Category Archives: Book

“Si Bandel” Favorit Mama

Jakarta, 12 November 2013,

Bisa dibilang, buku adalah kambing hitam terbaik, ketika saya terpaksa harus menggunakan kacamata sejak kelas 4 SD. Padahal, kala itu, kacamata merupakan sebuah penanda kepintaran dan kecupuan seseorang. Berbeda jauh dengan sekarang, di mana kacamata telah menjadi bagian dari gaya hidup. Fashion. Mode.

Meskipun begitu, saya akui, buku adalah barang terfavorit nomor satu yang pernah ada di dalam kehidupan saya. Diari, dongeng, komik hingga novel, merupakan teman-teman kecil saya, mengingat Mama melarang saya terlalu banyak bermain di luar rumah (sepertinya sih, saat itu, lingkungan genggong krucil di rumah saya kurang bagus). Gadget pun belum ada. Untuk bermain komputer saja, saya harus main ke kantor Ayah saya, untuk mengutak-atik PC yang kala itu masih menggunakan disket.

Jika diurut secara runut, maka buku berjudul “Si Bandel”, karya Edith Unnerstad ini merupakan novel pertama yang saya baca secara menyeluruh. Melumatnya habis. Membayangkan setiap kejadiannya, lalu menyimpannya dalam salah satu kotak kecil memori. Lucunya, sampai sekarang, saya masih ingat detail ceritanya. Well, seperti apakah buku cerita ini?

sibandel_2430

Judul: Si Bandel
Penulis: Edith Unnerstad
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 198

Buku bersampul kuning ini berada di tengah-tengah tumpukan buku dalam lemari kayu Mama. Buku itu terapit oleh judul-judul buku yang sering Mama ceritakan pada saya, seperti “Malory Towers” karya Enid Blyton dan “Trio Detektif” karya Robert Arthur Jr. I do judge the book by its cover, that day, by the way! Ya, saya mengambilnya, karena warnanya kuning. Mencolok dan mentereng. Wajar saja. Kala itu, saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ketika elemen visual masih merajai pilihan saya.

“Si Bandel” adalah judulnya. Ringkas. Padat. Jelas. Sampul bukunya saja sudah dihiasi oleh ilustrasi seorang anak laki-laki berwajah usil, dan bapaknya, berdiri di depan pintu rumah. “Sepertinya, inilah wujud Si Bandel,” batin saya berucap kala itu. 

Prediksi saya tepat! Si Bandel adalah seorang anak berusia 5 tahun, yang hidup dalam Keluarga Larsson, keluarga sederhana yang bahagia. Nama asli Si Bandel sendiri adalah Patrick Larsson, yang memiliki 4 orang kakak dan seorang adik yang nggak kalah jenaka. Sebenarnya, buku ini sangat sederhana, menceritakan tingkah laku Si Bandel yang ajaib, didasari oleh sifatnya yang keras, tetapi diselingi kepolosan, layaknya anak kecil pada umumnya.

Beberapa bab cerita merangkum kehidupan Si Bandel beserta keluarganya, terutama kehangatan khas yang dimiliki oleh keluarga menengah di belahan Swedia sana. Salah satu cerita yang masih bercokol erat di ingatan saya, adalah ketika Si Bandel kehilangan bebek-bebekan–temannya mandi sehari-hari–bahkan mencarinya hingga ke tempat yang sangat-amat-jauh, seorang diri. Alkisah, Si Bandel merasa khawatir akan keberadaan sang bebek yang entah ada di mana. Otaknya berputar kencang. Ia pun menyadari, sang bebek tertinggal di sebuah kapal bernama Rudolfina, di sebuah daerah yang cukup jauh ditempuh, terutama bagi anak usia 5 tahun.

Tapi, dasar Si Bandel, ia tetap bersikeras pergi, tanpa meminta izin pada kedua orang tuanya. Berbekal wajah polos dan sekantong roti kismis hangat yang baru jadi, Si Bandel pergi menjemput sang bebek tercinta seorang diri. Petualangannya pun ada-ada saja.

Di bis, ia bertemu seorang pria paruh baya, dan entah kenapa, membuat sang pria paruh baya tersebut merasa ‘sayang’ dengan sendirinya, pada Si Bandel, terutama setelah ia memberikan seonggok roti kismis menggiurkan di kantong kertasnya tersebut. Buktinya, sang pria ternyata diam-diam memberikan potongan cokelat besar ke dalam kantong kertas milik Si Bandel, sebelum turun duluan dari bis tersebut.

Kenekatan Si Bandel ternyata tak berhenti dalam taraf menaiki bis seorang diri saja. Untuk mencapai kapal Rudolfina, Si Bandel harus menyeberangi Blueviken–entah itu nama danau atau laut. Kala itu, Blueviken merupakan hamparan danau beku yang bisa dilewati tanpa alat bantu, tentunya dengan bobot yang mencukupi pula. Dengan polosnya, Si Bandel yang baru saja melihat tapak kaki burung di atasnya, menganggap danau beku tersebut aman-aman saja untuk dilewati. Demi sang bebek kesayangan, Si Bandel pun tak mengurungkan niatnya untuk berjalan menuju Rudolfina.

Pesan moral dari buku “Si Bandel” sangat sederhana, kok. Nggak rumit dan jelimet. Edith Unnerstad hanya ingin menggambarkan, bahwa di Swedia–atau di negara apapun–kebahagiaan keluarga bukan sekadar materi saja. Kehangatan dan keakraban berarti segalanya, dalam buku yang memiliki judul asli “Pysen” ini. Konon katanya, seri keluarga Peep Larrson ini merupakan gambaran kehidupan keluarga Edith Unnerstad di masa lampau.

Overall, kenapa bagi saya, buku ini berharga? Pertama, karena buku ini adalah novel pertama yang saya baca seluruhnya, sampai saya lumat habis berkali-kali, dan tak ada bosan-bosannya hingga detik ini. Kedua, buku ini adalah salah satu buku yang membuat saya memiliki cita-cita menjadi penulis sejak masih ada di bangku SD.

Dan, terakhir, buku “Si Bandel” adalah buku favorit Almarhum Mama, yang selalu ia ceritakan terus menerus, sebelum saya tidur. Sebelum beliau tidur. Sebelum kami terbaring lelap dalam mimpi kami berdua.

Ya, buku ini adalah kenang-kenangan. Pengingat. Memento. Penyimpan sejarah. Perekam kisah. 

🙂

-kandela-

Dengan kaitkata , ,