Monthly Archives: Juli 2013

Melepas Helai

Bandung, 21 Juli 2013,

Bunyi kres-kres pelan itu mulai mengganggu telingaku. Dia datang dari balik punggungku, yang bahkan tak dapat kulihat dengan mata kepalaku, kecuali jika Tuhan mengijinkan untuk memindahkan mataku ke tempurung belakang kepala. 

Ah. Yakinkah, Jingga? Yakin kamu mau melepaskannya? Bunyi itu masih berlangsung beberapa detik. Masih ada waktu untuk membatalkannya. 

Kres… kres…

“Bagus sekali padahal, Mbak, seperti di iklan-iklan. Yakin nih Mbak? Nggak mau cuma dirapihin saja?” ujar seorang wanita di belakangku. Rupanya dia adalah pencipta suara kres-kres tersebut. Dia yang telah menggangguku.

Yakinkah, Jingga? Pertanyaan itu sekali lagi terngiang di kepalaku. Memaksaku untuk mengingat perkataan Mama, saat aku menginjak usia ke-10. “Kenangan itu disimpan di otak. Di memori. Lalu, dia menyebarkannya ke helai-helai rambut, barang yang paling akrab dengannya. Tetangganya,” ujar Mama sambil mengecup keningku.

Kala itu, aku belum mengerti. Mana mungkin aku mengerti, jika bagiku, kenangan itu hanya mencakup pelajaran-pelajaran sekolah yang sebagian besar didominasi angka. Mana mungkin aku mengerti.

Kres… kres…

“Jadi, Mbak? Dipotong saja nih?” Suara lembut itu kembali mengganggu lamunanku. Memaksaku untuk kembali berpikir ulang atas keputusanku.

Lalu, ingatanku kembali bergulir hebat ke masa lalu. Saat aku pertama merasakan jatuh cinta. Saat aku pertama merasakan patah hati. Saat aku sudah memiliki “rasa”. Saat kenangan itu sudah menunjukkan eksistensinya.

Biasa, masa-masa remaja.   

“Ma… kalau Jingga potong rambut, bisa amnesia nggak, Ma?” tanyaku, yang telah menginjak usia 14 tahun. Ya. Aku sudah mengerti ucapan Mama, yang bernaung di kepalaku selama 4 kali 365 hari. Aku sudah tahu rasanya.

“Kenapa memang? Jingga mau amnesia? Nanti nggak ingat Mama dong?” jawab wanita cantik itu sembari berkelakar.

“Bukan gitu sih Ma. Jingga nggak suka sama kenangan. Bikin Jingga sedih,” tukasku sambil cemberut. Mulutku membentuk bulan sabit terbalik. Aku tahu itu.

Lalu, Mama kembali mengecup keningku hangat. Mengelus poniku yang mulai memanjang. “Kenangan itu, tetap tertancap di otak, Jingga. Tapi, perasaan dari kenangan itu lah yang menyebar ke kawanan helai rambutmu,” ucap Mama.

“Jadi, kalau Jingga potong rambut, kenangannya masih ada?”

Mama masih tersenyum. Senyumannya secantik Putri Salju. Aku tahu itu. “Masih ada, Jingga. Kenangan itu adalah cerita terindah yang dimiliki manusia. Buku terbaik, anugerah yang dipercayakan pada manusia, jadi jangan mau amnesia, ya?”

Jiwa remajaku masih bergejolak kala itu. Aku belum mau mengerti. Saat itu, yang ada di pikiranku, aku ingin amnesia. Melupakan sang objek pembuat luka. Itu saja.

Kres… kres…

“Mbak, ngelamun aja nih. Jadi mau potong segimana, Mbak? Saya rapihin saja ya? Sayang nih rambutnya.” Masih, sang pencipta suara kres-kres itu masih menanti jawabanku. 

Sekali lagi, pikiranku kembali melayang tanpa henti. Kali ini, berhenti di masa-masa kuliahku. Saat aku mulai memilah, mana kenangan yang harus kusimpan. Mana yang harus kubuang. Mana yang harus kuhilangkan.

Dan, kala itu, aku menahan tangis di kamarku. Wajahku sembab. Urat-urat merah di mataku mulai muncul perlahan. Sekali lagi, Mama mengintipku dari sela-sela pintu. Dia tak pernah sekalipun bertanya, karena dia tahu, aku tak suka ditanya.

Dia hanya melihat, potongan kertas berserakan di lantai kamarku.

Dan, dia sudah mengerti. Dia sudah mengerti.

“Jingga, mau sesakit apapun kenangan itu, jangan kamu buang. Jangan kamu robek. Jangan kamu rusak,” bisik Mama pelan.

Aku hanya melihat Mama. Memandangnya, yang sedang meraih dan mengumpulkan serpihan-serpihan kertas yang baru saja kurobek paksa. Namun, wajahku jelas-jelas menunjukkan kata tanya, “Kenapa?”.

“Seperti rasa di lidah. Memang, kita akan tahu sebuah makanan itu manis, kalau kita nggak pernah mencoba rasa pahit? Kenangan juga sama. Kita nggak akan tahu, kenangan itu menyenangkan, kalau kita belum memiliki kenangan menyakitkan. Iya kan?”

Ya. Saat itu, aku sudah mulai mengerti filosofi memori yang Mama katakan. Yang membawaku tumbuh berkembang. Yang tertoreh jelas dalam pola pikirku, sampai detik ini. 

Kres… kres…

Bunyi itu semakin kencang. Semakin cepat. Semakin kuat. Sama seperti tekadku yang telah bulat. 

Aku tersenyum, dan menjawab pertanyaan yang beberapa kali dilontarkan padaku–tanpa menghasilkan jawaban apapun. 

“Potong saja, Mbak… Pendek sekali, biar lebih segar saja,” ujarku lugas. 

“Yakin, Mbak? Tumbuhnya akan lama lagi, lho?”

“Yakin sekali, Mbak!” 

Kres… kres…

Ya. Aku sudah sangat mengerti, Ma. Memotong rambut, berarti melepaskan. Merelakan kenangan. Bukan membuangnya. Bukan menghapusnya.

Dan aku harus merelakanmu, Ma. Aku tahu itu. Sudah waktunya, kan?

Baik-baik di sana, Ma. 

-kandela- 

Dengan kaitkata , ,

Aku dan Debu

Jakarta, 16 Juli 2013,

Genap setahun sudah, aku memulai hariku dengan mengoleksi debu. Mengunyahnya masak-masak hingga menjadi abu. Menaruhnya dalam otak bebalku, yang memiliki satu sudut ruang hampa tersendiri dalam tempurung kepala. 

Ya. Koleksi debuku sudah lebih dari sejuta. Sudah memenuhi isi di dalam tulang tengkorak. Bagaimana tidak? Setiap pagi, aku memulai hariku, dengan menangkap debu, seperti layaknya menjaring kupu-kupu. Kandungannya di udara pun sudah bersaing dengan zat-zat polutan. Bagaimana mungkin, debu–yang nyaris kasat mata–tak menarik perhatianku.

Lalu, koleksi debu yang mulai berubah menjadi parasit, mulai berpindah rumah. Lewat syaraf-syaraf dan pembuluh darah, mereka berselancar riang menuju organ-organ lainnya. Salah satunya, menuju benda maya yang akan tercekat ketika berbicara soal rasa. Orang memanggilnya dengan julukan “hati”. Ya. Hati–yang sebenarnya–bukan perangkat yang dapat “merasa”. Entah dia keluar dari mana. 

Koleksi debuku, sudah bertumpuk. Menutupi organ-organ pengingat, perasa, penimbul denyut dan detak yang bergejolak. Memaksaku menjadi manusia mesin. Melakukan rutinitas sama. Perasaan sama. Ingatan yang sama. 

Dan, saat ini, aku hanya ingin mengembalikan tiap lembaran koleksi debuku ke alam terbuka. Aku ingin menghempaskannya, kembali bergerombol dengan kawanannya di udara. Tidak menjadi parasit. Tidak menjadi pengambil saripati. Karena rumahnya bukan di sini. Bukan di otakku. Bukan di hatiku. 

Begitu pula dengan aku. Yang kuinginkan, hanyalah menepi. Pulang. Dan apapun itu julukan dari hasratku saat ini.

Aku ingin kembali menjadi aku. Ya. Aku. Yang tak lagi mengoleksi debu.

-kandela-

 

Dengan kaitkata , ,

#22: Beda itu Tarik Menarik

Jakarta, 10 Juli 2013,

Permulaan bulan Ramadhan kali ini memang bukanlah hal yang terlalu “perdana” bagi saya, mengingat saya sudah melewati sekitar 25 kali bulan puasa, 2 kali berada di ibukota, dan 2 kali tanpa kehadiran seorang Mama pula. Memang, satu hal yang menyedihkan, adalah ketika saya tak bisa merasakan sahur pertama yang begitu khusyuk bersama keluarga. Sahur pertama kali ini, saya menjadi seorang soliter. Solois. Penyendiri. Ya, apalah itu istilahnya. Well, no problem lah~ saya sudah latihan di tahun sebelumnya.

Namun, ada satu hal yang membuat saya antusias dalam permulaan bulan Suci kali ini. Saya, berada dalam sebuah kantor yang dihuni oleh beragam jenis manusia, dengan jumlah varian suku bangsa, agama dan keyakinan yang berbeda-beda pula. Berbeda sekali dengan lingkungan keluarga besar, yang kental sekali berbau agamis dari satu keyakinan saja. Bahkan, saya–yang ilmu agamanya masih di bawah rata-rata–sering menjadi sosok yang dipersalahkan ketika tengah membahas soal kepercayaan. Keyakinan.

Saya mulai menyadari–dan lebih tepatnya mensyukuri–keberagaman ini, ketika tepat kemarin, seseorang–sebut saja dia MUSUH–yang menganut kepercayaan berbeda, bertanya seputar prosedur dan rentang waktu dari Shalat Tarawih. Dalam lingkungan seperti saya ini, seharusnya toleransi adalah salah satu hal yang terjaga rapi. Bukan berarti saya pengusung aliran liberal, tapi yang terpenting, bisa menempatkan diri sesuai porsi. Alhasil, saya bercerita tentang agama yang saya anut, hanya sekadar meluapkan cerita. Informasi. Wawasan saja. Pun begitu dengannya, yang belakangan ini menjadi rekan berbagi hati, bercerita, bercanda, bertengkar, bersinisme-ria, dan segala macamnya.

Cerita saya bersama Sang Musuh, hanya sekelebat dari kisah beragamnya kepercayaan di lingkungan saya sekarang. Dalam lingkungan media tempat saya bekerja saja, saya mulai memerhatikan cara masing-masing individu melakukan hal yang ia yakini. Bahkan, antar satu agama saja, setiap orang bisa melakukan hal yang berbeda. Itulah hebatnya Tuhan, menciptakan manusia lengkap dengan akal, agar bisa berpikir, menafsirkan setiap tandaNya secara beragam.

Pasti ada hikmahnya. Ada maknanya. Ada arti dari simbol tersembunyi ini.

Dan, layaknya kutub magnet utara dan selatan yang saling tarik menarik, pun begitu dengan perbedaan sikap, sifat, pola pikir, cara pandang dan penafsiran. Akan saling mendekat. Tertarik. Mengisi satu sama lain. Membentuk irama yang membuat sebuah bioma.

Karena, kalau seragam, maka dunia nggak akan seseru ini. 

Betul, bukan?

So, kalau kalimat “menghargai” perbedaan itu terasa klise, lebih baik kita menggantinya, menjadi frasa: mensyukuri perbedaan. Sesuai prinsip dalam post-modernism–penggayaan dalam dunia desain yang sangat saya kagumi–keberagaman itu ada untuk dirayakan. Disyukuri.

Selamat menikmati perbedaan. Varian. Keberagaman.

-kandela-

nb: posting pembuka dari #30HariBercerita dalam edisi Ramadhan, sama sekali tak bermaksud menyinggung apapun. Siapapun. Karena, berbeda pendapat pun berarti keberagaman bukan? Syukuri saja. 🙂 

Dengan kaitkata , ,

#21: Beban

Jakarta, 9 Juli 2013,

Beberapa waktu belakangan ini, saya merasakan sebuah perasaan homesick yang luar biasa menggebu-gebu. Berada di pertengahan kota besar, dengan segala kompleksitas yang berada di dalamnya, berhasil membuat permukaan terluar hati saya mengelupas perlahan. Memaksa saya untuk berulang kali menghela nafas. Mulai mengeluhkan hal-hal awam yang biasa dilontarkan orang di jalanan ibukota. Ya. Mengeluh tentang Jakarta–yang macet, panas, beringas,, emosional dan apatis–sama halnya seperti berkata bahwa gula itu manis. Garam itu asin. Cuka itu asam. Dan ya, obat itu pahit. Retoris.

Di luar lokasi saya sekarang ini, kejenuhan adalah salah satu hal lumrah yang mampu menjangkiti manusia. Semacam virus yang mendekam hati, pikiran, hingga syaraf-syaraf penghantar rangsang, tanpa mengenal waktu yang tepat untuk kambuh dan menunjukkan eksistensinya. Dan, jujur saja, beban yang menghampiri dari segala sisi sudah mulai menutupi ruang kosong dalam otak saya. Sudah mulai mendominasi, bertumpuk secara serampangan di dalam lahan dengan volume tak seberapa ini.

Dan betapa hebatnya Tuhan, karena Dia telah merancang manusia dengan segala kerumitannya, lengkap dengan ‘obat penawar’ yang beragam untuk seluruh kompleksitas masing-masing manusia. Ya, saya percaya, badai pasti berlalu, walau akan datang badai-badai lainnya. Semua masalah pasti terlewati. Setiap beban pasti akan segera beranjak ringan, meskipun akan datang beban-beban lain dalam varian bentuk yang lain.

Tapi, dengan mencengangkan, ‘obat penawar’ itu telah tumbuh berkembang dalam diri setiap manusia. Menjadi superhero ketika merasa lemah. Menjadi Charlie Chaplin, di kala didominasi rasa jengah.

Bagaimana dengan saya, seorang yang baru merantau setahun lebih dari kota kelahiran, menghuni ibukota yang padat, sibuk dan mengusung kecepatan dalam setiap pekerjaannya?

Rasanya, saya ingin menepi. Beristirahat barang beberapa lama, hanya untuk meneduhkan kembali hati yang telah berperan seperti mixer. Mencampuradukkan rasa hingga menjadi saripati. Memaksanya untuk kembali berdiam, meleburkan tumpukan beban yang telah dikerubungi debu. Membakarnya habis hingga menjadi abu.

Atau, saya ingin memangkas habis semua jalinan beban dan emosi yang tumbuh menjuntai hingga ke mata kaki. Merelakannya pergi, berpadu dengan sampah-sampah yang mengusung sumpah serapah. Mengosongkan ruang dalam batin, dan menghempaskannya ke sebuah kotak pandora maya yang terkunci dalam brankas terdalam hati. Biarkan ia di sana. Mengendap, menjamur, dan kehabisan udara untuk bisa tumbuh. Biarkan beban hanya akan menjadi virus. Biang. Bakteri. Ya, atau apapun itu lah. Biarkan beban menghilang di sana.

Dan pastinya, yang bisa menghilangkan beban ini bukan Anda. Bukan kamu. Bukan mereka. Bukan dia. Bukan siapa-siapa. Karena beban sendiri bersifat soliter. Individual. Antisosial. Oleh karena itu, biarkan dia mendekam di sana, sampai dia bosan.

Lalu, dia akan pergi, dengan caranya sendiri.

-kandela-

nb: ditulis ketika sedang mengasingkan diri dalam luapan manusia di pertokoan ibukota. cheers!