Monthly Archives: Februari 2015

Lovanometer

Jakarta, 14 Februari 2015,

“Saya cinta kamu.”

“Saya apalagi, lebih cinta sama kamu.”

“Tau dari mana, kamu lebih cinta sama saya, daripada saya yang cinta sama kamu?”

“Tau aja.”

“Sotoy. Emang ada indikator pengukurnya? Cih!”

Ya. Perbincangan biasa yang sudah puluhan kali kita lakukan. Puluhan kali kita lafalkan. Pun, sudah puluhan kali pula kita debatkan. Saya akan berkata: “Saya lebih cinta sama kamu”. Dan, kamu pun akan melawannya: “Saya sepuluh kali lipat lebih cinta sama kamu”.

Lalu, tiba-tiba saya, kamu, berandai-andai. Berkhayal. Bermimpi di siang bolong, sangat siang bolong, tepat di jam 12 siang.

Gimana ya, kalau beneran ada alat pengukur besarnya perasaan cinta? Perasaan sayang?

Itu yang terbesit di pikiran saya. Pikiran kamu. Ya. Pikiran kita.

Mungkin, kalaupun ada, alat itu bernama “Lovanometer”. Mungkin. Dan mungkin, kalaupun “cinta” itu merupakan sebuah besaran, maka satuannya disebut dengan “amor”, diambil dari bahasa Latin untuk kata “cinta”. Ya. Mungkin.

Lantas, coba saya, kamu, ya, kita bersama-sama pikirkan secara matang, bagaimana alat “Lovanometer” itu bekerja. Mungkin dia akan mulai berfungsi jika sudah berkenaan dengan panca indera. Dengan sentuhan. Dengan tatapan. Dengan penciuman. Dengan mendengar. Dengan mengecap rasa.

Mungkin dia seperti jangka sorong, yang akan mengukur berapa diameter pupil mata saya, pupil matamu, saat kita saling bertatap muka. Saling mencuri pandang.

Mungkin dia seperti thermometer, yang akan mengukur suhu tubuh saya, suhu tubuhmu, saat kita berdua bersama. Saling menyentuhkan ujung kelingking masing-masing secara sembunyi-sembunyi.

Mungkin juga dia berfungsi seperti sound level meter, yang akan mengukur seberapa bising debaran di dalam jantung saya, jantungmu, saat saya, saat kamu, saling memanggil nama. Saling menyapa.

Mungkin juga dia berfungsi layaknya amperemeter, yang akan mengukur seberapa besar arus listrik yang akan mengalir antar satu sama lain. Antara saya dan kamu. Saat kita tidak sengaja bertemu. Saat mata kita tidak sengaja “berjanji” untuk saling berjumpa.

Ataukah, dia berfungsi serupa stopwatch, yang akan mengukur berapa relativitas waktu yang kita alami, saat saya, saat kamu, saling bercerita. Saling berbagi kisah tanpa tahu jeda.

Mungkin nilai cinta saya sebesar 1.000.000 Amor. Dan, mungkin nilai cintamu, lebih kecil 1 Amor, dari besaran cinta saya untuk kamu. Nilaimu: 999.999 Amor.

Dan, nilai sesepele itu bisa membuktikan, kalau saya lebih cinta sama kamu, dari pada kamu yang cinta saya.

Mungkin angka 1 Amor-mu tertinggal di jalan. Mungkin angka 1 Amor-mu sudah kamu hibahkan kepada yang memerlukan. Atau mungkin, angka 1 Amor-mu kamu tabung, kamu simpan, agar kelak berlipat ganda, lebih dari nilai cinta yang sudah dimiliki sebelumnya.

Tapi, lagi-lagi, saya, kamu, berpikir keras. Berpikir terlalu keras. Karena kita sama-sama seorang pemikir. Pengkhayal. Pemimpi di siang bolong.

Cinta bukan sesuatu yang bisa diukur, bukan?

Ya. Karena, setiap waktu, angka itu bisa berubah. Bisa bertambah. Bisa berkurang. Bisa juga stagnan. Bisa berpindah. Tapi, bisa juga hanya tersimpan, ya, tersimpan di tempatnya. Di sebuah pandora tersembunyi, yang hanya diketahui saya. Diketahui kamu.

Tapi, yang terpenting–tanpa peduli, siapa yang lebih, siapa yang kurang–satu hal yang saya tahu: saya itu cinta kamu. Tanpa perlu ukuran. Tanpa perlu nominal. Tanpa perlu syarat A. Atau syarat B. Ataupun syarat C.

Dan, saya tahu pasti, untuk saya, untuk kamu, itu lebih dari cukup.

Setuju kan, kamu?

#np Hellogoodbye – Oh, It Is Love

Oh, it is love, from the first time I set my eyes upon yours,
Thinking, oh, is it love?

-kandela-

Iklan
Dengan kaitkata

Semoga Cepat Sembuh, Kaum Kalajengking!

Jakarta, 11 Februari 2015,

“Gua sih enggak masalah kehilangan temen, karena temen yang sebenernya itu bakal mengerti dengan sendirinya, kok!” 

Kamu mengucapkannya lantang. Seakan tanpa ada kata ragu sekalipun. Memang, kamu bukan orang yang mengenal diksi itu: diksi yang bersifat abu-abu, bersifat nisbi. Raut wajahmu pun datar, seakan hal itu bukan sebuah kisah yang memberatkan pundakmu sama sekali. Lalu, kamu mengakhirinya dengan senyummu yang biasa. Dengan kulit-kulit mengerut di ujung mata. Dengan pupil yang sedikit menyipit. Dengan nada yang tak ada bedanya dengan suaramu saat berbincang biasa.

Tapi, itu keahlian kita, para kaum kelahiran Kalajengking, bukan? Para kaum Scorpio? Keahlian kita, untuk berpura-pura bahwa kita kuat. Kita baik-baik saja. Kita bisa hidup sendiri. Kita tidak lemah, sama sekali tidak lemah, begitu yang akan kita katakan pada diri sendiri, bukan? Yang akan kita yakini dalam hati, meskipun nyatanya kita tidak pernah seyakin itu, bukan?

Karena saya, kamu, kita, adalah pembohong yang handal. Penipu ulung. Pengecoh hebat. Pendusta yang luar biasa. Ya. Mungkin, kamu saat ini tengah memakai topeng bedak 12 senti, gincu yang melebihi bibir, dan pipi buatan yang merah merona, seolah-olah kamu selalu menebar senyum manis di waktu 12 jam-mu bersosialisasi.

Lantas, 12 jam sisanya, kamu lebih suka berdiam, dengan tatapan tanpa arti, dengan bola-bola pikiran yang kamu sembunyikan, yang tak kasat mata. Kamu menikmati dimensimu yang mungkin dipenuhi nelangsa, mungkin disusupi bayangan hitammu, yang tak bisa saya sentuh. Tepatnya, tak boleh saya sentuh. Mungkin, menurutmu, itu ruang pribadimu. Ruang sakralmu. Ruang sucimu.

Mungkin, di dalamnya, di dalam cangkang rahasiamu itu, kamu ingin menangis sekencang-kencangnya. Kamu ingin berteriak sekeras-kerasnya. Kamu ingin menusukkan sembilu ke dalam hatimu yang sebenarnya sudah terluka.

Lalu, saya ingat, ketika ada orang yang berkata: “Dia itu enggak ngerasain sakit. Dia itu enggak ngerasain apa-apa, dia enggak rugi apa-apa”.

Rasanya, saya tahu alasan membenci mereka–orang-orang semacam itu, yang mengambil asumsi sepihak saja. Lalu bertindak A, bertindak B, bertindak C, sesuka hati mereka. Yang hanya asal tolerir. Hanya asal mengusung kata: “Teman itu segalanya”, tanpa tahu duduk permasalahannya. Tanpa tahu cerita dari berbagai pihak. Ya. Berbagai pihak.

How can I believe those people with that thought, anyway? 

Dan, kamu, ya, kamu bukan orang yang seperti itu. Kamu, yang kini berusaha tersenyum, setidaknya, bagi saya, dia, mereka, yang melihatmu sebagai orang biasa, yang bisa merasakan sakit. Pahit. Perih.

Ya. Kamu, yang telah tertusuk dalam, dengan kata-kata sederhana: “Gua udah enggak respek sama lo”, dari seseorang yang sebenarnya sangat berharga untukmu. Untuk seorang kamu–si super hebat yang selalu tersenyum ceria.

Mungkin, sekarang, kamu hanya akan berbalik, melihat saya, dan berkata: “Saya baik-baik aja, kok!”.

Lalu, lagi-lagi, kamu tersenyum seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.

So don’t tell me that I have it easy, I’m just better at hiding it than most. 

(Unknown Quote) 

Di saat-saat tertentu, menangis itu perlu, kok. 🙂

And, of course, I’ll be your shoulder to cry on, whenever, wherever. 

-kandela-

Dengan kaitkata

Kepada: Dunia, Tempat Saya, Tempat Dia, Bisa Menjadi Kita

Jakarta, 10 Februari 2014,

Somewhere in my dreamland was rainy morning there,
your eyes kept on telling me you were scared to go outside.
You held my hand and whispered: “I just never ever want to wake up”

Dia menyebutmu: entah berantah. Sebuah planet, daratan, dunia, dimensi, yang dikerubungi oleh anomali di sana-sini. Ketika gravitasi tak lagi berfungsi. Ketika air hujan tak lagi jatuh ke tanah, tetapi melayang-layang di antaranya. Ketika awan berwarna merah muda berada di atas sana, lalu bisa tersentuh dengan leluasa.

Ya. Kamu–sang entah berantah–adalah gumpalan tanah dengan bunga rumput liar di sepanjang daratannya. Kamu yang akan berdiam, lalu hanya tersenyum, ketika melihat saya, melihat dia, menari-nari di sekitarnya, di sekitar rerumputan berwarna merah muda.

Lalu kamu ikut menyelimuti saya, menyelimuti dia, dengan kumpulan spektrum yang disebut-sebut bernama “pelangi” oleh para kaum bumi.

Dan kamu memerintahkan penghunimu untuk bernyanyi riang, untuk merayakan saya, merayakan dia, yang baru saja bertatap muka denganmu, yang baru menjadi sepasang nomad di daerahmu. Ya. Nomad serupa pasangan yang baru melarikan diri. Kawin lari, istilahnya.

Tentunya, kamu–sang entah berantah–tahu, bahwa saya, bahwa dia, sudah mencarimu sejak sekian lama. Mencarimu, yang desas-desusnya, merupakan dunia di alam bawah sadar saya, alam bawah sadar dia. Tempat saya, tempat dia, tempat kami bisa bercanda-berbincang-saling bertatap-dan tenggelam dalam dimensi rahasia–antara saya, antara dia–dengan bebasnya. Tanpa ada mata yang mematai. Tanpa ada hati yang mendumal dalam-dalam. Tanpa ada lafal yang menyakiti.

Lalu saya, lalu dia, akan terlelap dengan kelingking yang saling bertautan, seperti dua ujung tali yang terikat simpul. Saya, dia, akan saling meninggalkan senyum. Lalu, saling mengucap sepenggal kalimat: “Saya, kamu, telah menjadi kita”. Iya. Kita.

Kemudian, esok harinya, saya akan terbangun di tempat tidur saya, yang penuh dengan sobekan lembaran buku cerita, yang penuh dengan jejak-jejak air mata, yang penuh akan bola-bola mimpi berumur semalam saja.

Dan, dia–di sana–yang entah terbangun di mana. Entah dengan balutan selimut berwarna apa, biru ataukah jingga. Entah dengan limpahan minyak terlontar dari pori-pori kulit wajahnya, ataukah seperti saya–wajah yang sembab akan air mata. Entah dengan kenangan yang sama, atau berbeda. Entah dengan memori yang masih mengingat saya, atau sudah menghapusnya begitu saja. CTRL + ALT + DEL. 

Karena, saya, dia, menjadi kita, cuma ada di sana. Di duniamu. Planetmu. Tempat yang saya, yang dia, sebut, bernama entah berantah.

Jadi, pernahkah kamu ada, walaupun itu hanya berukuran sejengkal tanah?

Somewhere in my dreamland you showered me with thousand kisses
That’s your way to make amends when I thought you never cared
Oh your tears were killing me because I wished I felt the same
Somewhere in my dreamland…

-kandela-

Dengan kaitkata