Category Archives: 30 Days Project

Lovanometer

Jakarta, 14 Februari 2015,

“Saya cinta kamu.”

“Saya apalagi, lebih cinta sama kamu.”

“Tau dari mana, kamu lebih cinta sama saya, daripada saya yang cinta sama kamu?”

“Tau aja.”

“Sotoy. Emang ada indikator pengukurnya? Cih!”

Ya. Perbincangan biasa yang sudah puluhan kali kita lakukan. Puluhan kali kita lafalkan. Pun, sudah puluhan kali pula kita debatkan. Saya akan berkata: “Saya lebih cinta sama kamu”. Dan, kamu pun akan melawannya: “Saya sepuluh kali lipat lebih cinta sama kamu”.

Lalu, tiba-tiba saya, kamu, berandai-andai. Berkhayal. Bermimpi di siang bolong, sangat siang bolong, tepat di jam 12 siang.

Gimana ya, kalau beneran ada alat pengukur besarnya perasaan cinta? Perasaan sayang?

Itu yang terbesit di pikiran saya. Pikiran kamu. Ya. Pikiran kita.

Mungkin, kalaupun ada, alat itu bernama “Lovanometer”. Mungkin. Dan mungkin, kalaupun “cinta” itu merupakan sebuah besaran, maka satuannya disebut dengan “amor”, diambil dari bahasa Latin untuk kata “cinta”. Ya. Mungkin.

Lantas, coba saya, kamu, ya, kita bersama-sama pikirkan secara matang, bagaimana alat “Lovanometer” itu bekerja. Mungkin dia akan mulai berfungsi jika sudah berkenaan dengan panca indera. Dengan sentuhan. Dengan tatapan. Dengan penciuman. Dengan mendengar. Dengan mengecap rasa.

Mungkin dia seperti jangka sorong, yang akan mengukur berapa diameter pupil mata saya, pupil matamu, saat kita saling bertatap muka. Saling mencuri pandang.

Mungkin dia seperti thermometer, yang akan mengukur suhu tubuh saya, suhu tubuhmu, saat kita berdua bersama. Saling menyentuhkan ujung kelingking masing-masing secara sembunyi-sembunyi.

Mungkin juga dia berfungsi seperti sound level meter, yang akan mengukur seberapa bising debaran di dalam jantung saya, jantungmu, saat saya, saat kamu, saling memanggil nama. Saling menyapa.

Mungkin juga dia berfungsi layaknya amperemeter, yang akan mengukur seberapa besar arus listrik yang akan mengalir antar satu sama lain. Antara saya dan kamu. Saat kita tidak sengaja bertemu. Saat mata kita tidak sengaja “berjanji” untuk saling berjumpa.

Ataukah, dia berfungsi serupa stopwatch, yang akan mengukur berapa relativitas waktu yang kita alami, saat saya, saat kamu, saling bercerita. Saling berbagi kisah tanpa tahu jeda.

Mungkin nilai cinta saya sebesar 1.000.000 Amor. Dan, mungkin nilai cintamu, lebih kecil 1 Amor, dari besaran cinta saya untuk kamu. Nilaimu: 999.999 Amor.

Dan, nilai sesepele itu bisa membuktikan, kalau saya lebih cinta sama kamu, dari pada kamu yang cinta saya.

Mungkin angka 1 Amor-mu tertinggal di jalan. Mungkin angka 1 Amor-mu sudah kamu hibahkan kepada yang memerlukan. Atau mungkin, angka 1 Amor-mu kamu tabung, kamu simpan, agar kelak berlipat ganda, lebih dari nilai cinta yang sudah dimiliki sebelumnya.

Tapi, lagi-lagi, saya, kamu, berpikir keras. Berpikir terlalu keras. Karena kita sama-sama seorang pemikir. Pengkhayal. Pemimpi di siang bolong.

Cinta bukan sesuatu yang bisa diukur, bukan?

Ya. Karena, setiap waktu, angka itu bisa berubah. Bisa bertambah. Bisa berkurang. Bisa juga stagnan. Bisa berpindah. Tapi, bisa juga hanya tersimpan, ya, tersimpan di tempatnya. Di sebuah pandora tersembunyi, yang hanya diketahui saya. Diketahui kamu.

Tapi, yang terpenting–tanpa peduli, siapa yang lebih, siapa yang kurang–satu hal yang saya tahu: saya itu cinta kamu. Tanpa perlu ukuran. Tanpa perlu nominal. Tanpa perlu syarat A. Atau syarat B. Ataupun syarat C.

Dan, saya tahu pasti, untuk saya, untuk kamu, itu lebih dari cukup.

Setuju kan, kamu?

#np Hellogoodbye – Oh, It Is Love

Oh, it is love, from the first time I set my eyes upon yours,
Thinking, oh, is it love?

-kandela-

Iklan
Dengan kaitkata

Semoga Cepat Sembuh, Kaum Kalajengking!

Jakarta, 11 Februari 2015,

“Gua sih enggak masalah kehilangan temen, karena temen yang sebenernya itu bakal mengerti dengan sendirinya, kok!” 

Kamu mengucapkannya lantang. Seakan tanpa ada kata ragu sekalipun. Memang, kamu bukan orang yang mengenal diksi itu: diksi yang bersifat abu-abu, bersifat nisbi. Raut wajahmu pun datar, seakan hal itu bukan sebuah kisah yang memberatkan pundakmu sama sekali. Lalu, kamu mengakhirinya dengan senyummu yang biasa. Dengan kulit-kulit mengerut di ujung mata. Dengan pupil yang sedikit menyipit. Dengan nada yang tak ada bedanya dengan suaramu saat berbincang biasa.

Tapi, itu keahlian kita, para kaum kelahiran Kalajengking, bukan? Para kaum Scorpio? Keahlian kita, untuk berpura-pura bahwa kita kuat. Kita baik-baik saja. Kita bisa hidup sendiri. Kita tidak lemah, sama sekali tidak lemah, begitu yang akan kita katakan pada diri sendiri, bukan? Yang akan kita yakini dalam hati, meskipun nyatanya kita tidak pernah seyakin itu, bukan?

Karena saya, kamu, kita, adalah pembohong yang handal. Penipu ulung. Pengecoh hebat. Pendusta yang luar biasa. Ya. Mungkin, kamu saat ini tengah memakai topeng bedak 12 senti, gincu yang melebihi bibir, dan pipi buatan yang merah merona, seolah-olah kamu selalu menebar senyum manis di waktu 12 jam-mu bersosialisasi.

Lantas, 12 jam sisanya, kamu lebih suka berdiam, dengan tatapan tanpa arti, dengan bola-bola pikiran yang kamu sembunyikan, yang tak kasat mata. Kamu menikmati dimensimu yang mungkin dipenuhi nelangsa, mungkin disusupi bayangan hitammu, yang tak bisa saya sentuh. Tepatnya, tak boleh saya sentuh. Mungkin, menurutmu, itu ruang pribadimu. Ruang sakralmu. Ruang sucimu.

Mungkin, di dalamnya, di dalam cangkang rahasiamu itu, kamu ingin menangis sekencang-kencangnya. Kamu ingin berteriak sekeras-kerasnya. Kamu ingin menusukkan sembilu ke dalam hatimu yang sebenarnya sudah terluka.

Lalu, saya ingat, ketika ada orang yang berkata: “Dia itu enggak ngerasain sakit. Dia itu enggak ngerasain apa-apa, dia enggak rugi apa-apa”.

Rasanya, saya tahu alasan membenci mereka–orang-orang semacam itu, yang mengambil asumsi sepihak saja. Lalu bertindak A, bertindak B, bertindak C, sesuka hati mereka. Yang hanya asal tolerir. Hanya asal mengusung kata: “Teman itu segalanya”, tanpa tahu duduk permasalahannya. Tanpa tahu cerita dari berbagai pihak. Ya. Berbagai pihak.

How can I believe those people with that thought, anyway? 

Dan, kamu, ya, kamu bukan orang yang seperti itu. Kamu, yang kini berusaha tersenyum, setidaknya, bagi saya, dia, mereka, yang melihatmu sebagai orang biasa, yang bisa merasakan sakit. Pahit. Perih.

Ya. Kamu, yang telah tertusuk dalam, dengan kata-kata sederhana: “Gua udah enggak respek sama lo”, dari seseorang yang sebenarnya sangat berharga untukmu. Untuk seorang kamu–si super hebat yang selalu tersenyum ceria.

Mungkin, sekarang, kamu hanya akan berbalik, melihat saya, dan berkata: “Saya baik-baik aja, kok!”.

Lalu, lagi-lagi, kamu tersenyum seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.

So don’t tell me that I have it easy, I’m just better at hiding it than most. 

(Unknown Quote) 

Di saat-saat tertentu, menangis itu perlu, kok. 🙂

And, of course, I’ll be your shoulder to cry on, whenever, wherever. 

-kandela-

Dengan kaitkata

Kepada: Dunia, Tempat Saya, Tempat Dia, Bisa Menjadi Kita

Jakarta, 10 Februari 2014,

Somewhere in my dreamland was rainy morning there,
your eyes kept on telling me you were scared to go outside.
You held my hand and whispered: “I just never ever want to wake up”

Dia menyebutmu: entah berantah. Sebuah planet, daratan, dunia, dimensi, yang dikerubungi oleh anomali di sana-sini. Ketika gravitasi tak lagi berfungsi. Ketika air hujan tak lagi jatuh ke tanah, tetapi melayang-layang di antaranya. Ketika awan berwarna merah muda berada di atas sana, lalu bisa tersentuh dengan leluasa.

Ya. Kamu–sang entah berantah–adalah gumpalan tanah dengan bunga rumput liar di sepanjang daratannya. Kamu yang akan berdiam, lalu hanya tersenyum, ketika melihat saya, melihat dia, menari-nari di sekitarnya, di sekitar rerumputan berwarna merah muda.

Lalu kamu ikut menyelimuti saya, menyelimuti dia, dengan kumpulan spektrum yang disebut-sebut bernama “pelangi” oleh para kaum bumi.

Dan kamu memerintahkan penghunimu untuk bernyanyi riang, untuk merayakan saya, merayakan dia, yang baru saja bertatap muka denganmu, yang baru menjadi sepasang nomad di daerahmu. Ya. Nomad serupa pasangan yang baru melarikan diri. Kawin lari, istilahnya.

Tentunya, kamu–sang entah berantah–tahu, bahwa saya, bahwa dia, sudah mencarimu sejak sekian lama. Mencarimu, yang desas-desusnya, merupakan dunia di alam bawah sadar saya, alam bawah sadar dia. Tempat saya, tempat dia, tempat kami bisa bercanda-berbincang-saling bertatap-dan tenggelam dalam dimensi rahasia–antara saya, antara dia–dengan bebasnya. Tanpa ada mata yang mematai. Tanpa ada hati yang mendumal dalam-dalam. Tanpa ada lafal yang menyakiti.

Lalu saya, lalu dia, akan terlelap dengan kelingking yang saling bertautan, seperti dua ujung tali yang terikat simpul. Saya, dia, akan saling meninggalkan senyum. Lalu, saling mengucap sepenggal kalimat: “Saya, kamu, telah menjadi kita”. Iya. Kita.

Kemudian, esok harinya, saya akan terbangun di tempat tidur saya, yang penuh dengan sobekan lembaran buku cerita, yang penuh dengan jejak-jejak air mata, yang penuh akan bola-bola mimpi berumur semalam saja.

Dan, dia–di sana–yang entah terbangun di mana. Entah dengan balutan selimut berwarna apa, biru ataukah jingga. Entah dengan limpahan minyak terlontar dari pori-pori kulit wajahnya, ataukah seperti saya–wajah yang sembab akan air mata. Entah dengan kenangan yang sama, atau berbeda. Entah dengan memori yang masih mengingat saya, atau sudah menghapusnya begitu saja. CTRL + ALT + DEL. 

Karena, saya, dia, menjadi kita, cuma ada di sana. Di duniamu. Planetmu. Tempat yang saya, yang dia, sebut, bernama entah berantah.

Jadi, pernahkah kamu ada, walaupun itu hanya berukuran sejengkal tanah?

Somewhere in my dreamland you showered me with thousand kisses
That’s your way to make amends when I thought you never cared
Oh your tears were killing me because I wished I felt the same
Somewhere in my dreamland…

-kandela-

Dengan kaitkata

#2: Sigur Ros – Hoppipolla

Jakarta, 3 Desember 2014,

A song that helps me clear my head. 

Brosandihendumst í hringi
Höldumst í hendur, allur heimurinn óskýr
Nema þú stendur…

(Sigur Ros – Hoppipolla)

Enggak jarang orang nanya: lo anaknya hipster banget yak, nggak tahu arti lagunya, tapi lo dengerin terus menerus, sampai bela-belain nonton konsernya deh. 

Well, kalau boleh jujur, salah satu grup musisi luar yang selalu mengisi playlist saya adalah Sigur Ros. Dan, lagu bertajuk “Hoppipolla” ini adalah lagu Sigur Ros pertama yang langsung merasuk ke telinga saya, sejak tahun 2006 lampau. Terhitung telat, sih, soalnya tembang ini ada di dalam album kelimanya, yang berjudul “Takk…”.

Band asal Islandia ini sendiri sebenarnya sudah terbentuk sejak tahun 1994. Yang pasti, saat itu saya masih mendengar lagunya Trio Kwek-kwek, dkk, sih. Ya iya lah, waktu itu kan saya masih 7 tahun, mana mungkin boleh ngedengerin beginian sama Mama. 

Tapi, satu hal yang saya ingat, band inilah yang bisa bikin saya rela menabung selama beberapa bulan, demi membeli tiket konsernya, pada Mei 2013 lalu, di Jakarta, tepatnya di Lapangan Tennis Indoor Senayan. Sebenarnya, saya nyaris menonton konser fenomenalnya di Singapore beberapa bulan sebelumnya–yang konon diwarnai oleh hujan nan magis, ketika encore mulai dimainkan–hanya ada satu dan dua kendala yang membuat saya batal berjodoh menontonnya kala itu.

Kembali ke “Hoppipolla”, yang artinya “Hopping into Puddles” (Melompat ke Genangan Air), sesuai tema hari kedua–a song that helps me clear my head–lagu ini selalu berhasil membantu saya berkontemplasi. Membantu saya menenangkan diri. Membantu saya menghimpun mood menulis saya yang kadang kabur dan berkelana entah ke mana.

Mulai dari dentingan piano di bagian intro, suara vokal falsetto khas Jonsi, serta aransemen klimaks yang penuh permainan emosi; semuanya mampu membuat saya terhenyak sesaat. Membuat saya terlelap, tersedot masuk ke dalam dunia lamunan untuk sejenak.

Omong-omong, arti lirik lagu ini pun bagus lho! Lebih baik mengerti isi lagu yang kita dengarkan, bukan, daripada cuma sekadar ikut-ikutan?

Smiling, spinning ’round and ’round
Holding hands, the whole world a blur
But you are standing

Soaked, completely drenched

No rubber boots, running in us
Want to erupt from a shell

The wind, and outdoor smell of your hair

I breathe as hard as I can
With my nose

Hopping in puddles

Completely drenched
Soaked, with no boots on

And I get nosebleed
But I always get up

[Hopelandic]

Jadi, ada yang mau ikut berkontemplasi dengan saya?

-kandela-
Dengan kaitkata

#1: Beach Boys – God Only Knows

Jakarta, 2 Desember 2014,

A song that makes me happy. 

I may not always love you,
But long as there are stars above you,
You never need to doubt it,
I’ll make you so sure about it…

(Beach Boys – God Only Knows)

Mungkin, sudah sepuluh tahun lamanya sejak saya pertama mendengar lagu ini. Sejak saya menonton film bertajuk “Love Actually”, tepatnya di scene-scene akhir di bandara: ketika semua tokoh bertemu dengan pasangan dan keluarganya, saling berpelukan, saling menggenggam tangan.

Setelah itu pula, lagu yang sebenarnya sudah dirilis sejak tahun 1966 ini selalu berhasil menghadirkan euforia dan kesenangan pribadi, ketika tiba-tiba saya mendengarnya secara tak sengaja.

Kebetulan, film “Love Actually” merupakan salah satu drama ringan yang enggak pernah bikin saya bosan untuk menontonnya berulang-ulang. Dan, kebetulan, film ini pula yang sedikit “menyembuhkan” rasa patah hati yang kala itu saya alami, ketika saya masih duduk di bangku SMA. Tak heran, film ini terasa begitu “personal” bagi saya, bukan?

Pun, entah kenapa, lagu yang sempat ngehits pada masanya tersebut memiliki lirik sederhana, yang membuat kupu-kupu di perut saya enggan diam di sangkarnya.

Seperti biasa, mereka membuat wajah saya memerah. Memaksa saya untuk tersenyum semanis-manisnya. Dan mendengarkan lagu ini sampai usai. Sampai berganti jadi lagu lain lagi.

Lantas, pikiran saya mulai jauh berkelana dengan bebasnya di luar sana. Menelusuri ke mana jejak kupu-kupu itu menuju. Ke mana kupu-kupu itu akan bertengger. Bergumul hebat di udara, mencari tempat mendarat yang tepat, pada saat yang tepat. Tempat saya menanamkan gelitik itu. Perasaan itu. Keyakinan itu.

Tempat yang membuat saya bisa melantunkan lirik ini, lagi: God only knows what I’d be without you…

Kapan ya…?

Pada saatnya, Candella…

Anyway, lagu ini jadi pembuka 30 Days Song Challenge yang tertunda sekian bulan. Kenapa? Tujuannya sederhana kok, biar seenggaknya, euforia bahagia mampir lagi ke hari-hari saya yang sedang super-stagnan ini.

Semoga berhasil membuat bahagia.

Amin.

🙂

-kandela-

Dengan kaitkata

30 Days Song Challenge: Eargasm, Heartgasm, to Write-able!

Jakarta, 4 September 2014,

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengikuti tantangan lucu-lucuan bertajuk “30 Days Song Challenge” dalam salah satu akun media sosial saya. Enggak cuma sekadar ikutan tren, ternyata tantangan seperti ini memaksa tangan saya mencari koleksi lagu di hard disk, lalu menyesuaikannya dengan tema per hari. Bahkan, saking niatnya, saya enggak jarang mencarinya di situs pemutar video dan lagu–seperti Youtube dan Soundcloud.

Jujur saja, tantangan lucu-lucuan ini memang sukses menjadi hiburan. Bikin mood yang lagi bosan-bosannya, kembali ke jalan yang seharusnya: menjadi bahagia. Jadi semangat lagi.

Setelah dipikir baik-baik, sepertinya enggak masalah kalau saya memindahkan tantangan ini ke WordPress saya, mengubahnya menjadi sebuah rangkaian kata–baik itu fiksi atau sekadar diari. Lagipula, selama ini, musik menjadi salah satu hal primer penghasil inspirasi, pembawa ide, penghadir mood menulis.

Who knows, dengan proyek pribadi iseng-iseng seperti ini, tulis-menulis kembali menjadi kebutuhan utama saya lagi, setelah selama ini kecintaan saya mulai dirusak, dirajam, dihancurkan oleh segala sesuatu berbau materi.

🙂

Here’s the challenge, anyway!

Candella Sardjito

So, enjoy my 30 days song challenge, please! 

-kandela-

 

#3 – Jangan Terkirim!

Jakarta, 3 Februari 2014,

Surat tak sampai, memang lebih baik menjadi yang tak pernah sampai. Sama halnya dengan perasaan. Saya memang nggak pernah—nggak akan pernah—menyampaikan rangkaian diksi ini secara langsung. Nggak akan pernah.

Bukan karena nyali saya setitik. Bukan karena pesimis saya merajalela. Tapi karena ada hal-hal yang lebih baik jadi misteri. Yang lebih baik saya nggak tahu akhirnya.

Demi menjaga A, menjaga B, dan menjaga C—hal-hal yang dikatakan sebagai moralitas, padahal batas kejam sebuah perasaan.

Tahukah kamu?

Saya selalu senang bersamamu, duduk di taman itu. Ya, di bawah pohon rindang yang penuh nyamuk-nyamuk penghisap darah itu. Ya. Saya dan kamu (pernah sering) melewati pergantian hari dengan obrolan beragam bobot tanpa juntrungan yang jelas.

Saya selalu senang mengajakmu ke sana; ke sebuah kedai yang penuh perabot kayu di dalamnya; menikmati penganan ringan pembuat bahagia, berbincang tentang materi yang itu-itu saja, lalu melihatmu kebosanan mendengar cerita saya. Melihatmu terdistraksi oleh tayangan layar kaca. Mengingat saya yang tetap ingin melantunkan cerita.

Saya selalu senang membaca pesan elektronikmu yang berkata, “Sudah di markas, vroh!”. Ya. Markas besar kita. Tempat saya dan kamu biasa bertemu. Tempat kamu biasa menunggu. Tempat saya biasa menuju. Tempat kita berteduh, lalu melamun bersama, melihat jalan raya.

Saya selalu senang mengadu hinaan bersamamu. Menikmati setiap tawa yang tak berawal canda. Lalu diam-diam, saya simpan gelitik kupu-kupu di dalam perut. Diam-diam, saya menanamnya tanpa seizinmu. Iya. Saya tahu. Tanpa seizinmu.

Saya senang melihatmu. Dari jarak seperti ini. Jarak yang tak mencapai hitungan ratusan kilometer, tetapi memiliki partisi dimana-mana. Tembok imajiner yang membuat jaraknya menjadi ganda. Tembok yang kamu bangun. Tembok yang saya paksa bangun. Ya. Harus saya bangun.

Tembok masif berisikan fakta yang berkata: kita nggak merasakan hal yang sama.

Lalu saya mulai mereduksi semuanya. Perasaan saya. Kebiasaan saya. Euforia saya. Intensitas saya. Memori saya—yang sebenarnya tak seberapa.

Tapi rasanya, saya masih belum ingin lupa. Saya masih ingin mengintipmu dari jarak sekian. Jarak beberapa lampu merah, yang dipersempit oleh layar-layar penyeranta.

“Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling telepon, SMS, BBM, tapi keduanya diam-diam saling mendoakan”.  

~ Sujiwo Tejo

Satu fakta yang nggak akan pernah kamu tahu: ternyata saya rindu. Tanpa rencana. Tanpa sengaja. Tanpa alasan. Tanpa logika.

Ya. Lebih baik kamu nggak tahu.

🙂

Semoga selalu bahagia di sana. Di jarak sejauh beberapa lampu merah. Beberapa kilometer. Beberapa belokan. Beberapa kali berganti angkutan umum. Beberapa kantor kecamatan. Ya. Semoga bahagia.

-kandela-

Dengan kaitkata , ,

#2: Hai, Gerombolan Saksi Bisu!

Jakarta, 2 Februari 2014,

Hai kalian: setangkap roti panggang beroleskan madu; piring keramik merah; pisau dan garpu; selembar kertas tissue; segelas teh tarik; plus secangkir kopi Hazelnut hangat.

Kalian yang menatapku dari jarak berbeda-beda: 20 senti, dan lebih dari 20 senti.

Kalian yang rajin mengintipku, mengintip senyuman 3 detik yang terbit dari bibirku.

Kalian yang mencuri dengar bunyi jantungku, yang berdetak semakin kencang. Ya. Semakin kencang.

Lalu, kalian beramai-ramai memperbincangkan pipiku yang kian merah merona. Seperti warna gulali kapas yang dijual di kedai-kedai.

Jangan kira aku nggak tahu, ya, kalian menggunjingkanku! Kalian berbahasa isyarat: mungkin hanya menyebarkan aroma; mungkin hanya melelehkan embun; mungkin hanya menjatuhkan diri; lantas mengeluarkan pekikan nyaring.

“Tring!” ujar kalian. Hasil senandung kompromi kalian tadi malam.

Lalu aku pura-pura tidak tahu. Seperti kura-kura dalam perahu.

Aku berusaha diam. Berusaha tenang. Menenangkan kumpulan kupu-kupu yang tengah berdansa di dalam perutku.

Semoga kalian diam, dan tidak mempermalukanku. Membuatku tersipu.

Lalu, jangan bilang siapa-siapa! Jangan bilang siapapun, bahkan kepada meja kayu, sofa berjok merah, ataupun tumpukan buku-buku. Jangan! Aku akan malu!

Cukup kalian yang tahu, ketika aku menatap jemarinya yang bergerak lincah di atas kertas; melihat wajahnya yang tengah menyeruput secangkir kopi hangat; memergokinya yang tiba-tiba tersenyum ke arahku; lalu memergokiku yang kembali melempar senyum padanya.

Ya. Cukup kalian yang tahu, ya?

#nowplaying Adhitia Sofyan – Secret 🙂

-kandela-

Dengan kaitkata , ,

#4 – I’m a Cuckoo

Jakarta, 16th of January 2014,

FREE
Pronunciation: /friː/
adjective (freer /ˈfriːə/, freest /ˈfriːɪst/)
Definition: able to act or be done as one wishes; not under the control of another.

Few days ago, I watched “Fight Club”–a very great movie starring Brad Pitt and Edward Norton–to fill my rest hours. Actually, eventhough I have watched it before, I hadn’t actually get the real messages. The implicit things behind those psychopath mind of Tyler Durden–alter ego of this unnamed white-collar worker. In my shallow mind, I was making a simple thought: this protagonist guy and Tyler Durden making an underground boxing activities, named Fight Club. So what’s up then?

After 2 hours watching it (again and again), finally I’ve got its real message: freedom. Independency becoming ourselves. Becoming what we want to be, with our passionate heart. Although, nowadays, we–especially people who lives in big cities–are being controlled by money, with an aim, to buy some expensive stuff that won’t last long. Won’t satisfy our needs also. Great cars, nice clothes, sophisticated gadget. Are they really our happiness? Are they really my happiness?

Anyway, my nickname contains the meaning of freedom too. “Kanne” word was taken from a flower types, named “Kana”. Indonesian people named it as “bunga tasbih”. But actually, its latin name is Canna lily. And then, I searched at Google, and found this flower’s character. Canna lily usually lives inside the forest, or at the mountain. It lives freely. It lives happily. Eventhough, sometimes, Canna lily becoming an ornamental plants in city park. But, still, Canna lily is a free creatures. Belong to these awesome earth.

For me, freedom has a very-very relative definition lately. People said: vandalism is a freedom. Tongue lashing is a freedom. Humiliation is a freedom.

What an awkward life, isn’t it? Because, if those people ever think about it deeper, there’s no freedom without rules. The fact is: our universe has its rules. Has its own pattern of lane, so that those uncounted space systems wouln’t collide with each other. So that, the freedom without God, without rules, doesn’t really exist.

I don’t think my Mom want me becoming that hyperbolic freedom person, right Mom?

Maybe, her wish was so simple that day. Wanted me lives freely just like a bird. Flying around the world. Exploring them with my five senses. Then, keeping them in my deepest side of memories. And the last, gathering all of those stories, mementos and euphorias, into my side’s masterpiece. Feeling gratitude in being alive and born to this awesome universe.

Someday, I will be that person, dear Mom. I will be the real me. Just, be patient, and watch me from your world. Your dimension. Won’t you?

nowplaying:

Belle and Sebastian – I’m a Cuckoo

-kandela-

nb: this is my second post which being written in English. So, sorry for my bad grammar, vocab and also rigid writing. Enjoy! 🙂

Dengan kaitkata , , , , ,

#3 – Bad Day

Jakarta, 13 Januari 2014,

Jujur saja, sejak beberapa hari lalu, pikiran dan emosi saya cukup terdistraksi oleh eksistensi pemegang sembilu imajiner, yang biasa disebut backstabber. Dan, betapa menyedihkannya, sebenarnya saya sudah menganggap beliau sebagai seorang teman. Teman baik. Yeah, whatever lah.

Intinya, Tuhan sedang “menyentil”. Nggak ada garis yang lurus sempurna. Nggak ada putih yang sepenuhnya tanpa noda. Nggak ada manusia yang selalu menjadi “protagonis” setiap saat di dunia ini. Someday, tergantung sudut pandang masing-masing, setiap manusia bisa menjadi tokoh baik. Bisa menjadi tokoh jahat.

Percaya 100% dengan manusia itu nggak ada gunanya. Subjektivitas dan asumsi bisa mengubah semua cerita itu dalam sekejap. Terlebih lagi emosi dan sentimentil pribadi. Alhasil, cerita itu pun berputar. Berbalik 180 derajat.

Jadi ingat perbincangan saya dengan salah seorang teman lama, beberapa waktu silam. Hubungan teman itu personal. “Nggak masalah kamu punya banyak kenalan. Tapi, cuma beberapa aja, kok, yang benar-benar berperan sebagai seorang “teman” yang sesungguhnya,” ujar sang teman lama.

Betul sekali! Rasanya, saya lebih baik punya teman yang bisa menerima saya dalam kondisi apapun–entah saya sedang menjadi “protagonis” ataupun “antagonis”. Jauh lebih baik, daripada berteman dengan orang bermulut manis berhati serigala.

Dan, tiba-tiba, pagi ini saya ingin komat-kamit, memproklamirkan rentetan kalimat sumpah serapah berdiksi sinis dan kasar. Yang pasti–karena saya masih punya iba–nggak mungkin juga saya lontarkan secara realita.

Nggak logis. Nggak etis.

Well, hari ini, ledakan emosi saya diselamatkan oleh tembang Darwin Deez berjudul “Bad Day”. Dengan lirik pengundang gelak tawa, saya rasa “sumpah serapah” ala pria artsy ini bisa mewakili perasaan saya. Ketimbang saya mencaci maki dan mengeluarkan kosa kata yang tak pantas, harapan “lucu” ala Darwin Deez bisa membuat mood saya bangkit sekejap.

Lalu saya bersyukur. Anggap saja, sekarang, saya tengah menjadi seorang protagonis tertindas yang ada di film-film opera sabun.

Dan, anggap saja, artinya Tuhan sayang sama saya. Menyentil saya dengan cara-Nya. Menguji saya dengan jalan-Nya.

Everything happen for a reason. Indeed. 

:’)

Jadi, adakah yang bernasib sama seperti saya hari ini? Ingin melontarkan ribuan kata hinaan agar emosi terlampiaskan?

I recommend this song for you, mate! 

Enjoy!

#np Darwin Deez – Bad Day

I hope that the last page of your 800 page novel is missing
I hope that it rains if you leave the window down on your red Mustang

‘Cause everyday ought to be a bad day for you
Everyday ought to be a bad day for you

If you drop your keys I hope there’s a sewer somewhere very nearby
I hope that your team lost, I hope your new girl takes off with a new guy

‘Cause everyday ought to be a bad day for you
‘Cause everyday ought to be a bad day for you

And I would like to be your girlfriend so I could dump you
And I would like to be your garbage man so I would never have to pick up your trash again

Maybe you should wonder why your apartment is always so empty
I hope you get locked out of that apartment and have to call Jenny

‘Cause everyday ought to be a bad day for you
Oh everyday ought to be a bad day for you
Everyday ought to be a bad day for you
‘Cause everyday ought to be a bad day

But I’m sorry if it ever is
(Everyday ought to be a bad day for you)

-kandela-

nb: maaf, masih postingan sentimentil seperti hari sebelumnya. 🙂 belum sembuh, sih! 😀

Dengan kaitkata , , , ,