Kepada: Dunia, Tempat Saya, Tempat Dia, Bisa Menjadi Kita

Jakarta, 10 Februari 2014,

Somewhere in my dreamland was rainy morning there,
your eyes kept on telling me you were scared to go outside.
You held my hand and whispered: “I just never ever want to wake up”

Dia menyebutmu: entah berantah. Sebuah planet, daratan, dunia, dimensi, yang dikerubungi oleh anomali di sana-sini. Ketika gravitasi tak lagi berfungsi. Ketika air hujan tak lagi jatuh ke tanah, tetapi melayang-layang di antaranya. Ketika awan berwarna merah muda berada di atas sana, lalu bisa tersentuh dengan leluasa.

Ya. Kamu–sang entah berantah–adalah gumpalan tanah dengan bunga rumput liar di sepanjang daratannya. Kamu yang akan berdiam, lalu hanya tersenyum, ketika melihat saya, melihat dia, menari-nari di sekitarnya, di sekitar rerumputan berwarna merah muda.

Lalu kamu ikut menyelimuti saya, menyelimuti dia, dengan kumpulan spektrum yang disebut-sebut bernama “pelangi” oleh para kaum bumi.

Dan kamu memerintahkan penghunimu untuk bernyanyi riang, untuk merayakan saya, merayakan dia, yang baru saja bertatap muka denganmu, yang baru menjadi sepasang nomad di daerahmu. Ya. Nomad serupa pasangan yang baru melarikan diri. Kawin lari, istilahnya.

Tentunya, kamu–sang entah berantah–tahu, bahwa saya, bahwa dia, sudah mencarimu sejak sekian lama. Mencarimu, yang desas-desusnya, merupakan dunia di alam bawah sadar saya, alam bawah sadar dia. Tempat saya, tempat dia, tempat kami bisa bercanda-berbincang-saling bertatap-dan tenggelam dalam dimensi rahasia–antara saya, antara dia–dengan bebasnya. Tanpa ada mata yang mematai. Tanpa ada hati yang mendumal dalam-dalam. Tanpa ada lafal yang menyakiti.

Lalu saya, lalu dia, akan terlelap dengan kelingking yang saling bertautan, seperti dua ujung tali yang terikat simpul. Saya, dia, akan saling meninggalkan senyum. Lalu, saling mengucap sepenggal kalimat: “Saya, kamu, telah menjadi kita”. Iya. Kita.

Kemudian, esok harinya, saya akan terbangun di tempat tidur saya, yang penuh dengan sobekan lembaran buku cerita, yang penuh dengan jejak-jejak air mata, yang penuh akan bola-bola mimpi berumur semalam saja.

Dan, dia–di sana–yang entah terbangun di mana. Entah dengan balutan selimut berwarna apa, biru ataukah jingga. Entah dengan limpahan minyak terlontar dari pori-pori kulit wajahnya, ataukah seperti saya–wajah yang sembab akan air mata. Entah dengan kenangan yang sama, atau berbeda. Entah dengan memori yang masih mengingat saya, atau sudah menghapusnya begitu saja. CTRL + ALT + DEL. 

Karena, saya, dia, menjadi kita, cuma ada di sana. Di duniamu. Planetmu. Tempat yang saya, yang dia, sebut, bernama entah berantah.

Jadi, pernahkah kamu ada, walaupun itu hanya berukuran sejengkal tanah?

Somewhere in my dreamland you showered me with thousand kisses
That’s your way to make amends when I thought you never cared
Oh your tears were killing me because I wished I felt the same
Somewhere in my dreamland…

-kandela-

Iklan
Dengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: