Category Archives: Daily Stories

Maaf, Saya Benci Orang Congkak

Jakarta, 26 Oktober 2015,

….

And do not walk upon the earth exultantly. Indeed, you will never tear the earth [apart], and you will never reach the mountains in height.

(Al Isra : 37)

….

Suatu ketika, saya pernah mendengar seorang kerabat berkata, “Kenapa Tuhan menciptakan dua telinga dan mulut satu? Agar kita lebih banyak mendengar, daripada berbicara. Walaupun kenyataannya, lebih banyak orang yang bicaranya tinggi, tanpa mendengarkan orang lain”. Hal itu tertanam pekat dalam otak saya, bahwa seorang manusia harus tetap menjaga ucapannya. Menjaga hatinya.

Well, hal ini mengingatkan saya pada beberapa kalangan yang (mungkin) pernah merasakan ada di “bawah”, jobless, enggan melanjutkan pendidikan, dan lain sebagainya; tapi ketika sudah (merasa) berada di puncak karir, dagunya langsung meninggi. Mendongak terus ke atas. Dan, akhirnya, menganggap “kecil” orang-orang di sekitarnya. Padahal, posisi yang mereka dapat sekarang (sebenarnya) berlandaskan unsur nepotisme besar-besaran.

Dan, FYI, saya dapat berita tentang orang-orang congkak ini bukan semata-mata penglihatan subjektif saja, kok. Banyak pihak yang bercerita A, bercerita B, bercerita C, tentang congkaknya orang-orang ini.

Cih! Am feeling disrespectful to those disgusting people!

Dan, kalau boleh jujur, menurut saya, orang-orang semacam itu malah enggak ada harganya sama sekali. Kalau diibaratkan, jika di sebuah toko “barang” semacam itu diobral pun, enggak ada orang yang mau “membeli”-nya. Nol rupiah!

Dulu, saya kira orang-orang congkak semacam itu–yang seperti kacang lupa pada kulitnya–hanya ada di cerita sinetron saja. Nyatanya, orang-congkak-yang-entah-kenapa-mereka-merasa-sombong-padahal-mereka-sama-sekali-enggak-punya-apa-apa-untuk-dibanggakan benar-benar ada di muka bumi ini. Menampakkan diri dalam wujud manusia yang berseliweran di lingkungan saya terdahulu.

Atau, mereka mau adu kesombongan? Yakin, mau adu sombong sama saya, bray? Kalah telak lho nanti! (Terus, aing jadi harus sombong juga gitu? Ya enggak lah!)

Ya. Orang-orang macam mereka memang lebih baik di-flush dan dibuang ke septic tank saja. Dibersihkan habis-habisan di sana. Biar enggak bikin bumi semakin tercemar lagi. Biar enggak bikin tambah polusi.

Oke. Maaf. Ini namanya curhat.

….

“Oh, mereka tinggal di kontrakan? Bedeng, maksudnya?” “Bukan, kontrakan beneran rumah kok!” “Iya, kontrakan petakan kan? Bedeng itu, sama aja!”

“Mau ngasih makan apa dia? Mending urusin dulu keluarganya deh! Keluarganya yang enggak mampu itu!”

Oke, bray, lebih baik, sebelum lo semua ngomong ketinggian–seolah-olah lo manusia tersempurna di jagat raya–mendingan pada ke toko kelontong deh beli cermin dulu. Lihat kehidupan lo yang udah-udah, beneran udah pada sempurna, belum? Udah pada punya rumah dari kocek sendiri, yang mewahnya kaya rumah di sinetron-sinetron? Kalau belum, sebelum ngomentarin orang lain, mendingan lo perbaikin dulu lah hidup lo. Get a life, oke bray?!

Dan, semoga saya-kamu-kita semua bisa tetap menjadi orang membumi, yang enggak akan lupa, kalau saya-kamu-kita adalah manusia yang masih berpijak di tanah. Dan kelak, akan kembali ke tanah.

Amin.

….

-kandela-

Karena Ini Menjelang Pagi dan Kamu Masih Tertidur Lelap

Jakarta, 8 Oktober 2015,

“Maaf aja, aku mah lebih baik pahit di depan, manisnya belakangan. Dari pada sebaliknya.”

“Iya. Aku juga gitu, kok. Enggak butuh yang terlalu manis di depan. Giung, kalau kata orang Sunda mah.”

“Emang kamu mau, susah dan pahit kaya begini?”

“Mau. Kamu mau, ditemenin susah dan pahitnya bareng aku?”

“Mau.”

***

Saya jadi terbayang akan rasa kopi yang kamu senangi–yang sampai saat ini, belum bisa saya racik secara pas, secara tepat. Dua sendok kopi. Satu sendok gula. Airnya, sedikit saja. Panas semua. Diracik dalam sebuah cangkir kecil. Mungil. Katamu, biar kentalnya, rasa kopinya, rasa pahitnya, lebih terasa lekat di lidah.

Ya, mungkin itulah nikmatnya menyesap secangkir kopi. Dan mungkin, bagimu, ditambah lagi dengan sebatang rokok kesukaanmu. Pahit di awal, namun terasa nagih setelah menjelajahi titik-titik lidah perasamu.

Pun, hal itu lah yang membuat saya membuka kembali buku memori, mengingat bahwa kamu pernah berkata sama seperti rasa pahitnya kopi: pahit di awal, lalu berbuah manis. Berbuah euforia.

Memang, kita–saya dan kamu–sama seperti rasa kopi favoritmu: memulai semuanya dengan perasaan yang pahit. Kamu, yang merasa pahit akan keadaan saat itu; dan saya, yang merasa pahit dengan kemungkinan A, kemungkinan B, kemungkinan C, yang akan datang di kemudian harinya. Kamu, yang ditinggalkan; dan saya, yang takut ditinggalkan. Dan, akhirnya, kamu, yang mengikhlaskan; dan saya, yang belajar merelakan.

Tak jarang, saat itu, kamu berkali-kali ingin pergi; dan saya, berulang kali ingin menyerah. Kamu, yang pernah menyuarakan sentak; dan saya yang terdiam, dan membuat kawanan saya–gerombolan air mata–keluar serentak. Tapi, selalu, semua itu berakhir dengan satu kata: maaf.

Mendadak, saya teringat akan pernyataan dari salah seorang teman: Mungkin, kita itu sudah dikasih banyak jodoh sama Tuhan. Cuma, manakah yang benar-benar “the one”-nya kita, adalah yang sama-sama mau berusaha. Sama-sama mau menerima. 

Ya. Dari semua pahit itu, kamu yang selalu tak mau beranjak. Kamu yang enggan menyerah. Kamu yang selalu mau menerima. Pun, kamu yang membuat saya percaya, bahwa kamu, bahwa saya, bisa melewati setiap jengkal rasa pahit itu, bersama.

Dan, karena itu pula, saya masih ingin memelukmu seperti ini sampai 50 tahun lagi. Dan 50 tahun setelahnya lagi. 

Kamu mau, kan?

***

“Udah, kamu mah di Bandung aja, enggak usah ikut susah sama aku. Aku di sini aja dulu sampai bisa ngebahagiain kamu.”

“Enggak mau.”

“Kenapa? Kan kalau di sini kamu jadi ikut susah?”

“Kan, seperti kata kamu, pahit di awal, jadi nanti, manisnya lebih terasa. Dan aku enggak mau ninggalin kamu karena rasa pahit itu. Karena nanti, aku enggak mau melewatkan rasa manis yang mungkin enggak akan dirasain sama orang lain,”

“Sungguh?”

“Sungguh!”

“…”

“…”

***

#NowPlaying: Anda Perdana – Dalam Suatu Masa

🙂

-kandela-

Mungkin Saya Homesick

Jakarta, 24 Januari 2015,

Homesick
(adjective)
sad or depressed from a longing for home or family while away from them for a long time.

***

Dia termenung di depan layar komputer tabungnya yang telah berdebu. Menatap ke arah kotak-kotak surat imajiner yang hanya ada di dunia digital. Dunia tempatnya berselancar di kala siang. Dunia yang bisa membebaskannya dari ketakutannya akan kehilangan, keresahannya akan masa depan, kesedihannya akan sayapnya yang terkekang kencang.

Dia ingin bebas, secara sebenar-benarnya. Beranjak pergi dari rumahnya, dari tempat ia bermimpi, dari tempat ia melayangkan cita-citanya tepat di depan matanya, dari tempat yang ia anggap menjadi “kurungan” baginya selama ini. 

***

Ya. Kata orang, setiap manusia harus menikmati jarak, menikmati spasi dulu, agar perasaan “rindu” bisa bernapas sebagaimana mestinya.

Tepat 3 x 365 hari yang lalu, saya adalah orang itu, orang yang rasanya ingin kabur dari rumah, melupakan setiap pedih, setiap peluh, setiap air mata, setiap sakit, yang saya nikmati dari hari ke hari.

Saya adalah orang itu, orang yang begitu ingin mengejar mimpinya, mengejar cita-citanya, mengejar tantangan baru yang menghampirinya.

Ya. Saya adalah dia, yang tengah termenung hampa di depan layar komputer tabung tadi, yang menjadikan dunia maya sebagai dunianya, yang merasa berada dalam sebuah kurungan tanpa satupun jeruji besi.

Mungkin, saat ini, saya ingin memakinya, ya, memaki saya yang rasanya tak pernah bersyukur, kala itu. Yang cuma bisa mengeluh, kala itu. Yang cuma bisa ini. Cuma bisa itu.

Mungkin, saat ini, ada seperempat bagian dari saya, yang menyesal akan keputusan itu, keputusan untuk berkata “ya” pada ibukota. Berkata “ya” pada tempat saya berpijak saat ini. Berkata “ya” pada A. Pada B. Pada C.

Mungkin, saat ini, setengah bagian yang tersisa, tengah melanglang jauh ke satu buku memori yang masih ada di sana: di sebuah sudut kota kelahiran, yang berjalan sempit, yang berpohon rindang, yang dijejali bangunan kolonial tua beratap sirap, yang berangkot banyak, yang dipenuhi kedai-kedai kayu kecil sederhana, yang dihuni orang-orang berlogat sama, yang membuat saya-kamu-dia-kami-kalian-mereka enggan berpindah dari sana. Enggan menghapusnya dari pandangan. Dari bayangan. Dari ingatan.

Lalu, seperempat bagian sisanya, mencoba untuk bertahan di sini. Di tempat saya berdiri kini. Di tempat saya berusaha bertahan sendiri. Dengan hiruk pikuk yang ada. Dengan kultur yang jauh berbeda. Dengan rasa sepi yang sering datang dan menyiksa.

#nowplaying Mocca – Home
After a long long walk
I finally found my way
After a long long time
I finally found my place

Warm hug is a home 

I’ve found that I belong here
Warm hug is a home
I knew that I belong here

Warm hug is a home 

I’ve found that I belong here
Warm hug is a home
I knew that I belong here
-kandela-

 

#2: Sigur Ros – Hoppipolla

Jakarta, 3 Desember 2014,

A song that helps me clear my head. 

Brosandihendumst í hringi
Höldumst í hendur, allur heimurinn óskýr
Nema þú stendur…

(Sigur Ros – Hoppipolla)

Enggak jarang orang nanya: lo anaknya hipster banget yak, nggak tahu arti lagunya, tapi lo dengerin terus menerus, sampai bela-belain nonton konsernya deh. 

Well, kalau boleh jujur, salah satu grup musisi luar yang selalu mengisi playlist saya adalah Sigur Ros. Dan, lagu bertajuk “Hoppipolla” ini adalah lagu Sigur Ros pertama yang langsung merasuk ke telinga saya, sejak tahun 2006 lampau. Terhitung telat, sih, soalnya tembang ini ada di dalam album kelimanya, yang berjudul “Takk…”.

Band asal Islandia ini sendiri sebenarnya sudah terbentuk sejak tahun 1994. Yang pasti, saat itu saya masih mendengar lagunya Trio Kwek-kwek, dkk, sih. Ya iya lah, waktu itu kan saya masih 7 tahun, mana mungkin boleh ngedengerin beginian sama Mama. 

Tapi, satu hal yang saya ingat, band inilah yang bisa bikin saya rela menabung selama beberapa bulan, demi membeli tiket konsernya, pada Mei 2013 lalu, di Jakarta, tepatnya di Lapangan Tennis Indoor Senayan. Sebenarnya, saya nyaris menonton konser fenomenalnya di Singapore beberapa bulan sebelumnya–yang konon diwarnai oleh hujan nan magis, ketika encore mulai dimainkan–hanya ada satu dan dua kendala yang membuat saya batal berjodoh menontonnya kala itu.

Kembali ke “Hoppipolla”, yang artinya “Hopping into Puddles” (Melompat ke Genangan Air), sesuai tema hari kedua–a song that helps me clear my head–lagu ini selalu berhasil membantu saya berkontemplasi. Membantu saya menenangkan diri. Membantu saya menghimpun mood menulis saya yang kadang kabur dan berkelana entah ke mana.

Mulai dari dentingan piano di bagian intro, suara vokal falsetto khas Jonsi, serta aransemen klimaks yang penuh permainan emosi; semuanya mampu membuat saya terhenyak sesaat. Membuat saya terlelap, tersedot masuk ke dalam dunia lamunan untuk sejenak.

Omong-omong, arti lirik lagu ini pun bagus lho! Lebih baik mengerti isi lagu yang kita dengarkan, bukan, daripada cuma sekadar ikut-ikutan?

Smiling, spinning ’round and ’round
Holding hands, the whole world a blur
But you are standing

Soaked, completely drenched

No rubber boots, running in us
Want to erupt from a shell

The wind, and outdoor smell of your hair

I breathe as hard as I can
With my nose

Hopping in puddles

Completely drenched
Soaked, with no boots on

And I get nosebleed
But I always get up

[Hopelandic]

Jadi, ada yang mau ikut berkontemplasi dengan saya?

-kandela-
Dengan kaitkata

#1: Beach Boys – God Only Knows

Jakarta, 2 Desember 2014,

A song that makes me happy. 

I may not always love you,
But long as there are stars above you,
You never need to doubt it,
I’ll make you so sure about it…

(Beach Boys – God Only Knows)

Mungkin, sudah sepuluh tahun lamanya sejak saya pertama mendengar lagu ini. Sejak saya menonton film bertajuk “Love Actually”, tepatnya di scene-scene akhir di bandara: ketika semua tokoh bertemu dengan pasangan dan keluarganya, saling berpelukan, saling menggenggam tangan.

Setelah itu pula, lagu yang sebenarnya sudah dirilis sejak tahun 1966 ini selalu berhasil menghadirkan euforia dan kesenangan pribadi, ketika tiba-tiba saya mendengarnya secara tak sengaja.

Kebetulan, film “Love Actually” merupakan salah satu drama ringan yang enggak pernah bikin saya bosan untuk menontonnya berulang-ulang. Dan, kebetulan, film ini pula yang sedikit “menyembuhkan” rasa patah hati yang kala itu saya alami, ketika saya masih duduk di bangku SMA. Tak heran, film ini terasa begitu “personal” bagi saya, bukan?

Pun, entah kenapa, lagu yang sempat ngehits pada masanya tersebut memiliki lirik sederhana, yang membuat kupu-kupu di perut saya enggan diam di sangkarnya.

Seperti biasa, mereka membuat wajah saya memerah. Memaksa saya untuk tersenyum semanis-manisnya. Dan mendengarkan lagu ini sampai usai. Sampai berganti jadi lagu lain lagi.

Lantas, pikiran saya mulai jauh berkelana dengan bebasnya di luar sana. Menelusuri ke mana jejak kupu-kupu itu menuju. Ke mana kupu-kupu itu akan bertengger. Bergumul hebat di udara, mencari tempat mendarat yang tepat, pada saat yang tepat. Tempat saya menanamkan gelitik itu. Perasaan itu. Keyakinan itu.

Tempat yang membuat saya bisa melantunkan lirik ini, lagi: God only knows what I’d be without you…

Kapan ya…?

Pada saatnya, Candella…

Anyway, lagu ini jadi pembuka 30 Days Song Challenge yang tertunda sekian bulan. Kenapa? Tujuannya sederhana kok, biar seenggaknya, euforia bahagia mampir lagi ke hari-hari saya yang sedang super-stagnan ini.

Semoga berhasil membuat bahagia.

Amin.

🙂

-kandela-

Dengan kaitkata

Euforia 1708

Bandung, 17 Agustus 2014,

Beda pengalaman, beda masa, maka beda hati. Beda pola pikir. Beda sudut pandang. Ya, meskipun telah tertulis di kalender, telah terlontar dalam lirik lagu, telah tertoreh pada baliho-baliho berbiaya besar di pinggir jalan raya–bahwa tanggal 17 Agustus merupakan Hari Kemerdekaan Indonesia–rasanya setiap kepala memiliki pandangan beragam terhadap hari besar ini.

Hari ini adalah hari perayaan ketika panjat-panjat tiang dibebaskan, dan bisa makan kerupuk sepuasnya; ujar seorang anak menjelang remaja, penggiat Karang Taruna di perumahannya.

Hari ini adalah hari menyebalkan ketika pagi-pagi harus upacara, padahal tanggal merah; ujar seorang pria berseragam khakhi, pegawai institusi negara.

Hari ini adalah hari ketika si bungsu didandani pagi-pagi–memakai kebaya, sanggul sekian kilo, dan gincu merah menyala–demi ikut karnaval keliling kompleks; ujar seorang ibu berusia 36 tahun, dengan sedikit rambut putih menyembul dari ujung poninya.

Hari ini adalah hari ketika film-film lokal seru muncul di TV; ujar seorang mahasiswa, penikmat hari libur seperti orang lainnya, mantengin TV dari pagi hingga pagi lagi.

Hari ini adalah hari ketika diskonan beredar di mana-mana; ujar seorang wanita gila belanja, dengan tahi lalat di pipi kanannya dan jinjingan tas–yang biasa hadir di majalah-majalah fashion–tergantung manis di lengannya.

Hari ini adalah hari ketika puncak gunung penuh riuh oleh kami, yang ingin mengibarkan bendera di sana; ujar seorang pecinta alam, dengan tas carrier merah di punggung, kemeja kotak-kotak, celana PDL tebal, dan syal terikat di kepalanya.

Hari ini adalah hari penuh keriaan, ketika panggung hiburan dangdut akan memeriahkan terminal kami; ujar seorang pengemudi angkot berwarna hijau strip hitam, dengan handuk Good Morning lembap bertengger di leher.

Hari ini adalah hari di mana kami sibuk mencari quotes dan gambar bagus di internet, lalu kami post di akun sosial media kami; ujar seorang remaja penggiat dunia maya–yang setiap harinya biasa berbincang menggunakan bahasa campur sari, kadang Indonesia, kadang bahasa asing–dengan mata tertahan pada gadget, dan tangan sibuk menyentuh layarnya perlahan.

Hari ini adalah hari di mana rasa nasionalis palsu bermunculan di mana-mana, di sosial media, di blog, di status aplikasi chat; ujar seorang pria berwajah sinis, dengan kaus bertuliskan “REBELLION” di dadanya.

Hari ini adalah hari ketika kami mengambil gaun dan high-heels merah merekah kami dari lemari, mempersiapkan party nanti malam yang sudah dinantikan; ujar seorang perempuan muda, penyuka pesta, penganut paham hedonisme ibukota.

Hari ini adalah hari ketika playlist lagu nasional dan lagu cinta tanah air mengudara kembali di mana-mana; ujar seorang penyiar radio, dengan suara berat yang menjadi identitasnya.

Hari ini adalah hari ketika jantung kami berdegup kencang, takut bendera yang kami kibarkan terbalik warnanya; ujar seorang Paskibra, berseragam putih-putih, dengan topi semacam kopiah hitam beludru, dengan pin Garuda di salah satu sisinya.

Hari ini adalah hari penuh euforia, seperti apapun maknanya. Artinya. Tujuannya. Merayakan kelahiran Indonesia 69 tahun yang lalu, ketika kemerdekaan menjadi sesuatu yang dinantikan. Ketika siaran pembacaan Teks Proklamasi di radio membuahkan sorak gembira. Ketika, kala itu, entah seperti apa rupanya, bangsa Indonesia–yang kini seperti dibuai oleh dunia gemerlap mancanegara–berhasil meraih kemerdekaannya sendiri.

Ya. Kini, momentum kemerdekaan pun beralih menjadi keriaan, hingar bingar, perayaan; sisi positifnya, perayaan hadir tanpa memedulikan perbedaan suku bangsa, ras, agama, atau apapun itu, pencetus perpecahan yang belakangan marak diperbincangkan.

Sekejap, semua melebur tanpa kenal nama. Asal-usul. Latar belakang. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” tercapai, walau cuma untuk satu hari saja.

Ya. Harusnya, momen yang hanya berlangsung setahun sekali ini, adalah titik balik untuk jatuh cinta lagi pada tanah air sendiri. Untuk menghargai lagi konsep negara yang dimiliki Indonesia, seperti apapun isinya. Seperti apapun bentuknya.

Lalu, apa arti hari ini untuk saya sendiri?

Sederhana. Hari penuh euforia yang membuat tangan saya gatal untuk menulis lagi. Mendokumentasikan arti tanggal 17 Agustus dalam rangkaian diksi, menjadi sebuah kado kecil untuk yang sedang mengulang “kelahiran” hari ini.

Dirgahayu, Indonesia!

#np Pandai Besi – Menjadi Indonesia

-kandela-

Hari Raya: Tentang Euforia, Memento, dan Bersyukur

Bandung, 27 Juli 2014,

Malam ini, tentu saja, dipenuhi oleh suara kembang api yang memekik tinggi, berpadu dengan gema takbir yang berkumandang halus di rumah-rumah ibadah umat Muslim–masjid. Tentu saja pula, pusat perbelanjaan pengumbar potongan harga besar-besaran dipenuhi orang. Disesaki oleh gerombolan pencari baju baru, demi menyambut hari raya. 

Entah sejak kapan, hari besar agama menjadi sebuah keriaan. Perayaan. Perhelatan berbekal euforia. Ya, enggak munafik, saya pun berada di antara orang-orang itu, kok. Ada di antara orang-orang yang lebih senang mencari diskonan, ketimbang memanjatkan doa di rumah ibadah.

Di luar itu semua–entah apakah orang menganggap hari raya ini sebagai hari besar agama atau hari penuh euforia–sekali lagi saya melihat hari raya, sebagai sebuah memento. Mesin waktu. Peranti pengingat. Yang mampu membuat saya menatap kembali apa-apa saja yang telah berlalu. Apa-apa saja yang sudah raib, menghilang, dan tinggal cerita. Apa-apa saja yang masih ada, yang harus disyukuri eksistensinya.

Lalu, saya terdiam. Ya, tepat ketika rumah saya lengang tanpa seorang manusia pun, kecuali saya yang sedang sibuk menaati euforia hari raya, yang sedang sibuk mempersiapkan hari esok, hari suci dalam agama saya, yang sedang sibuk bercanda dengan perangkat masak, yang seakan mengindahkan suara-suara di samping kiri dan kanan saya.

Lalu, rasa itu muncul.

Ya. Rindu.

Rindu beliau yang berwajah ke-Turki-turki-an yang selalu heboh ke supermarket dengan matanya yang berbinar. Rindu beliau yang pernah marah-marah saat H-1 Lebaran, cuma karena saya ngerusakin karpet barunya dengan setrika. Rindu beliau yang rajin neleponin saya, terus bertanya, “Kanne di mana? Jam berapa pulang? Bantuin masak!”. Rindu beliau yang 3 tahun lalu masih ada. Masih ngebisikin apa saja yang harus saya lakukan untuk memasak hidangan hari raya. Iya. Rindu.

Jarak itu yang membuka ruang bagi rindu untuk bernapas. Untuk sekadar mampir dan menyentil, berbuah rasa sepi yang luar biasa.

Namun, mendadak, saya ingat obrolan saya dengan ayah saya tercinta beberapa saat yang lalu. “Sebenarnya, pada hari raya itu, sebaiknya silaturahmi dulu dengan sosok-sosok kerabat yang masih ada. Harusnya sih begitu,” ujar Ayah dengan mata penuh keyakinan. 

Intinya, meskipun memento itu kencang bergemuruh, lantas membuat nelangsa (yang mungkin) berkepanjangan, enggak ada salahnya menyimpannya di etalase rahasia. Tidak menutupnya. Tapi tidak pula rajin menyentuhnya. Biar dia ada di sana. Beristirahat di tempatnya. 

Lalu, dengan sendirinya, rindu pun berubah wujud. Jadi bersyukur. Jadi berterima kasih. Jadi berbahagia. Masih diberikan usia, kesehatan, kedamaian; untuk merasakan keriaan, untuk merasakan euforia, di hari raya. 

So, selain mencari diskonan, berburu kuliner khas Lebaran, berbelanja baju layak di hari raya, dan lain sebagainya; enggak ada salahnya, mulai memeluk orang-orang terdekat, bersyukur tanpa batas waktu, dan mulai mengucapkan tiga kata sakti di hari raya ini: Saya. Sayang. Kamu-anda-kalian.

Selamat hari raya Idul Fitri, semuanya! Selamat merayakan kemenangan dengan khusyuk, dan saling menghargai.

Mohon maaf lahir batin, jika terdapat banyak kesalahan yang saya lakukan, baik di kehidupan nyata, atau di dunia maya. 

Dan, jangan lupa, mari kita–saya, kamu, kami, kalian–bersyukur bersama! 

#np Float – Surrender

“Let’s just celebrate today!”

🙂

-kandela-

Hello Grown-Ups!

Jakarta, 27 Mei 2014,

“Life is much more simple when you’re young” ~ Pet Shop Boys

Beberapa hari lalu, saya sempat berbincang dengan seorang kawan lama. Perbincangannya memang nggak jauh-jauh, selayaknya 2 orang sahabat yang sudah bulanan nggak bertemu muka. Kami saling bertanya kabar: saya yang sedang sibuk-sibuknya bekerja; dia yang sedang sibuk-sibuknya mengurus anak dan kantor pribadinya.

Lalu, dari sekian panjang percakapan kami, terlontarlah satu ucapan yang merangkum isi pikiran saya. Isi pikiran dia. “Pusing ya udah dewasa mah, enakan pas SMP. Enakan pas SMA,” tulisnya. 

Memang, pertambahan usia cuma perubahan nominal yang abstrak. Tidak terlihat pengukuran yang jelas–apakah setiap tahun pasti bertambah ukuran tubuh; apakah setiap tahun bertambah bobot fisik; ataukah setiap tahun bertambah jumlah penyakit. Belum tentu bertambah. Bisa tetap. Bisa berkurang. Relatif.

“Yang nambah itu beban hati. Tambah berat. Tambah bikin pusing,” ucap sang kawan lama.

Ya. Beban hati itu mungkin seperti batu kerikil di masa megalitikum yang umurnya sudah ribuan tahun. Berat. Susah diangkat. Susah dipecah.

Tidak seperti perhitungan usia yang bertambah satu tiap tahunnya, saya rasa, deret angka jumlah batu imajiner ini selalu bertambah satu, lalu dikuadratkan. Misalnya, di usia 1, beban hatinya adalah (1+1) x (1+1) = 4. Di usia 2, beban hatinya adalah 64. Dan seterusnya. 

Jadi, menurut teori asal-asalan saya, nggak terbayang berapa jumlah kerikil imajiner yang menghuni seisi jaringan tubuh sampai detik ini, kan?

Semakin banyak beban hati yang menjadi “parasit”, maka semakin banyak pula keluhan yang terlontar dari mulut para kaum dewasa. Atau kaum yang merasa mereka sudah dewasa. Kaum yang memaksa dirinya menjadi seorang dewasa. Seorang grown-up. 

Mereka–kaum dewasa–kerapkali mengeluhkan hal-hal yang dianggap penting: politik, kalkulasi bisnis, perhitungan untung-rugi, jumlah penduduk kota yang kian bertambah, jumlah angkutan umum yang tak sesuai harapan, dan banyak hal “penting” lainnya. 

Batu imajiner yang terlalu banyak ini–mungkin–membuat mereka malas menambah beban hati mereka dengan hal-hal kecil. Seperti “kenapa hujan bentuknya butiran”, “kenapa ada kucing yang bersuara manis, ada juga yang parau”, atau “kenapa gula rasanya manis, kenapa nggak masam? Kenapa nggak pahit?”. 

Nggak ada waktu mikir hal-hal nggak penting kaya gitu. Nggak ada waktu untuk berkhayal dan bermimpi kaya anak kecil.

Kasus grown-ups ini saya dapatkan pula di salah satu buku favorit saya, Le Petit Prince, karya Antoine de Saint-Exupery. Buku super-sederhana yang berdampak luar biasa ini memang sudah dicetak berulang kali, dan sudah bertahan dalam ingatan para pecinta buku selama lebih dari 70 tahun.  

Dalam buku ini, saya mendapatkan bermacam-macam quote menohok. Quote yang membuat saya terdiam sesaat, memaksanya untuk masuk ke dalam otak saya, lalu dicerna dalam bentuk debaran kencang. 

“And I might become like the grown-ups who are no longer interested in anything but numbers”.

Yap. Quote di atas adalah salah satunya. 

Sekarang, saya memang bekerja dalam sebuah industri kreatif, yang seharusnya bertindak idealis. Sayangnya, pada kenyataannya, bisnis tetaplah bisnis. Angka menjadi satu hal yang penting. Oplah lo kurang, nggak ngedatengin iklan, lo gulung tikar. Yah, begitulah kasarnya. Angka tetap angka. Nominal kembali menjadi hal utama.  

And, maybe, dear little prince, I’ve become that person. That kind of person who are no longer interested in anything but numbers. And, indeed, those numbers has contaminated my mind, dear. 

Nggak heran, kalau beragam kallimat penyesalan bergulir dari mulut kaum manusia seusia saya–mereka-mereka yang menganggap diri sudah dewasa. Ungkapan perihal “if I could just turn back the time” dan bla-bla-bla lainnya pun menjadi buah pikiran terdalam yang nggak pernah dilafalkan. 

Lalu, setelah penyesalan berlarut-larut, mereka-mereka–termasuk saya–kembali ke kehidupan nyata, yang tetap berbicara tentang angka. Tentang jumlah. Tentang nominal. Tentang ngana-nganu yang dianggap penting oleh para kaum dewasa. 

Lalu, mereka mulai melupakan hal-hal sederhana yang pernah dianggap “wah” di masanya. Di masa ketika angka belum menjadi prioritas. Belum menjadi kebutuhan. Belum menjadi keinginan. 

Belum menjadi segalanya.

-kandela-

Somehow, Fiction is More Realistic Than Reality

Jakarta, 16th of May 2014,

Fiction reveals truth that reality obscures. 

That’s what Jessamyn West said about fiction. She was known as one of famous American author, eventhough, I haven’t read her books. In fact, I read her quotes in goodreads.com; when I was searching for fiction writing tips. 

Anyway, I totally agree with her opinion. With her quotes. With her thought.

To be honest, lately, I’ve been so busy on doing my first novel project. And of course, I do feel so happy when somebody send me a message, and said that she interested with my writings. With my works. Who’s not gonna happy, anyway?

My deepest desire is writing a book. A novel. And maybe, later, I’ll write non-fiction book also. But, for the first time, I want to write my book perfectly. I want to compile all of my dreams, my delusions, and combine them with my experiences. With all of those realities.

But, afterwards, when I submitted some story ideas to my editor, I feel depressed. Why was it happening? I’m totally sure, that there’s a great editor behind every great writer. And, I’m pretty sure, that my today’s editor is a really great editor. Because, a good editor corrects our faults. Well, she corrected my ideas on each line. She kept asking me, is it possible to be happened in a real world or not. And of course, she revealed her opinions about my ideas–it’s flat or not, it’s interesting or not.

Then, somehow, I realized. Fiction is more-more-more realistic than reality. I knew it when my editor asked me about the logic reason, when my protagonist being in love with someone that doesn’t love her back. I knew it when my editor asked me, why the protagonist insist on believing “the right one”, although she’s being left by her ex-boyfriends.

When she asked me about that, I thought that I want to defend myself. I want to tell her, those stories really happened in my past-times. But still, as I’ve said before, fiction is more realistic than reality. Fiction is more logic than the fact.

Why?

Because, we don’t ask why the rain comes.
Because, we don’t ask why frogs love rain.
Because, we don’t ask why we should breathe to live.
Because, we don’t ask why we’re being in love.

Because, we know that there are so many questions in this world, that don’t need answers.

And, in reality, curiosity doesn’t need a solution. You just have to let it flow. Let it go. Let it be.

(Or maybe, reality is more complicated than the drama?)

Maybe, fiction is a way to answer those unsolved problems. Unsolved mysteries. Inarticulate dreams.

Maybe?

-kandela-

nb: this is my third post that being written in English. A lil’ bit awkward, but I hope you’ll enjoy it as much as you enjoy my Indonesian posts. 😉 Shine on!

 

 

 

Dengan kaitkata , , ,

#4 – I’m a Cuckoo

Jakarta, 16th of January 2014,

FREE
Pronunciation: /friː/
adjective (freer /ˈfriːə/, freest /ˈfriːɪst/)
Definition: able to act or be done as one wishes; not under the control of another.

Few days ago, I watched “Fight Club”–a very great movie starring Brad Pitt and Edward Norton–to fill my rest hours. Actually, eventhough I have watched it before, I hadn’t actually get the real messages. The implicit things behind those psychopath mind of Tyler Durden–alter ego of this unnamed white-collar worker. In my shallow mind, I was making a simple thought: this protagonist guy and Tyler Durden making an underground boxing activities, named Fight Club. So what’s up then?

After 2 hours watching it (again and again), finally I’ve got its real message: freedom. Independency becoming ourselves. Becoming what we want to be, with our passionate heart. Although, nowadays, we–especially people who lives in big cities–are being controlled by money, with an aim, to buy some expensive stuff that won’t last long. Won’t satisfy our needs also. Great cars, nice clothes, sophisticated gadget. Are they really our happiness? Are they really my happiness?

Anyway, my nickname contains the meaning of freedom too. “Kanne” word was taken from a flower types, named “Kana”. Indonesian people named it as “bunga tasbih”. But actually, its latin name is Canna lily. And then, I searched at Google, and found this flower’s character. Canna lily usually lives inside the forest, or at the mountain. It lives freely. It lives happily. Eventhough, sometimes, Canna lily becoming an ornamental plants in city park. But, still, Canna lily is a free creatures. Belong to these awesome earth.

For me, freedom has a very-very relative definition lately. People said: vandalism is a freedom. Tongue lashing is a freedom. Humiliation is a freedom.

What an awkward life, isn’t it? Because, if those people ever think about it deeper, there’s no freedom without rules. The fact is: our universe has its rules. Has its own pattern of lane, so that those uncounted space systems wouln’t collide with each other. So that, the freedom without God, without rules, doesn’t really exist.

I don’t think my Mom want me becoming that hyperbolic freedom person, right Mom?

Maybe, her wish was so simple that day. Wanted me lives freely just like a bird. Flying around the world. Exploring them with my five senses. Then, keeping them in my deepest side of memories. And the last, gathering all of those stories, mementos and euphorias, into my side’s masterpiece. Feeling gratitude in being alive and born to this awesome universe.

Someday, I will be that person, dear Mom. I will be the real me. Just, be patient, and watch me from your world. Your dimension. Won’t you?

nowplaying:

Belle and Sebastian – I’m a Cuckoo

-kandela-

nb: this is my second post which being written in English. So, sorry for my bad grammar, vocab and also rigid writing. Enjoy! 🙂

Dengan kaitkata , , , , ,