Monthly Archives: April 2014

HIMYM: Ini Cerita, Ini Realita

Jakarta, 7 April 2014,

Beberapa hari terakhir, ungkapan kecewa banyak terlontar dari para penikmat sitkom ini. Ya. Serial bertajuk “How I Met Your Mother”–yang terdiri atas 9 season–ini ibaratnya kehidupan nyata. Punya dinamika. Punya hal membosankan. Punya kisah yang nggak bisa dipercaya. Punya gereget. Punya hal-hal tolol.

Dan, akhirnya pun nggak bisa ditebak. Membolak-balikkan “hati” para penikmatnya, dengan ending yang disebut-sebut sebagai bad way to end those awesome storiesEnding yang nggak sesuai ekspektasi.

Tapi, bagi saya pribadi, saya nggak kecewa berlebih terhadap film ini. Toh, selama beberapa tahun terakhir, film ini banyak mengisi “lubang dalam” yang tertanam di hati saya.

Sebelum lebih jauh beropini, sebenarnya, apa yang membuat saya jatuh cinta dengan serial yang mulai rilis sejak tahun 2005 ini? Ada apa sebenarnya, sehingga saya sangat “memuja” serial bergenre komedi ini?

Oke. Film ini memang sering disandingkan dengan “F.R.I.E.N.D.S”, sitkom terdahulu yang pernah sangat sukses di masa tayangnya, bahkan sampai detik ini. Tapi, entah kenapa, mungkin karena saat itu, saya masih belum terkontaminasi oleh pemikiran ini-itu yang terlalu berfilosofi. Makanya, bagi saya, film “F.R.I.E.N.D.S” adalah sitkom yang keren. Indeed. Tapi ya, kurang “menerap” di pikiran saya.

Beda halnya ketika saya pertama menonton “How I Met Your Mother”, tepatnya pada akhir 2009 (oke, saya telat menontonnya, but it’s OK!). Kala itu, saya sedang menyelesaikan tugas akhir saya, hingga akhirnya, saya berada dalam tahap “kebosanan”, yang wajar dialami oleh para mahasiswa tingkat akhir.

Alhasil, 4 season berhasil saya lumat habis hingga awal 2010. Beda usia, membuat saya beda “merasakan” esensi sebuah film. Mungkin, ketika saya masih remaja, saya belum berpikir terlalu dalam tentang “the right one”, pesan moral, atau apapun itu.

Yang pasti, kali pertama saya menonton HIMYM ini, saya langsung “meleleh”. Ted Mosby, sang tokoh utama yang selalu mencari “the right one”; Barney Stinson, sang playboy super percaya diri dengan beragam siasat tolol; Marshall Erikssen, soulbro-nya Ted yang selalu punya tingkah-tingkah konyol nan nggak penting; Lily Aldrin, soulsist-nya Ted yang juga merupakan istri Marshall; dan terakhir, Robin Schebartsky, “movie-darling” yang selalu jadi “unfinished business” bagi Ted, bahkan hingga episode paling terakhir.

Cerita sederhana, karakter yang kuat, lelucon yang kadang hiperbola, hingga pesan moral yang menohok.

Memang, big applause untuk para pemeran dan “dalang” dari belakang layar. Satu hal yang membuat saya merasa film seri ini sangat berbeda dengan serial lainnya, adalah kalimat-kalimatnya yang sangat quoteableCatchy. Simpel, tapi membuat perasaan tiba-tiba tak keruan.

Pesan moralnya pun begitu. Nggak terhitung lagi, episode-episode mana saja yang bisa membuat saya berlinang air mata. Bukan karena kisah sedih secara eksplisit. Bukan sama sekali. Hanya, pesan tersiratnya seketika memaksa mata saya berkaca-kaca. Cirambay, kalau kata orang Sunda mah.

Saya inget banget, ada satu episode yang sangat saya suka, dari seluruh season di HIMYM ini. Saya agak lupa judul episodenya, tapi, kira-kira, ceritanya berkisar tentang kebencian masing-masing tokoh pada seseorang. Kala itu, hasrat terpendam dari kebencian masing-masing tokoh ini adalah melihat mereka terpuruk di sumur terdalam. Tapi, pesan moral di penghujung episode, adalah ketika mereka mulai sadar, bahwa sebenarnya, yang membuat “lubang” itu adalah diri mereka sendiri. Dan, caranya cuma satu. Letting go.

Ahwaw banget!

Anyway, menurut saya, film yang baik, adalah film yang nggak hanya memberikan hiburan dan mimpi indah dengan happy ending semata. Tapi, film yang bisa menyadarkan para penikmatnya, bahwa di balik setiap ending, pasti ada kisah lain. Ada cerita lain yang nggak bisa diduga nalar. Ada suratan lain yang nggak akan berhenti sampai penghujung nyawa.

Karena, rasanya, akhir kehidupan setiap manusia pun nggak bisa diprediksi sama sekali, kan?

That’s why, hidup itu abu-abu. Dan abu-abu itu seru. Nggak ada yang pasti. Bahkan, seringnya, nggak sesuai ekspektasi.

Satu hal yang saya sesali sih: saya kehilangan alasan lagi untuk menunggu pergantian minggu, ketika episode HIMYM baru akan tayang secara rutin. Kehilangan alasan itu.

Mari kita hijrah. Bukan hijrah hati. Hanya berpindah kebiasaan saja. Beralih rutinitas. Tapi, HIMYM tetap di hati. Dan di memori.

🙂

-kandela-