Monthly Archives: Mei 2014

Hello Grown-Ups!

Jakarta, 27 Mei 2014,

“Life is much more simple when you’re young” ~ Pet Shop Boys

Beberapa hari lalu, saya sempat berbincang dengan seorang kawan lama. Perbincangannya memang nggak jauh-jauh, selayaknya 2 orang sahabat yang sudah bulanan nggak bertemu muka. Kami saling bertanya kabar: saya yang sedang sibuk-sibuknya bekerja; dia yang sedang sibuk-sibuknya mengurus anak dan kantor pribadinya.

Lalu, dari sekian panjang percakapan kami, terlontarlah satu ucapan yang merangkum isi pikiran saya. Isi pikiran dia. “Pusing ya udah dewasa mah, enakan pas SMP. Enakan pas SMA,” tulisnya. 

Memang, pertambahan usia cuma perubahan nominal yang abstrak. Tidak terlihat pengukuran yang jelas–apakah setiap tahun pasti bertambah ukuran tubuh; apakah setiap tahun bertambah bobot fisik; ataukah setiap tahun bertambah jumlah penyakit. Belum tentu bertambah. Bisa tetap. Bisa berkurang. Relatif.

“Yang nambah itu beban hati. Tambah berat. Tambah bikin pusing,” ucap sang kawan lama.

Ya. Beban hati itu mungkin seperti batu kerikil di masa megalitikum yang umurnya sudah ribuan tahun. Berat. Susah diangkat. Susah dipecah.

Tidak seperti perhitungan usia yang bertambah satu tiap tahunnya, saya rasa, deret angka jumlah batu imajiner ini selalu bertambah satu, lalu dikuadratkan. Misalnya, di usia 1, beban hatinya adalah (1+1) x (1+1) = 4. Di usia 2, beban hatinya adalah 64. Dan seterusnya. 

Jadi, menurut teori asal-asalan saya, nggak terbayang berapa jumlah kerikil imajiner yang menghuni seisi jaringan tubuh sampai detik ini, kan?

Semakin banyak beban hati yang menjadi “parasit”, maka semakin banyak pula keluhan yang terlontar dari mulut para kaum dewasa. Atau kaum yang merasa mereka sudah dewasa. Kaum yang memaksa dirinya menjadi seorang dewasa. Seorang grown-up. 

Mereka–kaum dewasa–kerapkali mengeluhkan hal-hal yang dianggap penting: politik, kalkulasi bisnis, perhitungan untung-rugi, jumlah penduduk kota yang kian bertambah, jumlah angkutan umum yang tak sesuai harapan, dan banyak hal “penting” lainnya. 

Batu imajiner yang terlalu banyak ini–mungkin–membuat mereka malas menambah beban hati mereka dengan hal-hal kecil. Seperti “kenapa hujan bentuknya butiran”, “kenapa ada kucing yang bersuara manis, ada juga yang parau”, atau “kenapa gula rasanya manis, kenapa nggak masam? Kenapa nggak pahit?”. 

Nggak ada waktu mikir hal-hal nggak penting kaya gitu. Nggak ada waktu untuk berkhayal dan bermimpi kaya anak kecil.

Kasus grown-ups ini saya dapatkan pula di salah satu buku favorit saya, Le Petit Prince, karya Antoine de Saint-Exupery. Buku super-sederhana yang berdampak luar biasa ini memang sudah dicetak berulang kali, dan sudah bertahan dalam ingatan para pecinta buku selama lebih dari 70 tahun.  

Dalam buku ini, saya mendapatkan bermacam-macam quote menohok. Quote yang membuat saya terdiam sesaat, memaksanya untuk masuk ke dalam otak saya, lalu dicerna dalam bentuk debaran kencang. 

“And I might become like the grown-ups who are no longer interested in anything but numbers”.

Yap. Quote di atas adalah salah satunya. 

Sekarang, saya memang bekerja dalam sebuah industri kreatif, yang seharusnya bertindak idealis. Sayangnya, pada kenyataannya, bisnis tetaplah bisnis. Angka menjadi satu hal yang penting. Oplah lo kurang, nggak ngedatengin iklan, lo gulung tikar. Yah, begitulah kasarnya. Angka tetap angka. Nominal kembali menjadi hal utama.  

And, maybe, dear little prince, I’ve become that person. That kind of person who are no longer interested in anything but numbers. And, indeed, those numbers has contaminated my mind, dear. 

Nggak heran, kalau beragam kallimat penyesalan bergulir dari mulut kaum manusia seusia saya–mereka-mereka yang menganggap diri sudah dewasa. Ungkapan perihal “if I could just turn back the time” dan bla-bla-bla lainnya pun menjadi buah pikiran terdalam yang nggak pernah dilafalkan. 

Lalu, setelah penyesalan berlarut-larut, mereka-mereka–termasuk saya–kembali ke kehidupan nyata, yang tetap berbicara tentang angka. Tentang jumlah. Tentang nominal. Tentang ngana-nganu yang dianggap penting oleh para kaum dewasa. 

Lalu, mereka mulai melupakan hal-hal sederhana yang pernah dianggap “wah” di masanya. Di masa ketika angka belum menjadi prioritas. Belum menjadi kebutuhan. Belum menjadi keinginan. 

Belum menjadi segalanya.

-kandela-

Seminggu Lebih 5 Menit

Jakarta, 18 Mei 2014,

Mungkin kamu tak tahu. Tak akan tahu. Tak akan pernah tahu. Atau tak akan pernah mau tahu.

Saya sudah berdiri di sini selama seminggu. Melihat tembok maya yang kamu bangun dalam waktu semalam, seminggu yang lalu. Melihat batas teritori jelas yang kamu dirikan, meskipun tanpa bata. Tanpa beton. Tanpa acian. Tanpa semen.

Tanpa melihat apakah kamu berlalu, atau sama-sama menunggu di depan tembok itu. Mungkin menunggu waktu. Mungkin menunggu saya bosan lalu berlalu. Atau mungkin, menunggu saya mulai menghantamkan palu untuk membuat pintu?

Kamu hanya memberi saya sedikit celah untuk mengintipmu. Tidak lebih dari sesenti. Mungkin hanya nol koma tujuh senti. Atau tujuh desi. Atau tujuh puluh mili.

Dari celah itu, saya hanya bisa mengintip satu bagian darimu. Satu saja. Kadang-kadang matamu. Mata yang waktu itu pernah menatap lekat mata saya yang gugup. Yang tak bisa memalingkannya dari pandangan tajammu.

Tak jarang, kamu hanya memperlihatkan tanganmu. Tangan yang tanpa sengaja pernah membuat saya jatuh cinta. Tanpa sengaja pernah merasakan ujung jari saya yang berkeringat dingin. Tanpa sengaja merasakan kenaikan sekresi ephinerphin, yang berpadu dengan gemuruh senyawa gelitik dalam badan saya.

Sering pula kamu memamerkan senyummu. Senyum yang biasa saja. Tidak tipis. Tidak lebar. Pun, tidak memperlihatkan gigimu yang mengisi rahangmu dengan rapi. Cuma senyum yang berhasil membuat saya merasakan rindu, ketika jeda itu ada.

Cuma tiga itu. Lalu kamu menjauh. Celah tak lagi berarti apa-apa. Sama saja. Saya tak bisa melihatmu. Mengintip isi pikiranmu. Menebak kupu-kupu macam mana yang mengisi perutmu–yang bergumul dan berbisik “benci” atau yang berkata “rindu”.

Lalu, saya masih berada di sini. Mungkin sudah seminggu lebih 5 menit. Berharap kamu mau meluruhkan tembok imajinermu, agar setidaknya, saya masih bisa melihatmu. Meminta izin agar saya bisa menyimpanmu, menyimpan saya dan kamu, menyimpan kita, dalam sebuah laci memori, yang mungkin tak akan saya usik lagi. Mungkin.

-kandela-

nb: tulisan ini terinspirasi dari mabroh tercinta, berinisial FP~ :’) selamat menikmati penantianmu ya, teman :’)

Somehow, Fiction is More Realistic Than Reality

Jakarta, 16th of May 2014,

Fiction reveals truth that reality obscures. 

That’s what Jessamyn West said about fiction. She was known as one of famous American author, eventhough, I haven’t read her books. In fact, I read her quotes in goodreads.com; when I was searching for fiction writing tips. 

Anyway, I totally agree with her opinion. With her quotes. With her thought.

To be honest, lately, I’ve been so busy on doing my first novel project. And of course, I do feel so happy when somebody send me a message, and said that she interested with my writings. With my works. Who’s not gonna happy, anyway?

My deepest desire is writing a book. A novel. And maybe, later, I’ll write non-fiction book also. But, for the first time, I want to write my book perfectly. I want to compile all of my dreams, my delusions, and combine them with my experiences. With all of those realities.

But, afterwards, when I submitted some story ideas to my editor, I feel depressed. Why was it happening? I’m totally sure, that there’s a great editor behind every great writer. And, I’m pretty sure, that my today’s editor is a really great editor. Because, a good editor corrects our faults. Well, she corrected my ideas on each line. She kept asking me, is it possible to be happened in a real world or not. And of course, she revealed her opinions about my ideas–it’s flat or not, it’s interesting or not.

Then, somehow, I realized. Fiction is more-more-more realistic than reality. I knew it when my editor asked me about the logic reason, when my protagonist being in love with someone that doesn’t love her back. I knew it when my editor asked me, why the protagonist insist on believing “the right one”, although she’s being left by her ex-boyfriends.

When she asked me about that, I thought that I want to defend myself. I want to tell her, those stories really happened in my past-times. But still, as I’ve said before, fiction is more realistic than reality. Fiction is more logic than the fact.

Why?

Because, we don’t ask why the rain comes.
Because, we don’t ask why frogs love rain.
Because, we don’t ask why we should breathe to live.
Because, we don’t ask why we’re being in love.

Because, we know that there are so many questions in this world, that don’t need answers.

And, in reality, curiosity doesn’t need a solution. You just have to let it flow. Let it go. Let it be.

(Or maybe, reality is more complicated than the drama?)

Maybe, fiction is a way to answer those unsolved problems. Unsolved mysteries. Inarticulate dreams.

Maybe?

-kandela-

nb: this is my third post that being written in English. A lil’ bit awkward, but I hope you’ll enjoy it as much as you enjoy my Indonesian posts. 😉 Shine on!

 

 

 

Dengan kaitkata , , ,