Monthly Archives: April 2013

#9: Ruby Sparks dan Pasangan Ideal

Jakarta, 11 April 2013,

Apa yang membuat saya tertarik menonton film ini? Pertama, karena menurut teman saya-Maria Jaclyn-film ini absurd. Aneh. Dan kedua,  karena di poster-poster yang saya lihat di lampiran Google, terpampang tulisan “Little Miss Sunshine” dengan cukup jelas. Ya, Jonathan Dayton dan Valerie Faris, pasangan yang menciptakan film drama-komedi untuk keluarga tersebut, menjadi orang-orang utama di balik layar film Ruby Sparks ini.

Dua bekal utama itu sudah membuat saya cukup penasaran dengan film ini. Well, terlebih lagi ketika saya menonton cuplikan trailer-nya di youtube. Lelaki berkacamata, novelis, dan dominasi interior putih yang memikat hati. Saya-banget! Alhasil, ketika ada waktu luang, film ini menjadi salah satu pilihan tontonan yang berkubang di hard disk external saya.

Film ini dimulai dengan hal-hal yang menggaet perhatian saya sejak awal: mimpi, mesin tik dan ruang kerja bergaya sangat urban. Memang, film yang dirilis tahun 2012 ini menceritakan kehidupan seorang novelis geek yang jenius, dengan dua sisi kehidupan yang sangat kontradiktif. Calvin Weirr Fields (Paul Dano) menjadi seorang penulis best-seller berkat karya perdananya, namun di sisi lain, ia juga tengah dilanda depresi tingkat tinggi akibat writer’s block 

Bahkan, karena hal itu pula, Calvin harus berkonsultasi dengan terapisnya, Dr. Rosenthal. Sang terapis pun menyarankan agar Calvin membayangkan seorang tokoh yang menyukai anjingnya-Scotty-seperti apapun anjing itu, meski sang peliharaan sering bertingkah seperti anjing betina.

Sejak saat itu, mimpi yang menjadi pembuka di film berdurasi sekitar 100 menit tersebut, semakin jelas. Tak samar kembali. Sosok wanita muncul dengan sangat jelas dalam imajinasi Calvin. Berambut merah, berwajah cerah dan selalu ceria. Mimpi tersebut menjadi inspirasi Calvin untuk membayangkan, menulis dan mendeskripsikan wujud khayalan yang ia namakan Ruby Sparks (Zoe Kazan) ini secara mendetail. Pasangan ideal bagi seorang Calvin, katakan lah begitu.

Magic happens sometimes, dan kali ini Calvin menjadi objek penerima keajaiban tersebut. Semua kata per kata tentang Ruby yang dirangkai dalam mesin tik putih itu menjadi nyata. Ruby Sparks adalah sosok yang eksis. Ada. Bukan maya. Sejak itu pula, konflik-konflik bermunculan satu per satu. Tentang Calvin yang tak memercayai keajaiban tersebut, tentang Ruby yang sangat sempurna di mata Calvin, dan tentang satu fakta: pasangan ideal tak selamanya menjadi ideal, karena sempurna itu bersifat relatif dan sementara.

Dalam film ini, banyak pesan yang masih bertengger dalam kepala saya, selain karena saya adalah seorang penggemar berat mimpi dan khayalan. Pesannya sederhana kok: nobody’s perfect in this world, bahkan hal itu berlaku pula pada sosok yang dikhayalkan menjadi sosok terideal di muka bumi. Karena apa? Manusia nggak pernah puas, sehingga sempurna itu menjadi bentuk yang relatif. Sempurna nggak harus cantik-ganteng-pintar-cerdas-berselera musik bagus-fashionable; dan lain sebagainya.

Jadi, sempurna itu apa?

Sempurna itu adalah saat sebuah kekurangan menjadi kelebihan. Menjadi sesuatu yang dirindukan. 

Sederhana, kan?

FYI, film ini saya rekomendasikan, bagi para penikmat film yang sangat mencintai mimpi, fiksi dan hal-hal imajiner. Dan juga bagi orang-orang yang bercita-cita menjadi seorang novelis-seperti saya.

Selamat menonton!

-kandela-

Iklan

#8: Kantor Jenaka

Jakarta, 10 April 2013,
Bisikan sering mampir ke telinga saya, terlebih saat saya memutuskan akan hijrah ke ibukota. Gerombolan frekuensi suara itu berbicara, “Hati-hati di Jakarta! Banyak orang nggak baeknya, persaingan pun berjalan saling sikut-menyikut!”. Alhasil, mendengarnya pun membuat saya merinding. Konon, kejadian di sinetron itu nyata. Drama, kejahatan emosi, serta kelicikan per individu, menunjukkan eksistensinya di kota seribu karakter ini.

Akhirnya, Februari tahun lalu, saya pindah ke kota yang tenar akan kemacetannya itu. Mendekam dalam sebuah jalan dengan cerita yang sangat sesuai dengan “nama”nya: Jalan Panjang.

Well, kantor saya ini agak ‘ajaib’ dibandingkan dengan kantor-kantor lainnya. Memang, kantor media itu ternyata sangat menyenangkan. Jenaka. Bikin betah. Terlebih lagi bagi kantor media special interest yang menuntut kedalaman penulisan terhadap satu bidang yang digeluti.

Apa saja yang membuat saya betah? Terlalu banyak! Mungkin bisa saya sebarkan di sini:

1. Nggak ada lagi yang bikin saya lebih betah, kalau rekan-rekan kerja saya ini nggak pernah eksis dalam dunia kerja saya. Atasan yang nggak memandang “kasta” jabatan bawahannya, rentang usia yang nggak pernah jadi masalah untuk berteman, hingga suasana redaksi yang menyerupai RUMAH. I do feel a home influence here, dude!

2. Kantin. Meskipun bosan, saya merasa kantin kantor saya ini seperti akuarium. Pameran kehidupan yang membuat saya adiktif untuk berada di dalamnya, walau hanya untuk sekadar menyeruput secangkir cappucino atau mencicipi teh tarik dingin racikan Tante Kantin. Istilahnya sih: menghangatkan badan dari AC yang menggila. Padahal, itu pasti hanya alibi.

3. Deadline per 2 minggu, ternyata mengubah ritme hidup saya secara total. Di Bandung, memang saya terbiasa menulis sehari satu artikel. But anyway, tingkat kesulitannya jelas berbeda: online dan cetak. Bahkan, menurut saya, media cetak-khususnya membahas sebuah bidang-membawa banyak tantangan. Yang sudah tercetak, nggak bisa ditarik ulang, bahkan sudah menggapai lapak-lapak di seluruh pelosok tanah air. Jadi, nggak heran bila saya belajar lebih teliti, antitypo, dan memerhatikan ulang cara penulisan ataupun angle yang saya tulis. Dan anyway, 2 minggu adalah waktu yang sangat “pendek” untuk bisa “bernafas”, meskipun hal ini ternyata sangat “nagih”.

4. Aktivitas harian redaksi, yang seringkali jauh dari sebuah kata “bekerja”, terutama bila sedang bisa bernafas barang sehari saja. Kegiatannya pun beragam, mulai dari memasak mie bersama, bermain bola, gossiping hingga karaoke labil. Anehnya, bikin kangen.

Intinya, saya sangat mencintai kehidupan saya sekarang ini, untuk pekerjaan yang menantang, untuk keluarga kedua yang selalu ada! Viva la Tabloid RUMAH~

*nb: ditulis saat sedang menanti waktu-waktu naik cetak ❤

Semangat Geng!

-kandela-

#7: Dalam Keadaan Berantakan

Jakarta, 4 April 2013,

Berantakan. Berserakan. Acak-acakan.

Seperti baru memasak, mencampuradukkan hati-pikiran-perasaan dalam sebuah mangkuk raksasa, lalu berada di dalamnya. Di tengahnya. Benar-benar tengah, tak lebih sesenti. Tak kurang sesenti.
Tapi bedanya, ketika dicicipi, padanan rasanya tak sedap sama sekali.
Ya itu dia, berantakan. Acak-acakan. Random.
Terlalu manis. Terlalu pedas. Terlalu asin. Terlalu asam. Terlalu pahit.
Tidak ada rasa yang mau mengalah, semua dominan, ingin agar eksistensinya ada di permukaan indra. Semua ngotot, ingin jadi pemenangnya.
Dan saya-yang ada di dalamnya-tengah dilanda mabuk darat. Mabuk rasa. Pusing. Mual. Muntah.

Karena berada di sana, membuat saya tak karuan. Merasakan dengan otak. Berpikir dengan hati. Otak di dada. Dan hati di kepala.

Apa jadinya?

Ya, seperti sekarang ini: berantakan.  

-kandela-

#6: Menjadi Jujur atau Kritis?

Bandung, 1 April 2013,

Pagi ini, saya kembali menemukan sebuah bacaan mengagumkan, yang saya dapatkan secara random dalam aplikasi wordpress ini, meski sebenarnya saya tak mengenalnya sama sekali. Blog itu saya temukan pada alamat http://luapkanlupa.wordpress.com/. Jujur saja, blog ini menarik banget dan cukup menggugah, tentunya. Banyak kritik sosial yang berseliweran dalam padanan kata milik pria entah berantah ini.

Salah satu quotes yang sangat saya ingat ada dalam tulisan berjudul “Ini Soal Karya, dan Benar-Benar Signature”: Tidak perlu memiliki pikiran dengan membicarakan tema ini akan mengangkat derajat intelektualitas maupun meningkatkan citra diri dengan maksud terlihat lebih hebat, kalau tidak menguasainya apa bedanya dengan omong kosong? 

Ceritanya, kala itu Sang Penulis-Agung Rahmadsyah-sedikit memberi saran bagi seorang fotografer, yang karyanya terpajang di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta.

Saya tertegun saat membaca quotes tersebut. Memang, akhir-akhir ini, berseliweran praktisi diksi yang mengeluarkan istilah-istilah rumit, entah mungkin mereka benar-benar pintar, atau hanya ingin terkesan cerdas. Saya banyak menemukan kasus-kasus tersebut, pun sebenarnya, mungkin saya juga masuk dalam kategori tersebut: ingin tampak keren. Padahal, mungkin saja, sebagian dari mereka tak benar-benar memahami definisi istilah atau bidang bahasan yang mereka torehkan.

Memang, semua kembali lagi pada citra. Eksistensi. Penilaian masyarakat. Kalau diibaratkan sih, biar lebih banyak followers-nya dalam sebuah tajuk jejaring sosial.

Sejak saya bekerja di Jakarta-yang konon mengusung kekerasan dunia serta banyaknya topeng berseliweran di dalamnya-saya mengambil satu kesimpulan: menjadi diri sendiri itu lebih menyenangkan. Nggak harus terlihat pintar. Nggak harus tampak eksis. Dan, nggak harus berpura-pura jadi sosok charming serba bisa.

Cukup menjadi jujur: saya nggak pintar, saya nggak terlalu eksis, dan saya juga nggak bisa  multi-tasking. That’s it! Nggak akan ada orang yang mencerca saya karena hal-hal tersebut. Yang saya butuhkan, hanya beberapa cara untuk tetap bertahan di Jakarta: rajin, tepat waktu dan mau berusaha.

Sama halnya dengan: saya lebih memilih sneakers daripada heels ataupun wedges dalam keseharian saya, karena saya lebih nyaman menggunakannya. Dan, saya nggak mau bohong dan menggunakan sesuatu yang tak membuat nyaman, cuma untuk terlihat cantik. 

Pun begitu adanya dengan karya.

Saya, nggak cukup berani membahas sesuatu yang belum saya pahami benar. Belum “sejiwa”. Belum seperti saya.

Saya nggak ingin menulis tentang politik, karena, meskipun saya sangat gemar membaca Majalah Tempo, dan terkagum-kagum atas kemasan jurnalisme sastrawi dalam setiap beritanya, tapi banyak yang belum saya mengerti dalam dunia politik. Bahkan, kalau boleh jujur, perihal regulasi dan undang-undang merupakan beberapa objek yang membuat saya bingung.

Saya juga nggak ingin menulis tentang agama dan permasalahan yang berkutat di samping kiri-kanannya. Karena apa? Saya masih “belajar”, banyak hal dan penafsiran yang belum saya ketahui secara menyeluruh. Lagipula, bila saya menulis tentang agama, maka kemungkinan, saya tak akan menuliskannya secara objektif, berhubung saya memeluk salah satu agama yang saya percayai. Selain itu, penafsiran dalam bidang agama, seringkali menimbulkan perpecahan. Jangankan berbeda, orang berkeyakinan sama pun bisa saling bertengkar, hanya karena beda penafsiran. Toleransi memang sudah memudar. Dan kini, jejaring sosial banyak menggenggam peranan dalam perselisihan tersebut. Twitwar, well yeah, saya bingung ada orang yang adiktif terhadap hal tersebut. So, ya sudahlah. Perihal agama dan keyakinan itu jadi urusan masing-masing, bukan jadi ajang pameran, ataupun debat, karena hal tersebut tak akan pernah mendapatkan titik temu. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.

Lantas, apakah saya nggak ingin menjadi kritis? Nope, bahkan sesuai profesi yang tengah saya geluti, saya harus menjadi seorang kritis. Tajam dalam perihal penganalisaan. Tapi, untuk diri saya pribadi, saya cuma nggak mau jadi sosok kritikus atas sesuatu yang belum saya pahami. Saya pun berusaha menjauhkan cercaan-nyinyiran-sindiran tajam terhadap sesuatu, yang mungkin tak sesuai selera saya. Karena, nilai jujur dan kritis harus pula direndengi oleh satu poin: toleransi.

Jadi, demi mencapai kejujuran ketika menulis, objek yang akan saya tulis adalah hal yang sangat saya pahami: diri saya sendiri, mencakup pengalaman sehari-hari, pandangan mata, mimpi, serta penorehan imajinasi.

Karena apa? Karena, yang terpenting adalah berkarya untuk diri sendiri, bukan untuk tujuan pencapaian materi ataupun eksistensi. Kalau “listrik” dari hati mengalir dalam setiap karya, apapun bentuknya, “listrik” tersebut akan dapat terus sampai pada para penikmatnya kok.

Dan, itu saja sudah cukup.

-kandela-