Monthly Archives: Juli 2014

Hari Raya: Tentang Euforia, Memento, dan Bersyukur

Bandung, 27 Juli 2014,

Malam ini, tentu saja, dipenuhi oleh suara kembang api yang memekik tinggi, berpadu dengan gema takbir yang berkumandang halus di rumah-rumah ibadah umat Muslim–masjid. Tentu saja pula, pusat perbelanjaan pengumbar potongan harga besar-besaran dipenuhi orang. Disesaki oleh gerombolan pencari baju baru, demi menyambut hari raya. 

Entah sejak kapan, hari besar agama menjadi sebuah keriaan. Perayaan. Perhelatan berbekal euforia. Ya, enggak munafik, saya pun berada di antara orang-orang itu, kok. Ada di antara orang-orang yang lebih senang mencari diskonan, ketimbang memanjatkan doa di rumah ibadah.

Di luar itu semua–entah apakah orang menganggap hari raya ini sebagai hari besar agama atau hari penuh euforia–sekali lagi saya melihat hari raya, sebagai sebuah memento. Mesin waktu. Peranti pengingat. Yang mampu membuat saya menatap kembali apa-apa saja yang telah berlalu. Apa-apa saja yang sudah raib, menghilang, dan tinggal cerita. Apa-apa saja yang masih ada, yang harus disyukuri eksistensinya.

Lalu, saya terdiam. Ya, tepat ketika rumah saya lengang tanpa seorang manusia pun, kecuali saya yang sedang sibuk menaati euforia hari raya, yang sedang sibuk mempersiapkan hari esok, hari suci dalam agama saya, yang sedang sibuk bercanda dengan perangkat masak, yang seakan mengindahkan suara-suara di samping kiri dan kanan saya.

Lalu, rasa itu muncul.

Ya. Rindu.

Rindu beliau yang berwajah ke-Turki-turki-an yang selalu heboh ke supermarket dengan matanya yang berbinar. Rindu beliau yang pernah marah-marah saat H-1 Lebaran, cuma karena saya ngerusakin karpet barunya dengan setrika. Rindu beliau yang rajin neleponin saya, terus bertanya, “Kanne di mana? Jam berapa pulang? Bantuin masak!”. Rindu beliau yang 3 tahun lalu masih ada. Masih ngebisikin apa saja yang harus saya lakukan untuk memasak hidangan hari raya. Iya. Rindu.

Jarak itu yang membuka ruang bagi rindu untuk bernapas. Untuk sekadar mampir dan menyentil, berbuah rasa sepi yang luar biasa.

Namun, mendadak, saya ingat obrolan saya dengan ayah saya tercinta beberapa saat yang lalu. “Sebenarnya, pada hari raya itu, sebaiknya silaturahmi dulu dengan sosok-sosok kerabat yang masih ada. Harusnya sih begitu,” ujar Ayah dengan mata penuh keyakinan. 

Intinya, meskipun memento itu kencang bergemuruh, lantas membuat nelangsa (yang mungkin) berkepanjangan, enggak ada salahnya menyimpannya di etalase rahasia. Tidak menutupnya. Tapi tidak pula rajin menyentuhnya. Biar dia ada di sana. Beristirahat di tempatnya. 

Lalu, dengan sendirinya, rindu pun berubah wujud. Jadi bersyukur. Jadi berterima kasih. Jadi berbahagia. Masih diberikan usia, kesehatan, kedamaian; untuk merasakan keriaan, untuk merasakan euforia, di hari raya. 

So, selain mencari diskonan, berburu kuliner khas Lebaran, berbelanja baju layak di hari raya, dan lain sebagainya; enggak ada salahnya, mulai memeluk orang-orang terdekat, bersyukur tanpa batas waktu, dan mulai mengucapkan tiga kata sakti di hari raya ini: Saya. Sayang. Kamu-anda-kalian.

Selamat hari raya Idul Fitri, semuanya! Selamat merayakan kemenangan dengan khusyuk, dan saling menghargai.

Mohon maaf lahir batin, jika terdapat banyak kesalahan yang saya lakukan, baik di kehidupan nyata, atau di dunia maya. 

Dan, jangan lupa, mari kita–saya, kamu, kami, kalian–bersyukur bersama! 

#np Float – Surrender

“Let’s just celebrate today!”

🙂

-kandela-

Iklan

Pura-pura

Jakarta, 7 Juli 2014,

Saya cuma enggak bisa tidur nyenyak-makan tenang-mendengar musik riang-melamun sambil tersenyum-mengerjakan yang harus dikerjakan-menikmati film komedi di TV-tertawa lepas seakan semua enggak pernah terjadi. Enggak pernah ada. Enggak pernah muncul. Enggak pernah terbesit.

Lalu, saya kembali mencuri lihat wajahmu dari kejauhan. Dari jarak belasan lampu merah dari tempatmu mengadu mimpi. Dari layar kaca berisikan dimensi maya di baliknya. Berisikan pengingat wajahmu. Senyummu. Tingkahmu. Ucapanmu. Ocehanmu.

Lalu, saya kembali mencari namamu dalam indeks memori saya. Nama yang berusaha saya hapus dari sana. Berusaha saya alihkan tempatnya–bukan sebagai pengisi hati, pengisi hari, tetapi berusaha melihatmu seperti kamu melihat saya: seorang teman yang biasa saja. Tanpa embel-embel apapun.

Lalu, saya mencoba merobeknya, merobek buku imajiner yang memuat namamu di dalamnya. Berusaha menyimpan lembarannya dalam sebuah peti bergembok baja lima puluh kilo. Biar saya tak sekali-sekali ingin membukanya lagi. Membuka perasaan saya lagi. Membuka harapan saya lagi.

Lalu, saya akan berpolah biasa ketika bertemu muka denganmu. Tidak berbinar. Tidak berdebar-debar. Tidak memerah. Tidak pula mengingat setiap detailnya dengan tersenyum. Tidak.

Karena saya akan berpura-pura, seperti biasa.  Berpura-pura, bukan kamu yang tanpa sengaja menyusupkan benih kupu-kupu di perut saya. Berpura-pura bahwa bukan kamu yang ada di sana, di labirin pikiran saya, di buku memori tentang perasaan saya.

Lalu kamu berlalu. Karena kamu tak tahu.

Lalu saya berlalu. Karena saya tak mengizinkan kamu untuk tahu.

Cukup, kok. Cukup.

-kandela-