Monthly Archives: Februari 2014

“HER” : Teknologi, Anti Sosial dan Masalah Hati

Jakarta, 4 Februari 2014

Entah kenapa, rasanya saya cukup tergila-gila dengan film-film yang mengusung tema alienasi di dalamnya. Kesendirian. Kesepian. Anti sosial. Lebih tepatnya, film-film yang memaksa saya menontonnya sendirian, memutar otak lebih keras, lalu merasakan munculnya sebuah “lubang” imajiner di hati, yang membuat saya menyesak. Perih seperti tersayat-sayat.

Yeoup. Film berjudul singkat ini merupakan salah satunya. Kali pertama saya menonton trailer-nya di sebuah situs unggahan video, saya melirik nama Spike Jonze berseliweran di antaranya. Siapakah dia?

Well, pria asal Maryland, Amerika Serikat ini merupakan seorang sutradara favorit saya yang cukup piawai dalam menciptakan film-film absurd dengan jalan cerita keluar nalar. “Where The Wild Things Are” merupakan salah satu contohnya. Selain film-film layar lebar, Spike Jonze juga merilis beberapa film pendek, seperti “I’m Here”–film yang mengangkat kisah percintaan dunia robot. Nggak heran, kan, saya begitu penasaran dengan film “HER” ini sejak pertengahan tahun 2013 silam?

Akhirnya, saya baru bisa menonton film “HER” dengan mata kepala saya sendiri di pertengahan bulan Januari 2014. Yang pasti, saya ingin sendirian ketika menontonnya secara perdana. Saya ingin menjadi seseorang yang mengasingkan diri, barang 2 jam saja. Selimut, bantal, penganan dan segelas susu cokelat menjadi rekan yang tepat untuk menyaksikan film ‘alienasi’ ini.

Seperti biasa, film semacam ini dibuka oleh irama musik yang sendu. Dan hebatnya, dengan tone warna gambar yang nggak kalah sendu, film ini mampu melahirkan nelangsa dari hati para penontonnya sejak awal film dimulai. Theodore Wombly, yang diperankan oleh Joaquin Phoenix, merupakan sang tokoh utama, tentunya memiliki kepribadian yang sesuai dengan efek bebunyian dan tampakan visual suguhan film ini.

Alkisah, Theodore merupakan seorang pria patah hati yang berada dalam proses perceraian dengan sang istri–diperankan oleh Rooney Mara. Lembaran kenangan adalah hal-hal yang terbesit di otaknya; lama kelamaan membuat harinya terasa hampa. Begitu-begitu saja, tanpa dinamika berarti. Hidupnya hanya berkisar antara kantornya–perusahaan jasa pembuat surat cinta; operating system membosankan; flat di tengah kota; serta game-game hologram super canggih. Bahkan, pesan dari sahabatnya saja dianggap angin lalu.

Sampai akhirnya, Theodore melihat iklan sebuah teknologi OS terbaru, di mana OS1–nama software tersebut–dapat membantu kegiatan sang penggunanya dengan cara yang lebih interaktif dan menyenangkan. Setidaknya, sih, mengurangi rasa sepi yang dimiliki oleh para pekerja ibukota, akibat teknologi dan pekerjaan yang terlalu membabibuta.

Dalam scene tersebut, Theodore menatap lamat-lamat area penjualan OS1 itu. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk membelinya, membeli teknologi buatan manusia yang mungkin dapat menyembuhkan kekosongannya.

Ketika memulai OS1, beragam pertanyaan bersuara lelaki terlontar bertubi-tubi. Salah satunya: “Are you social or anti social?”. Setelah Theodore menjawabnya, OS1 pun mulai bekerja sebagaimana mestinya.

“Hai!” suara perempuan bernada riang muncul dari arah PC tersebut. Nama di balik suara ini adalah Samantha–yang diisi dengan sempurna oleh Scarlett Johansson. Tak seperti software kaku lainnya, bagi Theodore, berbincang dengan Samantha, seperti mengobrol dengan sesama manusia nyata. Layaknya teman imajiner, Theodore tak sama sekali bisa melihat wujud fisik Samantha. Hanya indra pendengaran yang digunakan Theodore untuk mengenali Samantha.

Samantha sendiri digambarkan sebagai sosok suara yang menyenangkan, pandai bergurau, dan perhatian. Bahkan, entah teknologi seperti apa yang menciptakan Samantha dan teman-temannya, ia bisa mengetahui isi hati sang penggunanya. Sang Tuannya.

Seperti dalam film genre drama lainnya, kisah romansa muncul di dalamnya. Tentunya, antara Theodore dan Samantha–sang program komputer. Satu hal yang cukup menohok bagi saya, ketika Theodore menikmati hubungan virtual ini dengan wajah berbunga-bunga. Pipi merah merona. Jantung berdebar-debar. Senyuman pun tak lepas dari bibirnya. Meskipun faktanya, Samantha itu teknologi. Buatan manusia. Imajiner. Sementara. Tak bisa disentuh. Tak bisa dilihat. Dan mungkin saja menghilang dalam sesaat.

Mungkin, kalau bisa saya rangkum pesan di dalamnya, Spike Jonze ingin menyinggung bahwa suatu saat, akan datang masa di mana teknologi berubah menjadi “penjajah”. Bahkan, menjajah perasaan dengan kejam. Membungkus setiap penghuni bumi dengan topeng antisosial. Menggantikan relasi realis dengan hubungan virtual yang menyenangkan.

Ngeri juga ya?

Jadi, selagi semua perasaan yang kita miliki itu nyata–baik itu sedih, senang, sakit atau perih–ada baiknya kita bersyukur. Menikmatinya. Meresapinya.

Ya. Sebelum teknologi menggantikan semuanya. 

Penasaran dengan film ini? Berikut trailer-nya, yang berhasil membuat saya penasaran selama berbulan-bulan.

Selamat menonton!

-kandela-

Iklan
Dengan kaitkata , , , ,

#3 – Jangan Terkirim!

Jakarta, 3 Februari 2014,

Surat tak sampai, memang lebih baik menjadi yang tak pernah sampai. Sama halnya dengan perasaan. Saya memang nggak pernah—nggak akan pernah—menyampaikan rangkaian diksi ini secara langsung. Nggak akan pernah.

Bukan karena nyali saya setitik. Bukan karena pesimis saya merajalela. Tapi karena ada hal-hal yang lebih baik jadi misteri. Yang lebih baik saya nggak tahu akhirnya.

Demi menjaga A, menjaga B, dan menjaga C—hal-hal yang dikatakan sebagai moralitas, padahal batas kejam sebuah perasaan.

Tahukah kamu?

Saya selalu senang bersamamu, duduk di taman itu. Ya, di bawah pohon rindang yang penuh nyamuk-nyamuk penghisap darah itu. Ya. Saya dan kamu (pernah sering) melewati pergantian hari dengan obrolan beragam bobot tanpa juntrungan yang jelas.

Saya selalu senang mengajakmu ke sana; ke sebuah kedai yang penuh perabot kayu di dalamnya; menikmati penganan ringan pembuat bahagia, berbincang tentang materi yang itu-itu saja, lalu melihatmu kebosanan mendengar cerita saya. Melihatmu terdistraksi oleh tayangan layar kaca. Mengingat saya yang tetap ingin melantunkan cerita.

Saya selalu senang membaca pesan elektronikmu yang berkata, “Sudah di markas, vroh!”. Ya. Markas besar kita. Tempat saya dan kamu biasa bertemu. Tempat kamu biasa menunggu. Tempat saya biasa menuju. Tempat kita berteduh, lalu melamun bersama, melihat jalan raya.

Saya selalu senang mengadu hinaan bersamamu. Menikmati setiap tawa yang tak berawal canda. Lalu diam-diam, saya simpan gelitik kupu-kupu di dalam perut. Diam-diam, saya menanamnya tanpa seizinmu. Iya. Saya tahu. Tanpa seizinmu.

Saya senang melihatmu. Dari jarak seperti ini. Jarak yang tak mencapai hitungan ratusan kilometer, tetapi memiliki partisi dimana-mana. Tembok imajiner yang membuat jaraknya menjadi ganda. Tembok yang kamu bangun. Tembok yang saya paksa bangun. Ya. Harus saya bangun.

Tembok masif berisikan fakta yang berkata: kita nggak merasakan hal yang sama.

Lalu saya mulai mereduksi semuanya. Perasaan saya. Kebiasaan saya. Euforia saya. Intensitas saya. Memori saya—yang sebenarnya tak seberapa.

Tapi rasanya, saya masih belum ingin lupa. Saya masih ingin mengintipmu dari jarak sekian. Jarak beberapa lampu merah, yang dipersempit oleh layar-layar penyeranta.

“Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling telepon, SMS, BBM, tapi keduanya diam-diam saling mendoakan”.  

~ Sujiwo Tejo

Satu fakta yang nggak akan pernah kamu tahu: ternyata saya rindu. Tanpa rencana. Tanpa sengaja. Tanpa alasan. Tanpa logika.

Ya. Lebih baik kamu nggak tahu.

🙂

Semoga selalu bahagia di sana. Di jarak sejauh beberapa lampu merah. Beberapa kilometer. Beberapa belokan. Beberapa kali berganti angkutan umum. Beberapa kantor kecamatan. Ya. Semoga bahagia.

-kandela-

Dengan kaitkata , ,

#2: Hai, Gerombolan Saksi Bisu!

Jakarta, 2 Februari 2014,

Hai kalian: setangkap roti panggang beroleskan madu; piring keramik merah; pisau dan garpu; selembar kertas tissue; segelas teh tarik; plus secangkir kopi Hazelnut hangat.

Kalian yang menatapku dari jarak berbeda-beda: 20 senti, dan lebih dari 20 senti.

Kalian yang rajin mengintipku, mengintip senyuman 3 detik yang terbit dari bibirku.

Kalian yang mencuri dengar bunyi jantungku, yang berdetak semakin kencang. Ya. Semakin kencang.

Lalu, kalian beramai-ramai memperbincangkan pipiku yang kian merah merona. Seperti warna gulali kapas yang dijual di kedai-kedai.

Jangan kira aku nggak tahu, ya, kalian menggunjingkanku! Kalian berbahasa isyarat: mungkin hanya menyebarkan aroma; mungkin hanya melelehkan embun; mungkin hanya menjatuhkan diri; lantas mengeluarkan pekikan nyaring.

“Tring!” ujar kalian. Hasil senandung kompromi kalian tadi malam.

Lalu aku pura-pura tidak tahu. Seperti kura-kura dalam perahu.

Aku berusaha diam. Berusaha tenang. Menenangkan kumpulan kupu-kupu yang tengah berdansa di dalam perutku.

Semoga kalian diam, dan tidak mempermalukanku. Membuatku tersipu.

Lalu, jangan bilang siapa-siapa! Jangan bilang siapapun, bahkan kepada meja kayu, sofa berjok merah, ataupun tumpukan buku-buku. Jangan! Aku akan malu!

Cukup kalian yang tahu, ketika aku menatap jemarinya yang bergerak lincah di atas kertas; melihat wajahnya yang tengah menyeruput secangkir kopi hangat; memergokinya yang tiba-tiba tersenyum ke arahku; lalu memergokiku yang kembali melempar senyum padanya.

Ya. Cukup kalian yang tahu, ya?

#nowplaying Adhitia Sofyan – Secret 🙂

-kandela-

Dengan kaitkata , ,