Monthly Archives: Desember 2013

Asing itu Relatif

Jakarta, 24 Desember 2013,

asing a 1 aneh; tidak biasa: hal itu sangat — bagiku; 2 belum biasa; kaku: bagiku masih terasa — kalau bergaul dng mereka; 3 datang dr luar (negeri, daerah, lingkungan)4 tersendiri; terpisah sendiri; terpencil; 5 lain; berlainan; berbeda; 

Sejak kecil, salah satu kalimat yang cukup terngiang di ingatan saya, adalah: jangan ngobrol sama orang asing, ya! Well, ada apa ya dengan orang asing? Tepatnya, sesuatu yang asing, sih. Perkataan-perkataan itu bahkan masih sering diutarakan, ketika saya sudah menapaki usia di kepala 2 seperti sekarang ini. “Hati-hati ya sama orang asing!” ujar tante saya dengan wajah ketus.

What’s up with strangers, anyway? 

Waspada? Oke. Mengingat Indonesia tengah dilanda kasus kriminal yang bertubi-tubi, kalimat-kalimat tersebut merupakan peringatan agar sang anak terhindar dari kemungkinan bencana.

Tetapi, sebenarnya kategori strangers seperti apa sih yang harus diwaspadai? Setelah dipikir-pikir lebih dalam, semua orang yang kita temui di jalan adalah strangers, bukan?

Apakah Pak Polisi bukan strangers? Apakah penjaga bis bukan strangers? Apakah pengendara mobil mewah di jalanan bukan strangers? 

Mereka adalah orang asing. Saya nggak pernah mengenal mereka sama sekali sebelumnya. Bahkan, ketika saya bertemu mereka pun, saya tak akan mudah mengingat wajah mereka, dan mengubahnya menjadi seorang anti-asing.

Apakah itu berarti, saya nggak boleh berbicara dengan polisi? Saya nggak boleh berbicara penjaga bis? Saya nggak boleh berbicara dengan sang pengendara mobil mewah?

Satu kesimpulan muncul dalam benak saya: pantas orang-orang di sini apatis. Mereka terbiasa untuk takut dengan sesuatu yang asing, sejak masih kanak-kanak. Mereka sudah terbentuk secara otomatis. Tanaman paranoid yang sudah membabibuta sedari kecil.

Padahal, rasanya, asing itu bersifat relatif. Asing tak akan selamanya menjadi asing. Terasing, tak selamanya menjadi terasing. Menurut saya–selama beberapa kali bepergian ke tanah asing–menjalin obrolan dengan orang-orang asing adalah salah satu pengalaman yang luar biasa. Di stasiun. Di terminal. Di kapal laut. Di kereta. Di mobil travel. Di persimpangan jalan. Di gang gelap. Di mana pun, orang “asing” yang baik hati itu available kok. Apa jadinya, kalau saya masih menganut ajaran “don’t talk to strangers” ya?

Sudah beberapa kali, saya dibantu oleh orang-orang yang tak saya kenali sebelumnya. Para penunjuk jalan. Para pemberi informasi. Para pelipur lara. Para penasehat dadakan. Para story teller jalanan.

Bahkan, dengan sendirinya, mereka berhasil mengubah perannya, dari orang asing menjadi seorang “teman”. Accidentally friends. Or maybe, should I say, serendipity-mate? 

Apapun itu, asing tak akan selamanya menjadi asing.

Yang dibutuhkan, hanya waktu yang cukup banyak untuk mulai mengenalnya. Nyali yang cukup tinggi untuk menyusurinya. Dan, ruang ingatan yang cukup luas untuk mengenangnya.

Lantas, berkenalan dengan sesuatu yang asing pun menjadi adiksi. Objek ketagihan.

Not that bad, huh? 

🙂

#np Float – Stupido Ritmo

-heykandela-

Iklan
Dengan kaitkata , ,

Nelangsa Hari Ini

Jakarta, 2 Desember 2013,

ne·lang·sa a sedih (sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Mungkin, hari ini saya tak menunjukkan ekspresi nelangsa saya seperti biasa: muram, pura-pura menguap–untuk menutupi air mata, tentu saja–, lantas menyendiri dalam ruang kontemplasi. Bersemedi. Menjadi antisosial. Menjadi strangers. Lalu, mulai memenuhi otak saya dengan energi-energi negatif, yang akan membuat saya tidak mood seharian.

Hari ini, saya merasakan nelangsa. Sedih. Suram. Hanya, tak seperti biasanya.

Saya nggak punya alasan logis untuk merasakan lara. Saya nggak punya sebab musabab rasional untuk menikmati sendu. Pun, saya sedang enggan berkecimpung dalam dimensi drama.

Lalu, kenapa, di antara ruang-ruang di hati saya, seakan terdapat benang gelasan kusut yang bertalian menyayat perlahan?

Kenapa saya melihat tinta hitam membuat garis tabrakan tak beraturan di otak kecil saya?

Kenapa saya meresapi suara letupan berdendang nyaring di kepala?

Kenapa saya merasakan nestapa?

……..

Mungkin, karena sedih itu konsumsi publik. Kosong itu tak berarti sepenuhnya hampa. Lalu, air mata adalah klimaksnya.

Mungkin, karena masa depan itu nisbi. Masa lalu itu memori. Dan masa kini bergerak layaknya kilat.

Atau, mungkin–paling mungkin–karena akhir-akhir ini, saya merasakan satu hal: saya bukan saya.

Nestapa hari ini aneh. Tak biasa. Tak seperti biasanya. Tak mampu membuat saya menangis, barang setetes pun. Tak mampu mengubah emosi saya secara merajalela. Tak mampu menghunuskan sembilu imajiner tertuju di hati.

Kemanakah “saya”? Apakah sedang berlayar di tengah gelombang jalang? Ataukah terasing dalam sebuah penjara maya? Ataukah terperangkap dalam balik dimensi kaca nun jauh di sana?

Atau, kenyataannya, inikah “saya”, yang tak lagi merasa suatu apa?

#np Polyester Embassy – Faded Blur

kandela-

Dengan kaitkata , ,