Monthly Archives: Januari 2015

Mungkin Saya Homesick

Jakarta, 24 Januari 2015,

Homesick
(adjective)
sad or depressed from a longing for home or family while away from them for a long time.

***

Dia termenung di depan layar komputer tabungnya yang telah berdebu. Menatap ke arah kotak-kotak surat imajiner yang hanya ada di dunia digital. Dunia tempatnya berselancar di kala siang. Dunia yang bisa membebaskannya dari ketakutannya akan kehilangan, keresahannya akan masa depan, kesedihannya akan sayapnya yang terkekang kencang.

Dia ingin bebas, secara sebenar-benarnya. Beranjak pergi dari rumahnya, dari tempat ia bermimpi, dari tempat ia melayangkan cita-citanya tepat di depan matanya, dari tempat yang ia anggap menjadi “kurungan” baginya selama ini. 

***

Ya. Kata orang, setiap manusia harus menikmati jarak, menikmati spasi dulu, agar perasaan “rindu” bisa bernapas sebagaimana mestinya.

Tepat 3 x 365 hari yang lalu, saya adalah orang itu, orang yang rasanya ingin kabur dari rumah, melupakan setiap pedih, setiap peluh, setiap air mata, setiap sakit, yang saya nikmati dari hari ke hari.

Saya adalah orang itu, orang yang begitu ingin mengejar mimpinya, mengejar cita-citanya, mengejar tantangan baru yang menghampirinya.

Ya. Saya adalah dia, yang tengah termenung hampa di depan layar komputer tabung tadi, yang menjadikan dunia maya sebagai dunianya, yang merasa berada dalam sebuah kurungan tanpa satupun jeruji besi.

Mungkin, saat ini, saya ingin memakinya, ya, memaki saya yang rasanya tak pernah bersyukur, kala itu. Yang cuma bisa mengeluh, kala itu. Yang cuma bisa ini. Cuma bisa itu.

Mungkin, saat ini, ada seperempat bagian dari saya, yang menyesal akan keputusan itu, keputusan untuk berkata “ya” pada ibukota. Berkata “ya” pada tempat saya berpijak saat ini. Berkata “ya” pada A. Pada B. Pada C.

Mungkin, saat ini, setengah bagian yang tersisa, tengah melanglang jauh ke satu buku memori yang masih ada di sana: di sebuah sudut kota kelahiran, yang berjalan sempit, yang berpohon rindang, yang dijejali bangunan kolonial tua beratap sirap, yang berangkot banyak, yang dipenuhi kedai-kedai kayu kecil sederhana, yang dihuni orang-orang berlogat sama, yang membuat saya-kamu-dia-kami-kalian-mereka enggan berpindah dari sana. Enggan menghapusnya dari pandangan. Dari bayangan. Dari ingatan.

Lalu, seperempat bagian sisanya, mencoba untuk bertahan di sini. Di tempat saya berdiri kini. Di tempat saya berusaha bertahan sendiri. Dengan hiruk pikuk yang ada. Dengan kultur yang jauh berbeda. Dengan rasa sepi yang sering datang dan menyiksa.

#nowplaying Mocca – Home
After a long long walk
I finally found my way
After a long long time
I finally found my place

Warm hug is a home 

I’ve found that I belong here
Warm hug is a home
I knew that I belong here

Warm hug is a home 

I’ve found that I belong here
Warm hug is a home
I knew that I belong here
-kandela-

 

Iklan

Diari Rendahan

Jakarta, 21 Januari 2015,

Pernahkah otakmu bebal, tersumbat, seperti ada butiran gundu yang bertarung di dalam setiap ruas lajurnya?

Ya. Itu saya. Saat ini. Yang mungkin, sedang sangat-amat tidak menyukai diri sendiri. Sedang merasa kecil, sekecil-kecilnya. Serendah-rendahnya. Sehina-hinanya.

Salah satu sumber suara di kepala saya tengah berkecamuk dengan lantangnya: “Kamu bukan apa-apa! Kamu cuma seorang beruntung yang diberkahi waktu seperti sekarang ini. Sisanya, kamu tak lebih dari angin lalu yang kemudian dilupakan. Kemudian dihapuskan dari ingatan. Ya. Kamu serendah itu. Serendah itu.”

Lalu kemudian, muka saya mulai memanas. Beriringan dengan benang-benang halus di ujung mata saya yang mulai memerah. Mulai beranjak perih. Pedih.

Lalu nafas saya mulai tersengal. Udara pun enggan masuk ke dalamnya. Enggan menyusup dan hinggap di paru-paru saya. Sesak. Seperti ada lubang besar menyelesak yang membuatnya menyerupai lubang hitam di angkasa raya. Iya. Itu tadi. Menyesak. Sesak.

Lantas, seperti yang sudah diprediksikan, pikiran saya meronta. Membabi buta. Ingin mencabik apapun yang bisa dicabik. Ingin melempar apapun yang bisa dilempar. Tapi, nyatanya, saya bisa apa? Saya cuma bisa mengeluarkan air mata, yang, mengalir, sangat, deras. Sangat keras. Tanpa suara. Tanpa kata. Tanpa omongan lantang, yang biasa dilakukan orang-orang.

Iya. Saya, yang rendah ini, cuma bisa menangis, melakukan pengaduan tak bertuan yang hanya bisa diteriakkan dalam diam.

Lalu saya tahu. Saya, yang rendah ini, mungkin harus pergi dari sini. Harus hilang dari sini.

Iya.

Hilang. Dari. Sini.

-kandela-