Monthly Archives: September 2014

Tergelitik, Menggelitik, Lagi

Jakarta, 22 September 2014,

Kamu hebat.

Sudah 14 kali 24 jam, kamu memaksa mereka–para gelitik yang tengah nyenyak terlelap–untuk bangun lagi, setelah sekian lama mati suri.

Mungkin kamu menyiram muka mereka dengan air dingin 4 derajat Celcius. Mungkin kamu diam-diam memukul kentongan berbentuk cabai, yang nyaring layaknya Siskamling. Mungkin kamu memperdengarkan lagu berdistorsi tinggi, tepat di telinga mereka, sampai mereka membuka matanya.

Atau mungkin, kamu mengecup pipi mereka satu per satu, hingga wajah mereka memanas, memerah, membuat mereka terjaga seketika. Membuat mereka bergerak aktif. Mengepakkan sayapnya dengan lincah. Menyentuh dinding-dinding organ perut dalamku, menggelitiknya, lantas membuat jantungku berdebar keras. Berdetak kencang.

Apa yang kamu lakukan, ujarku. Tanyaku. Padamu.

Lalu kamu hanya bersandar pada tiang batu, tiang bebatuan kecokelatan yang menempel di depan terasku, sambil sesekali menghisap asap, asap nikotin, yang tersembunyi dalam batang putih-jingga di tanganmu.

Hey. Apa yang kamu lakukan, ujarku lagi, melihatmu yang tak mengeluarkan suara, barang satu patah kata.

Kamu terdiam. Berpikir. Lalu tertawa. Hingga kulit di ujung matamu mengerut, mengikuti gerak matamu yang menyipit, tulang pipimu yang terangkat, dan mulutmu yang menyeringai lebar. Pemandangan yang membuat gelitik di perutku semakin tak mau diam. Membuatku berusaha keras untuk menahannya.

Apa yang kamu lakukan, kuulang kembali pertanyaanku. Padamu. Kamu yang mencoba tidak menjawabnya. Ya. Yang pura-pura tidak mendengarkannya.

Aku ikut tersenyum melihatnya. Melihatmu. Melihat kamu yang mencoba mengalihkan perhatianku dengan perbincangan lain: politik, film, budaya, musik, sosial, filosofi, pekerjaanmu, pekerjaanku. Lalu, tentu saja, orientasi pertanyaanku teralihkan. Terlupakan.

Kali ini aku berhenti bertanya. Apa yang kamu lakukan, aku hanya mengeluarkan mimik ingin tahu-ku.

Lantas, aku mulai memperhatikan matamu, yang sibuk dengan koloni semut merah di sekitar tempat dudukmu. Memperhatikan bibirmu, yang sibuk menyesap kopi panas di cangkir biru itu. Memperhatikan urat-urat yang menyembul di antara jari jemarimu.

Lima menit aku menatapmu. Menyadari para kaum gelitikku terbangun karena hal-hal kecil darimu, dariku: obrolan seringan bulu, hingga diskusi kelas kakap; senyumanmu yang mengarah ke wajahku, senyumanku yang mengarah ke wajahmu; dan terakhir, mataku, matamu, yang saling bertukar cerita.

Lalu suara beratmu mulai menyeruak perlahan.

Katamu, mungkin saja kita berhenti. Mungkin saja aku tak bisa di sini. Kamu tak bisa di sana. Mungkin saja aku menghilang. Kamu menghilang. Mungkin saja aku menyerah. Kamu menyerah.

Katamu, mungkin gelitikku akan tidur lagi. Mungkin ia akan berganti jadi sesak berbuah luka. Lalu, ia akan menutup sendiri. Membuatku melupa lagi. Melupa bahwa gelitik itu pernah ada.

Apa yang akan kamu lakukan, ujarmu. Tanyamu. Padaku.

Gantian, sekarang aku yang terdiam. Aku yang enggan melihatmu. Aku yang sibuk memperhatikan koloni semut itu. Aku yang sibuk meneguk air yang sudah tak ada. Aku yang salah tingkah.

Gantian, sekarang kamu yang melihatku. Melihatku yang tak bisa menahan limpah ruah gelitik itu. Melihat wajahku yang memerah, memalu. Melihat isi pikiranku yang bercabang seribu. Bercabang dengan diksi “mungkin” yang ada di depannya.

Dan gerombolan gelitik itu bergerak tambah kencang. Membuatku mual. Membuatku pening. Pusing. Karenamu. Karenamu yang ada di sana. Sejauh tiga per empat meter dari pijakan kakiku. 

Tapi, kamu yang membuatnya. Pun kamu yang menyembuhkannya.

Sudah. Aku sayang sama kamu. Itu yang penting. Ya? 

Demikian ujarmu. Yang kembali membuatku terhenyak. Tersesat dalam senyap.

Lalu, aku, kamu, kita terhanyut bersama. Dalam sebuah rasa.

Dan sepertinya, kerumunan gelitik itu sedang berpesta pora di dalam sana.

#np Anda Perdana – Dalam Suatu Masa

-kandela-

Iklan

30 Days Song Challenge: Eargasm, Heartgasm, to Write-able!

Jakarta, 4 September 2014,

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengikuti tantangan lucu-lucuan bertajuk “30 Days Song Challenge” dalam salah satu akun media sosial saya. Enggak cuma sekadar ikutan tren, ternyata tantangan seperti ini memaksa tangan saya mencari koleksi lagu di hard disk, lalu menyesuaikannya dengan tema per hari. Bahkan, saking niatnya, saya enggak jarang mencarinya di situs pemutar video dan lagu–seperti Youtube dan Soundcloud.

Jujur saja, tantangan lucu-lucuan ini memang sukses menjadi hiburan. Bikin mood yang lagi bosan-bosannya, kembali ke jalan yang seharusnya: menjadi bahagia. Jadi semangat lagi.

Setelah dipikir baik-baik, sepertinya enggak masalah kalau saya memindahkan tantangan ini ke WordPress saya, mengubahnya menjadi sebuah rangkaian kata–baik itu fiksi atau sekadar diari. Lagipula, selama ini, musik menjadi salah satu hal primer penghasil inspirasi, pembawa ide, penghadir mood menulis.

Who knows, dengan proyek pribadi iseng-iseng seperti ini, tulis-menulis kembali menjadi kebutuhan utama saya lagi, setelah selama ini kecintaan saya mulai dirusak, dirajam, dihancurkan oleh segala sesuatu berbau materi.

🙂

Here’s the challenge, anyway!

Candella Sardjito

So, enjoy my 30 days song challenge, please! 

-kandela-