Category Archives: Music

Namaku Joni, Namaku Susi!

Jakarta, 16 Oktober 2013,

Ketika Joni dua satu, dan Susi sembilan belas,
hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas.
Kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas,
dingin dan cemas.

Namaku Joni, namaku Susi.
Namamu Joni, namamu Susi.
Hey hey, Joni! Hey hey, Susi!
Hey hey, Joni! Hey hey, Susi!

Denting keyboard membuka kisah “Balada Joni dan Susi” yang baru saja saya beli beberapa hari lalu. Suara berat mengiringi dentingan tersebut, menyusun rangkaian cerita yang terangkum dalam 12 judul lantunan irama.

Dia bukan vokalis. Dia bukan penyanyi. Bukan pula anggota paduan suara. Dia, lebih dari semua itu. Dia–Ugoran Prasad–adalah bagian dari sang pencerita. Sang pendongeng. Melancholic Bitch, adalah nama besar dari kelompok para pencerita tersebut. Nama lainnya: Yosef Herman Susilo, Teguh Hari Prasetya, Yennu Ariendra, dan Septian Dwirima; merupakan rekan Ugo, dalam menjalin sebuah cerita. Sebuah kisah. Sebuah balada. Sebuah legenda. Oh, tidak. Maksud saya, Melancholic Bitch sendiri, adalah legenda. Ya. Legenda. 

Sebenarnya, saya terbilang sangat terlambat mengenal nama para pendongeng, yang terbalut profesi musisi ini. Sangat telat. Mereka telah lahir di pinggiran Yogyakarta sejak akhir 90an, masa-masa di mana mata saya masih tertuju pada boyband luar, standar remaja kala itu. Saya, baru mengenalnya tahun 2012 lalu. Luar biasa, saya kemana saja ya selama ini?

Apakah yang membuat band ini terlihat ‘berbeda’ bagi saya, yang semula hanya mendengar musiknya barang sepenggal-dua penggal saja?

Sebagai gambaran, saya akan menceritakan pengalaman indra saya, tentang album yang telah rilis sejak 2009 lalu. Again and again, saya tertinggal jauh dalam mengikuti perkembangan musisi ini. Judul album ini, adalah “Balada Joni dan Susi”. Bahkan, bagi saya, kepingan CD itu bukanlah album lagu. Bukan! Kepingan bersampul tersebut merupakan buku cerita, yang dilafalkan dengan suara dan nada. Indah! Banget!

Dua belas lagu di dalamnya, memuat perjalanan dan kisah cinta Joni, yang berusia 21 tahun, dan Susi, yang baru menapaki umur 19 tahun. Siklus kisah percintaan dua belia yang mengalami beragam konflik realitas dalam perjalanannya. Jatuh cinta, melarikan diri bersama, lalu berakhir dalam pahit, menghadapi kenyataan yang biasa dibilang kejam. Menyesak. Roman ini sama sekali tak terbelenggu oleh rona picisan. Sungguh anti-picisan!

Kali pertama saya mendengar album ini sepenuhnya, rasanya emosi saya terombang-ambing. Sebentar naik. Sebentar berbunga-bunga. Sebentar lagi jatuh, sejatuh-jatuhnya. Kemudian, akhirnya, terkapar tak berdaya.

Tak hanya nuansa, nada, tambahan musik elektronik, dan distorsi saja yang mampu mempermainkan emosi saya seperti ini. Layaknya sebuah buku cerita, Melbi–demikian julukan Melancholic Bitch–mampu menghimpun diksi untuk saling bekerja sama, menyusun rangkaian lirik terkemas dalam sastra yang cantik, tanpa dipenuhi istilah rumit.

Namun, berbeda dengan lagu-lagu cinta umumnya, yang menjual mimpi, gombal, dan ekspektasi belaka, “Balada Joni dan Susi” mengusung kisah kasih kaum menengah, yang menghadapi kehidupan nyata. Fakta. Seperti halnya dalam lagu “Dinding Propaganda”, suara Ugo menyanyikan lirik yang realis:

Minggu pertama pelarian kita; tataplah mataku dan temukan telaga.
Susi demam dan terbaring gemetar. Joni gusar dan tangannya terkepal.
Miskin takkan membuatnya putus asa. Lapar memaksanya merasa berdaya.

Joni tak gila ketika didengarnya dinding berbisik, pelan berbisik:
curilah roti, curilah roti
Takkan kubiarkan engkau mati.

Kehidupan jalanan ini seakan akrab di telinga, bukan?

Selain lagu-lagu yang memuat kepedihan kisah pelarian cinta, salah satu lagu favorit saya, adalah “Mars Penyembah Berhala”, yang memuat quotes menohok, semacam: “Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita punya televisi, semesta pepat dalam 14inci?”. Luar biasa sekali kalimat ini!

Satu hal istimewa dari album ini, adalah sifatnya yang benar-benar menyerupai buku cerita. Jika kamu melewatkan satu halaman saja, kamu akan ketinggalan banyak cerita. Terlewatkan kisah yang sedang mengalir. Alhasil, kisah ini pun terasa ganjil. Menggantung. Tak selesai. Maka, ketika mendengar satu album “Balada Joni dan Susi” untuk kali pertama, lebih baik, dengarkan setiap lagu dengan seksama. Resapi setiap lirik dengan khusyuk. Pahami ceritanya. Alurnya. Pesannya. Analoginya.

Ah! Rasanya, kisah ini terasa lebih lengkap lagi, kalau saya kelak bisa melihat penampilan para story-teller ini secara langsung. Well, sayangnya, jumlah konser mereka di ibukota pun bisa dihitung dengan jari. Saya sudah melewatkannya, beberapa bulan lalu, ketika Melbi mengadakan konser di Bandung dan Jakarta. Too bad, huh? 

Tapi, tetap saja, saya akan menanti waktu, hingga Melbi kembali “mendongengkan” balada-baladanya di lain hari kelak. Dan, rasanya, tangan saya ketagihan untuk membeli album lainnya, yaitu Re-Anamnesis.

Dan, sekali lagi, kisah Joni dan Susi dalam 12 judul itu ditutup oleh kalimat, “Namaku Joni, namaku Susi. Namamu Joni, namamu Susi”.

Melankolis. Manis. Meringis.

-heykandela-

Iklan
Dengan kaitkata , ,

#5: SORE, Pembuat Kuping Gila

Bandung, 30 Maret 2013,

Saya lupa, kapankah pertama saya mendengar nada-nada menggila dari band bernama SORE ini. Yang pasti, saya langsung terdiam, terbujur kaku, sekaligus terharu, kali pertama saya menyaksikan penampilan Ade Paloh and friends di Pasar Seni ITB tahun 2006. Kalau nggak salah ingat, tembang “Mata Berdebu” berhasil memaksa jantung saya untuk berdetak kencang. Relaxing, much-much! Benar-benar pantas mewakili kata “sore” yang selalu identik dengan langit jingga serta matahari yang ingin tertidur pulas.

Sejak itu pula, saya seakan tersihir untuk semakin menggilai karya-karya para musisi asal ibukota ini. Tergerak untuk memendam satu niat: saya harus menonton penampilan live mereka dengan mata kepala saya sendiri – lagi dan lagi dan lagi.

Lantas, kali kedua saya menonton SORE kembali, adalah pada tahun 2008, ketika album Ports of Lima diluncurkan di Opulance Lounge, Bandung. Walhasil, meskipun baru tembang “Setengah Lima” saja yang bertengger di chart radio saat itu, seluruh lagu mereka – lagi-lagi – berhasil menyita perhatian, tak hanya bagi saya, tapi bagi semua pengunjung acara yang berasal dari beragam latar belakang. Yes, kami terhenyak selama kurang lebih 2 jam dalam bangunan di bilangan Dago tersebut.

Menurut saya secara pribadi, tak hanya nada-nada cerdas saja yang ditampilkan dalam setiap tembangnya. Sore Ze Band sangat pandai mengolah harmonisasi tersebut dengan padanan lirik yang tak kalah pintar. Pun beranalogi, seakan berpuisi. Nggak salah bila semua lagunya selalu mengena di hati.

Selain lagu-lagu berbahasa Indonesia, saya pun sangat mengidolakan tembang berbahasa asing, seperti “No Fruits for Today”, serta sebuah tembang super-manis berjudul “Silly Little Thing”, yang dinyanyikan bersama musisi Malaysia, Atilia Haron.

Terakhir, saya menonton live performance Sore secara langsung, ketika acara Radioshow digelar di Pasar Festival, Jakarta. Dan, lagi-lagi, saya terkagum-kagum melihat penampilan mereka, dengan permainan bertangan kidal seperti biasa, dengan menebarkan “rasa” dalam setiap lagu, dengan segala sesuatu yang tetap membuat kuping saya menggila. Tergila-gila.

Well, isu mengenai bubarnya Sore pun merebak kala itu. Namun, simpang siur itu pun terpecah sudah, dengan munculnya single terbaru – meskipun tanpa Ramondo Gascaro. Single yang dipublikasikan melalui soundcloud beberapa hari lalu ini, berhasil memukau telinga para pendengarnya, termasuk saya. Tembang berjudul “Sssst…” ini kembali membuat kuping saya tergila-gila. Eargasm, demikian istilah anak masa kini.

Penasaran? Berikut lirik “gila” dari lagu “gila” ini:

Dan ku tau kau tak pernah bilang gila, dan tak pernah kau ku tau bilang gila, namun kau tak juga pernah bilang gila, tak kan pernah, tak kan pernah hilang jiwa,

Diantara sejumlah bilang yang mengila, disamping kawan, jangan kau buang yang merasakan berjiwa, disamping lawan..

Dan sekarang semua rasa sudah gila, dan gilapun merasakan punya jiwa, namun kau tak pernah juga bilang gila, tak kan pernah tak kan pernah hilang gila

Dan ku harap menjadi bagianmu, ku bisa gila tak berharap, dan ku harap menjadi harapanmu, ku bisa gilaaa..

Untuk mendengarkannya, lagu ini bisa didownload via iTunes, ataupun sering-sering berkunjung ke akun soundcloud berikut: https://soundcloud.com/satriaramadhan-1/sssst/s-iSFv1

Bagi yang sudah mendengarkan, dan merasa tergila-gila juga dengan lagu ini, berarti kita tengah dilanda virus eargasm yang sama.

Selamat menikmati!

-kandela-

Dengan kaitkata , ,