Monthly Archives: Juni 2013

#20: Yang Dijuluki “Rianda”

Bandung, 6 Juni 2013,

Hari ini, memori saya tiba-tiba berputar ke masa lampau. Mendadak, saya mengintip postingan blog Cerita Hujan terdahulu, tepatnya pada Desember 2011 lalu. Di sana, saya menuliskan 3 kisah–tepatnya cerita super mini–tentang seorang tokoh fiktif, bernama Rianda. Cerita-cerita itu bisa dilihat di link berikut >> http://bit.ly/13nAJRK

Well, jika boleh diakui, sebuah cerita fiksi, tak selalu sepenuhnya bersifat maya. Banyak di antaranya merupakan sisipan pengalaman, curahan hati, impian ataupun pandangan subyektif dari sang penulis. Indeed, saya banyak melakukan hal itu, ketika menulis kisah-kisah khayal dalam blog saya terdahulu.

Menurut @terlalurisky — salah seorang rekan tulis-menulis — people write, because they can’t speak it out loud. Saya sangat sependapat dengan kalimat tersebut. That’s why, tulisan adalah buah pikiran saya. Mendefinisikan seorang saya yang tak bisa bersuara secara nyata.

Kembali ke Rianda–sang tokoh fiktif. Saya mendeskripsikan Rianda sebagai sesosok manusia berwajah datar, berprofesi sebagai seniman serta hobi bercerita tentang hujan. Rianda yang tiba-tiba bercerita perihal kisah turunnya hujan. Rianda yang gemar membawa kaleng cat, untuk melukis mural di dinding langit. Rianda yang bercita-cita menjadi payung, ketimbang berperan sebagai langit yang dirindui oleh bumi.

Oke! Saya akui, sosok Rianda adalah wujud imajiner yang terinspirasi dari seorang manusia sebenarnya. Pengembangan imajinasi, dari sebuah sosok nyata, yang bisa dirasakan kehadirannya, keberadaannya, dan penampakannya.

Hal ini mengingatkan saya akan inti cerita dari film “Ruby Sparks” yang pernah saya ulas beberapa waktu lalu. Dalam film tersebut, Calvin Weirr Fields, sang tokoh utama yang merupakan novelis, menjadikan ideal girl of his dreams sebagai objek tulisannya. Dan alhasil, ia pun dengan mudahnya jatuh cinta pada Ruby Sparks–sosok fiktif hasil imajinasinya selama berhari-hari.

Bedanya, eksistensi Rianda dimunculkan oleh perkenalan saya dengan seorang manusia yang tersentuh secara fisik, tepat pada 2011 lalu. Bukan berasal dari mimpi dan imajinasi semata. Dia dan Rianda, memiliki banyak persamaan. Sama-sama senang berkecimpung dalam dunia seni. Sama-sama pernah bercerita tentang asal-usul hujan. Sama-sama membuat saya terpana tanpa jeda. Sama-sama mengagumkan.

Ini tentang siapa?

Petunjuknya hanya satu: hari ini, sosok mengagumkan itu bertambah usia. Mengulang hari lahir untuk kesekian kalinya. Merayakan perkembangan dinamika waktu tanpa mengenal koma.

Well, happy birthday Erwin Windu Pranata | Ewing | @saya_ewing ! Semoga selalu berbinar, bercahaya dan menginspirasi! Pun, semoga selalu bahagia!

Lalu, mari kita bercerita tentang hujan lagi. 

-kandela-

nb: rangkaian kalimat pengakuan itu ternyata lebih sulit dari yang terkira. semoga berkenan dan nggak menyinggung siapapun. thank you!

Dengan kaitkata ,

#19: Roman yang Sepi

Jakarta, 4 Juni 2013,

Aku dan dia, biasa terbisu dalam bicara. Hanya melempar senyum simpul, lalu sibuk masing-masing–menggenggam penyeranta, melihat sekeliling, atau sekadar melamunkan satu-dua hal tak penting. Ya, itu kami; yang mengaku menjalin rasa tanpa sebatang pun pernyataan lewat kata–setidaknya itu yang kurasakan.

“Tidur sana, kan besok kerja,”

“Iya, mau. Sebentar lagi…”

“Jangan pegang gadget, nanti nggak tidur-tidur,”

“Iya…”

Setelah percakapan basa-basi tak berkualitas, kami kembali terkunci dalam sunyi. Tak biasa beradu suara dengan diksi. Kami lebih memilih untuk mencurahkan hati, ketika kami tengah menjadi penyanyi kamar mandi.

Mungkin, itu hanya alter ego-ku yang lain. Yang berubah seketika ketika bertemu dia. Melihat wajahnya. Mencoba membuat percakapan dengannya. Dan alhasil, semua usahaku menjadi diri sendiri pun gagal total. Aku kembali menjadi sang alter ego. Yang terbiasa dengan mulut terkunci. Suara tercekat. Lidah mengelu.

“Saya tidur ya, kamu enggak tidur?”

“Nanti saja, kamu duluan ya?”

“Oke…”

Kembali, perbincangan kami hanya seputar itu. Lantas, terngiang ketidakyakinan dari telinga kiriku. Terbisik keraguan dari otak kecilku. Apa artinya, menjadi seorang sunyi? Buta karena hati? Yang benar saja!

Memang, aku telah lelah dan setengah terlelap. Tapi aku ingat, aku terisak dalam gelap. Seperti orang kalap. Tapi, ya itu tadi. Layaknya film Charlie Chaplin yang masih hitam putih dan tak mengeluarkan bunyi barang suatu apa. Aku menangis dalam sunyi. Dengan sepi.

Kemudian air mata mengering karena sudah terbiasa. Mengendap di dekat bulu mata. Aku sudah lelah menjadi cengeng, ujar batinku.

Lalu dia datang, dan melihatku yang setengah lelap.

Meski samar, aku senang dia menatapku dalam diam. Lalu lekat dan pekat. Lantas kembali ke dalam situasi senyap.

Dalam ranah imajiku, matanya berkata: Selamat tidur, Sayang! Walau aku tak pernah tahu kenyataannya. Pernyataan sebenarnya.

Lalu, aku dan dia, kembali tertelan sunyi. Tertelan sepi yang membuahkan ilusi. Halusinasi. Imajinasi. Psikotropika pembuat adiksi.

Memoriku hilang malam itu. Yang aku ingat, cuma satu: kami–aku dan dia–kembali memasuki dimensi milik kami sendiri.

Karena, sekali lagi, sunyi adalah milikku, miliknya. Dimensiku, dimensinya. Bahasaku, bahasanya.

Hatiku. Hatinya.

Setidaknya, itu yang kurasakan. Kuyakini.

#np The Milo – Daun dan Ranting Menuju Surga

Hadapi hidup yang remuk  hapus semua kenangan yang kelam
Semua nyata hati pun terluka
Gerak ini telah terdiam hati telah tertoreh pisau yang keji
Semua nyata akankah kau percaya?

Inginan bisikan terdalam, celoteh gagak terdengar
Apakah kau kan percaya?
Semua t’lah usai tak terbayang, celoteh gagak terdengar
Daun dan Ranting menuju surga,
Hadapi hidup yang remuk  hapus semua kenangan yang kelam
Semua nyata hati pun terluka.

-kandela-

Dengan kaitkata , , ,

#18: Juni, Bercerita dan Relasi Acak

Jakarta, 2 Juni 2013,

Tulisan ini bermula ketika tiba-tiba, Della alias @fidellanandhita, salah seorang teman dunia maya–yang menjadi bukti bahwa dunia itu sesempit daun kelor–mengingatkan saya via Twitter, bahwa bulan Juni telah tiba.

Ada apa dengan Juni?

Juni adalah bulan keenam dalam Kalender Gregorius. Kata ini diambil dari Bahasa Belanda; yang juga telah mengambil dari nama Dewi Juno, istri Dewa Jupiter, dan juga berarti sakti. Bulan ini memiliki 30 hari.
(sumber: Wikipedia)

Terhitung 5 bulan sejak tulisan #30HariBercerita di bulan Januari selesai, semula saya dan @fidellanadhita ingin berkomitmen menulis semacam 30 pandangan mengenai film-film bagus nan absurd yang–tadinya–ingin kami rangkum dalam #30daysofgoodmovies.

Ternyata, tak disangka tak dinyana, hard disk external saya rusak dong-dong-markidong! Dan, sialnya, film-film ada di dalam sana semua.

Well, Della, sepertinya #30daysofgoodmovies-nya tertunda dulu. Tapi, mungkin saya akan sisipkan beberapa review suka-suka mengenai hal-hal favorit saya, mulai dari teman, film hingga musik, dan saya akan tetap menulis rutin di 30 hari bulan Juni ini.

Juni adalah bulan yang sakti. Juni juga adalah titik tengah tahun, sehingga–mungkin–bisa bersikap netral, dan berpikiran terbuka. *yang ini officially saya sok tau saja, tanpa analisis mendalam, jadi maafkan!*

Dan, pasti, Juni menjadi waktu yang tepat untuk berbagi hati. Untuk merangkai kata. Untuk setia bercerita.

Satu lagi, semoga dengan rutin bercerita di bulan Juni, saya mendapatkan segudang relasi acak dari manapun, yang membuat saya tambah yakin bahwa Tuhan itu Sutradara terbaik, menghubungkan saya dalam sebuah bola benang merah kusut dan maya.

Selamat berhadapan dengan Juni dan selamat bercerita!

-kandela-

Dengan kaitkata , ,