Hari #2: Karena, Kenangannya Kurang Banyak

Suatu Tempat, 15 Agustus 2015,

You’ll never know what you’ve got ’till it’s gone (or ’till you’ve gone, maybe?)

Yeoup! Kutipan kalimat di atas adalah sebuah quote sejuta umat yang diusung oleh para kaum anti-move on; penyesal; dan pecinta masa lampau. Biasanya, kutipan ini berkumandang kencang ketika seseorang sudah melepaskan sesuatu, lantas ia menyesal hebat karenanya. Karena ia tidak pernah menghargai segala sesuatunya, ketika hal tersebut masih ada, masih menunjukkan eksistensinya.

me·nye·sal v merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dsb) krn (telah melakukan) sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb)

sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Whoops!

Tapi, sepertinya, saya enggak terlalu setuju dengan definisi yang diungkapkan di atas. Perasaan sesal atau menyesal belum tentu lahir karena sesuatu yang kurang baik. Bisa jadi, perasaan itu tumbuh karena beragam alasan–mulai dari belum cukupnya waktu yang dihabiskan bersama; belum banyaknya jumlah kata yang ingin terucap; hingga jauhnya jarak yang memisahkan satu pihak dengan pihak lainnya.

Jika ditanya, apakah hal yang saya sesali akhir-akhir ini?

Bukan, bukan karena keputusan penting menyangkut sebuah hal pribadi, yang telah saya pilih untuk saya jalani. Bukan, bukan karena tanggung jawab baru yang kian membebani. Bukan, bukan karena anugerah yang diberikan Tuhan, tentunya.

Ya, saya cuma menyesali relativitas waktu yang berjalan begitu cepat. Begitu kilat. Hingga akhirnya, semua momentum itu saya lewati dalam detik sekelebat.

Lalu, saya–yang kini tak berada dalam momentum itu lagi–merasa ingatan tentang hal ini, hal itu; tentang kalian, mereka; tentang kamu dan kamu, dia dan dia; kurang banyak, kurang berlimpah, kurang lama.

Dan, rutinitas itu kian berganti, dari aktivitas kantoran–datang pukul 9.30 pagi; sarapan lontong isi dengan bumbu kacang; mulai berselancar di dunia maya; membuka Ms. Word dan mengisinya dengan judul yang dikarang-karang; makan siang pukul 12 siang; bercengkerama dengan teman seruangan; heboh mencari ojek dan mengejar objek liputan; minum teh tarik sore-sore sambil bergunjing hangat; lalu menunggu waktu pulang dengan menyicil pekerjaan dan mengontak narasumber–beralih menjadi seorang pencari channel televisi. Pencari acara penghibur di sana. Penyimak isu selebriti yang hangat di layar kaca.

Ketika itu pula, rasanya saya menyesal, waktu saya tak cukup banyak di sana. Relativitas waktu tak berjalan cukup lama di sana. Dan, saya terlalu gemar mengisinya dengan keluh kesah. Ya, saya menyesal, karena ternyata, saya begitu mencintai rutinitas saya.

Dan, rasanya, intensitas kenangan di sana masih kurang banyak. Kurang lekat.

🙂

IMG-20150703-WA0038

IMG-20150730-WA003020150703_181455

Now playing:
Nosstress – Kita.

Saat berpegangan akan lebih kuat kau berdiri.
Walau hanya satu kaki.
Saat berbagi menjadi hal yang sangat dinanti.
Aku, kamu, dan teman-temanmu.

Hari ini kita bertemu, mungkin besok kau jadi temanku.
Sekadar pertemuan tapi bukan itu yang kuharap.

Senyuman adalah letusan.
Kayuhan menjadi penentu.
Jalan hidup di hitamnya dunia.
Dan pertemuan ini jadi inspirasi antara ku dan masa depanmu.

Apa yang kudapatkan tak seberapa.
Maka yang kuberikan memang hanya sederhana.
Dan semoga saja kau tak akan lupa tentang kita.

-kandela-

Iklan

One thought on “Hari #2: Karena, Kenangannya Kurang Banyak

  1. mariajaclyn berkata:

    Been there, Kane. Memang susah bangetngetnget ninggalin comfort zone untuk hal lain yang “perlu” tapi nggak bisa kita baca dan prediksi. Bahkan sampai hari ini aku masih kebayang-bayang kehidupan di “Rumah”. Makan siang sendirian di ruangan, seharian di kantor tanpa kerjaan dan cuma ngabisin waktu nunggu jam pulang, lepas rindu cuma lewat Whatsapp… semuanya gak bakal aku alami seandainya masih ada di Rumah.

    Tapiii, di belakang setiap keputusan yang kita ambil, pasti ada pengorbanan yang harus kita lakukan, dan cara move on tercepat cuma satu: fokus dengan yang di depan mata, dengan apa yang mau kita dapatkan satu bulan, satu tahun, sepuluh tahun ke depan. Dan bersyukur, ada teknologi bernama sosmed dan messenger yang walaupun sedikit bisa ngobatin rasa rindu dengan yang jauh di mata tapi dekat di hati 🙂

    Arisan haruuusss diterusiiiinnn!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: