Monthly Archives: Januari 2014

#4 – I’m a Cuckoo

Jakarta, 16th of January 2014,

FREE
Pronunciation: /friː/
adjective (freer /ˈfriːə/, freest /ˈfriːɪst/)
Definition: able to act or be done as one wishes; not under the control of another.

Few days ago, I watched “Fight Club”–a very great movie starring Brad Pitt and Edward Norton–to fill my rest hours. Actually, eventhough I have watched it before, I hadn’t actually get the real messages. The implicit things behind those psychopath mind of Tyler Durden–alter ego of this unnamed white-collar worker. In my shallow mind, I was making a simple thought: this protagonist guy and Tyler Durden making an underground boxing activities, named Fight Club. So what’s up then?

After 2 hours watching it (again and again), finally I’ve got its real message: freedom. Independency becoming ourselves. Becoming what we want to be, with our passionate heart. Although, nowadays, we–especially people who lives in big cities–are being controlled by money, with an aim, to buy some expensive stuff that won’t last long. Won’t satisfy our needs also. Great cars, nice clothes, sophisticated gadget. Are they really our happiness? Are they really my happiness?

Anyway, my nickname contains the meaning of freedom too. “Kanne” word was taken from a flower types, named “Kana”. Indonesian people named it as “bunga tasbih”. But actually, its latin name is Canna lily. And then, I searched at Google, and found this flower’s character. Canna lily usually lives inside the forest, or at the mountain. It lives freely. It lives happily. Eventhough, sometimes, Canna lily becoming an ornamental plants in city park. But, still, Canna lily is a free creatures. Belong to these awesome earth.

For me, freedom has a very-very relative definition lately. People said: vandalism is a freedom. Tongue lashing is a freedom. Humiliation is a freedom.

What an awkward life, isn’t it? Because, if those people ever think about it deeper, there’s no freedom without rules. The fact is: our universe has its rules. Has its own pattern of lane, so that those uncounted space systems wouln’t collide with each other. So that, the freedom without God, without rules, doesn’t really exist.

I don’t think my Mom want me becoming that hyperbolic freedom person, right Mom?

Maybe, her wish was so simple that day. Wanted me lives freely just like a bird. Flying around the world. Exploring them with my five senses. Then, keeping them in my deepest side of memories. And the last, gathering all of those stories, mementos and euphorias, into my side’s masterpiece. Feeling gratitude in being alive and born to this awesome universe.

Someday, I will be that person, dear Mom. I will be the real me. Just, be patient, and watch me from your world. Your dimension. Won’t you?

nowplaying:

Belle and Sebastian – I’m a Cuckoo

-kandela-

nb: this is my second post which being written in English. So, sorry for my bad grammar, vocab and also rigid writing. Enjoy! 🙂

Dengan kaitkata , , , , ,

Tentang Banjir, Tentang Jakarta

Jakarta, 13 Januari 2014,

Hujan mampir ke Jakarta secara terus menerus. Bukan langit yang sedang menangis. Bukan hujan yang sedang marah. Karena, ketika hujan ngambek, mungkin saja ia enggan mampir lagi ke muka bumi. Enggan merasa terhujat. Enggan merasa terhina.

Jakarta banjir, bukan karena hujan. Iya kan?

Rasanya, hujan hanya ingin bermain-main ke bumi. Waktunya rekreasi. Gantian dengan langit cerah dan udara gerah.

Ya, tapi seperti biasa, hujan menjadi tumbal. Kambing hitam.

Saya jadi ingat artikel saya tahun lalu. Tepat tahun lalu. Kala itu, saya berbicara tentang kebanjiran di Jakarta, penyebabnya, dan hal-hal yang berkaitan dengan bencana tersebut. Mungkin, kalau saya coba posting di sini, sedikit membuka pikiran, sedikit menyusutkan kebencian terhadap hujan.

Semoga tahun ini, hujan tak lagi menjadi kambing hitam. Banjir tak lagi mengganas. Jakarta tak lagi berduka.

***

Ketika Jakarta Menjadi Berbeda

Dari masa ke masa, pembangunan arsitektur, ekonomi, bisnis hingga dunia hiburan di Jakarta meningkat dengan sangat pesat. Namun, sebaliknya, penataan kota yang baik seakan terabaikan. Hal ini berbuah musibah, antara lain banjir yang terjadi beberapa saat yang lalu.

Luapan banjir di pelosok Jakarta beberapa waktu lalu memang mengundang duka. Sejumlah kerugian, mulai dari korban materi hingga berjatuhannya korban jiwa, tengah melanda ibukota Indonesia. Tak heran bila masalah ini menjadi bencana nasional yang memberi dampak terhadap segala lini kehidupan Jakarta. Bahkan, lebih menyedihkannya, banjir di awal tahun ini seakan mengulang musibah yang telah terjadi di tahun 2007 silam.

Menurut Marco Kusumawijaya, penggagas dari RUJAK (Ruang Jakarta) Center for Urban Studies, kesalahan penataan ruang menjadi salah satu aspek penyebab banjir di ibukota. “Area resapan air yang sudah tertutupi pembangunan, dapat mengakibatkan bencana banjir,” ujar Marco, yang juga merupakan seorang arsitek tata kota.

Sebenarnya, seberapa pentingkah tata ruang, khususnya bagi kota besar seperti Jakarta? Mengutip keterangan dari buku “Tata Ruang untuk Kita” yang diluncurkan oleh RUJAK Center for Urban Studies ini, tata ruang memiliki beberapa fungsi utama, antara lain mengatur ketinggian bangunan, mengatur kepadatan, rasio ruang hijau, peruntukan bangunan, serta menentukan tipe trotoar.

Bahkan, pentingnya tata ruang tertoreh pula di UU No.26 Tahun 2007. Menurut undang-undang, penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.

“Sayangnya, keberadaan regulasi tersebut tidak dilakukan oleh sebagian dari masyarakat Jakarta, banyak yang mengabaikannya begitu saja,” kata Marco mengemukakan pendapat.

Awal Mula Pembangunan Kota
Kota metropolitan ini sebenarnya telah berumur cukup tua. Kota Bermula dari nama Sunda Kelapa yang terletak di muara Sungai Ciliwung kota ini merupakan sebuah pelabuhan besar bagi Kerajaan Sunda. Ketenaran tempat ini pun tercium hingga ke bangsa Portugis, yang kala itu tengah memperluas kekuasaan di Benua Asia. Alhasil bangsa Portugis pun berhasil menguasai Pelabuhan Sunda Kelapa pada abad ke-15.

Pada 22 Juni 1527, seorang pribumi bernama Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa dari tangan bangsa Portugis. Nama Sunda Kelapa pun berganti menjadi Jayakarta.

Namun, pada 30 Mei 1619, Jayakarta dikuasai oleh Belanda, yang bergerak dengan serikat dagang bernama VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Alhasil, di bawah kekuasaan Jan Pieterszoon Coen, namanya berubah kembali menjadi Batavia.

Sejak tahun 1619 ini lah, tata kota Batavia mulai berkembang pesat. Bangunan balai kota nan anggun dibangun sebagai pusat pemerintahan, lengkap dengan kanal-kanal yang bertujuan guna mencegah ancaman banjir.

Namun, kerusakan lingkungan pun cepat terjadi, seiring dengan pertumbuhan yang pesat. Pusat pemerintahan pun berpindah ke kawasan yang lebih tinggi bernama Weltvreden.

Jakarta Banjir Sejak Dulu
“Banjir merupakan kasus yang telah melanda Jakarta sejak lama,” tutur Marco ketika Tabloid RUMAH berkunjung ke RUJAK Center for Urban Studies beberapa waktu lalu.

Pria yang tengah berkampanye tentang penataan kota ini menjelaskan bahwa Jakarta memiliki topografi yang datar. Hal ini menyebabkan air hujan mudah menggenang dan sulit mengalir menuju saluran drainase. “Bahkan, hal ini sudah terjadi di abad ke-17, sejak Belanda membangun kanal-kanal pertama,” ujar Marco melanjutkan kisahnya.

Marco menuturkan bahwa salah satu penyebab banjir adalah kegagalan sistem kanal, yang sebenarnya tak cocok dengan kondisi tanah di Jakarta. “Perhatikan saja, setiap kali kanal baru terbangun, maka banjir akan semakin bertambah hebat dari tahun ke tahun,” ujar Marco.

Menurut pendapatnya, sebesar apapun kanal yang diciptakan, banjir dapat terjadi berulang kali, apabila sisa-sisa air hujan yang menggenang tidak dapat dikurangi. “Hanya bisa mencegah banjir sementara waktu saja,” ungkap Marco.

Perubahaan Fungsi Area Kota
Pembangunan di segala penjuru ibukota mengundang perubahan besar, utamanya terhadap lingkungan. Daerah-daerah yang sebenarnya merupakan rawa serta area resapan air, disulap menjadi bangunan beton menjulang tinggi.

Sebagai seorang pengamat yang kritis terhadap hal-hal berbau tata kota, Marco menyayangkan banyaknya regulasi yang dilanggar berkenaan dengan area resapan air ini.

“Sebagai contoh adalah Pantai Indah Kapuk, daerah yang merupakan sebuah hutan lindung mangrove, kini berubah menjadi pemukiman dan bangunan komersil,” ujar Marco. Pria ini menambahkan, bahwa kini permukaan laut di Jakarta Utara telah melebihi permukaan daratan, sebagai akibat dari pembangunan yang tak mengikuti kaidah ilmu tata kota.

Selain itu, seperti dikutip dari buku “Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa” karya Restu Gunawan, ada pula daerah Pluit, menjadi salah satu area dengan kerugian banjir yang cukup besar di Jakarta. Dahulu, daerah ini merupakan rawa yang digunakan sebagai benteng pertahanan terhadap Kerajaan Banten. Namun, kemudian Pluit mengalami pembangunan pesat dari tahun ke tahun. Bahkan, daerah ini tak lagi memiliki tanah resapan air, akibat berdirinya mal, permukiman dan tempat hiburan.

Tentang Jenis Tanah Jakarta
Sebagai seorang arsitek dan juga ahli tata kota, Marco menilik-nilik kesalahan tata kota di Jakarta ini dapat diawali oleh pembangunan yang tak sesuai dengan jenis tanah di Jakarta.

“Jakarta memiliki tanah yang terdiri atas kandungan lempung atau lumpur yang cukup banyak, sedangkan bagian tanah yang mampu meresap air itu adalah lapisan pasir,” tutur Marco. Tak heran memang, mengingat Jakarta pada awalnya merupakan area rawa-rawa.

“Kebanyakan di antara oknum-oknum yang telah mendirikan bangunan di Jakarta, tidak melihat pembangunan dari segi ilmunya,” ungkap Marco melanjutkan ucapannya. Menurutnya, pengetahuan tentang jenis tanah yang akan menjadi lokasi pembangunan sangatlah diperlukan, guna mencegah kemungkinan banjir di tahun-tahun mendatang.

***

(Artikel ini dimuat di Tabloid RUMAH edisi 258, yang terbit pada 1 Februari 2013 silam)

-kandela-

Dengan kaitkata , , , ,

#3 – Bad Day

Jakarta, 13 Januari 2014,

Jujur saja, sejak beberapa hari lalu, pikiran dan emosi saya cukup terdistraksi oleh eksistensi pemegang sembilu imajiner, yang biasa disebut backstabber. Dan, betapa menyedihkannya, sebenarnya saya sudah menganggap beliau sebagai seorang teman. Teman baik. Yeah, whatever lah.

Intinya, Tuhan sedang “menyentil”. Nggak ada garis yang lurus sempurna. Nggak ada putih yang sepenuhnya tanpa noda. Nggak ada manusia yang selalu menjadi “protagonis” setiap saat di dunia ini. Someday, tergantung sudut pandang masing-masing, setiap manusia bisa menjadi tokoh baik. Bisa menjadi tokoh jahat.

Percaya 100% dengan manusia itu nggak ada gunanya. Subjektivitas dan asumsi bisa mengubah semua cerita itu dalam sekejap. Terlebih lagi emosi dan sentimentil pribadi. Alhasil, cerita itu pun berputar. Berbalik 180 derajat.

Jadi ingat perbincangan saya dengan salah seorang teman lama, beberapa waktu silam. Hubungan teman itu personal. “Nggak masalah kamu punya banyak kenalan. Tapi, cuma beberapa aja, kok, yang benar-benar berperan sebagai seorang “teman” yang sesungguhnya,” ujar sang teman lama.

Betul sekali! Rasanya, saya lebih baik punya teman yang bisa menerima saya dalam kondisi apapun–entah saya sedang menjadi “protagonis” ataupun “antagonis”. Jauh lebih baik, daripada berteman dengan orang bermulut manis berhati serigala.

Dan, tiba-tiba, pagi ini saya ingin komat-kamit, memproklamirkan rentetan kalimat sumpah serapah berdiksi sinis dan kasar. Yang pasti–karena saya masih punya iba–nggak mungkin juga saya lontarkan secara realita.

Nggak logis. Nggak etis.

Well, hari ini, ledakan emosi saya diselamatkan oleh tembang Darwin Deez berjudul “Bad Day”. Dengan lirik pengundang gelak tawa, saya rasa “sumpah serapah” ala pria artsy ini bisa mewakili perasaan saya. Ketimbang saya mencaci maki dan mengeluarkan kosa kata yang tak pantas, harapan “lucu” ala Darwin Deez bisa membuat mood saya bangkit sekejap.

Lalu saya bersyukur. Anggap saja, sekarang, saya tengah menjadi seorang protagonis tertindas yang ada di film-film opera sabun.

Dan, anggap saja, artinya Tuhan sayang sama saya. Menyentil saya dengan cara-Nya. Menguji saya dengan jalan-Nya.

Everything happen for a reason. Indeed. 

:’)

Jadi, adakah yang bernasib sama seperti saya hari ini? Ingin melontarkan ribuan kata hinaan agar emosi terlampiaskan?

I recommend this song for you, mate! 

Enjoy!

#np Darwin Deez – Bad Day

I hope that the last page of your 800 page novel is missing
I hope that it rains if you leave the window down on your red Mustang

‘Cause everyday ought to be a bad day for you
Everyday ought to be a bad day for you

If you drop your keys I hope there’s a sewer somewhere very nearby
I hope that your team lost, I hope your new girl takes off with a new guy

‘Cause everyday ought to be a bad day for you
‘Cause everyday ought to be a bad day for you

And I would like to be your girlfriend so I could dump you
And I would like to be your garbage man so I would never have to pick up your trash again

Maybe you should wonder why your apartment is always so empty
I hope you get locked out of that apartment and have to call Jenny

‘Cause everyday ought to be a bad day for you
Oh everyday ought to be a bad day for you
Everyday ought to be a bad day for you
‘Cause everyday ought to be a bad day

But I’m sorry if it ever is
(Everyday ought to be a bad day for you)

-kandela-

nb: maaf, masih postingan sentimentil seperti hari sebelumnya. 🙂 belum sembuh, sih! 😀

Dengan kaitkata , , , ,

#2 – Surrender

Jakarta, 10 Januari 2014,

Sekitar pukul 7 malam, saya mulai merangkum hati saya dalam tulisan ini. Well, tulisan saya kali ini disponsori oleh kalimat yang tiba-tiba cukup merusak mood saya malam ini. Kalimat “ada cerita kurang baik tentang kamu” terkirim via pesan singkat di telepon selular. Oke. Sedikit menyesak. Membuat bertanya-tanya. Antara penasaran, atau cenderung apatis. Antara mau tahu, atau acuh sama sekali. Lalu mendadak melamun. Enggan menyentuh mouse. Seperti ada sembilu yang menancap perlahan.

Saya jadi ingat sebuah percakapan panjang dengan seorang teman lama. Salah satu quotes yang ia lontarkan: “Lo terlalu mikirin apa penilaian orang lain terhadap lo. Di dunia ini, lo nggak mungkin bisa bikin semua orang seneng sama lo, kan? Haters does exist”.

Lantas, memori saya kembali bergulir ke masa lalu. Nggak hanya saya yang pernah memiliki konflik, tentunya. Teman-teman saya pun seperti itu. “Gue tahu sih gue diomongin. Tapi rasanya, omongan orang nggak akan bikin gue mati,” ujar salah satu teman saya lugas.

Yes, sebesar apapun usaha saya untuk berbuat baik dan tidak mencampuri urusan orang lain, sosok sentimen–orang yang menjadikan saya sebagai objek sentimen–selalu ada. Selalu eksis. Selalu hadir. Selalu ribet. Riweuh. Rempong.

Rasanya, lebih baik jadi orang apatis dan anti-sosial sekalian.

Tapi, ya sudahlah.

Setiap orang punya beban. Punya masalah. Punya masa lalu. Punya masa depan.

Dan, pastinya, nggak etis bagi saya untuk tetiba marah-marah dan berkata: “Lo nggak tahu apa yang gue rasain!”

Karena saya pun pasti nggak pernah tahu apa yang dirasakan orang lain. Apa yang dirasakan keluarga saya. Teman-teman saya. Bahkan, saya pun nggak tahu rasanya jadi para subjek yang menjadikan saya objek gunjingan. Objek gibah. Objek obrolan.

So, ya sudahlah.

Omongan orang nggak akan bikin saya mati

Jadi, rasanya, daripada saya sibuk memikirkan apa saja yang mereka gunjingkan tentang saya; sibuk mengorek kisah lalu; sibuk memrediksi masa depan; lebih baik, saya merayakan hari ini.

Merayakan orang-orang baik yang ada di sekeliling saya.

Merayakan orang-orang yang menerima saya dalam setiap jengkalnya–ketika saya menjadi protagonis atau antagonis.

Merayakan orang-orang yang bisa membuat saya merindu.

Merayakan orang-orang yang nggak mempermasalahkan seperti apapun seorang saya.

Merayakan orang-orang yang mau tertawa bersama saya.

Bahkan, merayakan orang-orang yang bercerita buruk di belakang saya.

Dan, mendoakan mereka agar selalu bahagia, di masa kini, ataupun hari esok.

Dan, pastinya, merayakan semua hal yang Tuhan berikan pada saya: nyawa, otak, dan perasaan.

Cukup, kan?

#np Float – Surrender

Life’ll only be crazy as it’s always been
Wake up early, stay up late, having debts
Things won’t be as easy as it often seems
And yet you want me, this cliché’s killing me
Still I need more I need more
This I’ve never thought before

Chi trova un amico, trova un tesoro*
We can look for many other foreign lines to make me survive your love

You said “To the future we surrender.
Let’s just celebrate today, tomorrow’s too far away.
What keeps you waiting to love?
Isn’t this what you’ve been dreaming of?”

Life’s to live and love’s to love

Sundays will be empty as it’s always been
Watching TV, wake up late, playing dead
Mondays won’t be easy with no plans and schemes
Now that you’re still here
The silence shouts it clear
You’re still here
The silence shouts it clear

To the future we surrender, life’s to live and love’s to love
To the future we surrender, life’s to live and love’s to love

🙂

-kandela-

nb: maaf, kali ini postingannya sedikit sentimental. sedikit. sekali-sekali.

Dengan kaitkata , , ,

#1 – (Bukan) Sahabat Kecil

Jakarta, 7 Januari 2014,

Tak harus berukuran mini.
Tak harus berada di dunia liliput.
Tak harus berkenalan sejak usia dini.
Tak harus berada di dimensi yang sempit.
Tak harus bermain boneka.
Tak harus mengadu belalang.
Tak harus melompati tali.
Tak harus bernyanyi “Ular Naga”.

Aku dan kamu, cuma perlu saling bercerita di atas meja kopi. Saling mengintip isi kepala, lalu menukar aksara-aksara di dalamnya. Lalu menyimpannya, dalam buku harian maya.

Atau, berlarian di atas jalan aspal. Berkejar-kejaran bersama hujan. Menikmati tertawa tanpa canda. Merasakan debu menjadi gula. Melihat asap sebagai kapas. Lalu mensyukurinya.

Atau, saling melepas beban di kursi taman. Meresapi air mata tanpa terisak. Kisah sendu tanpa drama. Skenario nelangsa yang diakhiri lega. Lalu tersenyum. Lalu merayakannya.

Atau mungkin, aku dan kamu, cuma perlu diam. Saling mencuri lihat, lalu tertunduk, lalu tersipu. Saling melirik, lalu mengangguk, lalu berisyarat. Saling berbahasa sunyi, tetapi saling mengerti.

Karena kita tak harus menjadi sahabat kecil, untuk merindukan satu sama lain. 

#np Ipang – Sahabat Kecil

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Janganlah berganti
janganlah berganti
janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

-kandela-

Dengan kaitkata , , ,

Tentang #30DaysMixtapeStories

Jakarta, 6 Januari 2014,

Akhir-akhir ini, sebenarnya saya tengah dilanda rasa jengah berlebih. Jengah yang berhasil membuat antibodi menurun. Menipis. Berkurang dari kadar semestinya. Pikiran saya seakan menahan para prajurit pelindung tubuh untuk bekerja. “Biarkan mereka malas. Biarkan saya sakit. Karena saya ingin. Saya ingin sakit,” ujar saya dalam hati. 

Jengah karena tumpukan sampah otak yang sudah membusuk. Dikelilingi lalat. Berbau tak sedap. Lantas, membuat saya rusak.

Jengah karena lapisan topeng yang terlampau berat. Mimik tertawa dari logam baja. Lalu, membuat saya mati rasa. Mati ide. Mati hati.

Jengah karena saya sudah terlalu lama membiarkan jemari saya terjerat rantai. Tak bisa bebas menari. Tak bisa lincah bergerak. Menulis apa yang ia inginkan. Melukis apa yang ia rasakan.

Jengah karena rasanya saya sudah lupa. Lupa rasanya berkarya untuk diri sendiri. Lupa rasanya berkarya tanpa mengejar materi. Lupa rasanya berkarya tanpa diminta. 

 

Makanya…

 

Saya ingin mencoba menjadi diri saya lagi. Menghanyutkan rasa ke dalam tulisan. Menitipkan hati pada lukisan. Agar saya tidak lupa. Agar saya tidak jengah. Lalu tetap mengenangnya. 

And of course, with those eargasm random music  as my mixtapeAnd the stories behind

🙂

-kandela-

Dengan kaitkata , , ,

Menikmati Koleksi Memori

Bandung, 1 Januari 2014,

Photo by Bulky Domae

Photo by Bulky Domae

Bunyi “duar-duar” itu berisik lagi. Muncul di waktu bersamaan dengan momentum bahagia kebanyakan manusia. Detik-detik yang dirayakan keberadaannya oleh seisi bumi–yang mengenal kalender Masehi. Keriaan. Kegembiraan. Salah satunya, pergantian tahun. Penghujung tanggal yang beranjak pergi. Angka amatir yang mulai mampir.

Hati saya tak kalah berisik, tak kalah gaduh dengan bebunyian tadi. “Kenapa sih momentum ini harus dirayakan dengan kebisingan?” ujar saya dalam hati. Ngedumel. Mengeluh.

Lantas, sejak kapan tahun baru merupakan perayaan? Merayakan waktu yang berlalu? Merayakan tahun-tahun yang telah menghilang? Merayakan resolusi yang sekadar wacana? Merayakan pencapaian? Merayakan hari-hari baru yang akan tiba?

Saya duduk sendiri di sini. Ketika angka sudah berlalu 54 menit dari pukul 12 tepat. Sudah puluhan menit, saya hidup di angka baru. Tahun 2014. Tahun yang kembali baru. Sama halnya seperti pergantian satuan waktu–detik, menit, bahkan abad–yang tak pernah berputar ulang. Tak pernah berbalik mundur. Tak pernah statis ataupun membeku.

Lantas, hal apakah yang paling mengena dalam pikiran saya, ketika pergantian tahun tiba?

Layaknya kembang api, memori terbang luas ke angkasa. Terlontar lepas, setelah terpendam selama setahun penuh. Ditumpuk selama 365 hari. Terbebas bersama perasaannya. Luapan emosinya yang membekas di telinga. “Duar!” demikian suara galak dari kembang api. Suara emosi tentang memori. Mungkin menangis. Mungkin tertawa. Mungkin membentak. Mungkin terisak. Mungkin tergelak.

Koleksi memori menyeruak. Keluar dari tempatnya–sebuah rak kecil dalam perpustakaan buatan Tuhan bernama otak. Lalu, seperti tayangan salindia, kenangan–yang ingin dikenang–berputar kembali di pandangan maya.

Kembang api dan hujan yang sama. Tak jauh berbeda. Saya berjalan di pedestrian tengah kota, sebagai masyarakat pengikut arus yang ingin menyaksikan keriaan massal. Perayaan publik. 

Lalu, kami menyisipkan kebodohan yang bisa dikenang. Setidaknya oleh saya, yang senang melihat ke belakang. 

Tawa mengawali tahun 2013. Lantas, relativitas waktu bertindak semaunya. Saya tak menyangka bahwa usia cerita sekelebat itu sudah menapaki angka 1. Sudah setahun. Sudah banyak “cerita” yang terjadi. Yang menumpuk. 

Ajaibnya, saya masih bisa tertawa mengingatnya. Tersenyum, ketika mengingat detailnya. Euforianya. Menikmati perasaan bahagia kala itu. Sama seperti melihat kembang api yang bertebaran di udara. Lepas. Lega. Tergelak. 

Pergantian tahun kembali tiba. Menjadi momen-momen pengoleksi memori yang keluar semena-mena. 365 x 24 x 60 jam yang dirangkum dalam rentang waktu sempit. Mereka memaksa keluar dari gudangnya. Memaksa. Agar keberadaan mereka kembali diingat. Kembali muncul. Tak sekadar jadi ingatan sekali buang.

Salah satunya, ingatan yang berusia setahun di hari ini. Setahun lebih beberapa jam. Nggak dosa kan, kalau saya masih menyimpannya sebagai buku-buku teratas di rak ingatan saya?

Mari menikmati memori, lalu ditutup oleh komat-kamit doa dan harap. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Berharap di tahun mendatang, saya akan kembali tersenyum mengenang hari ini. Mengingat momentum ini.

Lalu menyimpannya kembali dalam rangkaian diksi.

Selamat menyambut usia baru dari tahun yang baru. Selamat menikmati koleksi ingatan. Selamat mengabulkan perkataan doa. Selamat menjadi manusia.

-kandela-

nb: Berikut, adalah cerita yang telah menapaki usia tepat setahun hari ini. >> http://ceritahujancandella.blogspot.com/2013/01/hari-ke-1-pedestrian-ceria-di-tengah.html | selamat menikmati memori!

Dengan kaitkata , ,