Monthly Archives: November 2013

Kuil Putih yang Menabrak Pakem

Berbeda jauh dengan kuil lainnya di Negara Gajah Putih ini, Wat Rong Khun, atau yang biasa disebut dengan The White Temple, mendobrak paham dan aturan kuil yang berlaku. 

23

Kala itu, matahari bersinar begitu terik di Ban Rong Khun, sebuah wilayah di subdistrik Pa O Don Chai, Chiang Rai, Thailand. Tak jarang, pinggiran jalan raya Phahonyothin yang merupakan perbatasan Chiang Mai dan Chiang Rai tersebut, dipenuhi debu kendaraan yang sesekali melaju kencang. Kesan gersang pun semakin kental terasa.

Meskipun begitu, tak banyak kendaraan yang melewati area ini. Biasanya, selain bis antar kota dan kendaraan pribadi, hanya songthaew—angkutan umum khas Thailand—yang sering mampir di sana.

Tepat di depan sebuah jalan yang cukup besar di pinggir jalan tol utama di Thailand tersebut, sebuah bis berwarna putih dan bergaris hijau berhenti. Di sana, tampak lima orang perempuan  menuruni bis sembari menjinjing ransel. Penampakan fisik mereka tampak berbeda dengan masyarakat setempat, yang biasanya memiliki kulit kekuningan, serta wajah tirus.

Mereka mulai melihat sekeliling, lalu beranjak memasuki jalan besar tersebut. Setelah mereka berjalan kaki sekitar 3 menit, mereka berdecak kagum perlahan, seakan menemukan “harta karun” di pelupuk mata mereka.

P1070752   P1070822

Wat Rong Khun, atau yang biasa disebut dengan The White Temple, merupakan “harta karun” tersembunyi bagi para turis, baik domestik, ataupun mancanegara, seperti yang dirasakan oleh para wanita itu.

Berada di pojokan area Ban Rong Khun, kuil yang dibangun di atas tanah 3ha ini bisa ditemukan di balik bangunan hunian yang berjajar sepanjang jalan masuk tersebut. Layaknya istana khayangan di dongeng dan legenda, seisi kompleks kuil disusun oleh desain yang megah dengan balutan warna putih.

Gerbang yang tinggi menjulang, menyambut para pengunjung yang terlihat berbinar-binar melihat keindahan kompleks kuil modern ini. Di dalamnya, terdapat satu kuil utama yang terbesar, serta bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Bangunan agung ini dibalut oleh warna putih, dan aksen cermin-cermin kecil yang ditempelkan secara mendetail.

Dalam kompleks kuil ini, terdapat pula kolam jernih berisi ikan mas berwarna putih; serta taman rimbun, yang dihiasi elemen-elemen estetis berbau religi dan filosofis, seperti patung kepala di pepohonan.

P1070855   P1070847

Hasil Karya Seniman
Adalah Chalermchai Kositpipat, yang menjadi sosok penting di balik berdirinya The White Temple. Pria kelahiran 15 Februari 1955 ini merupakan seorang seniman ternama asal Chiang Rai, Thailand, yang selalu memasukkan unsur-unsur ajaran Buddha dalam setiap karyanya. Salah satu cita-cita terpendam Kositpipat—yaitu membuat karya arsitektur yang akan terus dikenang sepanjang masa—menjadi dasar awal ketika ia membangun proyek idealis ini.

Ingatkah Anda dengan nama Antoni Gaudi, arsitek legendaris asal Spanyol, perancang Gereja Expiatori de la Sagrada Familia yang akan selesai dibangun pada tahun 2026? Kositpipat juga melakukan hal yang sama. Pria lulusan Silpakom University ini menargetkan waktu yang relatif lama untuk menyelesaikan pembangunan White Temple. Proyek yang telah dimulai sejak tahun 1997 itu, ditargetkan akan rampung dibangun sekitar 60 tahun lagi.

Mendobrak Aturan 
Thailand, merupakan salah satu negara berkembang yang masih menggenggam nilai-nilai religi dan budaya secara kental. Wajar saja, bila wat atau kuil ini mudah ditemukan di seluruh pelosok Thailand. Bangunan kuil-kuil Thailand biasanya didominasi oleh warna emas, yang melambangkan kemakmuran dan kemurnian. Warna ini diterapkan di kuil-kuil besar yang menjadi objek wisata Thailand, seperti di kompleks Grand Palace, Doi Suthep Wat, dan Wat Arun.

Namun, dengan filosofi mendalam, Kositpipat mendobrak pakem dan kebiasaan tersebut. Bahkan, seniman yang banyak memadukan gaya kontemporer ke dalam karyanya ini, mengaplikasikan warna putih sebagai penghias dominan di kompleks White Temple. Padahal dalam kultur Asia, warna putih identik dengan nilai kematian dan duka cita. Namun, Kositpipat berpendapat lain. Menurutnya, warna putih melambangkan kedamaian dan kemurnian Buddha.

Selain arsitektur serba putih, Kositpipat kembali menghadirkan sisi artistik dalam dirinya, dalam melukis mural di dinding dan langit-langit interior kuil tersebut. Berbeda dengan kuil pada umumnya, yang dihiasi oleh mural konservatif, Kositpipat memasukkan tokoh-tokoh modern ke dalam muralnya tersebut, seperti Harry Potter, Freddy Kruger dan Michael Jackson. Dengan kemampuannya di bidang seni, Kositpipat menerjemahkan ajaran Buddha dalam cara yang lebih kontemporer.

Penuh Filosofi di Tiap Sisi
Meskipun bangunan kuil ini berbicara tentang ajaran religi dalam cara kontemporer, namun seperti kuil-kuil lainnya, rancangannya tak asal dibuat begitu saja. Setiap penerapan bentuknya masih mengacu pada filosofi yang matang dan kental, mulai dari aksen di ruang terbuka, hingga elemen-elemen yang melekat erat pada bangunan.

Untuk memasuki area kuil utama, para pengunjung harus melewati jembatan yang melambangkan siklus kehidupan, dengan artwork yang menggambarkan lubang neraka di kiri dan kanan jalan. Tampak ratusan patung tangan, yang seakan ingin menggapai dan meminta pertolongan dari bawah lubang tersebut. Tak jarang, di antara patung tangan tersebut, terdapat patung-patung kepala berwajah mengerikan, tengkorak yang tengah mengerang, ataupun tangan yang menyodorkan guci.

Di area terdepan jembatan, yang biasa disebut dengan “Gerbang Surga”, terdapat 2 sosok patung pria berwajah garang, yang membawa senjata pedang dan gada. Patung tersebut melambangkan sosok “Kematian” yang menjaga “Gerbang Surga”. Tak lupa, di sepanjang jembatan dan railing yang mengelilingi sisi kuil, terdapat patung dan relief Naga, hewan legenda yang telah ternama secara turun temurun.

Selain area berdoa di dalam kuil, terdapat pula artwork menyerupai pohon yang memuat permohonan untuk keberuntungan dan kesejahteraan, serta area yang memfasilitasi ritual melempar koin harapan.

Secara keseluruhan, White Temple menjadi bukti, bahwa ajaran religi dan kesenian, merupakan 2 hal yang bisa saling menyatu dan berkesinambungan. Bahkan, seni kontemporer pun dapat merangkum ajaran religi dengan cara yang lebih ringan, santai, dan mendobrak pakem atau kebiasaan.

Adiksiku, Menunggumu

Jakarta, 14 November 2013,

IMG_20130807_125342

Aku senang menunggu kamu di sana–di kaki-kaki pohon buatan, yang tersusun atas beton bertulang. Duduk di tepi selokan yang mengering, meluruskan kaki, mengenai rerumputan dan ilalang di taman, atau memasrahkannya pada jalan setapak setempat. Merebahkan tas kulit kecokelatan, membiarkannya bersandar di kolom abu pabrikasi yang menjulang tinggi. Sedikit menyeruput botol plastik bekal yang baru kubeli di swalayan terdekat. Melihat ke arah jam tangan dengan warna magenta pudar. Lalu melihat ke atas. Ke jajaran jendela. Ke arah balkon nomor lima dari kiri. Ya. Itu kamarmu. Tempatmu biasa memperlihatkan bagian kepalamu. Sedikit bagian kepalamu.

Lantas, aku menyuruh otak kecilku, untuk memutar kembali videomu. Membayangkan kamu datang dengan wajahmu yang mengantuk. Kilapan minyak yang menyembul dari pori-pori kulit wajahmu. Pertemuan bibirmu yang menyerupai bentuk bulan sabit terbalik. Rambut-rambut kecil yang sedikit menghiasi dagumu. Sandal hijau yang biasa menemani pijakanmu. Lalu kamu berkata, “Mau apa kamu ke sini?”. Tentunya dengan nada ketus. Khas kamu. Cuma kamu yang akan menyambutku seperti itu.

Menjawabmu, aku hanya cukup tersenyum. Menyeringai. Memperlihatkan setengah bagian gigiku yang diberi pagar kawat berwarna hijau. “Mau ketemu kamu aja,” ujarku pelan, sambil memberikan bungkus plastik putih berisi titipanmu seperti biasa: air mineral, sari buah mangga berkemasan, dan sebatang cokelat–semacam bonus sisipan diam-diam.

Kamu tersenyum dalam bisu. Tak berkata barang satu aksara pun padaku. Kamu adalah seorang yang berbahasa dalam diam. Dalam sunyi. Dalam sepi. Mungkin, dalam jeda suaramu, kamu menyimpan jajaran kalimat di bayangan imajimu. Mungkin juga, kamu tak berpikir apapun. Mungkin, kamu hanya malas mengeluarkan suara. Atau mungkin, lidahmu kelu. Tenggorokanmu seakan tercekat ngengat. Kamu tak jadi mengisi ruang kosong itu dengan suara. Dengan berbicara.

Tak apa. Waktu favoritku, tentangmu, adalah saat kamu menatapku dalam diam. Menyuarakan hatimu dengan ribuan asumsi yang kamu tanamkan dalam otakku. Lalu, kamu memelukku pelan. Menuntaskan semua asumsi itu. Merangkumnya dalam satu kesimpulan pasti. Menenangkan jutaan tentara pro-kontra yang berkecamuk dalam pikiranku. Membiarkannya melebur. Meleleh perlahan.

Dan, semua ini masih tentang videomu. Ingatanku tentangmu. 

Aku, masih di sini. Menunggumu turun dari balkon nomor lima, di bawah kaki-kaki pohon beton, seperti biasa. Menantimu untuk memberikan sebuah bibit gelitik di perutku, ketika bisa melihatmu kembali. Lalu menikmati kamu yang membisu. Meresapi kita, yang berbincang tanpa suara.

#np Banda Neira – Hujan di Mimpi

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah 

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari 

Semesta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan 

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

-kandela-

Dengan kaitkata

“Si Bandel” Favorit Mama

Jakarta, 12 November 2013,

Bisa dibilang, buku adalah kambing hitam terbaik, ketika saya terpaksa harus menggunakan kacamata sejak kelas 4 SD. Padahal, kala itu, kacamata merupakan sebuah penanda kepintaran dan kecupuan seseorang. Berbeda jauh dengan sekarang, di mana kacamata telah menjadi bagian dari gaya hidup. Fashion. Mode.

Meskipun begitu, saya akui, buku adalah barang terfavorit nomor satu yang pernah ada di dalam kehidupan saya. Diari, dongeng, komik hingga novel, merupakan teman-teman kecil saya, mengingat Mama melarang saya terlalu banyak bermain di luar rumah (sepertinya sih, saat itu, lingkungan genggong krucil di rumah saya kurang bagus). Gadget pun belum ada. Untuk bermain komputer saja, saya harus main ke kantor Ayah saya, untuk mengutak-atik PC yang kala itu masih menggunakan disket.

Jika diurut secara runut, maka buku berjudul “Si Bandel”, karya Edith Unnerstad ini merupakan novel pertama yang saya baca secara menyeluruh. Melumatnya habis. Membayangkan setiap kejadiannya, lalu menyimpannya dalam salah satu kotak kecil memori. Lucunya, sampai sekarang, saya masih ingat detail ceritanya. Well, seperti apakah buku cerita ini?

sibandel_2430

Judul: Si Bandel
Penulis: Edith Unnerstad
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 198

Buku bersampul kuning ini berada di tengah-tengah tumpukan buku dalam lemari kayu Mama. Buku itu terapit oleh judul-judul buku yang sering Mama ceritakan pada saya, seperti “Malory Towers” karya Enid Blyton dan “Trio Detektif” karya Robert Arthur Jr. I do judge the book by its cover, that day, by the way! Ya, saya mengambilnya, karena warnanya kuning. Mencolok dan mentereng. Wajar saja. Kala itu, saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ketika elemen visual masih merajai pilihan saya.

“Si Bandel” adalah judulnya. Ringkas. Padat. Jelas. Sampul bukunya saja sudah dihiasi oleh ilustrasi seorang anak laki-laki berwajah usil, dan bapaknya, berdiri di depan pintu rumah. “Sepertinya, inilah wujud Si Bandel,” batin saya berucap kala itu. 

Prediksi saya tepat! Si Bandel adalah seorang anak berusia 5 tahun, yang hidup dalam Keluarga Larsson, keluarga sederhana yang bahagia. Nama asli Si Bandel sendiri adalah Patrick Larsson, yang memiliki 4 orang kakak dan seorang adik yang nggak kalah jenaka. Sebenarnya, buku ini sangat sederhana, menceritakan tingkah laku Si Bandel yang ajaib, didasari oleh sifatnya yang keras, tetapi diselingi kepolosan, layaknya anak kecil pada umumnya.

Beberapa bab cerita merangkum kehidupan Si Bandel beserta keluarganya, terutama kehangatan khas yang dimiliki oleh keluarga menengah di belahan Swedia sana. Salah satu cerita yang masih bercokol erat di ingatan saya, adalah ketika Si Bandel kehilangan bebek-bebekan–temannya mandi sehari-hari–bahkan mencarinya hingga ke tempat yang sangat-amat-jauh, seorang diri. Alkisah, Si Bandel merasa khawatir akan keberadaan sang bebek yang entah ada di mana. Otaknya berputar kencang. Ia pun menyadari, sang bebek tertinggal di sebuah kapal bernama Rudolfina, di sebuah daerah yang cukup jauh ditempuh, terutama bagi anak usia 5 tahun.

Tapi, dasar Si Bandel, ia tetap bersikeras pergi, tanpa meminta izin pada kedua orang tuanya. Berbekal wajah polos dan sekantong roti kismis hangat yang baru jadi, Si Bandel pergi menjemput sang bebek tercinta seorang diri. Petualangannya pun ada-ada saja.

Di bis, ia bertemu seorang pria paruh baya, dan entah kenapa, membuat sang pria paruh baya tersebut merasa ‘sayang’ dengan sendirinya, pada Si Bandel, terutama setelah ia memberikan seonggok roti kismis menggiurkan di kantong kertasnya tersebut. Buktinya, sang pria ternyata diam-diam memberikan potongan cokelat besar ke dalam kantong kertas milik Si Bandel, sebelum turun duluan dari bis tersebut.

Kenekatan Si Bandel ternyata tak berhenti dalam taraf menaiki bis seorang diri saja. Untuk mencapai kapal Rudolfina, Si Bandel harus menyeberangi Blueviken–entah itu nama danau atau laut. Kala itu, Blueviken merupakan hamparan danau beku yang bisa dilewati tanpa alat bantu, tentunya dengan bobot yang mencukupi pula. Dengan polosnya, Si Bandel yang baru saja melihat tapak kaki burung di atasnya, menganggap danau beku tersebut aman-aman saja untuk dilewati. Demi sang bebek kesayangan, Si Bandel pun tak mengurungkan niatnya untuk berjalan menuju Rudolfina.

Pesan moral dari buku “Si Bandel” sangat sederhana, kok. Nggak rumit dan jelimet. Edith Unnerstad hanya ingin menggambarkan, bahwa di Swedia–atau di negara apapun–kebahagiaan keluarga bukan sekadar materi saja. Kehangatan dan keakraban berarti segalanya, dalam buku yang memiliki judul asli “Pysen” ini. Konon katanya, seri keluarga Peep Larrson ini merupakan gambaran kehidupan keluarga Edith Unnerstad di masa lampau.

Overall, kenapa bagi saya, buku ini berharga? Pertama, karena buku ini adalah novel pertama yang saya baca seluruhnya, sampai saya lumat habis berkali-kali, dan tak ada bosan-bosannya hingga detik ini. Kedua, buku ini adalah salah satu buku yang membuat saya memiliki cita-cita menjadi penulis sejak masih ada di bangku SD.

Dan, terakhir, buku “Si Bandel” adalah buku favorit Almarhum Mama, yang selalu ia ceritakan terus menerus, sebelum saya tidur. Sebelum beliau tidur. Sebelum kami terbaring lelap dalam mimpi kami berdua.

Ya, buku ini adalah kenang-kenangan. Pengingat. Memento. Penyimpan sejarah. Perekam kisah. 

🙂

-kandela-

Dengan kaitkata , ,

Aku ingin menghabiskan sisa-sisa dua lima-ku, dengan memelihara dan menikmati gelitik yang kamu tanam setiap hari.

-Self Quotes-

Tangis paling menyesak itu, adalah ketika kamu menangis, tanpa tahu kenapa. Tanpa tahu alasannya. Lantas, kamu hanya merasa seperti kalimat, yang terpisah jeda hingga 10 spasi. Kosong. Hampa.

– Self Quotes

Tangis paling m…

Dengan kaitkata

Saya suka perasaan saya, saat sedang senang dan berbunga-bunga, karena Anda.

– Self Quotes