Monthly Archives: Agustus 2014

Euforia 1708

Bandung, 17 Agustus 2014,

Beda pengalaman, beda masa, maka beda hati. Beda pola pikir. Beda sudut pandang. Ya, meskipun telah tertulis di kalender, telah terlontar dalam lirik lagu, telah tertoreh pada baliho-baliho berbiaya besar di pinggir jalan raya–bahwa tanggal 17 Agustus merupakan Hari Kemerdekaan Indonesia–rasanya setiap kepala memiliki pandangan beragam terhadap hari besar ini.

Hari ini adalah hari perayaan ketika panjat-panjat tiang dibebaskan, dan bisa makan kerupuk sepuasnya; ujar seorang anak menjelang remaja, penggiat Karang Taruna di perumahannya.

Hari ini adalah hari menyebalkan ketika pagi-pagi harus upacara, padahal tanggal merah; ujar seorang pria berseragam khakhi, pegawai institusi negara.

Hari ini adalah hari ketika si bungsu didandani pagi-pagi–memakai kebaya, sanggul sekian kilo, dan gincu merah menyala–demi ikut karnaval keliling kompleks; ujar seorang ibu berusia 36 tahun, dengan sedikit rambut putih menyembul dari ujung poninya.

Hari ini adalah hari ketika film-film lokal seru muncul di TV; ujar seorang mahasiswa, penikmat hari libur seperti orang lainnya, mantengin TV dari pagi hingga pagi lagi.

Hari ini adalah hari ketika diskonan beredar di mana-mana; ujar seorang wanita gila belanja, dengan tahi lalat di pipi kanannya dan jinjingan tas–yang biasa hadir di majalah-majalah fashion–tergantung manis di lengannya.

Hari ini adalah hari ketika puncak gunung penuh riuh oleh kami, yang ingin mengibarkan bendera di sana; ujar seorang pecinta alam, dengan tas carrier merah di punggung, kemeja kotak-kotak, celana PDL tebal, dan syal terikat di kepalanya.

Hari ini adalah hari penuh keriaan, ketika panggung hiburan dangdut akan memeriahkan terminal kami; ujar seorang pengemudi angkot berwarna hijau strip hitam, dengan handuk Good Morning lembap bertengger di leher.

Hari ini adalah hari di mana kami sibuk mencari quotes dan gambar bagus di internet, lalu kami post di akun sosial media kami; ujar seorang remaja penggiat dunia maya–yang setiap harinya biasa berbincang menggunakan bahasa¬†campur sari, kadang Indonesia, kadang bahasa asing–dengan mata tertahan pada gadget, dan tangan sibuk menyentuh layarnya perlahan.

Hari ini adalah hari di mana rasa nasionalis palsu bermunculan di mana-mana, di sosial media, di blog, di status aplikasi chat; ujar seorang pria berwajah sinis, dengan kaus bertuliskan “REBELLION” di dadanya.

Hari ini adalah hari ketika kami mengambil gaun dan high-heels merah merekah kami dari lemari, mempersiapkan party nanti malam yang sudah dinantikan; ujar seorang perempuan muda, penyuka pesta, penganut paham hedonisme ibukota.

Hari ini adalah hari ketika playlist lagu nasional dan lagu cinta tanah air mengudara kembali di mana-mana; ujar seorang penyiar radio, dengan suara berat yang menjadi identitasnya.

Hari ini adalah hari ketika jantung kami berdegup kencang, takut bendera yang kami kibarkan terbalik warnanya; ujar seorang Paskibra, berseragam putih-putih, dengan topi semacam kopiah hitam beludru, dengan pin Garuda di salah satu sisinya.

Hari ini adalah hari penuh euforia, seperti apapun maknanya. Artinya. Tujuannya. Merayakan kelahiran Indonesia 69 tahun yang lalu, ketika kemerdekaan menjadi sesuatu yang dinantikan. Ketika siaran pembacaan Teks Proklamasi di radio membuahkan sorak gembira. Ketika, kala itu, entah seperti apa rupanya, bangsa Indonesia–yang kini seperti dibuai oleh dunia gemerlap mancanegara–berhasil meraih kemerdekaannya sendiri.

Ya. Kini, momentum kemerdekaan pun beralih menjadi keriaan, hingar bingar, perayaan; sisi positifnya, perayaan hadir tanpa memedulikan perbedaan suku bangsa, ras, agama, atau apapun itu, pencetus perpecahan yang belakangan marak diperbincangkan.

Sekejap, semua melebur tanpa kenal nama. Asal-usul. Latar belakang. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” tercapai, walau cuma untuk satu hari saja.

Ya. Harusnya, momen yang hanya berlangsung setahun sekali ini, adalah titik balik untuk jatuh cinta lagi pada tanah air sendiri. Untuk menghargai lagi konsep negara yang dimiliki Indonesia, seperti apapun isinya. Seperti apapun bentuknya.

Lalu, apa arti hari ini untuk saya sendiri?

Sederhana. Hari penuh euforia yang membuat tangan saya gatal untuk menulis lagi. Mendokumentasikan arti tanggal 17 Agustus dalam rangkaian diksi, menjadi sebuah kado kecil untuk yang sedang mengulang “kelahiran” hari ini.

Dirgahayu, Indonesia!

#np Pandai Besi – Menjadi Indonesia

-kandela-

Iklan