Monthly Archives: Juni 2014

Lepas

Jakarta, 2 Juni 2014,

Lagi. Jari saya kembali membolak-balikkan layar smartphone sembari sedikit menyentuhnya. Sampai-sampai, guratan jejak jari membekas di atas permukaannya. Ujung mata saya melirik sedikit, dengan soundtrack debaran kencang yang disertai nafas sesak. 

Lagi. Jari saya patah hati. Mata saya patah hati. Jantung saya patah hati. Paru-paru saya patah hati. Ya. Saya patah hati, tepatnya. Tidak ada notifikasi, tulis sang mesin pintar, otak di balik telepon genggam tersebut. Ya. Saya patah hati. 

Lalu, seperti anak kecil yang tersakiti, saya ingin membuangnya. Membuang harapan berupa aksara yang bertuliskan namamu di dalamnya. Membuang ingatan saya yang mengharapkannya. Pernah sangat mengharapkannya. Paling tidak, menyembunyikannya, sampai waktu membuat saya terbiasa. Jeda membuat saya terbiasa. Terbiasa tak melihat namamu di alam bawah sadar saya.

Lalu, suatu saat, mungkin saya akan lupa kalau kamu pernah ada. Mungkin saya akan lupa bahwa namamu pernah tertulis di sana. Mungkin saya akan lupa kalau saya pernah mengharapkan namamu tertulis di sana. 

Seperti kamu. Yang berusaha melupakan saya. Membuang saya. Paling tidak, menyembunyikan saya, sampai waktu membuatmu terbiasa. Jeda membuatmu terbiasa. Terbiasa tak melihat nama saya di alam bawah sadarmu.

Lalu, suatu saat, kita akan sama-sama terbiasa, bahwa kita tidak pernah ada. Bahwa saya dan kamu tidak pernah ada.

Sampai, suatu ketika, mungkin kita bertemu di sebuah persimpangan. Di sebuah bagian lembaran cerita yang bernama anti-kebetulan.

Lalu dalam beberapa detik, saya akan berhenti. Kamu akan berhenti. Mungkin saya akan membeku. Mungkin kamu akan menjadi batu. Mungkin mata saya, mata kamu, saling menghindari pandangan. Menghindari kemungkinan berkomunikasi melalui pupil saya. Pupil kamu.

Kita–saya dan kamu–akan saling membongkar kisah lama, tanpa saling bertukar kata. Tanpa saling bicara. Lalu, sama-sama tertunduk. Lalu saling menggumam dalam diam.

Lalu, bekuan detik itu kemudian meleleh. Mencair. Memaksa saya, memaksa kamu, untuk kembali bergerak. Kembali bertemu di persimpangan. Kembali pura-pura tak pernah saling mengenal. Tak pernah saling bercanda. Tak pernah saling berbicara. Tak pernah saling menyimpan cerita.

Lantas, saya, kamu, kita, akan kembali menyimpan sesak itu. Sesak yang sama seperti saat ini, saat saya, saat kamu, mencoba saling membuang. Saling menghapuskan. Saling menghilangkan.

Meski faktanya, saya, kamu, kita, memang masih belum bisa. Tidak bisa.

Lalu, saya mulai membuangnya. Membuangmu. Membuang kemungkinan untuk merasakan sesak itu. Paling tidak, menyembunyikanmu, sampai saya terbiasa. Terbiasa tak melihat namamu.

“This contact will be deleted.”

“Cancel? OK?”

#nowplaying

Pure Saturday – Sajak Melawan Waktu

Kita t’lah berjalan semua tak berubah
Ku tak mengenalmu seperti yang lalu
Seperti yang lalu…

Entah kau berada ketika kupergi
Kurelakan semua ketika kau pergi

Kehampaan di dalam hati kita
Adalah kenyataan yang makin terasa
Di tiap pijak anak tangganya
Waktu terus bergerak laju seperti yang lalu

Kehampaan di dalam hati kita
Adalah kenyataan yang makin terasa
Di tiap pijak anak tangganya
Waktu terus bergerak laju seperti yang lalu

Relakan aku seperti aku relakan semua
Relakan semua.

-kandela-

Iklan