Monthly Archives: September 2013

Sakit hati itu sama kaya sakit gigi. Nggak tahu waktu. Nggak pandang bulu. Nggak kenal keadaan. Bisa datang secara acak, sesukanya, kapan saja dia mau. Dan, obatnya cuma waktu, yang membuatnya kebal. Terbiasa.

Self Note!

Sakit hati itu …

Iklan
Dengan kaitkata , ,

Sedikit Penggalan Nelangsa

Jakarta, 20 September 2013,

Dari dulu, saya nggak pernah suka yang namanya ‘ditinggal’. Benci. Semacam trauma. Rasanya cuma satu, tapi bisa diuraikan dengan banyak kata: perih-sakit-pecah-hancur-sesak-peureus atau apapun itu lah.

Dulu, ketika usia saya masih menginjak angka 5, saya menangis hingga meraung-raung karena Mama meninggalkan saya pergi bekerja, tanpa memberitahu saya dulu sebelumnya.

Dulu, saya menahan tangis, ketika Mama dan Ayah naik haji pada waktu yang tidak bersamaan, hanya berselang beberapa tahun, kalau nggak salah. Padahal, kala itu, saya masih menginjak bangku Sekolah Dasar. Gerombolan air mata ini berebutan keluar, ketika bis Mama ataupun bis Ayah sudah berhamburan keluar dari tempat pengantaran jemaah haji.

Dulu, ketika Nini (nama panggilan untuk Nenek saya) meninggal, saya menangis saat itu juga. Jelas, karena saya adalah cucu yang tinggal bersamanya selama nyaris 20 tahun.

Sebuah perasaan sakit ini menjadi klimaks, ketika wanita tercantik di dunia versi saya, yang tidak lain, adalah Mama, memutuskan untuk pergi ke dimensi ‘sana’ terlebih dulu. Memang, yang lebih menyesaknya, saya seperti nggak mendapatkan sinyal apapun dari beliau.

Atau mungkin, saya yang menampik semua tanda itu? Padahal, sebenarnya, dia sudah berpamitan pada saya dengan caranya. Ya, dia nggak mau melihat saya menangis meraung-raung, seperti yang dulu pernah saya lakukan. Dia nggak tega. Nggak pernah tega. Sepertinya, dia terlalu sayang sama saya. 

Apa yang saya lakukan? Saya menangis. Menangis. Dan menangis. Sampai detik ini juga, saya masih sering menangis, kok. Orang bilang, ini namanya rindu. Lucu, tapi menyesak. Menyakitkan.

Lalu, kemarin, 19 September 2013, Pak De, atau yang biasa saya sebut dengan Ua Maroso–kakak dari Ayah saya yang paling besar–menyusul Mama ke dimensi ‘sana’.

Jujur, pada saat saya mengetahuinya, saya hanya terdiam. Membisu. Air mata pun enggan mampir dan masih malu-malu untuk keluar dari rumahnya. Saya tak mengeluarkan ekspresi apapun, kala itu.

Aneh? Memang. Entah kenapa saya seperti itu. Saya yang cengeng, tiba-tiba merasa menjadi manusia paling dingin sedunia. Jangan-jangan, saya tengah dipengaruhi oleh sikap apatis ibukota, yang tumbuh secara nggak sengaja. Jangan-jangan, ada yang diam-diam mengganti hati saya dengan mesin. Batu. Logam. Atau material pabrikan lainnya. Jujur, saya nggak mau. Saya bergidik bila memikirkannya.

Ternyata, hati saya masih ada, walau terlambat. Thanks God, I have memories, yang mengingatkan saya akan buku-buku lama yang telah usang. Tentang kisah yang telah tersimpan dalam-dalam. Tentang cerita yang sudah lama nggak muncul di pandangan imajiner.

Lalu, tayangan salindia tersebut muncul perlahan dalam bayangan saya.

Ketika saya masih kecil, diantar dari Binangun, Kutoarjo, ke Yogyakarta.

Ketika Ua Roso jauh-jauh dari Semarang, melayat Nini, kemudian mengatur area parkir meskipun kakinya pincang.

Ketika Ua Roso datang ke pemakaman Mama, meskipun harus berada di kursi roda, tapi wajahnya tampak menangis, karena beliau sepertinya sangat menyayangi Mama.

Ketika saya sempat menengoknya ke Semarang, dan masih bisa berbincang dengannya beberapa waktu lalu.

Ketika beliau berpesan agar saya menjaga Ayah baik-baik. Menjadi anak yang selalu sayang pada ayahnya. 

Kenangan-kenangan hebat tersebut berhasil menggelitik hati saya. Mulai membuat sesak kembali. Menghangatkan dinginnya ekspresi saya semula.

Akhirnya, meskipun terlambat, perlahan saya menangis. Mengeluarkan emosi saya dalam kemasan air mata.

Ternyata, saya masih manusia, masih Candella yang sama. Yang cengeng, dan nggak suka ditinggalkan. 

Terimakasih banyak Ua, atas semua kebaikannya. Pesannya. Senyumannya. I will never forget you, dear Uncle! Baik-baik di ‘sana’ ya. Salam untuk Mama.

Semoga bahagia.

:’)

#np Aqualung – Arrivals

-kandela-

Dengan kaitkata ,

That I would be good, even if I lost sanity? That I would be good, whether with or without you?

– Alanis Morissette!

That I would be…

Dengan kaitkata , ,

Karena kalimat “saya nggak suka tulisan kamu” itu ternyata seperti sayatan dalam sembilu tajam. Membunuh. Meninggalkan sedikit luka dalam kepala.

– Self Note!

Karena kalimat …

Dengan kaitkata ,

Mungkin, orang punya tendensi menyenangi seseorang yang tak berbalik menyukainya. Makanya, lagu patah hati laku keras di pasaran.

– Self Note!

Mungkin, orang …

Dengan kaitkata ,

Aku Dungu

Jakarta, 12 September 2013,

Jadi ini rasanya jatuh cinta pada angin.

Sudah ratusan hari, aku merengkuhnya dengan kedua tanganku.

Berusaha keras menangkapnya, mengumpulkan gas-gas tersebut, lalu menyisipkannya ke dalam hati.

Nyatanya, dia tak pernah ingin kugenggam. Tak pernah ingin kugapai.

Lalu, dia kabur. Beranjak pergi tanpa permisi.

Yang ada, dia malah mengelilingiku. Mengoleksi debu, lalu membubuhkannya ke dalam mulutku. Hingga aku tersedak. Hingga aku menyesak.  Lantas, dia membuang debu di sela-sela bola mataku, sampai tetesan air pun berebutan keluar dari rumahnya.

Tapi, tetap saja, setelah sejauh itu, dia meletakkan perih di sela hatiku. Angin tak pernah merengkuhku balik. Dia membiarkanku menyapa jeda, mengaguminya, lantas berlalu.

Dengan bodohnya, aku masih di sini.
Berusaha merengkuhnya.
Atau sedikitnya, menyentuhnya.
Menyentuh ingatannya.

Tolol. Terlalu tolol.

#np The Corrs – Don’t Say You Love Me

-kandela-

Dengan kaitkata

“Her” : Drama Tentang Rasa dan Anti Logika

Jakarta, 12 September 2013,

Spike Jonze’s back! Sebenarnya, saya termasuk ke dalam golongan orang yang terlambat mengenal nama Spike Jonze ini. Mungkin, saya mengenal sekilas nama-nama film karya pria asal benua Amerika tersebut, seperti “Being John Malcovich” dan “Where The Wild Things Are”. Sayangnya, entah kenapa, beberapa tahun lalu, saya kurang memerhatikan nama sang maestro di balik berhasilnya 2 film tersebut.

“Her”, adalah sebuah tajuk film yang akan tayang Desember 2013 kelak. Spike Jonze–sang sutradara favorit–lah yang melahirkan film drama tersebut. Bahkan, saya iseng memanggil genre film ini sebagai: dramabsurd. Sama seperti film-film karya seorang sutradara absurd asal Perancis, Michel Gondry. Memang nggak bisa dijadikan perbandingan, karena toh asal-usul mereka pun jauh berbeda, tetapi, saya sangat mengagumi 2 nama yang banyak berkecimpung dalam dunia video dan sinematografi itu.

Berbicara tentang film “Her” ini, saya menonton trailer-nya di situs youtube, karena–sekali lagi–teman saya, Maria Jaclyn alias Jeko, merekomendasikannya kepada saya. “Kamu pasti suka deh!” ujarnya antusias kala itu.

Dan, benar saja. Kali pertama saya melihat cuplikan film ini, rasanya seperti ada palu godam yang menghentak keras organ-organ pernapasan saya. Sehabis 150 detik trailer tersebut diputar, perasaan gloomy tiba-tiba mampir tanpa sebab. Enggan beranjak dari hati saya untuk beberapa saat. Aneh!

So, sedikit cerita tentang film absurd ini, “Her” berkisah tentang seorang pria bernama Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) yang menjalin hubungan dengan sebuah sistem komputer penjawab otomatis, yang keluar dalam wujud suara seorang wanita. Namanya, Samantha (Scarlett Johansson). Jika disejajarkan, mungkin mirip dengan program “Simi-Simi” yang sempat booming beberapa waktu lalu.  Alkisah, Theodore bertemu dengan Samantha, sebagai salah satu terapi untuk menyembuhkan hati.

Selain nama Spike Jonze yang bertengger di balik layar film tersebut, terdapat 2 hal yang langsung menarik perhatian saya, dari detik-detik pertama cuplikan film ini diputar. Pertama, adalah kalimat yang menjadi pembuka trailer tersebut. “Mr Theodore Twombly, welcome to the world’s first artificially intellegent system. We’d like to ask you a few question. Are you social, or anti-social?” ujar sistem tersebut. Entah kenapa, mungkin untuk sebagian orang, hal ini biasa saja. Tapi, buat saya… hmmmm… can’t describe it with these few words! 

Kedua, adalah soundtrack yang mengalun pelan di antara penggalan-penggalan adegan dalam trailer tersebut. Salah satunya, adalah lagu dari seorang musisi wanita favorit saya, Karen O, berjudul “The Moon Song”. “Your shadow follows me all day, making sure I’m okay. And we’re a million miles away”. Hmm… Lagu ini terlalu. Terlalu gloomy, sekaligus manis. Terlalu membunuh!

Berikut adalah cuplikan percakapan super-duper-gloomy, berlatarkan salju di sekujur tubuh, hingga pelupuk mata. Super-duper-membuat perasaan nggak enak. Susah tidur. Bercokol erat di ingatan.

Samantha: “Can you feel me with you right now?”
Theodore: “I’ve never loved anyone the way I love you.”

Mungkin, yang menjadi pesan dari film ini, perasaan bisa hinggap kapan saja, terhadap siapapun itu. Tanpa mengenal wujud. Tanpa mengenal fisik. Tanpa mengukur jarak. Bahkan, tanpa tahu, apakah dia nyata, hanya khayalan belaka, atau bahkan bagian dari kecanggihan teknologi dunia. Rasa, memang nggak kenal yang namanya logika. Well, well, well, it seemed to be another awesome movie from Spike Jonze!

Masih belum terbayang, seberapa gloomy dan absurdnya film ini? Simak trailer menyesak di link berikut >> http://www.youtube.com/watch?v=6QRvTv_tpw0 | jangan lupa juga untuk mendengarkan lagu yang nggak kalah membunuh, dari Karen O, dengan judul The Moon Song >> http://www.youtube.com/watch?v=1uq1oSlb15Y&feature=player_detailpage .

So, selamat menikmati cuplikan dan soundtracknya, dan selamat menanti wujud film seutuhnya beberapa bulan lagi!

Enjoy! 

kandela-

Dengan kaitkata , , , ,

Menabung Rindu

Jakarta, 9 September 2013,

Hari ini, saya membuka buku tabungan saya lagi. Sudah berderet angkanya, bahkan digitnya pun tak terhingga.

Tapi, satuannya sudah bukan Rupiah. Bukan Dollar. Bukan Euro. Bukan pula Pound Sterling.

Tentu saja. Saya memang tidak menabung uang. Koin. Emas. Atau apapun itu, yang bersifat materi, dan harta penunjang dunia. 

Karena, ketika jeda bersela, terdapat sebuah unit bersatuan rindu, yang saya tabung dalam setiap detiknya. 

Dan, dalam satu unit rindu, saya melihat banyak rasa bercampur aduk di dalamnya: senang, tersipu, menyesak, sedih, murung.

Semua rasa tersebut menjalar dalam sel-sel darah merah, membawanya ke dalam otak, lalu berkonspirasi bersama, membisikkan memori yang telah diterima indera. 

Ternyata, ini gunanya jarak. Gunanya spasi. Agar saya merasakan kangen. Agar saya mampu menabung rindu. 

Apakah kamu merasakannya juga di sana? Hey, kamu?

🙂

#np Myra – Wishing on The Same Star 

-kandela-

Dengan kaitkata

Drama Alienasi

Jakarta, 1 September 2013,

Entah kenapa, saya memulai bulan kesembilan ini dengan perasaan yang campur aduk. Seperti habis terhempas ketangguhan ombak lautan. Seperti habis terombang-ambing dalam sebuah blender jus. Seperti habis diterpa gempa sekian skala Richter. Mabuk. Hancur. Berantakan.

Lalu, mendadak, musuh bebuyutan saya, yang bernama Sepi, datang menghampiri. Menyelimuti pikiran saya yang tengah dilanda hampa. Menyusup di antara syaraf-syaraf otak, untuk menyusun sebuah drama, berjudul melankolia. Lantas mengganggu kestabilan emosi yang sudah saya tata perlahan kembali.

Padahal, mungkin Sepi pun hanya bersifat imajiner. Maya. Dia tidak benar-benar merasa kesepian. Saya tahu, Sepi punya teman. Punya kawanan. Yang ia tebarkan cuma bumbu-bumbu telenovela. Opera sabun. Sinetron. Hiperbola. Berlebihan.

Tapi, Sepi pun beralibi. “Nggak selamanya, ketika kamu ditemani, kamu nggak merasa sepi. Nggak selamanya,” ujar Sepi membela diri. Entah itu fakta, atau hanya segelintir ungkapan defensif belaka.

Lalu, Sepi bercerita, bahwa ada satu laci kecil dalam perpustakaan di ruang pandora, yang akan selalu terasa terpojokkan. Murung dan kesepian. Laci itu selalu kosong, tak seperti rak ingatan lainnya, yang terisi penuh dengan kisah hidup pemiliknya. Tepatnya, kosong dan tak bisa terbuka.

“Kamu belum mengisi rak ini, Manusia, memang kamu lupa?” ujar Sepi.

“Saya nggak tahu, harus diisi apa laci itu, Sepi,” jawab saya dengan ketus.

“Kalau laci itu nggak terisi, kamu akan terus seperti ini. Melankolis. Bodoh. Pemurung. Kesepian,”

“Biarlah. Saya tetap nggak tahu, mau diisi apa laci itu,”

“Atau, kamu, sengaja membiarkannya hampa tak berisi, agar saya bisa tetap di sini?”

“……”

Sepi menggelengkan kepala. Lalu berlalu begitu saja. Melewati saya yang sedang berdiam membeku di pojokan ruang. Menggigiti jari dan melihat cicak lalu lalang kesana-kemari.

Mungkinkah sebenarnya Sepi yang enggan pergi, karena ingin menemani saya? Mengasihani saya yang selalu berwajah mengiba.

Ataukah saya, yang tak pernah membiarkan laci mungil tersebut terisi, oleh apapun, oleh siapapun. Biarkan dia tetap menjadi ruang hampa. Biarkan dia tetap memberi saya rasa sepi. Menjadi individual. Terasing. Terisolasi.

Karena mungkin, saya adiktif terhadap sepi. Ketagihan menjadi seorang soliter. Penggemar konsep alienasi.

Mungkinkah?

-kandela-

Dengan kaitkata