Category Archives: Feature Article

Tentang Banjir, Tentang Jakarta

Jakarta, 13 Januari 2014,

Hujan mampir ke Jakarta secara terus menerus. Bukan langit yang sedang menangis. Bukan hujan yang sedang marah. Karena, ketika hujan ngambek, mungkin saja ia enggan mampir lagi ke muka bumi. Enggan merasa terhujat. Enggan merasa terhina.

Jakarta banjir, bukan karena hujan. Iya kan?

Rasanya, hujan hanya ingin bermain-main ke bumi. Waktunya rekreasi. Gantian dengan langit cerah dan udara gerah.

Ya, tapi seperti biasa, hujan menjadi tumbal. Kambing hitam.

Saya jadi ingat artikel saya tahun lalu. Tepat tahun lalu. Kala itu, saya berbicara tentang kebanjiran di Jakarta, penyebabnya, dan hal-hal yang berkaitan dengan bencana tersebut. Mungkin, kalau saya coba posting di sini, sedikit membuka pikiran, sedikit menyusutkan kebencian terhadap hujan.

Semoga tahun ini, hujan tak lagi menjadi kambing hitam. Banjir tak lagi mengganas. Jakarta tak lagi berduka.

***

Ketika Jakarta Menjadi Berbeda

Dari masa ke masa, pembangunan arsitektur, ekonomi, bisnis hingga dunia hiburan di Jakarta meningkat dengan sangat pesat. Namun, sebaliknya, penataan kota yang baik seakan terabaikan. Hal ini berbuah musibah, antara lain banjir yang terjadi beberapa saat yang lalu.

Luapan banjir di pelosok Jakarta beberapa waktu lalu memang mengundang duka. Sejumlah kerugian, mulai dari korban materi hingga berjatuhannya korban jiwa, tengah melanda ibukota Indonesia. Tak heran bila masalah ini menjadi bencana nasional yang memberi dampak terhadap segala lini kehidupan Jakarta. Bahkan, lebih menyedihkannya, banjir di awal tahun ini seakan mengulang musibah yang telah terjadi di tahun 2007 silam.

Menurut Marco Kusumawijaya, penggagas dari RUJAK (Ruang Jakarta) Center for Urban Studies, kesalahan penataan ruang menjadi salah satu aspek penyebab banjir di ibukota. “Area resapan air yang sudah tertutupi pembangunan, dapat mengakibatkan bencana banjir,” ujar Marco, yang juga merupakan seorang arsitek tata kota.

Sebenarnya, seberapa pentingkah tata ruang, khususnya bagi kota besar seperti Jakarta? Mengutip keterangan dari buku “Tata Ruang untuk Kita” yang diluncurkan oleh RUJAK Center for Urban Studies ini, tata ruang memiliki beberapa fungsi utama, antara lain mengatur ketinggian bangunan, mengatur kepadatan, rasio ruang hijau, peruntukan bangunan, serta menentukan tipe trotoar.

Bahkan, pentingnya tata ruang tertoreh pula di UU No.26 Tahun 2007. Menurut undang-undang, penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.

“Sayangnya, keberadaan regulasi tersebut tidak dilakukan oleh sebagian dari masyarakat Jakarta, banyak yang mengabaikannya begitu saja,” kata Marco mengemukakan pendapat.

Awal Mula Pembangunan Kota
Kota metropolitan ini sebenarnya telah berumur cukup tua. Kota Bermula dari nama Sunda Kelapa yang terletak di muara Sungai Ciliwung kota ini merupakan sebuah pelabuhan besar bagi Kerajaan Sunda. Ketenaran tempat ini pun tercium hingga ke bangsa Portugis, yang kala itu tengah memperluas kekuasaan di Benua Asia. Alhasil bangsa Portugis pun berhasil menguasai Pelabuhan Sunda Kelapa pada abad ke-15.

Pada 22 Juni 1527, seorang pribumi bernama Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa dari tangan bangsa Portugis. Nama Sunda Kelapa pun berganti menjadi Jayakarta.

Namun, pada 30 Mei 1619, Jayakarta dikuasai oleh Belanda, yang bergerak dengan serikat dagang bernama VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Alhasil, di bawah kekuasaan Jan Pieterszoon Coen, namanya berubah kembali menjadi Batavia.

Sejak tahun 1619 ini lah, tata kota Batavia mulai berkembang pesat. Bangunan balai kota nan anggun dibangun sebagai pusat pemerintahan, lengkap dengan kanal-kanal yang bertujuan guna mencegah ancaman banjir.

Namun, kerusakan lingkungan pun cepat terjadi, seiring dengan pertumbuhan yang pesat. Pusat pemerintahan pun berpindah ke kawasan yang lebih tinggi bernama Weltvreden.

Jakarta Banjir Sejak Dulu
“Banjir merupakan kasus yang telah melanda Jakarta sejak lama,” tutur Marco ketika Tabloid RUMAH berkunjung ke RUJAK Center for Urban Studies beberapa waktu lalu.

Pria yang tengah berkampanye tentang penataan kota ini menjelaskan bahwa Jakarta memiliki topografi yang datar. Hal ini menyebabkan air hujan mudah menggenang dan sulit mengalir menuju saluran drainase. “Bahkan, hal ini sudah terjadi di abad ke-17, sejak Belanda membangun kanal-kanal pertama,” ujar Marco melanjutkan kisahnya.

Marco menuturkan bahwa salah satu penyebab banjir adalah kegagalan sistem kanal, yang sebenarnya tak cocok dengan kondisi tanah di Jakarta. “Perhatikan saja, setiap kali kanal baru terbangun, maka banjir akan semakin bertambah hebat dari tahun ke tahun,” ujar Marco.

Menurut pendapatnya, sebesar apapun kanal yang diciptakan, banjir dapat terjadi berulang kali, apabila sisa-sisa air hujan yang menggenang tidak dapat dikurangi. “Hanya bisa mencegah banjir sementara waktu saja,” ungkap Marco.

Perubahaan Fungsi Area Kota
Pembangunan di segala penjuru ibukota mengundang perubahan besar, utamanya terhadap lingkungan. Daerah-daerah yang sebenarnya merupakan rawa serta area resapan air, disulap menjadi bangunan beton menjulang tinggi.

Sebagai seorang pengamat yang kritis terhadap hal-hal berbau tata kota, Marco menyayangkan banyaknya regulasi yang dilanggar berkenaan dengan area resapan air ini.

“Sebagai contoh adalah Pantai Indah Kapuk, daerah yang merupakan sebuah hutan lindung mangrove, kini berubah menjadi pemukiman dan bangunan komersil,” ujar Marco. Pria ini menambahkan, bahwa kini permukaan laut di Jakarta Utara telah melebihi permukaan daratan, sebagai akibat dari pembangunan yang tak mengikuti kaidah ilmu tata kota.

Selain itu, seperti dikutip dari buku “Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa” karya Restu Gunawan, ada pula daerah Pluit, menjadi salah satu area dengan kerugian banjir yang cukup besar di Jakarta. Dahulu, daerah ini merupakan rawa yang digunakan sebagai benteng pertahanan terhadap Kerajaan Banten. Namun, kemudian Pluit mengalami pembangunan pesat dari tahun ke tahun. Bahkan, daerah ini tak lagi memiliki tanah resapan air, akibat berdirinya mal, permukiman dan tempat hiburan.

Tentang Jenis Tanah Jakarta
Sebagai seorang arsitek dan juga ahli tata kota, Marco menilik-nilik kesalahan tata kota di Jakarta ini dapat diawali oleh pembangunan yang tak sesuai dengan jenis tanah di Jakarta.

“Jakarta memiliki tanah yang terdiri atas kandungan lempung atau lumpur yang cukup banyak, sedangkan bagian tanah yang mampu meresap air itu adalah lapisan pasir,” tutur Marco. Tak heran memang, mengingat Jakarta pada awalnya merupakan area rawa-rawa.

“Kebanyakan di antara oknum-oknum yang telah mendirikan bangunan di Jakarta, tidak melihat pembangunan dari segi ilmunya,” ungkap Marco melanjutkan ucapannya. Menurutnya, pengetahuan tentang jenis tanah yang akan menjadi lokasi pembangunan sangatlah diperlukan, guna mencegah kemungkinan banjir di tahun-tahun mendatang.

***

(Artikel ini dimuat di Tabloid RUMAH edisi 258, yang terbit pada 1 Februari 2013 silam)

-kandela-

Dengan kaitkata , , , ,