Monthly Archives: Oktober 2013

Bukan fesyen, penampilan, atau visual yang membuat seseorang jadi ‘berbeda’. Bukan hal-hal yang berkaitan dengan panca indra. Bukan! Menjadi ‘beda’ berarti bisa mensyukuri keluhan. Menikmati kegundahan. Melihat hal yang terlupakan. Mencintai sesuatu yang terabaikan. Lantas, bisakah kita menjadi unik dan berbeda, kalau bertemu macet saja, kita sudah mengeluarkan ribuan umpatan kata?

– Self Quote!

Bukan fesyen, p…

Iklan

Dear Fresh Start!

Jakarta, 25th of October 2013,

Today’s gloomy sky is gonna be the witness of my very-first English post in my whole life. Well, believe it or not, I’ve never post anything in English before, especially since I convinced myself that being a good writer is my deepest dream. My deepest aim. My truly passion. I know, that Indonesian language has touched me, and make me so in love with it. The literature, the diction, the phrase, the philology, the culture. Yes, I do really love Indonesia soooo~ much!

But, after all, I think, to become a good writer and a global one, I should learn something fresh. Something new. Something novel. Actually, for me, writing in English is gonna be my next challenge. One thing that I should remember, English writing, is sooo~ much different with translating stuff. Interpreter and google-translate have a role on it. So, becoming a writer, I should make a real English writing. Maybe, someday, I could make a great poem, prose, or even fairy tale with this language. And I wish, I could learn how to write in another language, beside Indonesian and English, of course.

Maybe, it’s one of many ways to reduce my boredom-sleepy-mind. Maybe, it’s also one of many ways, to reduce my pessimistic-stupid-heart too. To get myself more global than before. But, still, for me, my “Motherland” language is the best thing that happened in my writing history.

By the way, this challenge appears because of books that I read lately, such as Neil Gaiman’s, Haruki Murakami’s (eventhough the real books were written in Japanese language), Edith Unnerstad’s and of course Charles Dicken’s. As the time goes by, I realize, that English literature is also rich, and awesome, just like Indonesian.

The-Graveyard-Book-by-Neil-Gaiman tale_of_two_cities norwegian-wood (1)

I’ll give an example. Haruki Murakami is the best-selling writer from Japan. His latest works, such as “Norwegian Wood” and “Kafka on The Shore”, have their own appeals. In those books, Murakami framed words with a super-detailed setting, location, place, history; that indirectly touch people’s senses. Yes! He’s absolutely touching people’s heart with his words. In those books, he didn’t use complicated words.

He played with simple words. Simple situation. Simple location. Simple character. But, then, he found his artsy ways of arranging words. He had some fun with his imagination of setting’s exploration. He really added his “heart” into his masterpieces. First time I read his book, I got hypnotized for a second. I got paralyzed. I fell for his words. His journeys. His stories. I’ve fallen so deep into him!

Isn’t it awesome? You fall for someone, you don’t even know, you don’t even recognize, and you’ve never seen him, for your whole life. You fall for him, because you’ve seen his masterpieces. You feel his writings. His arts. His heart.

Ahhh! It’s my dream though, that someone will fall for me, because of my writings, my masterpieces, my passion, my heart. Well, will someone, somewhere, do that for me, someday? I wish it could be happened.

I’m not that hyperbola, am I?

ūüôā

-kandela-

Dengan kaitkata , ,

Vakansi Membakar Kalori!

Jakarta, 21 Oktober 2013,

Terhitung sudah 3 minggu, saya kembali menghadapi ritme harian yang biasa: bangun pukul 8 pagi, memilih kostum bekerja, merapikannya, mandi, kemudian berangkat bekerja. Barulah pada pukul 10 malam ke atas, saya melepaskan ritme tersebut, dan berlari ke dunia mimpi. Itu pun, kalau saya nggak dikejar oleh tumpukan tulisan yang tertunda.

Well, well, sebenarnya, saya cukup bersyukur berada dalam sebuah kantor dengan tingkat kenyamanan tinggi. Lantai 5 yang bikin betah. Bikin kangen. Bikin rindu.

Tapi, ada pepatah berkata, kalau rindu nggak akan terasa, kalau nggak pernah ada jeda. Sesuatu tanpa ruang, tanpa udara, tanpa spasi, akan memberi rasa sesak. Pepat. Padat.

Akhirnya, saya dan 4 teman kantor–Mbak Rahma, Mbak Esti, Nita dan Lela–memutuskan untuk meninggalkan jutaan kepingan debu dalam otak, lalu mencucinya dengan pemandangan baru. Pengalaman baru. Kisah baru.¬†Yes,¬†kami berubah menjadi lima sekawan, yang merencanakan sebuah perjalanan ke negeri orang. Thailand, yang biasa disebut dengan negeri Gajah Putih, menjadi tempat tujuan kami menyegarkan diri.

Image

Yeoup, tanggal 29 September silam, merupakan tanggal keberangkatan kami, sekaligus angka yang tepat bagi saya, untuk memulai sebuah aktivitas yang disebut: diet.

Wow! Ada apakah sampai saya harus diet segala? Apakah saya benar-benar berniat berubah menjadi seekor angsa putih nan semampai?

Niat awalnya sederhana sih: ISENG. Tapi, sebenarnya, semakin hari, niat sederhana itu semakin bercabang. Semakin menjalar. Semakin berkembang. Macam-macam, lah. Yang utamanya, sih, saya ingin sedikit menghilangkan rasa ketidakpercayaan diri dari hati saya, yang entah kenapa sepertinya mendekam dan tumbuh di dalam sana. Seperti virus yang menjadi-jadi dan membabi buta. Yes. Pesimis itu virus. Penyakit. Dan saya harus menghilangkannya secara perlahan.

Berbicara tentang diet, pada awalnya, saya sangat menentang kegiatan tersebut. Nggak menyalahkan, sih, tapi penyakit yang mendekam dalam tubuh Almarhumah Mama saya kala itu, disebabkan oleh diet berlebihan. Diet yang terlalu dipaksakan. “Aduh, jam segini harus minum jus sayur. Jam segini nggak boleh makan,” dan beragam kalimat keluhan mengalir dari bibir Mama, kala itu.¬†Otomatis, diet pun merupakan hal traumatis bagi saya. Yang penting sehat, deh. Itu saja, sudah cukup, sebenarnya.

Namun, diet saya bermula ketika saya bertemu produk bertajuk Nestle Fitnesse di pasaran. Awalnya sih, saya iseng mencoba-coba makanan berbentuk semacam sereal tersebut, ketika saya menginap di rumah salah seorang teman kantor. Eh, ternyata enak! Dan entah kenapa, membuat perut saya kenyang. Setidaknya, mengalirkan energi cukup deras, untuk melancarkan aktivitas saya pagi itu.

By the way, setelah iseng-iseng mengecek langsung ke situs http://fitnesse.sahabatnestle.co.id/ ternyata, saya baru tahu, terdapat program bertajuk Nestle Fitnesse 14 Days Program, yang mengajak para konsumen untuk belajar hidup sehat. Nggak cuma sekadar mengecilkan dan menguruskan badan, hingga berubah menjadi semampai saja. 14 hari, membiasakan diri untuk menyantap makanan-makanan tepat gizi, diimbangi oleh gerakan olah tubuh yang pas. Nggak berlebihan.

That’s why, saya memutuskan untuk membawa bungkusan Nestle Fitnesse ini untuk ikut terbang bersama saya, ke negeri tetangga. “Mari berpetualang di negeri orang, Nestle Fitnesse!” ujar saya pada bungkusan berwarna dominan putih itu.

1381030475167 (2)

Pola Makan Tepat dan Hemat!
Jujur saja, kepingan-kepingan gandum rendah lemak tersebut telah menjadi “penyelamat” saya, ketika kelaparan di masa rantauan. Mengapa? Pertama, banyak di antara masakan Thailand, meragukan untuk disantap. Saya sih nggak pernah meragukan rasanya. Yang saya takutkan, adalah banyaknya kandungan babi di dalam makanan-makanan tersebut. Bingung juga, kan?

Nah, yang kedua, pastinya saya ingin menikmati perjalanan dan membeli pernak-pernik ketika saya berada di kota-kota asing. Untuk itu, saya harus HEMAT! Terutama, hemat ketika menyangkut perihal makanan dan camilan.

Pola makan yang diajarkan dalam program Nestle Fitnesse 14 Days Program ini berhasil membuat saya berhemat, sekaligus mempersempit porsi makan saya. Konon katanya, lambung mengikuti kebiasaan sang pemiliknya. Maka dari itu, jika dibiasakan makan secukupnya, dengan menu-menu sehat nan bergizi, pasti lambung pun akan menagih hal yang sama di lain hari.

Bagaimana tidak? Selama 5 hari masa rantau, saya selalu menyantap semangkuk Nestle Fitnesse 30g–yang tersusun atas gandum utuh rendah lemak penuh kalsium dan serat–yang dituangkan ke dalam susu skim 125ml, sebagai menu sarapan dan makan malam saya. Untuk menu makan siang, saya harus menyantap gizi seimbang, mulai dari nasi, daging atau ikan atau telur, sayuran, buah dan hasil olahan susu. Bahkan, seringkali, saya menggunakan cangkir plastik, berhubung mangkok adalah salah satu barang yang sulit ditemukan dan dipinjam, terutama, bila melakukan perjalanan nomaden seperti saya ini.

Apakah dampak yang langsung saya dapatkan, ketika mengonsumsi Nestle Fitnesse, yang berpadu dengan menu-menu sehat setiap harinya? Pencernaan saya–yang biasanya bersifat moody–mendadak super lancar. Beban perut pun seakan bebas dan plong dari angin, ataupun kotoran-kotoran hasil metabolisme yang sulit mencari jalan keluar. Lega!

Sayangnya, kala itu, saya tak bisa memilih untuk memakan buah sebagai rekan santap pagi bersama Nestle Fitnesse 30g. Setidaknya, ketika saya bertemu yoghurt saja, saya sudah bahagia setengah mati.

Satu yang terpenting dari makanan sereal ini, adalah rasanya yang super-enak. Nggak mirip dengan produk diet pada umumnya, yang hambar, tidak lezat di lidah, dan banyak tuntutan ini-itu. Rasa gandum kering yang crunchy berpadu dengan susu skim yang dingin dan segar. Bahkan, lebih serunya lagi, di produk Nestle Fitnesse dengan rasa buah, atau Fruit, terdapat buah-buah kering, seperti kismis, yang menambah cita rasa sereal tersebut. All in one. Lengkap!

1380503017281

Banyak Marathon, Banyak Bawa Beban, Banyak Gerak!
Menjadi backpacker pasti terasa berbeda sekali dengan para pelancong berkoper. Kali ini, saya berperan sebagai salah seorang petualang, di antara lima sekawan yang bervisi sama ini. Ya. Pastinya, lebih cape, lebih banyak gerak, lebih banyak  bawa beban, lebih banyak jalan. Kenapa sih harus susah-susah? Jawabannya sederhana: biar hemat!

Hahaha. Omong-omong, olahraga merupakan salah satu hal yang dianjurkan dalam program Nestle Fitnesse 14 Days Program¬†ini, lho! Olahraga seperti peregangan perut dan paha, merupakan salah satu gerakan yang bisa menunjang berlangsungnya program ini. Tapi, berhubung saya berada dalam masa-masa perjalanan, yang akan sulit sekali meluangkan waktu barang 30 menit saja, untuk menggerakkan tubuh, ternyata, wujud olahraga berkonsep tersebut berubah menjadi gerak tubuh secara maksimal, yang 75% jalan–bahkan terkadang setengah berlari–naik tangga, dan membawa ransel kemanapun saya berada.

Seenggaknya, walau olahraga berteori terlewatkan, tapi saya nggak rehat sama sekali untuk menggerakkan badan, dari satu tempat ke tempat lainnya, tanpa merasa terbeban. Vakansi, memang menyenangkan!

Vakansi + Nestle Fitnesse = Diet yang Menyenangkan
Pengalaman, selalu berbuah pelajaran. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini, baik secara mental, ataupun secara fisik. Pejalan berbiaya murah meriah seperti saya, harus mau merasakan susahnya berjalan, serunya naik kendaraan umum, deg-degannya mengurus paspor hilang di Kedutaan Besar, bahkan rasa takut ketika terancam ketinggalan pesawat.

Dan, satu hal yang saya pelajari, selama 5 hari masa rantauan saya di negeri orang, sebuah kesulitan bernilai sangat relatif. Mengapa relatif? Yaps. Mungkin, saya akan mengeluh terhadap teriknya matahari. Mungkin, saya akan mengomel soal jauhnya perjalanan menggunakan kaki. Mungkin, saya juga akan mendumel, ketika kami terpaksa mengurangi jatah perjalanan kami, demi kepentingan bersama.

Tapi, nyatanya, saya nggak mengeluh. Saya nggak mengomel. Saya nggak mendumel. Menurut saya, bertemu sebuah kebudayaan asing, teman-teman baru dari beragam latar belakang, dan melihat tempat-tempat baru, merupakan hal-hal langka yang bisa saya temukan dalam keseharian saya di ibukota Indonesia, Jakarta.

Relatif sekali ya?

Dan, sekali lagi, Nestle Fitnesse menjadi penyelamat saya, menghapuskan rona-rona lelah dan kelaparan tersebut, lalu menyulapnya menjadi energi positif, yang membuat saya bahagia menjalani vakansi, sekaligus melakukan diet–yang semula saya hindari.

Kok bisa ya?

Satu hal yang paling menyenangkan, adalah ketika melihat angka timbangan di rumah, berat saya turun sebanyak 5 kilogram! 

Ha-ha! Percaya nggak percaya, saya mendapatkan banyak pelajaran dari sebuah vakansi, dan sereal gandum bertajuk Nestle Fitnesse ini. Aneh juga!

By the way,¬†bagi yang ingin mencoba program Nestle Fitnesse 14 Days Program ini, disiplin merupakan salah satu kata kuncinya. Selain disiplin, menurut saya,¬†let’s take it easy¬†lah. Jangan jadiin beban. Ubah beban perasaan “ingin kurus” tersebut, menjadi energi positif yang biasa disebut dengan euforia bahagia.

Seperti yang saya lakukan sekarang ini. Menjadi “angsa” mungkin menjadi keinginan terpendam saya. Tetapi, menjadi sehat dan bahagia, adalah sebuah kebutuhan yang lebih utama, kan?¬†Agree?

Ya! Terlihat jelas dari wajah saya, kan? Saya, bahagia. Bahagia sekali.

1385778_10201545611154844_1163737506_n

539655_10201545578314023_13853320_n

ūüôā

-kandela-

Dengan kaitkata , , , , ,

Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi, semesta pepat dalam 14inci?

~ Melancholic Bitch – Mars Penyembah Berhala

Siapa yang memb…

Dengan kaitkata ,

Namaku Joni, Namaku Susi!

Jakarta, 16 Oktober 2013,

Ketika Joni dua satu, dan Susi sembilan belas,
hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas.
Kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas,
dingin dan cemas.

Namaku Joni, namaku Susi.
Namamu Joni, namamu Susi.
Hey hey, Joni! Hey hey, Susi!
Hey hey, Joni! Hey hey, Susi!

Denting keyboard membuka kisah “Balada Joni dan Susi” yang baru saja saya beli beberapa hari lalu. Suara berat mengiringi dentingan tersebut, menyusun rangkaian cerita yang terangkum dalam 12 judul lantunan irama.

Dia bukan vokalis. Dia bukan penyanyi. Bukan pula anggota paduan suara. Dia, lebih dari semua itu. Dia–Ugoran Prasad–adalah bagian dari sang pencerita. Sang pendongeng. Melancholic Bitch,¬†adalah nama besar dari kelompok para pencerita tersebut. Nama lainnya: Yosef Herman Susilo, Teguh Hari Prasetya, Yennu Ariendra, dan Septian Dwirima; merupakan rekan Ugo, dalam menjalin sebuah cerita. Sebuah kisah. Sebuah balada. Sebuah legenda. Oh, tidak. Maksud saya, Melancholic Bitch sendiri, adalah legenda. Ya. Legenda.¬†

Sebenarnya, saya terbilang sangat terlambat mengenal nama para pendongeng, yang terbalut profesi musisi ini. Sangat telat. Mereka telah lahir di pinggiran Yogyakarta sejak akhir 90an, masa-masa di mana mata saya masih tertuju pada boyband luar, standar remaja kala itu. Saya, baru mengenalnya tahun 2012 lalu. Luar biasa, saya kemana saja ya selama ini?

Apakah yang membuat band ini terlihat ‘berbeda’ bagi saya, yang semula hanya mendengar musiknya barang sepenggal-dua penggal saja?

Sebagai gambaran, saya akan menceritakan pengalaman indra saya, tentang album yang telah rilis sejak 2009 lalu.¬†Again and again, saya tertinggal jauh dalam mengikuti perkembangan musisi ini. Judul album ini, adalah “Balada Joni dan Susi”. Bahkan, bagi saya, kepingan CD itu bukanlah album lagu. Bukan! Kepingan bersampul tersebut merupakan buku cerita, yang dilafalkan dengan suara dan nada.¬†Indah! Banget!

Dua belas lagu di dalamnya, memuat perjalanan dan kisah cinta Joni, yang berusia 21 tahun, dan Susi, yang baru menapaki umur 19 tahun. Siklus kisah percintaan dua belia yang mengalami beragam konflik realitas dalam perjalanannya. Jatuh cinta, melarikan diri bersama, lalu berakhir dalam pahit, menghadapi kenyataan yang biasa dibilang kejam. Menyesak. Roman ini sama sekali tak terbelenggu oleh rona picisan. Sungguh anti-picisan!

Kali pertama saya mendengar album ini sepenuhnya, rasanya emosi saya terombang-ambing. Sebentar naik. Sebentar berbunga-bunga. Sebentar lagi jatuh, sejatuh-jatuhnya. Kemudian, akhirnya, terkapar tak berdaya.

Tak hanya nuansa, nada, tambahan musik elektronik, dan distorsi saja yang mampu mempermainkan emosi saya seperti ini. Layaknya sebuah buku cerita, Melbi–demikian julukan Melancholic Bitch–mampu menghimpun diksi untuk saling bekerja sama, menyusun rangkaian lirik terkemas dalam sastra¬†yang cantik, tanpa dipenuhi istilah rumit.

Namun, berbeda dengan lagu-lagu cinta umumnya, yang menjual mimpi, gombal, dan ekspektasi belaka, “Balada Joni dan Susi” mengusung kisah kasih kaum menengah, yang menghadapi kehidupan nyata. Fakta. Seperti halnya dalam lagu “Dinding Propaganda”, suara Ugo menyanyikan lirik yang realis:

Minggu pertama pelarian kita; tataplah mataku dan temukan telaga.
Susi demam dan terbaring gemetar. Joni gusar dan tangannya terkepal.
Miskin takkan membuatnya putus asa. Lapar memaksanya merasa berdaya.

Joni tak gila ketika didengarnya dinding berbisik, pelan berbisik:
curilah roti, curilah roti
Takkan kubiarkan engkau mati.

Kehidupan jalanan ini seakan akrab di telinga, bukan?

Selain lagu-lagu yang memuat kepedihan kisah pelarian cinta, salah satu lagu favorit saya, adalah “Mars Penyembah Berhala”, yang memuat quotes¬†menohok, semacam: “Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita punya televisi, semesta pepat dalam 14inci?”. Luar biasa sekali kalimat ini!

Satu hal istimewa dari album ini, adalah sifatnya yang benar-benar menyerupai buku cerita. Jika kamu melewatkan satu halaman saja, kamu akan ketinggalan banyak cerita. Terlewatkan kisah yang sedang mengalir. Alhasil, kisah ini pun terasa ganjil. Menggantung. Tak selesai. Maka, ketika mendengar satu album “Balada Joni dan Susi” untuk kali pertama, lebih baik, dengarkan setiap lagu dengan seksama. Resapi setiap lirik dengan khusyuk. Pahami ceritanya. Alurnya. Pesannya. Analoginya.

Ah! Rasanya, kisah ini terasa lebih lengkap lagi, kalau saya kelak bisa melihat penampilan para story-teller ini secara langsung. Well, sayangnya, jumlah konser mereka di ibukota pun bisa dihitung dengan jari. Saya sudah melewatkannya, beberapa bulan lalu, ketika Melbi mengadakan konser di Bandung dan Jakarta. Too bad, huh? 

Tapi, tetap saja, saya akan menanti waktu, hingga Melbi kembali “mendongengkan” balada-baladanya di lain hari kelak. Dan, rasanya, tangan saya ketagihan untuk membeli album lainnya, yaitu Re-Anamnesis.

Dan, sekali lagi, kisah Joni dan Susi dalam 12 judul itu ditutup oleh kalimat, “Namaku Joni, namaku Susi. Namamu Joni, namamu Susi”.

Melankolis. Manis. Meringis.

-heykandela-

Dengan kaitkata , ,

Monolog #1

Jakarta, 11 Oktober 2013,

A month before my born day. My heart kept telling me, its two side of thought. The cry-baby one. And the positive-thinking one. But, now, I think, with my over-sensitively mind, the cry-baby; a.k.a the melancholic one, is winning the fight. Maybe, will always win those fight.

“Kalo lo ngeliat terus ke atas, lo akan selalu merasa di bawah. Merasa terbawah.”

“Kenapa? Toh, gue bukan orang yang bisa ada di atas. Untuk beranjak ke atas pun, gue nggak sanggup. Entah nggak sanggup, atau nggak mau.”

“Lo nggak akan tahu, sudah berapa anak tangga yang lo naiki untuk menuju ke tempat lo sekarang ini, kalau lo selalu melihat ke atas. Melihat seberapa banyak orang yang sudah mendahului lo. Sudah menang dari lo, secara level, secara tingkat.”

“Dari segala hal pun, mereka itu ada di atas gue. Mahal. Berkelas. Rupawan. Gue, tetap jelata. Tetap jelata di strata terbawah.”

“Memang lo selalu mau menjadi yang nomor satu?”

“Iya. Gue tahu, gue egois. Gue korban dongeng, yang bercerita, kalau gue akan menjadi putri nomor satu yang bahagia sampai akhir masa. Dan, kenyataan, nggak pernah berjalan seperti dongeng.”

“Kenapa lo harus jadi orang nomor satu? Toh, akhirnya, orang akan memilih lo, karena lo terjangkau. Mudah diraih. Manut.”

“Gue nggak mau jadi pilihan, hanya karena gue terjangkau. Terbawah. Cadangan. Substitusi. Atau, karena nggak ada pilihan selain gue. Menjadi pilihan karena rasa terpaksa itu menyebalkan. Trust me, dude!

“Lalu, mau lo apa?”

“Gue mau jadi yang terpilih, karena itu gue. Karena itu, adalah seorang gue, yang ditempatkan sebagai sang nomor satu, dalam segala hal. Dalam segala hal.”

“Kok pola pikir lo arogan dan super egois?”

“Wajar. I’m Scorpio. And i was born being selfish. Hard. Jealousy. Possessive. It’s me, whether you see it or not.

-kandela-

Dengan kaitkata