inci?”. Luar biasa sekali kalimat ini!

Satu hal istimewa dari album ini, adalah sifatnya yang benar-benar menyerupai buku cerita. Jika kamu melewatkan satu halaman saja, kamu akan ketinggalan banyak cerita. Terlewatkan kisah yang sedang mengalir. Alhasil, kisah ini pun terasa ganjil. Menggantung. Tak selesai. Maka, ketika mendengar satu album “Balada Joni dan Susi” untuk kali pertama, lebih baik, dengarkan setiap lagu dengan seksama. Resapi setiap lirik dengan khusyuk. Pahami ceritanya. Alurnya. Pesannya. Analoginya.

Ah! Rasanya, kisah ini terasa lebih lengkap lagi, kalau saya kelak bisa melihat penampilan para story-teller ini secara langsung. Well, sayangnya, jumlah konser mereka di ibukota pun bisa dihitung dengan jari. Saya sudah melewatkannya, beberapa bulan lalu, ketika Melbi mengadakan konser di Bandung dan Jakarta. Too bad, huh? 

Tapi, tetap saja, saya akan menanti waktu, hingga Melbi kembali “mendongengkan” balada-baladanya di lain hari kelak. Dan, rasanya, tangan saya ketagihan untuk membeli album lainnya, yaitu Re-Anamnesis.

Dan, sekali lagi, kisah Joni dan Susi dalam 12 judul itu ditutup oleh kalimat, “Namaku Joni, namaku Susi. Namamu Joni, namamu Susi”.

Melankolis. Manis. Meringis.

-heykandela-

Dengan kaitkata , ,

“Her” : Drama Tentang Rasa dan Anti Logika

Jakarta, 12 September 2013,

Spike Jonze’s back! Sebenarnya, saya termasuk ke dalam golongan orang yang terlambat mengenal nama Spike Jonze ini. Mungkin, saya mengenal sekilas nama-nama film karya pria asal benua Amerika tersebut, seperti “Being John Malcovich” dan “Where The Wild Things Are”. Sayangnya, entah kenapa, beberapa tahun lalu, saya kurang memerhatikan nama sang maestro di balik berhasilnya 2 film tersebut.

“Her”, adalah sebuah tajuk film yang akan tayang Desember 2013 kelak. Spike Jonze–sang sutradara favorit–lah yang melahirkan film drama tersebut. Bahkan, saya iseng memanggil genre film ini sebagai: dramabsurd. Sama seperti film-film karya seorang sutradara absurd asal Perancis, Michel Gondry. Memang nggak bisa dijadikan perbandingan, karena toh asal-usul mereka pun jauh berbeda, tetapi, saya sangat mengagumi 2 nama yang banyak berkecimpung dalam dunia video dan sinematografi itu.

Berbicara tentang film “Her” ini, saya menonton trailer-nya di situs youtube, karena–sekali lagi–teman saya, Maria Jaclyn alias Jeko, merekomendasikannya kepada saya. “Kamu pasti suka deh!” ujarnya antusias kala itu.

Dan, benar saja. Kali pertama saya melihat cuplikan film ini, rasanya seperti ada palu godam yang menghentak keras organ-organ pernapasan saya. Sehabis 150 detik trailer tersebut diputar, perasaan gloomy tiba-tiba mampir tanpa sebab. Enggan beranjak dari hati saya untuk beberapa saat. Aneh!

So, sedikit cerita tentang film absurd ini, “Her” berkisah tentang seorang pria bernama Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) yang menjalin hubungan dengan sebuah sistem komputer penjawab otomatis, yang keluar dalam wujud suara seorang wanita. Namanya, Samantha (Scarlett Johansson). Jika disejajarkan, mungkin mirip dengan program “Simi-Simi” yang sempat booming beberapa waktu lalu.  Alkisah, Theodore bertemu dengan Samantha, sebagai salah satu terapi untuk menyembuhkan hati.

Selain nama Spike Jonze yang bertengger di balik layar film tersebut, terdapat 2 hal yang langsung menarik perhatian saya, dari detik-detik pertama cuplikan film ini diputar. Pertama, adalah kalimat yang menjadi pembuka trailer tersebut. “Mr Theodore Twombly, welcome to the world’s first artificially intellegent system. We’d like to ask you a few question. Are you social, or anti-social?” ujar sistem tersebut. Entah kenapa, mungkin untuk sebagian orang, hal ini biasa saja. Tapi, buat saya… hmmmm… can’t describe it with these few words! 

Kedua, adalah soundtrack yang mengalun pelan di antara penggalan-penggalan adegan dalam trailer tersebut. Salah satunya, adalah lagu dari seorang musisi wanita favorit saya, Karen O, berjudul “The Moon Song”. “Your shadow follows me all day, making sure I’m okay. And we’re a million miles away”. Hmm… Lagu ini terlalu. Terlalu gloomy, sekaligus manis. Terlalu membunuh!

Berikut adalah cuplikan percakapan super-duper-gloomy, berlatarkan salju di sekujur tubuh, hingga pelupuk mata. Super-duper-membuat perasaan nggak enak. Susah tidur. Bercokol erat di ingatan.

Samantha: “Can you feel me with you right now?”
Theodore: “I’ve never loved anyone the way I love you.”

Mungkin, yang menjadi pesan dari film ini, perasaan bisa hinggap kapan saja, terhadap siapapun itu. Tanpa mengenal wujud. Tanpa mengenal fisik. Tanpa mengukur jarak. Bahkan, tanpa tahu, apakah dia nyata, hanya khayalan belaka, atau bahkan bagian dari kecanggihan teknologi dunia. Rasa, memang nggak kenal yang namanya logika. Well, well, well, it seemed to be another awesome movie from Spike Jonze!

Masih belum terbayang, seberapa gloomy dan absurdnya film ini? Simak trailer menyesak di link berikut >> http://www.youtube.com/watch?v=6QRvTv_tpw0 | jangan lupa juga untuk mendengarkan lagu yang nggak kalah membunuh, dari Karen O, dengan judul The Moon Song >> http://www.youtube.com/watch?v=1uq1oSlb15Y&feature=player_detailpage .

So, selamat menikmati cuplikan dan soundtracknya, dan selamat menanti wujud film seutuhnya beberapa bulan lagi!

Enjoy! 

kandela-

Dengan kaitkata , , , ,

I’VE GOT LIEBSTER BLOG AWARDS?

Bandung, 12 Agustus 2013,

Well, saya agak bingung sebenarnya, ketika Ariasparrow, seorang teman dunia nyata yang juga merupakan seorang blogger pengulas film, memberikan nominasi Liebster Blog Awards ini kepada saya.

Mengapa bingung? Pertama, saya super nggak mengerti, apakah sebenarnya Liebster Awards ini. Dari mana asalnya. Dan, kenapa saya bisa dinominasikan award ini, padahal saya jarang review film–saya melihat para blogger yang dinominasikan, sebagian besar adalah para movie-blogger.

Ha-ha!

Ya sudah lah. Karena sudah dinominasikan seperti ini, pertama-tama, saya ingin mengucapkan terimakasih pada sang pemberi–Ariasparrow–yang ternyata menganggap saya sebagai salah seorang pengulas film yang pantas. *terharu gue Ya!

Berkaitan dengan Liebster Awards sendiri, alhasil saya penasaran, dan mulai mencari-cari via google. Jawabannya, adalah sebagai berikut.

The Liebster Blog Award is given to up and coming bloggers who have less than 200 followers. “Liebster” is German for “favorite”. This award is the “favorite blog award.”

Wah! Ternyata saya salah kaprah. Penghargaan ini nggak hanya dinominasikan bagi para pengulas film saja. Semua bidang mencakup di dalamnya, termasuk dalam musik, travel, fiksi, bahkan review produk saja bisa masuk dalam nominasi ini. Tetapi, mungkin saya–sebagai seseorang yang dianggap movie-blogger, setidaknya oleh Ariasparrow–akan menganggapnya sebagai award virtual dalam ranah pengulas film saja.

Tapi, sebelumnya, terdapat beberapa cara ikutan yang harus saya ikuti. We’ll see~

1. Ungkapkan rasa terima kasih pada sang pemberi nominasi Liebster Award ini, dan jangan lupa gunakan link blog si orang yang bersangkutan!

2. Cantumkan logo Liebster Award di postingan Anda (mari menggali di gudangnya Mbah Google!).

3. Jawab 11 pertanyaan yang diajukan oleh orang yang menominasikan blog Anda.

4. Sebelumnya, tulis 11 fakta tentang diri Anda sendiri. (Do I know myself, haa?)

5. Siapkan 11 pertanyaan baru buatan Anda sendiri.

6. Kirimkan 11 pertanyaan baru tersebut ke 11 teman blogger pilihan Anda, jangan lupa cantumkan link teman-teman blogger Anda tersebut, yes? 

7. Terus jangan lupa beritahu sang blogger penerima Liebster Award.

8. Terakhir, jangan lupa tulis cara ikutan Liebster Award ini di postingan Anda. (ya iyalah, ucuuu!)

Fakta Saya?

So, saya akan mulai menyebutkan 11 fakta tentang diri saya sendiri, sebagai awal mula dari permainan ini. Yippie! 

1. Merinding ketakutan kalau ketemu kupu-kupu, apalagi yang ukurannya raksasa, tapi pecinta filosofi “butterflies in my tummy”.

2. Gabungan antara melankolis-plegmatis-hiperbola-daydreamer.

3. Blog adalah satu-satunya hiburan yang tak ingin saya jadikan ladang pencari materi.

4. Penyuka hujan, kehujanan, mendung, petrichor, alat-alat teman hujan–payung dan jas hujan.

5. Punya 3 cita-cita sejak kecil, jadi penulis, desainer dan punya toko bunga.

6. Penyuka film dengan quote-quote menohok.

7. Sangat tergila-gila dengan film bergenre absurd nan abstrak, seperti hasil karya Spike Jonze dan Michel Gondry.

8. Senang proses, senang perjalanan, karena waktu itu hadir untuk dinikmati, bukan disia-siakan.

9. Menyukai sastra yang tidak puitis. Karena sastra, nggak selalu harus puitis, bukan?

10. Journalism-enthusiast.

11. Mudah bosan, sehingga kurang cocok dengan profesi standar bermateri tinggi, layaknya kerja di bank atau perusahaan besar.

Mari Menjawab!

Sekarang, memasuki tahap kedua, saya harus menjawab pertanyaan dari Bung Ariasparrowuuuu.. takut gue, Ya! Secara kan gue cuma movie-blogger-wannabe! Ngahahaha!

1. Karakter antagonis favorit? Di film yang mana?

Nggak bisa dipungkiri, sejak saya menonton Batman: The Dark Knight Rises, saya mendadak tergila-gila dengan Bane, yang diperankan oleh Tom Hardy. Menurut saya, Christopher Nolan–sang maestro di balik suksesnya film ini–menerapkan karakter “jahat” yang tepat, pas dan tidak berlebihan pada seorang Bane. Seorang Tom Hardy.

Oh iya, dan satu lagi. Saya tergila-gila dengan suara Bane, kala itu. Sangat-sangat-sangat jahat, mengerikan, tapi keren sekali!

2. 3 genre film favorit? Sesuai urutan, yang pertama paling favorit.

Kalau ditanya seperti ini, saya sangat bingung, karena pada faktanya, saya menyukai semua genre film, mulai dari film dokumenter, fiksi ilmiah, horor, drama, kolosal, komedi hingga kartun. Semua jenis film itu bertengger apik dalam hard disk ataupun rak DVD saya.

Tapi, jika bisa diurutkan sesuai banyaknya asupan film dalam hard disk, saya bisa mengkategorikan genre favorit, antara lain: absurd romance drama, family movie dan thoughtful thriller movie. (Itu semua genre bikinan saya sih, ha-ha! Semoga bisa mengerti!)

3. Bioskop favorit di kota kelahiran?

Salah satu (bekas) bioskop favorit saya adalah Majestic, atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama New Majestic. Kenapa favorit? Letaknya di Jalan Braga, membuat saya–yang tergila-gila akan gaya kolonial kota–sangat mengidolakan bangunan luarnya. Selain itu, meskipun saya belum pernah merasakan suasana ‘bioskop’ seutuhnya dalam gedung ini, tetapi Majestic menjadi saksi bahwa film independen tanah air sudah bergejolak riak sejak dulu. Ketika saya SMA, saya menyaksikan 2 film indie yang cukup erat bertautan dalam ingatan–‘Pelangi di Atas Prahara’, dan ‘Novel Tanpa Huruf R’.

4.  Lebih suka film-film Eropa yang dari negara apa?

Antara Inggris dan Perancis. Selain logat bicaranya yang seksi, cerita-ceritanya pun out of the box. Tak sembarang orang bisa merangkai cerita seindah dan seabsurd itu.

5. Film Asia yang bakal selalu direkomendasiin kalau lagi ngomongin film?

Ip Man, 20th Century Boys, Crows Zero, The Departure, dan TOKYO! (meskipun para sutradara film TOKYO bukanlah orang-orang Jepang asli, termasuk di dalamnya, Michel Gondry).

6. Film kelas B favorit?

Kalau film-film kungfu atau silat Mandarin, yang dulu sering muncul di layar kaca, termasuk dalam film kelas B nggak ya? (kelihatan kan, movie-blogger palsu!) Kalau iya, saya adalah penyuka film-film tersebut. Apalagi film vampir Chinese!

7. Setuju gak kalau The Expendables gak berhenti sampai di film ketiganya? Kalau nggak setuju sertakan alasan (ceilehhh).

Saya sampai detik ini belum nonton yang keduanya euyHampura. Nggak terjawab ini mah! 

8. 3 film favorit dari tahun 2005 keatas?

The Science of Sleep (2006), TOKYO! (2008), The Dark Knight Rises (2012). Tambah tiga lagi yah. Suka banget juga sama Ruby Sparks (2012), We Bought a Zoo (2011), dan X-Men: First Class (2011).

9. 3 film favorit era tahun 90-an? (tahun 2000 gak diitung yah).

Lion King (1994), Home Alone 1&2 (1990 & 1992), Homeward Bound (1993 & 1996).

10. Film paling sadis yang pernah ditonton?

Texas Chainsaw Massacre, Halloween (nggak ngerti lagi deh sama film ini, pengusung kesadisan dari awal sampai akhir), Saw, sama Hostel.

11. 3 series favorit?

How I Met Your Mother (all season), Lie To Me (I do really love Cal Lightman!), dan Anchor Woman (Jepang).

 

Kalimat Tanya dari Saya

It’s over, akhirnya! Hahaha. Pertanyaannya berhasil membuat saya memutar otak secara ekstra nih, Ya! Sialan yeh elo! Nah, sekarang, demi melanjutkan permainan ini, saya akan memberikan beberapa pertanyaan, nggak susah-susah kok. Hahaha.

1. Film yang paling pertama ditonton seumur hidup?

2. Sebutkan 3 quotes favorit dalam film, dan film apa sajakah?

3. Sebutkan 3 soundtrack film yang terngiang-ngiang di telinga sampai detik ini?

4. Lebih suka menonton di bioskop, dari DVD, atau hasil unduhan sendiri?

5. Pernahkah menonton film pendek–dari segala sumber media? Kalau pernah, film pendek apa yang paling disukai?

6. Film tanah air terfavorit?

7. Aktor / aktris tanah air terfavorit?

8. Lebih senang mana: film realis, atau fiksi fantasi?

9. Film terfavorit yang diadaptasi dari buku?

10. Film yang paling sering ditonton tapi nggak pernah bosan sama sekali?

11. Film yang membuat Anda keluar dari bioskop sebelum film selesai?

The Next Liebster Awards Goes To…

Nah, sekarang, siapa sajakah penerima nominasi versi seorang saya ini? Nggak semuanya movie-blogger, namun, selera film yang mereka miliki bagus, dan blognya pun patut dikunjungi! Berikut adalah 11 orang beruntung yang akan direpotkan oleh saya. Ha-ha-ha!

1. http://tukangbikinfilm.wordpress.com/

2. http://shafiramaemanah.blogspot.com/

3. http://fidellanandhita.blogspot.com

4. http://terlalurisky.blogspot.com

5. http://iwritetoright.tumblr.com

Ya ampun, ternyata ini bagian paling susah. Saya hanya mendapatkan sedikit teman yang senang berbincang mengenai film dalam blog pribadinya. Ataukah saya yang anti sosial? *dan mendadak sedih*.

Well, that’s it! Maafkan bila awards virtual ini tak disalurkan secara semestinya. Yang terpenting, semoga berguna, dan semoga para blogger–alias citizen journalism–tetap berkiprah dalam dunia tulis menulis, yang tak mengenal batas waktu, tempat ataupun media.

Selamat untuk para peraih Liebster Awards!

Salam.

-kandela-

#9: Ruby Sparks dan Pasangan Ideal

Jakarta, 11 April 2013,

Apa yang membuat saya tertarik menonton film ini? Pertama, karena menurut teman saya-Maria Jaclyn-film ini absurd. Aneh. Dan kedua,  karena di poster-poster yang saya lihat di lampiran Google, terpampang tulisan “Little Miss Sunshine” dengan cukup jelas. Ya, Jonathan Dayton dan Valerie Faris, pasangan yang menciptakan film drama-komedi untuk keluarga tersebut, menjadi orang-orang utama di balik layar film Ruby Sparks ini.

Dua bekal utama itu sudah membuat saya cukup penasaran dengan film ini. Well, terlebih lagi ketika saya menonton cuplikan trailer-nya di youtube. Lelaki berkacamata, novelis, dan dominasi interior putih yang memikat hati. Saya-banget! Alhasil, ketika ada waktu luang, film ini menjadi salah satu pilihan tontonan yang berkubang di hard disk external saya.

Film ini dimulai dengan hal-hal yang menggaet perhatian saya sejak awal: mimpi, mesin tik dan ruang kerja bergaya sangat urban. Memang, film yang dirilis tahun 2012 ini menceritakan kehidupan seorang novelis geek yang jenius, dengan dua sisi kehidupan yang sangat kontradiktif. Calvin Weirr Fields (Paul Dano) menjadi seorang penulis best-seller berkat karya perdananya, namun di sisi lain, ia juga tengah dilanda depresi tingkat tinggi akibat writer’s block 

Bahkan, karena hal itu pula, Calvin harus berkonsultasi dengan terapisnya, Dr. Rosenthal. Sang terapis pun menyarankan agar Calvin membayangkan seorang tokoh yang menyukai anjingnya-Scotty-seperti apapun anjing itu, meski sang peliharaan sering bertingkah seperti anjing betina.

Sejak saat itu, mimpi yang menjadi pembuka di film berdurasi sekitar 100 menit tersebut, semakin jelas. Tak samar kembali. Sosok wanita muncul dengan sangat jelas dalam imajinasi Calvin. Berambut merah, berwajah cerah dan selalu ceria. Mimpi tersebut menjadi inspirasi Calvin untuk membayangkan, menulis dan mendeskripsikan wujud khayalan yang ia namakan Ruby Sparks (Zoe Kazan) ini secara mendetail. Pasangan ideal bagi seorang Calvin, katakan lah begitu.

Magic happens sometimes, dan kali ini Calvin menjadi objek penerima keajaiban tersebut. Semua kata per kata tentang Ruby yang dirangkai dalam mesin tik putih itu menjadi nyata. Ruby Sparks adalah sosok yang eksis. Ada. Bukan maya. Sejak itu pula, konflik-konflik bermunculan satu per satu. Tentang Calvin yang tak memercayai keajaiban tersebut, tentang Ruby yang sangat sempurna di mata Calvin, dan tentang satu fakta: pasangan ideal tak selamanya menjadi ideal, karena sempurna itu bersifat relatif dan sementara.

Dalam film ini, banyak pesan yang masih bertengger dalam kepala saya, selain karena saya adalah seorang penggemar berat mimpi dan khayalan. Pesannya sederhana kok: nobody’s perfect in this world, bahkan hal itu berlaku pula pada sosok yang dikhayalkan menjadi sosok terideal di muka bumi. Karena apa? Manusia nggak pernah puas, sehingga sempurna itu menjadi bentuk yang relatif. Sempurna nggak harus cantik-ganteng-pintar-cerdas-berselera musik bagus-fashionable; dan lain sebagainya.

Jadi, sempurna itu apa?

Sempurna itu adalah saat sebuah kekurangan menjadi kelebihan. Menjadi sesuatu yang dirindukan. 

Sederhana, kan?

FYI, film ini saya rekomendasikan, bagi para penikmat film yang sangat mencintai mimpi, fiksi dan hal-hal imajiner. Dan juga bagi orang-orang yang bercita-cita menjadi seorang novelis-seperti saya.

Selamat menonton!

-kandela-

#5: SORE, Pembuat Kuping Gila

Bandung, 30 Maret 2013,

Saya lupa, kapankah pertama saya mendengar nada-nada menggila dari band bernama SORE ini. Yang pasti, saya langsung terdiam, terbujur kaku, sekaligus terharu, kali pertama saya menyaksikan penampilan Ade Paloh and friends di Pasar Seni ITB tahun 2006. Kalau nggak salah ingat, tembang “Mata Berdebu” berhasil memaksa jantung saya untuk berdetak kencang. Relaxing, much-much! Benar-benar pantas mewakili kata “sore” yang selalu identik dengan langit jingga serta matahari yang ingin tertidur pulas.

Sejak itu pula, saya seakan tersihir untuk semakin menggilai karya-karya para musisi asal ibukota ini. Tergerak untuk memendam satu niat: saya harus menonton penampilan live mereka dengan mata kepala saya sendiri – lagi dan lagi dan lagi.

Lantas, kali kedua saya menonton SORE kembali, adalah pada tahun 2008, ketika album Ports of Lima diluncurkan di Opulance Lounge, Bandung. Walhasil, meskipun baru tembang “Setengah Lima” saja yang bertengger di chart radio saat itu, seluruh lagu mereka – lagi-lagi – berhasil menyita perhatian, tak hanya bagi saya, tapi bagi semua pengunjung acara yang berasal dari beragam latar belakang. Yes, kami terhenyak selama kurang lebih 2 jam dalam bangunan di bilangan Dago tersebut.

Menurut saya secara pribadi, tak hanya nada-nada cerdas saja yang ditampilkan dalam setiap tembangnya. Sore Ze Band sangat pandai mengolah harmonisasi tersebut dengan padanan lirik yang tak kalah pintar. Pun beranalogi, seakan berpuisi. Nggak salah bila semua lagunya selalu mengena di hati.

Selain lagu-lagu berbahasa Indonesia, saya pun sangat mengidolakan tembang berbahasa asing, seperti “No Fruits for Today”, serta sebuah tembang super-manis berjudul “Silly Little Thing”, yang dinyanyikan bersama musisi Malaysia, Atilia Haron.

Terakhir, saya menonton live performance Sore secara langsung, ketika acara Radioshow digelar di Pasar Festival, Jakarta. Dan, lagi-lagi, saya terkagum-kagum melihat penampilan mereka, dengan permainan bertangan kidal seperti biasa, dengan menebarkan “rasa” dalam setiap lagu, dengan segala sesuatu yang tetap membuat kuping saya menggila. Tergila-gila.

Well, isu mengenai bubarnya Sore pun merebak kala itu. Namun, simpang siur itu pun terpecah sudah, dengan munculnya single terbaru – meskipun tanpa Ramondo Gascaro. Single yang dipublikasikan melalui soundcloud beberapa hari lalu ini, berhasil memukau telinga para pendengarnya, termasuk saya. Tembang berjudul “Sssst…” ini kembali membuat kuping saya tergila-gila. Eargasm, demikian istilah anak masa kini.

Penasaran? Berikut lirik “gila” dari lagu “gila” ini:

Dan ku tau kau tak pernah bilang gila, dan tak pernah kau ku tau bilang gila, namun kau tak juga pernah bilang gila, tak kan pernah, tak kan pernah hilang jiwa,

Diantara sejumlah bilang yang mengila, disamping kawan, jangan kau buang yang merasakan berjiwa, disamping lawan..

Dan sekarang semua rasa sudah gila, dan gilapun merasakan punya jiwa, namun kau tak pernah juga bilang gila, tak kan pernah tak kan pernah hilang gila

Dan ku harap menjadi bagianmu, ku bisa gila tak berharap, dan ku harap menjadi harapanmu, ku bisa gilaaa..

Untuk mendengarkannya, lagu ini bisa didownload via iTunes, ataupun sering-sering berkunjung ke akun soundcloud berikut: https://soundcloud.com/satriaramadhan-1/sssst/s-iSFv1

Bagi yang sudah mendengarkan, dan merasa tergila-gila juga dengan lagu ini, berarti kita tengah dilanda virus eargasm yang sama.

Selamat menikmati!

-kandela-

Dengan kaitkata , ,