Monthly Archives: Maret 2014

Tentang Tanggal Tujuh

Bandung, 9 Maret 2014,

Hari itu, kutetapkan sebagai hari perayaan hati membeku. Rasa membatu.

Karena hari itu, tiba-tiba, aku membenci hujan, gerimis, payung, warna kuning, kopi, buku Little Prince, motor tua, tulisan, kata-kata magis, Yahoo Messenger, Kings of Convenience, Landon Pigg, serial “How I Met Your Mother”, jaket parka, taman–beserta kursi, rumput dan lampu remang-remangnya–, Pasar Lilin, siomay, mi ayam, dan risoles Kineruku.

Bahkan, hari itu, aku membenci Bandung. Ya. Bandungku. Bandungmu.

Aku benci memoriku. Aku benci ceritamu. Aku benci faktaku. Aku benci pikiranmu.

Aku benci, ketika tahu, hitungan tahunan nggak berarti apa-apa. Aku benci, ketika tahu, aku masih di sini. Di perasaan ini, yang masih mempercayai alam bawah sadarku. Masih percaya mitos itu. Mitos buatan aku dan kamu.

Lalu, hari itu, yang aku tahu, hatiku membeku. Membatu.

Karena aku benci, mengetahui, bahwa alasanku menjadi “aku” yang seperti ini, adalah kamu. Adalah kamu.

#np Aqualung – Just For a Moment

Just for a moment
Everything I treasured was gone
Just for a moment
I faced my life alone
Oh, how I love you

Just for a moment
The world was full of pain
Just for a moment
My luck had finally run out
Oh, how I love you

The same thing that blew us together
Might blow us apart
So keep a piece of me precious
And close to your heart

Just for a moment
All of, of my nightmares came true
Just for a moment
My heart was broken in two

Oh, how I need you
Oh, how I’d miss you
Oh, how I love you

-kandela-

Iklan