Monthly Archives: Mei 2013

#17: Adora(friend)able (Part 2)

………………. (lanjutan)

2. Dina Rismala | Creativepreneur

Pernahkah mendengar nama brand aksesori eksperimental asal Bandung bertajuk “Nyala”? Gadis berkerudung nan mungil ini lah yang bergerak di baliknya. Namanya, Dina Rismala. Yeoup, Dina merupakan salah seorang teman yang menurut saya layak sekali masuk dalam kategori adora(friend)able. Teman yang mengagumkan nan inspiratif. 

Berbekal imajinasi yang luar biasa, skill mendesain–yang menurut saya di atas rata-rata–serta jaringan yang melimpah ruah, Dina memilih entrepreneur sebagai profesi utamanya. Tak hanya sebagai wirausahawan biasa, julukan creativepreneur sepertinya lebih cocok menjadi nama tetap bagi profesinya tersebut.

Dina sudah berkecimpung dalam dunia aksesori, handmade dan kerajinan ini sejak tahun 2008-2009, ketika ia masih duduk di bangku kuliah, tepatnya jurusan Desain Komunikasi Visual ITENAS. Konsistensi yang ia miliki, meskipun sempat tersendat oleh Tugas Akhir, tak pernah berkurang hingga detik ini. Bahkan, sepenglihatan saya, makin hari, nama Nyala makin merambah dimana-mana, terutama dalam kalangan para crafter.

Meskipun begitu, Dina enggan dijuluki sebagai seorang pengrajin alias crafter. “Entrepreneur aja, soalnya banyak barang titipan orang juga di Nyala,” ujar Dina menjelaskan.

Tapi, tetap saja, aksesori serba eksperimental dari Nyala sangatlah fenomenal. Material out of the box otomatis membuat semua orang memerhatikan barang-barang lucu bermerek Nyala ini. Kancing–yang kala itu belum booming–resleting, kain lap, hingga spons menjadi material-material yang dapat membentuk aksesori yang sangat “Nyala”. Very experimental stuff! 

Salah satu hal yang membuat saya kagum dengan Dina adalah aplikasi sistem promosi yang sangat menarik, imajinatif, kreatif dan mengandalkan foto ber-tone khas Nyala. Tepatnya, khas Dina. Karakter gloomy dengan tone agak merona seakan terkena cahaya matahari, identik dengan foto-foto milik Nyala. Selain itu, seiring waktu berlalu, Dina–bersama Nyala–telah menjalin relasi akrab dengan banyak sekali crafter dan entrepreneur muda, dari dalam dan luar Bandung.

Banyak sekali hal yang saya pelajari dari seorang Dina, mulai dari tekad hingga kedisiplinannya melakukan bisnis yang tengah merebak di kalangan anak muda ini. Namun, satu hal yang terus terngiang dalam kepala saya saat melihat Dina: nggak perlu terlihat sok keren untuk menjadi luar biasa. Nggak perlu muluk-muluk berkecimpung dalam bidang bisnis besar-besaran, kalau bisa mengerjakan sesuatu hal yang kecil, tapi dilakukan sepenuh hati.  Yes, seperti Dina, yang kian me-Nyala dari hari ke hari.

By the way, penasaran dengan produk Nyala? Berikut, akan saya lampirkan beberapa contoh produk yang membuat tangan gatal untuk membelinya. Voila~ 

Dan, ketika melihat Dina dan Nyala, terbesit sebuah kalimat dalam pikiran saya: nggak ada yang salah kalau manusia mengerjakan sesuatu dari hati, lalu diharmonisasikan dengan otak dan imajinasi. Bismillah! 🙂 

…………………………. (bersambung)

Dengan kaitkata ,

#16: Adora(friend)able (Part 1)

Jakarta, 23 Mei 2013,

Tulisan ini sebenarnya bermula saat saya asyik berselancar di dunia maya. Mencari-cari foto yang bisa saya perbesar, atau berita demi berita yang tak saya ketahui sebelumnya. Standar lah, antara stalking-stuff, dan cari bahan liputan kan bedanya tipis sekali.

Lantas, tiba-tiba saya mengintip halaman pribadi milik beberapa teman. Saya sedikit tercengang, teman-teman saya itu luar biasa, dengan jalannya masing-masing! Profesi yang mereka miliki pun bervariasi: penulis, fotografer, ilustrator, entreuprener, desainer, bahkan hingga penyiar.

Ada orang yang nggak percaya passion. Beda halnya dengan saya. Menurut saya, sebuah pekerjaan yang dilahirkan dari “hati” pasti akan sampai ke “hati” lagi. Seperti listrik yang menjalar di konduktornya, pesan itu pun akan bergerak kencang. Seketika saja.

Lagipula, saya senang melihat orang-orang pengusung “profesi hati” ini berkarya. Totalitas. Maksimal. Bahagia. Meskipun harus berkali-kali jatuh-bangun. Walaupun harus merasakan pahit. Meskipun harus menelan ludah masak-masak. Walaupun awalnya, mereka hanya sanggup bermimpi.

Well, siapa sajakah sosok-sosok yang masuk dalam kategori “Adorafriendable” versi saya, Candella Sardjito? Here’s the list!

1. Oktarina Lukitasari | Ilustrator

Saya sudah mengenal Na–panggilan akrab dari Oktarina–sejak saya masih duduk di bangku SMP. Kala itu, saya mengenal Na sebagai seorang berambut pendek dan selalu happy-go-lucky. Hingga akhirnya, kami dipertemukan lagi ketika masa perkuliahan tiba. Yes, kami berada dalam satu kelas yang sama–sebagai para calon desainer interior–bahkan satu kelompok pertemanan yang sama pula. Genggong happy-happy joy yang bernama Rumpiwati.

Sejak tahun pertama di kampus jingga, kegemaran Na dalam menggambar ilustrasi menggemaskan sudah terlihat kental. Karakter “Na” sangat muncul dalam setiap gambarnya. Ceria dan merona. Entah kenapa, dua kata itu yang tersirat dalam pikiran saya, setiap melihat hasil karya tangan gadis super fashionable ini. Lucunya, nggak hanya ilustrasi cute dan manis layaknya eskrim di siang hari, ketertarikannya pada dunia fashion pun memengaruhi karya tangannya tersebut. Awesome!

Well, ternyata semangat positif dari karyanya tak hanya sampai pada saya, yang merupakan teman dekatnya saja. Terbukti, ilustrasi-ilustrasi manis ini berhasil memikat mata penikmatnya, salah satunya, sebuah perusahaan penerbitan yang cukup ternama. Bahkan, sebelumnya, karyanya sempat masuk salah satu majalah, yaitu Nylon Indonesia. Waw!

Berikut, beberapa ilustrasi super-menggemaskan hasil karya Oktarina. Enjoy!

  Dan, yang terakhir, adalah ilustrasi penampakan fisik saya, yang digambar khusus oleh Na. Love it much, Na!

Yeoup, Oktarina Lukitasari adalah teman pertama yang menjadi adora(friend)able bagi saya. Semoga semangat ceria dan merona ini bisa menyemburkan listrik-listrik bahagia tanpa batas waktu, tanpa batas kata.

Semangat Oktarina!

🙂

…………. (bersambung)

-kandela-

Dengan kaitkata ,

#15: Sendok Gula dan Hiperbola

Jakarta, 22 Mei 2013,

Adakah yang senang menyeduh secangkir teh manis hangat, lantas meminumnya perlahan, memaksa air-air seduhan tersebut berkelana di saluran-saluran dalam tubuh?

Nilai “manis” dalam lidah setiap orang memang berbeda. Tak ada yang sama. That’s normal, Namanya juga manusia. Beda otak. Beda hati. Otomatis, beda selera pula.

Namun, berapa sendok gula kah yang kamu tambahkan, agar mendapatkan “kisah” manis versimu sendiri? Satu? Dua? Tiga? Atau bahkan empat?

Satu, terlalu pahit.

Dua, sudah cukup pas.

Tiga, agak terlalu manis.

Empat, sepertinya bisa membuat diabetes.

Saya memilih takaran dua sendok gula, untuk mendapatkan rasa “manis” yang pas, bagi teh seduhan saya di pagi buta. Mungkin saja kamu merasa terlalu manis. Mungkin saja kamu merasa terlalu pahit. Tapi, bagi saya, racikan teh ini pas. Masih meninggalkan aroma daun teh di bibir cangkir, namun mengikat indra pengecap saya dengan rasa manisnya yang enggan beranjak.

Tapi, entah kenapa, akhir-akhir ini saya terlalu adiktif dengan gula. Menggilai manis secara berlebihan. Tiga hingga empat sendok gula, dirasa sudah biasa bagi secangkir teh di pagi hari. Tak lagi tawar. Tak lagi pahit. Akhirnya, teh pun berubah menjadi air gula. Giung. Terlalu manis.

“Kamu bisa kena diabetes kalau begitu terus, hati-hati! Manis di depan, pahit belakangan,” ujar teman-teman saya memperingatkan.

Tapi saya mengabaikannya. Menganggapnya angin lalu. Saya sudah ketagihan gula. Adiktif pada rasanya yang semu.

Sepertinya, hal ini serupa adanya dengan yang tejadi di hati.

Jika diibaratkan dengan takaran gula, maka saya biasa membatasi dominasi rasa, cuma sampai level dua. Hanya dua sendok saja. Saya sudah merasa pas. Tepat. Sesuai. Sepadan dengan saya, yang tak suka pahit, ataupun kuantitas gula berlebih.

Tapi, entah sejak kapan, rasa adiktif saya–tentang kamu–sudah menjadi hiperbola. Berlebihan. Melebihi kapasitas. Menyaingi dominasi karakter “rasa teh” yang sebenarnya.

Saya sudah menambahkan lima sendok gula dalam teh saya. Kisah dan rasa “manis” berhasil membuat saya ketagihan terang-terangan.

Dan, jujur saja, rasa hiperbola ini menyiksa. Memang manis, tetapi menyiksa. Posesif, protektif, Menimbulkan kegelisahan. Insecure. Ketidaktenangan. Kecemburuan. Sensitivitas tinggi. Dan lain sebagainya. 

Saya sudah terlampau berlebihan merasakannya. 

Karena, sesuatu yang berlebihan tak akan membuat saya lebih baik. Mungkin kelak saya akan terkena diabetes. Atau mungkin kelak saya akan bosan dengan rasa manis. Dan, rasa–yang bersifat relatif–dapat saja berubah seketika menjadi pahit. Atau mungkin tawar. Lalu, saya akan terjatuh dan tersungkur kecewa, karena rasa teh telah kehilangan jati dirinya, sudah berganti menjadi air gula.

Saya sudah berada di takaran manis level lima. Tak mungkin kembali lagi jadi level dua, jadi takaran saya semula. Bila “gula” dikurangi, maka saya tak akan terbiasa. Nanti jadi tak sedap. Jadi pahit.

Dan saya ingin “lidah” saya kembali ke takaran level dua. Seadanya. Secukupnya.

Sama seperti hati, yang telah didominasi “gula”. Didominasi luapan rasa, level lima.

-kandela-

nb: tulisan pengisi waktu, antara keterbatasan otak untuk bekerja, namun tangan yang masih gatal untuk berhura-hura.

#14: Tentang Tumbuh, Tentang Berkembang

Jakarta, 21 Mei 2013,

Ada seorang kerabat berkata, dini hari adalah waktu favoritnya; setiap momentum, ingatan, memori, kisah hingga imajinasi bisa menghampiri dalam rentang waktu tersebut. Dan, ya, hari ini saya merasakannya karena sebuah aksi super sederhana, yaitu membereskan meja kerja di kantor saya, yang kebetulan masih penuh manusia karena sedang dikejar deadlineAs always.

Sebenarnya simpel saja, saya membersihkan meja, bukan karena ingin menjamu jimat tolak bala atau bertujuan resign. Saya sudah selesai deadline dan meja kerja saya sangat-amat-berantakan-level-10. Kapan lagi gue mendadak mau beresin meja seniat ini?

Hal lucu kembali dimulai ketika saya mengutak-atik kertas-kertas sampah bekas yang terdapat di laci meja. Benda-benda penyimpan memori pun tersimpan di antara brosur-brosur material yang semrawut nan berantakan. Yeoup! I’ve got some bills, a bunch of notes and also a few  certificates. Tentu saja, barang-barang ini mengundang sedikit gelak tawa, ataupun senyum kecil ketika saya melihatnya. Bahkan, tak jarang, pipi saya mendadak bersemu merah. Merona.

Namun, satu hal yang paling membuat saya tercengang, adalah ketika mendapati lembaran kertas berisi tulisan-tulisan saya, sebelum hijrah ke Jakarta. 12 Maret 2011, tanggal tersebut tertera dalam kertas berisi tinta itu. Lucunya, karena kertas-kertas usang itulah, saya merasa mendadak menjadi seorang yang telah tumbuh, berkembang, dan berhasil mengepakkan sayap, menuju sebuah istana yang bernama cita-cita.

Saya jadi ingat, ungkapan seorang teman, tentang bagaimana ternyata ia telah berkembang menjadi seorang fotografer yang baik, ketika dia tak lagi membandingkan dirinya dengan karya-karya di kantor saya. “Ternyata gue nggak bego-bego amat, baru sadar,” ujarnya sambil terkekeh kencang. 

Well, kenapa saya bilang kalau saya berkembang? Okay, saya akan menunjukkan sedikit bukti dari ucapan saya tersebut.

Saya menemukan salah satu hasil tulisan saya di masa lampau, yang bisa dilihat di http://bandungreview.com/articles/view/389/wisata-sejarah-seru-ala-komunitas-aleut. Ketika meraih kertas tersebut, saya merasa gatal untuk menyunting beberapa bagian di dalam susunan diksi itu.

Well, saya akan mencoba menjadi editor bagi saya sendiri, selamat membaca!

Komunitas Aleut,
Saat Sejarah Menjadi Seru

Menjelajah serta menelaah gedung-gedung tua di Bandung, lalu merekamnya dalam memori terdalam. Ya, hal-hal tersebut merupakan kegemaran gerombolan yang menamakan diri Komunitas Aleut ini. Jika diuraikan, nama Aleut sendiri berasal dari kata ngaleut dalam Bahasa Sunda, yang artinya jalan-jalan bersama. Melihat Bandung dari sudut pandang berbeda, merupakan alasan kehadiran komunitas yang telah berdiri sejak tahun 2006 ini.

Indra, salah seorang penggiat Aleut, menjelaskan bahwa komunitas ini berasal dari sekelompok anak muda–kala itu masih mahasiswa–yang senang berbagi, menggali dan mempelajari sejarah, terutama jika berkenaan dengan Kota Bandung. “Kami ingin membuat sejarah, yang biasanya disebut-sebut sangat membosankan, berubah menjadi hal yang menyenangkan,” ujar Indra menambahkan.

Bermula dari keingintahuan tinggi dan kegemarannya untuk berbagi cerita, para penggiat Aleut memulai aksinya dengan berjalan-jalan di dalam kota. Mereka menyusuri gedung-gedung tua di Bandung, yang merupakan ruang publik penyimpan sejarah kota. Tak sekadar berkunjung untuk berjalan-jalan dan mengabadikannya dalam foto, para penggiat Aleut juga mengupas sejarah dan mengemasnya dengan ringan. Dengan cara yang aleut banget.

“Banyak sejarah dalam buku cetak yang berbeda jauh dengan kisah yang diceritakan nenek-kakek kita,” sambung Indra cepat. Hal itulah yang memperkuat keinginan mereka untuk mengenal sejarah dari lokasi-lokasinya, menapaki lalu merasakan bukti peninggalan tersebut secara langsung.

Lantas, tiba-tiba sebuah pertanyaan tersirat dalam pikiran: mengapa mereka tertarik dengan wisata sejarah di Bandung? Adakah hal yang istimewa?

“Kami mau membuktikan, kalau Bandung nggak hanya berkisar tentang kuliner dan belanja saja, nggak monoton,” ujar pria lulusan UNPAD ini menjelaskan. Menurutnya, masih banyak objek wisata sejarah Bandung yang menarik untuk ditelusuri.

Jelas tak monoton. Tujuan ngaleut pun cenderung beragam, mulai dari wisata sejarah Hotel Suarha, napak tilas Sungai Cikapundung, Alun-alun, hingga perjalanan menuju Pabrik Kertas pertama Indonesia di bilangan Padalarang. “Semua tempat itu membuat kami tambah mencintai Bandung deh!” tegas Indra.

Dengan ragam dan varian kegiatan positif tersebut, jelas terbukti, Komunitas Aleut merupakan salah satu dari barudak kreatif Bandung. Dengan cara ngaleut-nya yang berkisar dalam kegiatan indoor dan outdoor, komunitas ini mencoba mengupas sejarah Bandung secara mendalam, lantas dikemas secara lebih menarik dan “muda”.

Ingin ikut menjadi penggiat dalam Komunitas Aleut? Simak terus gerak-gerik mereka dalam akun jejaring sosial yang mereka miliki (@KomunitasAleut) untuk mendapatkan info kegiatan setiap minggu. Atau, kamu juga bisa langsung mengunjungi basecamp Aleut, di Jalan Sumur Bandung No.4, Bandung.

Selamat menjelajah sejarah, clickers!

——————————————————————–

Lantas, bagaimanakah? Ada sesuatu yang berubah? Bertumbuh? Berkembang? Menjadi lebih lugas? Ataukah menjadi lebih tegas?

Namun,

cuma ada satu hal yang saya dapatkan dari membongkar masa lalu: saya rindu. 

*senyum*

Selamat membaca perkembangan saya!

-kandela-

#13: Mesin Waktu

Jakarta, 18 Mei 2013,

Adakah yang mengetahui eksistensi perangkat khayal bernama ‘mesin waktu’? Beberapa kisah fiktif sering mengangkat teknologi dari dimensi imajinasi ini sebagai tema utama. ‘Back to The Future’ dan ‘Doraemon’ merupakan 2 film yang mengusung kehadiran mesin waktu.

Tak bisa dipungkiri, waktu merupakan mahakarya Tuhan yang sangat misterius, membuat penasaran dan menggelitik pikiran untuk menjelajah alur-alur di dalamnya.

Dan entah kenapa, banyak manusia-termasuk saya sendiri-kerap kali ingin berbalik ke masa lalu. That’s why, kenapa album foto tercipta di dunia ini, baik dalam versi konvensional ataupun digital. Saya pun merasa heran, kenapa banyak manusia-termasuk saya juga-sangat penasaran dengan apa yang terjadi di masa depan.  And that’s why, rubrik zodiak, shio, hingga peramal begitu laku keras di pasaran.

Tak heran bila mesin waktu menjadi salah satu peralatan yang bertengger dalam dunia khayal manusia, terutama bila ia tengah merasa tidak puas dengan kehidupannya sekarang. “Ahh, rasanya gue pengen punya mesin waktu!” Demikian ungkapan yang sering terlontar, ketika seseorang ingin melarikan diri dari masalah yang sedang dihadapi. Coward!

Lantas, apa yang terjadi bila mesin waktu ini benar-benar nyata? Bukan lagi barang maya?

Mungkin, masa depan tak lagi menjadi sesuatu yang bersifat misteri. Bukan lagi benda abstrak yang tak tersentuh otak. Dan mungkin, manusia tak lagi menghargai sepenggal dokumentasi memori, karena mereka dengan mudahnya bisa kembali ke waktu lampau. Kejutan bukan lagi kejutan. Pelajaran pun tak lagi menjadi pelajaran. Cuma sebongkah pengalaman yang dipermudah oleh teknologi.

Kejam ya?

Untung saja, sampai detik ini belum ada satupun ilmuwan yang berhasil menciptakan mesin waktu, meskipun mungkin hal ini dapat mengangkat namanya ke jajaran ilmuwan masa kini.

But anyway, Tuhan sudah menanam ‘mesin waktu’ itu sendiri ke dalam organ-organ tubuh manusia kok. Panca indera, syaraf, dan otak menjadi bagian-bagian terpenting dari “mesin waktu” alami, yang pasti dimiliki oleh semua manusia di muka bumi.

Nggak percaya?

Coba deh, pejamkan mata, mulai menyelam di balik bayangan hitam penglihatan, lantas putar kembali tayangan salindia yang tersimpan dalam ingatan. Kenangan.

Of course, that’s exactly our time machine, isn’t it?

Well, memori adalah mesin waktu tercanggih yang pernah dimiliki manusia. So, be grateful with them. With memories.

-kandela-

#12: Jengah

Jakarta, 17 Mei 2013,

Kelelahan setelah liputan, ternyata sukses membuat saya enggan berpikir keras. Malas membaca yang berat-berat, mubazir dan bertele-tele. Insting penyunting dadakan bekerja di sana.

Ketika menelaah tulisan karya satu-dua orang yang muncul di linimasa, mendadak saya merasa jengah. Gerah. Gatal. Ini nggak boleh gini dan ini nggak boleh gituNggak efektif. Bukan bahasa tulisan. Dan sebagainya.

Tiba-tiba, saya bertingkah seperti penulis nomor satu di dunia, yang pintar akan segalanya. Mengritik tanpa pandang bulu, walau hanya tertahan di lidah, lalu kelu saat mau bicara. Nyatanya, saya kan cuma journalist-wannabe dan writer-to-be. Belum sepenuhnya jurnalis. Belum seluruhnya penulis. Cuma berada di tingkat terbawah-kelas bakteri.

Omong-omong, tulisan saya pun sempat dikata-katai, oleh seorang sosok yang cukup membuat saya segan hingga detik ini. “Saya nggak ngerti isi tulisan kamu, terlalu bertele-tele, boros kata,” ungkapnya tegas.

Dan, indeed, saya mengakuinya, walau setelah itu saya sempat mengalami writer’s block, malas makan, dan nggak mau ngapa-ngapain. Seperti biasa, ketika baru terhantam kritik, suasana hati saya mendadak memburuk. Mood naik-turun. Saya pun memilih untuk mendekam di sudut kamar, menghadap dinding, lalu mendengar lagu-lagu pengusung kesedihan. Tentunya, dengan tetesan air mendominasi mata-seperti biasa.

Waktu itu, perasaan saya berantakan. Rupanya, karya yang dikritik lalu dimaki itu, seperti hati yang baru dipatahkan, lalu dihancurkan berkeping-keping. Rasanya menyesak secara mendadak. Seperti digilas gerinda.

Lalu, sebagian batin saya berkata, “Buat apa sendu, saya itu saya, nggak perlu takut menjadi seorang saya yang bertele-tele dan rumit!”

Ya, itu dulu. Berbulan-bulan lalu.

Tapi, lama-lama, saya mulai jengah dengan rangkaian kata puitis: sastrawi pengusung deskripsi berlebihan yang tak masuk akal, antiefektif. Ya, itu tadi, bertele-tele, seperti yang biasa saya sisipkan dalam tulisan-tulisan terdahulu, yang dulu membuat saya optimis, sekarang membuat saya malu.

Entah kenapa, tiba-tiba saya jenuh membaca puisi yang terlalu puitis. Fiksi yang terlalu fiktif. Sastra yang terlalu mengumbar sastrawi. Cerita yang terlalu berputar. Bosan. Ya, itu tadi: jengah.

Saya cuma merindukan tulisan yang jujur, tanpa mengumbar rasa dengan kosa kata, namun tersirat jelas, dengan takaran pas dan tempat yang tepat. Mungkin saya hanya ingin puisi yang berisi.

Atau mungkin saja, saya cuma muak dengan ‘kisah’ yang bertele-tele. Pengumbar janji deskripsi atau esensi manis belaka, tapi tanpa isi. Tanpa hati. Tanpa ‘listrik’. Tanpa reaksi.

Saya hanya ingin rasa apa adanya. Ala kadarnya. Tanpa kerumitan dan bumbu berlebihan di sana-sini. Agar manis-asam-asin-pahitnya pas. Sesuai waktu. Sesuai tempat. Sesuai kapasitas.

Mungkin, tanpa saya sadari, saya hanya ingin jujur, sesuai takarannya. Tak berputar-putar. Tak bertele-tele. Tak membuahkan ambiguitas.

Itu saja.

Apakah saya masih terlalu puitis? 

-kandela-

#11: Tanpa Definisi

Jakarta, 16 Mei 2013,

Sekian banyak diksi yang beredar di Kamus Besar Bahasa Indonesia terbaru, belum ada satupun kosa kata yang dapat mendefinisikan rasa tak tersentuh indera ini:

1. Merindukan yang tak diinginkan; atau menginginkan yang tak dirindukan.

2. Tersenyum tapi pahit; menangis tapi bahagia.

3. Menyukai sosok yang menyakiti; menyakiti sosok yang menyukai.

4. Kisah manis yang berubah kecut, lalu menjadi pahit, tetapi adiktif untuk dikenang.

5. Memikirkannya hingga menjadi kosong; atau berpikiran kosong lalu membayangkannya.

6. Membuat melayang nan berbunga-bunga; lalu terjatuh-terperosok-terjerembab ke dalam jurang dalam.

Rasa campur aduk itu membentuk sebuah kontradiksi. Berlawanan. Saling bertolak belakang. Seperti kutub utara dan selatan. Layaknya medan magnet positif dan negatif.

Perasaan penuh kontradiksi ini tak pernah bisa saya temukan dalam kosa kata nyata, apakah dia cinta, benci, manis, pahit, sayang, suka, rindu, asam, perih atau diksi adjektif lainnya.

Jadi, bagaimana saya menyebutnya?

Namakan saja dia, rasa dengan ambiguitas tinggi. Atau lebih tepatnya: rasa tanpa definisi. 

“Tender is the night I’m laying by your side,
tender is the touch of someone that you love too much,
Tender is the day the demons go away,
Lord, I need to find someone who can heal my mind”
~ Blur – Tender

Dan, halo kamu, pembuat rasa itu.

Salam hangat dari saya.

-kandela-

#10: “D” for Deadline

Jakarta, 4 Mei 2013,

Jika ada orang bersorak-sorai karena hari Jumat telah tiba, maka sebaliknya untuk saya, yang memiliki tenggat waktu pekerjaan di akhir pekan. Cukup menyiksa, akibat manajemen waktu yang kurang terjaga dan minimnya fokus saat bekerja, ditunjang oleh faktor internal ataupun eksternal.

Tapi, tetap saja. Eksistensi deadline ini hadir untuk disyukuri. Untuk diberikan seutas senyum. Untuk dinikmati. Well, logisnya sih, tanpa deadline, saya, dia, mereka-mungkin termasuk kamu dan anda-ga akan merasakan artinya sebuah salary. Gaji.

Jadi, nggak ada salahnya, bila kali ini saya berbagi tentang beberapa hal yang saya senangi dari deadline pekerjaan-yang tak pernah ada matinya. 

1. Ada tujuan hidup saat malam tiba. FYI, saya adalah seorang perantau, jauh dari rumah, teman-teman, ataupun keluarga. So, apa yang saya miliki saat cahaya matahari memudar perlahan? Kamar kost, untuk beristirahat; dan kantor sorak sorai yang memiliki lemari es, komputer hingga televisi. Well, setidaknya, saya tahu apa yang saya lakukan di malam hari: mengerjakan deadline tulisan yang menumpuk.

2. Pembenaran untuk menyantap mi instan. Yeoup, dalam program mengurangi bobot tubuh-yang telah jadi wacana selama bertahun-tahun lalu-mi instan selalu menjadi pantangan. Bahkan, konon, makanan “karbohidrat” yang jauh dari sehat ini mampu mendekam di perut selama seminggu. Pencernaan bisa terganggu, dan lain sebagainya. TAPI, ya sekali-sekali kalau malam hari kelaparan, boleh kali ya makan mi barang semangkuk?

3. Kehadiran rekan menonton TV. Jujur saja, lantai 5 kantor saya tercinta ini cukup dipenuhi oleh “kisah” yang membuat bulu kuduk merinding. Anyway, saya sangat benci berada di kantor ini sendirian, meskipun dilengkapi oleh fasilitas televisi. Dan, ketika deadline, saya mendadak memiliki beberapa rekan kerja yang juga menyelesaikan pekerjaan hingga pagi menjelang, dan saya punya teman menonton televisi~

4. Karaoke Youtube. Salah satu guilty pleasure yang membuat saya betah mengerjakan deadline di kantor, ataupun menanti anak-anak artistik naik-cetak, adalah karaoke via youtube. Karaoke murah meriah, bermodal koneksi internet cepat, rekan bernyanyi yang tepat dan aksen pengganti mic seperti tempat pensil, botol, dan sebagainya. Selain bisa memuaskan sendiri, semoga saja bisa menghibur teman-teman sesama deadline-ers lainnya.

5. Datangnya ide-ide segar! Nggak hanya di dalam konten pekerjaan saja, terkadang ide-ide segar di kala pagi buta itu hadir bagi saya yang hobi menulis untuk diri sendiri. Semacam “pemanasan” menuju tumpukan pekerjaan yang menanti. Dan ajaibnya, it works! Berkat menulis untuk diri sendiri, saya jadi bisa lebih mendalami penulisan pekerjaan saya. Mengasah diksi lah ya~

6. Memiliki teman bincang di dunia maya. Percaya atau tidak, berkat deadline-bahkan dari zaman saya berkuliah di sebuah jurusan Desain-cukup banyak teman dunia maya yang saya dapatkan. Perbincangan menyenangkan menjelang pagi buta, saat otak tengah dikuras habis-habisan, menjadi satu hal yang saya butuhkan, dan Alhamdulillah, berhasil saya temukan.

Hal-hal tersebut merupakan beberapa kesenangan dari deadline yang saya rasakan akhir-akhir ini. Tanpa deadline, dinamika kompleksitas hidup pun rasanya akan datar-datar saja. Betul kan? Justru, tenggat waktu membuatnya sangat seru.

Yang terpenting, menikmati dan mensyukuri.

That’s it.

Salam hati dari rekan deadline saya: keyboard.

Salam hati dari rekan deadline saya: keyboard.

 

Selamat beraktivitas, para pekerja kreatif di pagi buta!

-kandela-

Dengan kaitkata