Monthly Archives: Maret 2013

#5: SORE, Pembuat Kuping Gila

Bandung, 30 Maret 2013,

Saya lupa, kapankah pertama saya mendengar nada-nada menggila dari band bernama SORE ini. Yang pasti, saya langsung terdiam, terbujur kaku, sekaligus terharu, kali pertama saya menyaksikan penampilan Ade Paloh and friends di Pasar Seni ITB tahun 2006. Kalau nggak salah ingat, tembang “Mata Berdebu” berhasil memaksa jantung saya untuk berdetak kencang. Relaxing, much-much! Benar-benar pantas mewakili kata “sore” yang selalu identik dengan langit jingga serta matahari yang ingin tertidur pulas.

Sejak itu pula, saya seakan tersihir untuk semakin menggilai karya-karya para musisi asal ibukota ini. Tergerak untuk memendam satu niat: saya harus menonton penampilan live mereka dengan mata kepala saya sendiri – lagi dan lagi dan lagi.

Lantas, kali kedua saya menonton SORE kembali, adalah pada tahun 2008, ketika album Ports of Lima diluncurkan di Opulance Lounge, Bandung. Walhasil, meskipun baru tembang “Setengah Lima” saja yang bertengger di chart radio saat itu, seluruh lagu mereka – lagi-lagi – berhasil menyita perhatian, tak hanya bagi saya, tapi bagi semua pengunjung acara yang berasal dari beragam latar belakang. Yes, kami terhenyak selama kurang lebih 2 jam dalam bangunan di bilangan Dago tersebut.

Menurut saya secara pribadi, tak hanya nada-nada cerdas saja yang ditampilkan dalam setiap tembangnya. Sore Ze Band sangat pandai mengolah harmonisasi tersebut dengan padanan lirik yang tak kalah pintar. Pun beranalogi, seakan berpuisi. Nggak salah bila semua lagunya selalu mengena di hati.

Selain lagu-lagu berbahasa Indonesia, saya pun sangat mengidolakan tembang berbahasa asing, seperti “No Fruits for Today”, serta sebuah tembang super-manis berjudul “Silly Little Thing”, yang dinyanyikan bersama musisi Malaysia, Atilia Haron.

Terakhir, saya menonton live performance Sore secara langsung, ketika acara Radioshow digelar di Pasar Festival, Jakarta. Dan, lagi-lagi, saya terkagum-kagum melihat penampilan mereka, dengan permainan bertangan kidal seperti biasa, dengan menebarkan “rasa” dalam setiap lagu, dengan segala sesuatu yang tetap membuat kuping saya menggila. Tergila-gila.

Well, isu mengenai bubarnya Sore pun merebak kala itu. Namun, simpang siur itu pun terpecah sudah, dengan munculnya single terbaru – meskipun tanpa Ramondo Gascaro. Single yang dipublikasikan melalui soundcloud beberapa hari lalu ini, berhasil memukau telinga para pendengarnya, termasuk saya. Tembang berjudul “Sssst…” ini kembali membuat kuping saya tergila-gila. Eargasm, demikian istilah anak masa kini.

Penasaran? Berikut lirik “gila” dari lagu “gila” ini:

Dan ku tau kau tak pernah bilang gila, dan tak pernah kau ku tau bilang gila, namun kau tak juga pernah bilang gila, tak kan pernah, tak kan pernah hilang jiwa,

Diantara sejumlah bilang yang mengila, disamping kawan, jangan kau buang yang merasakan berjiwa, disamping lawan..

Dan sekarang semua rasa sudah gila, dan gilapun merasakan punya jiwa, namun kau tak pernah juga bilang gila, tak kan pernah tak kan pernah hilang gila

Dan ku harap menjadi bagianmu, ku bisa gila tak berharap, dan ku harap menjadi harapanmu, ku bisa gilaaa..

Untuk mendengarkannya, lagu ini bisa didownload via iTunes, ataupun sering-sering berkunjung ke akun soundcloud berikut: https://soundcloud.com/satriaramadhan-1/sssst/s-iSFv1

Bagi yang sudah mendengarkan, dan merasa tergila-gila juga dengan lagu ini, berarti kita tengah dilanda virus eargasm yang sama.

Selamat menikmati!

-kandela-

Iklan
Dengan kaitkata , ,

#3: Memori

Bandung, 18 Maret 2013,

Satu hal yang paling saya senangi dalam kehidupan manusia adalah memori. Ingatan. Kenangan. Mungkin, terkesan saya adalah sosok – yang menurut anak muda masa kini – anti move on. Tapi bukan itu masalahnya. Memori; berarti cerita yang telah terjadi, tersimpan dalam arsip berharga dalam organ manusia yang luar biasa: otak. Baik itu sedetik yang lalu, sejam lampau, ataukah bertahun-tahun silam. Tak pandang bulu; semua namanya: memori.

Lantas, kenangan manakah yang paling saya senangi? Saya favoritkan?

Semuanya. Baik itu indah ataupun pahit. Karena, setiap kejadian di dunia ini adalah aksi-reaksi. Pelajaran. Pengalaman. Jadi, saya tak ingin memilah ingatan, berdasarkan yang manis atau perih. Because you wouldn’t be that happy if you haven’t met the sad part yet. 

Dalam posting kali ini, saya ingin berbagi beberapa foto yang menggambarkan beragam kenangan manis bersama orang-orang yang sangat saya rindukan akhir-akhir ini. Teman-teman di masa kuliah: teman travelling; sahabat melantai; rekan seperjuangan dipersalahkan dosen; kawan baik saat senang atau sedih.

Seperti apa mereka?

ImageImageImageImage

Image

Sekarang, kami semua sedang jarang bertemu, mengingat masing-masing dari kami sudah menjalani kesibukan di jalannya sendiri-sendiri. Ada yang sudah menikah, memiliki buah hati, dan bahkan bekerja di luar pulau Jawa.

Ini ya rasanya merindu: lucu; pahit; senyum-senyum sendiri; tapi sesak.

Hmmm…

Saya hanya bisa berdoa satu hal: semoga kita semua sukses dan bahagia bersama. 

Take care there, love~

XOXO

-kandela- 

#2: Embun Pagi

Jakarta, 17 Maret 2013,

em·bun n 1 titik-titik air yg jatuh dr udara (terutama pd malam hari); 2 uap yg menjadi titik-titik air; 3 Metendapan tetes air yg terdapat pd benda dekat atau di permukaan tanah yg terbentuk akibat pengembunan uap air dr udara di sekitarnya;

Diksi “embun” ini memang lucu. Dia bukan cuaca. Bukan iklim. Bukan bagian dari hujan. Sebenarnya, bahkan kata “embun” ini merupakan bagian dari pelajaran Fisika, yang sering menjadi momok bagi para murid-murid di bangku SMA. Embun sendiri merupakan hasil dari peristiwa perubahan wujud dari gas menjadi cair, karena gas tersebut melepaskan kalor.

Dari kemarin, saya memerhatikan jalanan di Jakarta – tempat saya bekerja. Istilah “embun pagi” ternyata cukup tenar dalam ranah transportasi umum, seperti angkot, mikrolet, bis, kopaja ataupun metromini. Gabungan kata “embun pagi” pun kadang tersurat dalam bahasa lain, seperti “mbuah page” dan sebagainya.

Ada apa dengan embun pagi? Mengapa benda ini begitu populer? Mengapa istilah ini begitu dirindukan?

Setelah saya ingat-ingat, saya sudah jarang bertemu dengan makhluk-makhluk fenomena alam yang hanya datang di pagi hari ataupun hari hujan ini. Terlebih, kala saya merantau ke ibukota. Saya jarang menemukan embun di kaca jendela, ataupun kabut yang menghalau pandangan saya ketika pagi menghampiri.

Mungkin, embun pagi adalah salah satu hal yang dirindukan. Sama seperti karakter manusia yang sebenarnya dirindukan oleh para perantau ini: embun yang merupakan hasil dari pelepasan kalor, sama seperti manusia-manusia yang mampu melepaskan emosi. Makhluk yang menempatkan hati dan logika, dibandingkan nafsu yang berbicara. Menenangkan. Menyegarkan.

Mungkin, mereka hanya rindu hal itu.

Sama seperti saya.

Salam hangat bagi para perantau di ibukota.

-kandela-

#1: Cukup

Jakarta, 11 Maret 2013,

Sudah bertahun-tahun saya setia dengan blog “serba-hujan” saya tercinta, lantas kenapa saya mendadak ingin berpindah? Apakah saya sudah tidak lagi menjadi sosok manusia Planet Hujan, yang selalu mengundang rintik air cantik itu saat bertemu dengan sesama penghuni Planet Hujan lainnya?

Ataukah saya sudah bosan untuk berjalan sendirian di tengah derasnya hujan, saat berpayung atau tak berpayung?

Ataukah, saya sudah resign dari kontrak sehidup semati dengan titik-titik air tersebut? Sudah menyalahi aturan perjanjian yang telah disepakati dalam lapisan dimensi khayal saya yang kesekian kali?

Hmm…

Tidak sih.

Saya hanya ingin sedikit menaruh memori yang menggerogoti nama “hujan” dalam lapisan terbawah lemari ingatan. Seperti parasit. Seperti virus. Seperti penyakit.

Just one word: enough. 

-kandela-