Monthly Archives: Mei 2015

Melankolia Rutinitas

Jakarta, 21 Mei 2015,

Alah bisa karena biasa.

Memang, kebanyakan orang mengamini peribahasa ini, peribahasa yang berarti: jika telah terbiasa, setiap pekerjaan pun akan menjadi mudah. Ya, terasah karena rutinitas, karena kebiasaan, karena telah dilakukan berulang kali, hingga fasih, hingga khatam, hingga benar-benar ngelotok dalam dan luar kepala.

Namun, sepertinya, tak semua peribahasa berlaku sama pada setiap orang yang berbeda. Salah satunya, saya. Orang yang sudah mulai menekuni bidang tulis-menulis selama hitungan tahun. Yang sedang mencari jati diri, dengan mempelajari cara menulis ini, menulis itu, dan menyadari, bahwa saya sangat mencintai dunia tersebut sepenuhnya.

Ingatan saya jadi melambung jauh ke masa lalu, ke masa-masa di mana saya masih berbalut seragam putih abu. Masa-masa di mana saya masih mengidolakan sebuah bidang perkuliahan yang terhitung cukup berbeda dengan latar belakang keluarga saya. Bahkan berbeda jauh dengan hobi saya kala itu.

Kala itu, saya bertanya kepada seorang teman, yang kebetulan baru memasuki bidang perkuliahan tersebut, di sebuah kampus ternama di Kota Bandung.

“Eh, masuk jurusan XXX kayanya seru ya, iri deh lo masuk sana!”

“Percayalah, Neu, ketika lo udah berada di dalamnya, enggak seseru itu lagi deh!”

“Masa iya? Kan keren aja gitu, kuliahnya kayaknya artsy banget!” (Dahi berkerut, dengan muka tak percaya)

“Beneran deh! Enggak sefenomenal itu. Nanti, ada titik-titiknya lo ngerasa jenuh, ketika hobi yang lo anggap keren itu menjadi sebuah rutinitas. Sebuah kewajiban pengejar nilai.”

Ya, ucapan sang teman seperti tersimpan apik dalam ingatan saya, dan kadang-kadang membandel menyeruak membisikkannya ke gendang telinga. Memaksa saya untuk mengingatnya lagi. Untuk mengiyakan pernyataan sang teman.

Memang, setelah saya bertahun-tahun mengidolakan jurusan tersebut, akhirnya, pada tahun 2005, saya berhasil memasukinya, meskipun bukan di kampus negeri yang saya impikan sejak bocah.

Well, empat setengah tahun saya berkuliah di sana, rutinitas memang berhasil membunuh saya. Membunuh kecintaan saya akan dunia yang pernah saya anggap keren. Dunia yang pernah saya idamkan. Saya impikan. Membuat bisikan di gendang telinga saya berteriak semakin kencang: mungkin, ini bukan tempat yang tepat, Kandela. 

Lantas, cita-cita saya–yang semula menjadi seorang desainer–memudar perlahan. Terutama, sejak saya menyadari, bahwa dari segi skill dan kemampuan, saya sudah tertinggal jauh dengan teman-teman sekitar. Bahwa saya, terlalu malas untuk mengasahnya. Untuk menjadikan peribahasa itu nyata: alah bisa karena biasa.

Alhasil, beberapa bulan saya menganggur, saya seperti kehilangan identitas. Kehilangan cita-cita. Jujur saja, di tahun-tahun itu, saya–yang mulai cemas karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan–mulai melamar semua jenis profesi yang ada di sebuah situs: mulai dari marketing, desainer grafis, karyawan televisi, hingga freelancer di Event Organizer.

Perburuan itu berhenti ketika akhirnya saya mulai menyadari, saya enggak bisa melepaskan satu hobi “dasar” yang sudah saya lakukan sejak kecil. Ya, menulis, mengkhayal, merangkai kata, merupakan hobi yang nyaris terlupakan. Nyaris ditinggalkan. Nyaris menjadi fosil berjamur.

Berawal dari pekerjaan sebagai content writer di sebuah situs yang kini sudah bertitel “mendiang”, saya mulai mencintai profesi baru ini secara perlahan. Mulai belajar mencari berita, melihatnya dari berbagai sudut pandang, dan berlatih merangkai diksi dengan harmonis.

Bahkan, saking cintanya, saya rela mengorek kocek lebih hanya untuk mempelajari proses penulisan feature secara mendalam di sebuah lembaga pelatihan jurnalistik ternama.

Saat itu, peribahasa alah bisa karena biasa masih berlaku. Lambat laun, saya mulai fasih menuliskan diksi-diksi tersebut, merangkaikannya ke dalam sebuah artikel, essay, hingga tulisan fiksi–yang biasa saya torehkan dalam blog. Terutama, ketika awal-awal saya bekerja di tempat saya mendekam sekarang. Ya, bisa dibilang, itulah masa-masa keemasan saya. Masa-masa ketika otak saya masih cukup brilian, dengan bisikan gundah yang enggan lagi mampir dan menggema.

Namun, sekali lagi, sepertinya rutinitas–dan kebutuhan akan materi, tentunya–kembali menjadi pembunuh ulung bagi cita-cita saya. Bagi hasrat terpendam saya. Di tahun ketiga saya bekerja di sini, gundukan emas yang mengisi penuh otak saya sepertinya sudah berkarat. Berubah warna menjadi batu kali hitam pekat, yang membuatnya bebal dan enggan bergerak. Saya tak sebrilian itu. Saya tak secerdas itu. Saya tak sebertalenta itu.

Alah (justru tidak) bisa karena biasa. Ya, tangan saya rasanya enggan menari-nari bebas di atas tuts-tuts hitam lagi; otak saya enggan berkhayal, berputar keras lagi; nyali saya enggan memuncak, meninggi; seperti yang biasa saya lakukan beberapa tahun lalu. Seperti yang biasa saya gadangkan bertahun-tahun lalu.

Ke manakah dia? Ke manakah saya? Semudah itukah terbunuh rutinitas? Terbunuh luapan materi penghancur kualitas?

Lalu, ketika saya mulai membaca tulisan si A, tulisan si B, tulisan si C, sama seperti tahunan lalu–saat saya melihat karya-karya desain para kerabat–rasanya, saya sudah tertinggal jauh di sana-sini. Seperti terjatuh ke sebuah lubang hitam yang sama, untuk kesekian kalinya. Seperti terhisap ke dalamnya, terperosok di sana, lalu terperangkap lekat.

Dan, ketika siuman, saya sadar, saya (kembali) seperti makhluk kopong tanpa isi. Tanpa keinginan. Tanpa kemauan. Tanpa khayalan.

#np ljósið – ólafur arnalds

-kandela-