Maaf, Saya Benci Orang Congkak

Jakarta, 26 Oktober 2015,

….

And do not walk upon the earth exultantly. Indeed, you will never tear the earth [apart], and you will never reach the mountains in height.

(Al Isra : 37)

….

Suatu ketika, saya pernah mendengar seorang kerabat berkata, “Kenapa Tuhan menciptakan dua telinga dan mulut satu? Agar kita lebih banyak mendengar, daripada berbicara. Walaupun kenyataannya, lebih banyak orang yang bicaranya tinggi, tanpa mendengarkan orang lain”. Hal itu tertanam pekat dalam otak saya, bahwa seorang manusia harus tetap menjaga ucapannya. Menjaga hatinya.

Well, hal ini mengingatkan saya pada beberapa kalangan yang (mungkin) pernah merasakan ada di “bawah”, jobless, enggan melanjutkan pendidikan, dan lain sebagainya; tapi ketika sudah (merasa) berada di puncak karir, dagunya langsung meninggi. Mendongak terus ke atas. Dan, akhirnya, menganggap “kecil” orang-orang di sekitarnya. Padahal, posisi yang mereka dapat sekarang (sebenarnya) berlandaskan unsur nepotisme besar-besaran.

Dan, FYI, saya dapat berita tentang orang-orang congkak ini bukan semata-mata penglihatan subjektif saja, kok. Banyak pihak yang bercerita A, bercerita B, bercerita C, tentang congkaknya orang-orang ini.

Cih! Am feeling disrespectful to those disgusting people!

Dan, kalau boleh jujur, menurut saya, orang-orang semacam itu malah enggak ada harganya sama sekali. Kalau diibaratkan, jika di sebuah toko “barang” semacam itu diobral pun, enggak ada orang yang mau “membeli”-nya. Nol rupiah!

Dulu, saya kira orang-orang congkak semacam itu–yang seperti kacang lupa pada kulitnya–hanya ada di cerita sinetron saja. Nyatanya, orang-congkak-yang-entah-kenapa-mereka-merasa-sombong-padahal-mereka-sama-sekali-enggak-punya-apa-apa-untuk-dibanggakan benar-benar ada di muka bumi ini. Menampakkan diri dalam wujud manusia yang berseliweran di lingkungan saya terdahulu.

Atau, mereka mau adu kesombongan? Yakin, mau adu sombong sama saya, bray? Kalah telak lho nanti! (Terus, aing jadi harus sombong juga gitu? Ya enggak lah!)

Ya. Orang-orang macam mereka memang lebih baik di-flush dan dibuang ke septic tank saja. Dibersihkan habis-habisan di sana. Biar enggak bikin bumi semakin tercemar lagi. Biar enggak bikin tambah polusi.

Oke. Maaf. Ini namanya curhat.

….

“Oh, mereka tinggal di kontrakan? Bedeng, maksudnya?” “Bukan, kontrakan beneran rumah kok!” “Iya, kontrakan petakan kan? Bedeng itu, sama aja!”

“Mau ngasih makan apa dia? Mending urusin dulu keluarganya deh! Keluarganya yang enggak mampu itu!”

Oke, bray, lebih baik, sebelum lo semua ngomong ketinggian–seolah-olah lo manusia tersempurna di jagat raya–mendingan pada ke toko kelontong deh beli cermin dulu. Lihat kehidupan lo yang udah-udah, beneran udah pada sempurna, belum? Udah pada punya rumah dari kocek sendiri, yang mewahnya kaya rumah di sinetron-sinetron? Kalau belum, sebelum ngomentarin orang lain, mendingan lo perbaikin dulu lah hidup lo. Get a life, oke bray?!

Dan, semoga saya-kamu-kita semua bisa tetap menjadi orang membumi, yang enggak akan lupa, kalau saya-kamu-kita adalah manusia yang masih berpijak di tanah. Dan kelak, akan kembali ke tanah.

Amin.

….

-kandela-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: