Category Archives: Fiksi

Tergelitik, Menggelitik, Lagi

Jakarta, 22 September 2014,

Kamu hebat.

Sudah 14 kali 24 jam, kamu memaksa mereka–para gelitik yang tengah nyenyak terlelap–untuk bangun lagi, setelah sekian lama mati suri.

Mungkin kamu menyiram muka mereka dengan air dingin 4 derajat Celcius. Mungkin kamu diam-diam memukul kentongan berbentuk cabai, yang nyaring layaknya Siskamling. Mungkin kamu memperdengarkan lagu berdistorsi tinggi, tepat di telinga mereka, sampai mereka membuka matanya.

Atau mungkin, kamu mengecup pipi mereka satu per satu, hingga wajah mereka memanas, memerah, membuat mereka terjaga seketika. Membuat mereka bergerak aktif. Mengepakkan sayapnya dengan lincah. Menyentuh dinding-dinding organ perut dalamku, menggelitiknya, lantas membuat jantungku berdebar keras. Berdetak kencang.

Apa yang kamu lakukan, ujarku. Tanyaku. Padamu.

Lalu kamu hanya bersandar pada tiang batu, tiang bebatuan kecokelatan yang menempel di depan terasku, sambil sesekali menghisap asap, asap nikotin, yang tersembunyi dalam batang putih-jingga di tanganmu.

Hey. Apa yang kamu lakukan, ujarku lagi, melihatmu yang tak mengeluarkan suara, barang satu patah kata.

Kamu terdiam. Berpikir. Lalu tertawa. Hingga kulit di ujung matamu mengerut, mengikuti gerak matamu yang menyipit, tulang pipimu yang terangkat, dan mulutmu yang menyeringai lebar. Pemandangan yang membuat gelitik di perutku semakin tak mau diam. Membuatku berusaha keras untuk menahannya.

Apa yang kamu lakukan, kuulang kembali pertanyaanku. Padamu. Kamu yang mencoba tidak menjawabnya. Ya. Yang pura-pura tidak mendengarkannya.

Aku ikut tersenyum melihatnya. Melihatmu. Melihat kamu yang mencoba mengalihkan perhatianku dengan perbincangan lain: politik, film, budaya, musik, sosial, filosofi, pekerjaanmu, pekerjaanku. Lalu, tentu saja, orientasi pertanyaanku teralihkan. Terlupakan.

Kali ini aku berhenti bertanya. Apa yang kamu lakukan, aku hanya mengeluarkan mimik ingin tahu-ku.

Lantas, aku mulai memperhatikan matamu, yang sibuk dengan koloni semut merah di sekitar tempat dudukmu. Memperhatikan bibirmu, yang sibuk menyesap kopi panas di cangkir biru itu. Memperhatikan urat-urat yang menyembul di antara jari jemarimu.

Lima menit aku menatapmu. Menyadari para kaum gelitikku terbangun karena hal-hal kecil darimu, dariku: obrolan seringan bulu, hingga diskusi kelas kakap; senyumanmu yang mengarah ke wajahku, senyumanku yang mengarah ke wajahmu; dan terakhir, mataku, matamu, yang saling bertukar cerita.

Lalu suara beratmu mulai menyeruak perlahan.

Katamu, mungkin saja kita berhenti. Mungkin saja aku tak bisa di sini. Kamu tak bisa di sana. Mungkin saja aku menghilang. Kamu menghilang. Mungkin saja aku menyerah. Kamu menyerah.

Katamu, mungkin gelitikku akan tidur lagi. Mungkin ia akan berganti jadi sesak berbuah luka. Lalu, ia akan menutup sendiri. Membuatku melupa lagi. Melupa bahwa gelitik itu pernah ada.

Apa yang akan kamu lakukan, ujarmu. Tanyamu. Padaku.

Gantian, sekarang aku yang terdiam. Aku yang enggan melihatmu. Aku yang sibuk memperhatikan koloni semut itu. Aku yang sibuk meneguk air yang sudah tak ada. Aku yang salah tingkah.

Gantian, sekarang kamu yang melihatku. Melihatku yang tak bisa menahan limpah ruah gelitik itu. Melihat wajahku yang memerah, memalu. Melihat isi pikiranku yang bercabang seribu. Bercabang dengan diksi “mungkin” yang ada di depannya.

Dan gerombolan gelitik itu bergerak tambah kencang. Membuatku mual. Membuatku pening. Pusing. Karenamu. Karenamu yang ada di sana. Sejauh tiga per empat meter dari pijakan kakiku. 

Tapi, kamu yang membuatnya. Pun kamu yang menyembuhkannya.

Sudah. Aku sayang sama kamu. Itu yang penting. Ya? 

Demikian ujarmu. Yang kembali membuatku terhenyak. Tersesat dalam senyap.

Lalu, aku, kamu, kita terhanyut bersama. Dalam sebuah rasa.

Dan sepertinya, kerumunan gelitik itu sedang berpesta pora di dalam sana.

#np Anda Perdana – Dalam Suatu Masa

-kandela-

Pura-pura

Jakarta, 7 Juli 2014,

Saya cuma enggak bisa tidur nyenyak-makan tenang-mendengar musik riang-melamun sambil tersenyum-mengerjakan yang harus dikerjakan-menikmati film komedi di TV-tertawa lepas seakan semua enggak pernah terjadi. Enggak pernah ada. Enggak pernah muncul. Enggak pernah terbesit.

Lalu, saya kembali mencuri lihat wajahmu dari kejauhan. Dari jarak belasan lampu merah dari tempatmu mengadu mimpi. Dari layar kaca berisikan dimensi maya di baliknya. Berisikan pengingat wajahmu. Senyummu. Tingkahmu. Ucapanmu. Ocehanmu.

Lalu, saya kembali mencari namamu dalam indeks memori saya. Nama yang berusaha saya hapus dari sana. Berusaha saya alihkan tempatnya–bukan sebagai pengisi hati, pengisi hari, tetapi berusaha melihatmu seperti kamu melihat saya: seorang teman yang biasa saja. Tanpa embel-embel apapun.

Lalu, saya mencoba merobeknya, merobek buku imajiner yang memuat namamu di dalamnya. Berusaha menyimpan lembarannya dalam sebuah peti bergembok baja lima puluh kilo. Biar saya tak sekali-sekali ingin membukanya lagi. Membuka perasaan saya lagi. Membuka harapan saya lagi.

Lalu, saya akan berpolah biasa ketika bertemu muka denganmu. Tidak berbinar. Tidak berdebar-debar. Tidak memerah. Tidak pula mengingat setiap detailnya dengan tersenyum. Tidak.

Karena saya akan berpura-pura, seperti biasa.  Berpura-pura, bukan kamu yang tanpa sengaja menyusupkan benih kupu-kupu di perut saya. Berpura-pura bahwa bukan kamu yang ada di sana, di labirin pikiran saya, di buku memori tentang perasaan saya.

Lalu kamu berlalu. Karena kamu tak tahu.

Lalu saya berlalu. Karena saya tak mengizinkan kamu untuk tahu.

Cukup, kok. Cukup.

-kandela-

Lepas

Jakarta, 2 Juni 2014,

Lagi. Jari saya kembali membolak-balikkan layar smartphone sembari sedikit menyentuhnya. Sampai-sampai, guratan jejak jari membekas di atas permukaannya. Ujung mata saya melirik sedikit, dengan soundtrack debaran kencang yang disertai nafas sesak. 

Lagi. Jari saya patah hati. Mata saya patah hati. Jantung saya patah hati. Paru-paru saya patah hati. Ya. Saya patah hati, tepatnya. Tidak ada notifikasi, tulis sang mesin pintar, otak di balik telepon genggam tersebut. Ya. Saya patah hati. 

Lalu, seperti anak kecil yang tersakiti, saya ingin membuangnya. Membuang harapan berupa aksara yang bertuliskan namamu di dalamnya. Membuang ingatan saya yang mengharapkannya. Pernah sangat mengharapkannya. Paling tidak, menyembunyikannya, sampai waktu membuat saya terbiasa. Jeda membuat saya terbiasa. Terbiasa tak melihat namamu di alam bawah sadar saya.

Lalu, suatu saat, mungkin saya akan lupa kalau kamu pernah ada. Mungkin saya akan lupa bahwa namamu pernah tertulis di sana. Mungkin saya akan lupa kalau saya pernah mengharapkan namamu tertulis di sana. 

Seperti kamu. Yang berusaha melupakan saya. Membuang saya. Paling tidak, menyembunyikan saya, sampai waktu membuatmu terbiasa. Jeda membuatmu terbiasa. Terbiasa tak melihat nama saya di alam bawah sadarmu.

Lalu, suatu saat, kita akan sama-sama terbiasa, bahwa kita tidak pernah ada. Bahwa saya dan kamu tidak pernah ada.

Sampai, suatu ketika, mungkin kita bertemu di sebuah persimpangan. Di sebuah bagian lembaran cerita yang bernama anti-kebetulan.

Lalu dalam beberapa detik, saya akan berhenti. Kamu akan berhenti. Mungkin saya akan membeku. Mungkin kamu akan menjadi batu. Mungkin mata saya, mata kamu, saling menghindari pandangan. Menghindari kemungkinan berkomunikasi melalui pupil saya. Pupil kamu.

Kita–saya dan kamu–akan saling membongkar kisah lama, tanpa saling bertukar kata. Tanpa saling bicara. Lalu, sama-sama tertunduk. Lalu saling menggumam dalam diam.

Lalu, bekuan detik itu kemudian meleleh. Mencair. Memaksa saya, memaksa kamu, untuk kembali bergerak. Kembali bertemu di persimpangan. Kembali pura-pura tak pernah saling mengenal. Tak pernah saling bercanda. Tak pernah saling berbicara. Tak pernah saling menyimpan cerita.

Lantas, saya, kamu, kita, akan kembali menyimpan sesak itu. Sesak yang sama seperti saat ini, saat saya, saat kamu, mencoba saling membuang. Saling menghapuskan. Saling menghilangkan.

Meski faktanya, saya, kamu, kita, memang masih belum bisa. Tidak bisa.

Lalu, saya mulai membuangnya. Membuangmu. Membuang kemungkinan untuk merasakan sesak itu. Paling tidak, menyembunyikanmu, sampai saya terbiasa. Terbiasa tak melihat namamu.

“This contact will be deleted.”

“Cancel? OK?”

#nowplaying

Pure Saturday – Sajak Melawan Waktu

Kita t’lah berjalan semua tak berubah
Ku tak mengenalmu seperti yang lalu
Seperti yang lalu…

Entah kau berada ketika kupergi
Kurelakan semua ketika kau pergi

Kehampaan di dalam hati kita
Adalah kenyataan yang makin terasa
Di tiap pijak anak tangganya
Waktu terus bergerak laju seperti yang lalu

Kehampaan di dalam hati kita
Adalah kenyataan yang makin terasa
Di tiap pijak anak tangganya
Waktu terus bergerak laju seperti yang lalu

Relakan aku seperti aku relakan semua
Relakan semua.

-kandela-

Seminggu Lebih 5 Menit

Jakarta, 18 Mei 2014,

Mungkin kamu tak tahu. Tak akan tahu. Tak akan pernah tahu. Atau tak akan pernah mau tahu.

Saya sudah berdiri di sini selama seminggu. Melihat tembok maya yang kamu bangun dalam waktu semalam, seminggu yang lalu. Melihat batas teritori jelas yang kamu dirikan, meskipun tanpa bata. Tanpa beton. Tanpa acian. Tanpa semen.

Tanpa melihat apakah kamu berlalu, atau sama-sama menunggu di depan tembok itu. Mungkin menunggu waktu. Mungkin menunggu saya bosan lalu berlalu. Atau mungkin, menunggu saya mulai menghantamkan palu untuk membuat pintu?

Kamu hanya memberi saya sedikit celah untuk mengintipmu. Tidak lebih dari sesenti. Mungkin hanya nol koma tujuh senti. Atau tujuh desi. Atau tujuh puluh mili.

Dari celah itu, saya hanya bisa mengintip satu bagian darimu. Satu saja. Kadang-kadang matamu. Mata yang waktu itu pernah menatap lekat mata saya yang gugup. Yang tak bisa memalingkannya dari pandangan tajammu.

Tak jarang, kamu hanya memperlihatkan tanganmu. Tangan yang tanpa sengaja pernah membuat saya jatuh cinta. Tanpa sengaja pernah merasakan ujung jari saya yang berkeringat dingin. Tanpa sengaja merasakan kenaikan sekresi ephinerphin, yang berpadu dengan gemuruh senyawa gelitik dalam badan saya.

Sering pula kamu memamerkan senyummu. Senyum yang biasa saja. Tidak tipis. Tidak lebar. Pun, tidak memperlihatkan gigimu yang mengisi rahangmu dengan rapi. Cuma senyum yang berhasil membuat saya merasakan rindu, ketika jeda itu ada.

Cuma tiga itu. Lalu kamu menjauh. Celah tak lagi berarti apa-apa. Sama saja. Saya tak bisa melihatmu. Mengintip isi pikiranmu. Menebak kupu-kupu macam mana yang mengisi perutmu–yang bergumul dan berbisik “benci” atau yang berkata “rindu”.

Lalu, saya masih berada di sini. Mungkin sudah seminggu lebih 5 menit. Berharap kamu mau meluruhkan tembok imajinermu, agar setidaknya, saya masih bisa melihatmu. Meminta izin agar saya bisa menyimpanmu, menyimpan saya dan kamu, menyimpan kita, dalam sebuah laci memori, yang mungkin tak akan saya usik lagi. Mungkin.

-kandela-

nb: tulisan ini terinspirasi dari mabroh tercinta, berinisial FP~ :’) selamat menikmati penantianmu ya, teman :’)

Tentang Tanggal Tujuh

Bandung, 9 Maret 2014,

Hari itu, kutetapkan sebagai hari perayaan hati membeku. Rasa membatu.

Karena hari itu, tiba-tiba, aku membenci hujan, gerimis, payung, warna kuning, kopi, buku Little Prince, motor tua, tulisan, kata-kata magis, Yahoo Messenger, Kings of Convenience, Landon Pigg, serial “How I Met Your Mother”, jaket parka, taman–beserta kursi, rumput dan lampu remang-remangnya–, Pasar Lilin, siomay, mi ayam, dan risoles Kineruku.

Bahkan, hari itu, aku membenci Bandung. Ya. Bandungku. Bandungmu.

Aku benci memoriku. Aku benci ceritamu. Aku benci faktaku. Aku benci pikiranmu.

Aku benci, ketika tahu, hitungan tahunan nggak berarti apa-apa. Aku benci, ketika tahu, aku masih di sini. Di perasaan ini, yang masih mempercayai alam bawah sadarku. Masih percaya mitos itu. Mitos buatan aku dan kamu.

Lalu, hari itu, yang aku tahu, hatiku membeku. Membatu.

Karena aku benci, mengetahui, bahwa alasanku menjadi “aku” yang seperti ini, adalah kamu. Adalah kamu.

#np Aqualung – Just For a Moment

Just for a moment
Everything I treasured was gone
Just for a moment
I faced my life alone
Oh, how I love you

Just for a moment
The world was full of pain
Just for a moment
My luck had finally run out
Oh, how I love you

The same thing that blew us together
Might blow us apart
So keep a piece of me precious
And close to your heart

Just for a moment
All of, of my nightmares came true
Just for a moment
My heart was broken in two

Oh, how I need you
Oh, how I’d miss you
Oh, how I love you

-kandela-

#3 – Jangan Terkirim!

Jakarta, 3 Februari 2014,

Surat tak sampai, memang lebih baik menjadi yang tak pernah sampai. Sama halnya dengan perasaan. Saya memang nggak pernah—nggak akan pernah—menyampaikan rangkaian diksi ini secara langsung. Nggak akan pernah.

Bukan karena nyali saya setitik. Bukan karena pesimis saya merajalela. Tapi karena ada hal-hal yang lebih baik jadi misteri. Yang lebih baik saya nggak tahu akhirnya.

Demi menjaga A, menjaga B, dan menjaga C—hal-hal yang dikatakan sebagai moralitas, padahal batas kejam sebuah perasaan.

Tahukah kamu?

Saya selalu senang bersamamu, duduk di taman itu. Ya, di bawah pohon rindang yang penuh nyamuk-nyamuk penghisap darah itu. Ya. Saya dan kamu (pernah sering) melewati pergantian hari dengan obrolan beragam bobot tanpa juntrungan yang jelas.

Saya selalu senang mengajakmu ke sana; ke sebuah kedai yang penuh perabot kayu di dalamnya; menikmati penganan ringan pembuat bahagia, berbincang tentang materi yang itu-itu saja, lalu melihatmu kebosanan mendengar cerita saya. Melihatmu terdistraksi oleh tayangan layar kaca. Mengingat saya yang tetap ingin melantunkan cerita.

Saya selalu senang membaca pesan elektronikmu yang berkata, “Sudah di markas, vroh!”. Ya. Markas besar kita. Tempat saya dan kamu biasa bertemu. Tempat kamu biasa menunggu. Tempat saya biasa menuju. Tempat kita berteduh, lalu melamun bersama, melihat jalan raya.

Saya selalu senang mengadu hinaan bersamamu. Menikmati setiap tawa yang tak berawal canda. Lalu diam-diam, saya simpan gelitik kupu-kupu di dalam perut. Diam-diam, saya menanamnya tanpa seizinmu. Iya. Saya tahu. Tanpa seizinmu.

Saya senang melihatmu. Dari jarak seperti ini. Jarak yang tak mencapai hitungan ratusan kilometer, tetapi memiliki partisi dimana-mana. Tembok imajiner yang membuat jaraknya menjadi ganda. Tembok yang kamu bangun. Tembok yang saya paksa bangun. Ya. Harus saya bangun.

Tembok masif berisikan fakta yang berkata: kita nggak merasakan hal yang sama.

Lalu saya mulai mereduksi semuanya. Perasaan saya. Kebiasaan saya. Euforia saya. Intensitas saya. Memori saya—yang sebenarnya tak seberapa.

Tapi rasanya, saya masih belum ingin lupa. Saya masih ingin mengintipmu dari jarak sekian. Jarak beberapa lampu merah, yang dipersempit oleh layar-layar penyeranta.

“Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling telepon, SMS, BBM, tapi keduanya diam-diam saling mendoakan”.  

~ Sujiwo Tejo

Satu fakta yang nggak akan pernah kamu tahu: ternyata saya rindu. Tanpa rencana. Tanpa sengaja. Tanpa alasan. Tanpa logika.

Ya. Lebih baik kamu nggak tahu.

🙂

Semoga selalu bahagia di sana. Di jarak sejauh beberapa lampu merah. Beberapa kilometer. Beberapa belokan. Beberapa kali berganti angkutan umum. Beberapa kantor kecamatan. Ya. Semoga bahagia.

-kandela-

Dengan kaitkata , ,

#2: Hai, Gerombolan Saksi Bisu!

Jakarta, 2 Februari 2014,

Hai kalian: setangkap roti panggang beroleskan madu; piring keramik merah; pisau dan garpu; selembar kertas tissue; segelas teh tarik; plus secangkir kopi Hazelnut hangat.

Kalian yang menatapku dari jarak berbeda-beda: 20 senti, dan lebih dari 20 senti.

Kalian yang rajin mengintipku, mengintip senyuman 3 detik yang terbit dari bibirku.

Kalian yang mencuri dengar bunyi jantungku, yang berdetak semakin kencang. Ya. Semakin kencang.

Lalu, kalian beramai-ramai memperbincangkan pipiku yang kian merah merona. Seperti warna gulali kapas yang dijual di kedai-kedai.

Jangan kira aku nggak tahu, ya, kalian menggunjingkanku! Kalian berbahasa isyarat: mungkin hanya menyebarkan aroma; mungkin hanya melelehkan embun; mungkin hanya menjatuhkan diri; lantas mengeluarkan pekikan nyaring.

“Tring!” ujar kalian. Hasil senandung kompromi kalian tadi malam.

Lalu aku pura-pura tidak tahu. Seperti kura-kura dalam perahu.

Aku berusaha diam. Berusaha tenang. Menenangkan kumpulan kupu-kupu yang tengah berdansa di dalam perutku.

Semoga kalian diam, dan tidak mempermalukanku. Membuatku tersipu.

Lalu, jangan bilang siapa-siapa! Jangan bilang siapapun, bahkan kepada meja kayu, sofa berjok merah, ataupun tumpukan buku-buku. Jangan! Aku akan malu!

Cukup kalian yang tahu, ketika aku menatap jemarinya yang bergerak lincah di atas kertas; melihat wajahnya yang tengah menyeruput secangkir kopi hangat; memergokinya yang tiba-tiba tersenyum ke arahku; lalu memergokiku yang kembali melempar senyum padanya.

Ya. Cukup kalian yang tahu, ya?

#nowplaying Adhitia Sofyan – Secret 🙂

-kandela-

Dengan kaitkata , ,

#1 – (Bukan) Sahabat Kecil

Jakarta, 7 Januari 2014,

Tak harus berukuran mini.
Tak harus berada di dunia liliput.
Tak harus berkenalan sejak usia dini.
Tak harus berada di dimensi yang sempit.
Tak harus bermain boneka.
Tak harus mengadu belalang.
Tak harus melompati tali.
Tak harus bernyanyi “Ular Naga”.

Aku dan kamu, cuma perlu saling bercerita di atas meja kopi. Saling mengintip isi kepala, lalu menukar aksara-aksara di dalamnya. Lalu menyimpannya, dalam buku harian maya.

Atau, berlarian di atas jalan aspal. Berkejar-kejaran bersama hujan. Menikmati tertawa tanpa canda. Merasakan debu menjadi gula. Melihat asap sebagai kapas. Lalu mensyukurinya.

Atau, saling melepas beban di kursi taman. Meresapi air mata tanpa terisak. Kisah sendu tanpa drama. Skenario nelangsa yang diakhiri lega. Lalu tersenyum. Lalu merayakannya.

Atau mungkin, aku dan kamu, cuma perlu diam. Saling mencuri lihat, lalu tertunduk, lalu tersipu. Saling melirik, lalu mengangguk, lalu berisyarat. Saling berbahasa sunyi, tetapi saling mengerti.

Karena kita tak harus menjadi sahabat kecil, untuk merindukan satu sama lain. 

#np Ipang – Sahabat Kecil

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Janganlah berganti
janganlah berganti
janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

-kandela-

Dengan kaitkata , , ,

Adiksiku, Menunggumu

Jakarta, 14 November 2013,

IMG_20130807_125342

Aku senang menunggu kamu di sana–di kaki-kaki pohon buatan, yang tersusun atas beton bertulang. Duduk di tepi selokan yang mengering, meluruskan kaki, mengenai rerumputan dan ilalang di taman, atau memasrahkannya pada jalan setapak setempat. Merebahkan tas kulit kecokelatan, membiarkannya bersandar di kolom abu pabrikasi yang menjulang tinggi. Sedikit menyeruput botol plastik bekal yang baru kubeli di swalayan terdekat. Melihat ke arah jam tangan dengan warna magenta pudar. Lalu melihat ke atas. Ke jajaran jendela. Ke arah balkon nomor lima dari kiri. Ya. Itu kamarmu. Tempatmu biasa memperlihatkan bagian kepalamu. Sedikit bagian kepalamu.

Lantas, aku menyuruh otak kecilku, untuk memutar kembali videomu. Membayangkan kamu datang dengan wajahmu yang mengantuk. Kilapan minyak yang menyembul dari pori-pori kulit wajahmu. Pertemuan bibirmu yang menyerupai bentuk bulan sabit terbalik. Rambut-rambut kecil yang sedikit menghiasi dagumu. Sandal hijau yang biasa menemani pijakanmu. Lalu kamu berkata, “Mau apa kamu ke sini?”. Tentunya dengan nada ketus. Khas kamu. Cuma kamu yang akan menyambutku seperti itu.

Menjawabmu, aku hanya cukup tersenyum. Menyeringai. Memperlihatkan setengah bagian gigiku yang diberi pagar kawat berwarna hijau. “Mau ketemu kamu aja,” ujarku pelan, sambil memberikan bungkus plastik putih berisi titipanmu seperti biasa: air mineral, sari buah mangga berkemasan, dan sebatang cokelat–semacam bonus sisipan diam-diam.

Kamu tersenyum dalam bisu. Tak berkata barang satu aksara pun padaku. Kamu adalah seorang yang berbahasa dalam diam. Dalam sunyi. Dalam sepi. Mungkin, dalam jeda suaramu, kamu menyimpan jajaran kalimat di bayangan imajimu. Mungkin juga, kamu tak berpikir apapun. Mungkin, kamu hanya malas mengeluarkan suara. Atau mungkin, lidahmu kelu. Tenggorokanmu seakan tercekat ngengat. Kamu tak jadi mengisi ruang kosong itu dengan suara. Dengan berbicara.

Tak apa. Waktu favoritku, tentangmu, adalah saat kamu menatapku dalam diam. Menyuarakan hatimu dengan ribuan asumsi yang kamu tanamkan dalam otakku. Lalu, kamu memelukku pelan. Menuntaskan semua asumsi itu. Merangkumnya dalam satu kesimpulan pasti. Menenangkan jutaan tentara pro-kontra yang berkecamuk dalam pikiranku. Membiarkannya melebur. Meleleh perlahan.

Dan, semua ini masih tentang videomu. Ingatanku tentangmu. 

Aku, masih di sini. Menunggumu turun dari balkon nomor lima, di bawah kaki-kaki pohon beton, seperti biasa. Menantimu untuk memberikan sebuah bibit gelitik di perutku, ketika bisa melihatmu kembali. Lalu menikmati kamu yang membisu. Meresapi kita, yang berbincang tanpa suara.

#np Banda Neira – Hujan di Mimpi

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah 

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari 

Semesta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan 

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

-kandela-

Dengan kaitkata

Aku Dungu

Jakarta, 12 September 2013,

Jadi ini rasanya jatuh cinta pada angin.

Sudah ratusan hari, aku merengkuhnya dengan kedua tanganku.

Berusaha keras menangkapnya, mengumpulkan gas-gas tersebut, lalu menyisipkannya ke dalam hati.

Nyatanya, dia tak pernah ingin kugenggam. Tak pernah ingin kugapai.

Lalu, dia kabur. Beranjak pergi tanpa permisi.

Yang ada, dia malah mengelilingiku. Mengoleksi debu, lalu membubuhkannya ke dalam mulutku. Hingga aku tersedak. Hingga aku menyesak.  Lantas, dia membuang debu di sela-sela bola mataku, sampai tetesan air pun berebutan keluar dari rumahnya.

Tapi, tetap saja, setelah sejauh itu, dia meletakkan perih di sela hatiku. Angin tak pernah merengkuhku balik. Dia membiarkanku menyapa jeda, mengaguminya, lantas berlalu.

Dengan bodohnya, aku masih di sini.
Berusaha merengkuhnya.
Atau sedikitnya, menyentuhnya.
Menyentuh ingatannya.

Tolol. Terlalu tolol.

#np The Corrs – Don’t Say You Love Me

-kandela-

Dengan kaitkata