Monthly Archives: Desember 2014

Ini Tanggal Sepuluh, Ini Harinya

Jakarta, 10 Desember 2014,

“Enggak ada Kanne seminggu, kamar jadi rapi banget, kaya ada yang kurang,” ujarnya, ujar wanita bermata cokelat muda yang tengah berbaring santai di sana. Di tempat tidur berangka putih, yang tepat berada di seberang kamar saya. Tempat saya—dan beliau—sering mengisi detik, menit, jam; dengan cerita, dengan tertawa, dengan tangisan, dengan gembira, dengan perih, dengan cemberut, dengan ini, dengan itu.

Lalu, ia tersenyum. Ia tersenyum karena melihat saya, anaknya yang telah ia tunggu sejak pagi tadi, baru saja pulang. Pulang membawa seutas bunga mawar putih, dengan sebatang cokelat kesayangannya. Ya. Beliau adalah penyuka cokelat. Adiktif. Dan penyuka bunga. Tentunya.

Dan, seingat saya, bunga mawar putih ini memiliki definisi: kasih sayang. Saya, yang sangat kaku dan enggan mengucap kata-kata itu lewat verbal, ingin beliau mengerti, kalau saya-sangat-menyayanginya-tanpa-perlu-syarat-apa-apa.

Saya ingat wajahnya yang selalu menunggu saya di depan pintu. Menunggu saya yang tak kunjung mengangkat telepon. Saya yang tak membalas pesan. Saya yang tak pulang-pulang, padahal hari sudah malam.

Wajahnya yang pasti cemberut, dengan mulut terkatup, dan membentuk bulan sabit terbalik. Mata tajamnya seakan enggan melihat saya. Saya yang susah diatur, menurutnya. Saya yang main melulu, menurutnya. Saya yang sepertinya enggak bisa diharapkan, menurutnya. Saya yang ngajak berantem terus, menurutnya.

Tapi di luar itu, di luar amarahnya yang sering tak stabil, sering berapi-api—terutama kalau saya dan dia tengah berdebat tentang ini, tentang itu—beliau tak sungkan-sungkan berdiri paling depan, bila ada sosok lain yang kasak-kusuk berbicara buruk tentang saya. Beliau akan selalu melindungi saya.

Tak terkecuali saat ini, saat beliau—orang yang saya sebut dengan Mama—sudah tak memiliki jasad bernyawa di atas tanah bumi.

Beliau adalah salah satu manusia yang akan selalu menyayangi saya, apapun keadaannya. Seperti apapun saya. Seburuk apapun saya.

Dan, sama halnya dengan saya.

Karena, perasaan mah enggak akan putus, berkat bantuan tumpukan lembaran memori di laci-laci maya. Berkat bantuan air mata. Berkat bantuan beragam memento yang jadi pemantik. Berkat bantuan bunga tidur. Berkat semua cerita yang pernah ada.

Dan, saya tahu, beliau tengah tersenyum di sana, melihat saya yang mengingatnya. Yang mengenangnya.

Karena beliau enggak pernah ke mana-mana, kok.

Happy birthday, Ma! Selamat mengulang hari kelahiran untuk kesekian kali!

I love you, as always.

#np Spice Girls – Mama

-kandela-

#2: Sigur Ros – Hoppipolla

Jakarta, 3 Desember 2014,

A song that helps me clear my head. 

Brosandihendumst í hringi
Höldumst í hendur, allur heimurinn óskýr
Nema þú stendur…

(Sigur Ros – Hoppipolla)

Enggak jarang orang nanya: lo anaknya hipster banget yak, nggak tahu arti lagunya, tapi lo dengerin terus menerus, sampai bela-belain nonton konsernya deh. 

Well, kalau boleh jujur, salah satu grup musisi luar yang selalu mengisi playlist saya adalah Sigur Ros. Dan, lagu bertajuk “Hoppipolla” ini adalah lagu Sigur Ros pertama yang langsung merasuk ke telinga saya, sejak tahun 2006 lampau. Terhitung telat, sih, soalnya tembang ini ada di dalam album kelimanya, yang berjudul “Takk…”.

Band asal Islandia ini sendiri sebenarnya sudah terbentuk sejak tahun 1994. Yang pasti, saat itu saya masih mendengar lagunya Trio Kwek-kwek, dkk, sih. Ya iya lah, waktu itu kan saya masih 7 tahun, mana mungkin boleh ngedengerin beginian sama Mama. 

Tapi, satu hal yang saya ingat, band inilah yang bisa bikin saya rela menabung selama beberapa bulan, demi membeli tiket konsernya, pada Mei 2013 lalu, di Jakarta, tepatnya di Lapangan Tennis Indoor Senayan. Sebenarnya, saya nyaris menonton konser fenomenalnya di Singapore beberapa bulan sebelumnya–yang konon diwarnai oleh hujan nan magis, ketika encore mulai dimainkan–hanya ada satu dan dua kendala yang membuat saya batal berjodoh menontonnya kala itu.

Kembali ke “Hoppipolla”, yang artinya “Hopping into Puddles” (Melompat ke Genangan Air), sesuai tema hari kedua–a song that helps me clear my head–lagu ini selalu berhasil membantu saya berkontemplasi. Membantu saya menenangkan diri. Membantu saya menghimpun mood menulis saya yang kadang kabur dan berkelana entah ke mana.

Mulai dari dentingan piano di bagian intro, suara vokal falsetto khas Jonsi, serta aransemen klimaks yang penuh permainan emosi; semuanya mampu membuat saya terhenyak sesaat. Membuat saya terlelap, tersedot masuk ke dalam dunia lamunan untuk sejenak.

Omong-omong, arti lirik lagu ini pun bagus lho! Lebih baik mengerti isi lagu yang kita dengarkan, bukan, daripada cuma sekadar ikut-ikutan?

Smiling, spinning ’round and ’round
Holding hands, the whole world a blur
But you are standing

Soaked, completely drenched

No rubber boots, running in us
Want to erupt from a shell

The wind, and outdoor smell of your hair

I breathe as hard as I can
With my nose

Hopping in puddles

Completely drenched
Soaked, with no boots on

And I get nosebleed
But I always get up

[Hopelandic]

Jadi, ada yang mau ikut berkontemplasi dengan saya?

-kandela-
Dengan kaitkata

#1: Beach Boys – God Only Knows

Jakarta, 2 Desember 2014,

A song that makes me happy. 

I may not always love you,
But long as there are stars above you,
You never need to doubt it,
I’ll make you so sure about it…

(Beach Boys – God Only Knows)

Mungkin, sudah sepuluh tahun lamanya sejak saya pertama mendengar lagu ini. Sejak saya menonton film bertajuk “Love Actually”, tepatnya di scene-scene akhir di bandara: ketika semua tokoh bertemu dengan pasangan dan keluarganya, saling berpelukan, saling menggenggam tangan.

Setelah itu pula, lagu yang sebenarnya sudah dirilis sejak tahun 1966 ini selalu berhasil menghadirkan euforia dan kesenangan pribadi, ketika tiba-tiba saya mendengarnya secara tak sengaja.

Kebetulan, film “Love Actually” merupakan salah satu drama ringan yang enggak pernah bikin saya bosan untuk menontonnya berulang-ulang. Dan, kebetulan, film ini pula yang sedikit “menyembuhkan” rasa patah hati yang kala itu saya alami, ketika saya masih duduk di bangku SMA. Tak heran, film ini terasa begitu “personal” bagi saya, bukan?

Pun, entah kenapa, lagu yang sempat ngehits pada masanya tersebut memiliki lirik sederhana, yang membuat kupu-kupu di perut saya enggan diam di sangkarnya.

Seperti biasa, mereka membuat wajah saya memerah. Memaksa saya untuk tersenyum semanis-manisnya. Dan mendengarkan lagu ini sampai usai. Sampai berganti jadi lagu lain lagi.

Lantas, pikiran saya mulai jauh berkelana dengan bebasnya di luar sana. Menelusuri ke mana jejak kupu-kupu itu menuju. Ke mana kupu-kupu itu akan bertengger. Bergumul hebat di udara, mencari tempat mendarat yang tepat, pada saat yang tepat. Tempat saya menanamkan gelitik itu. Perasaan itu. Keyakinan itu.

Tempat yang membuat saya bisa melantunkan lirik ini, lagi: God only knows what I’d be without you…

Kapan ya…?

Pada saatnya, Candella…

Anyway, lagu ini jadi pembuka 30 Days Song Challenge yang tertunda sekian bulan. Kenapa? Tujuannya sederhana kok, biar seenggaknya, euforia bahagia mampir lagi ke hari-hari saya yang sedang super-stagnan ini.

Semoga berhasil membuat bahagia.

Amin.

🙂

-kandela-

Dengan kaitkata