(Kembali)

Lalu, saya merasa berdosa karena telah (kembali) berselingkuh dari WordPress ke Instagram.

Lantas, setelah beberapa lama, saya (kembali) merindukan penulisan panjang di halaman ini.

Mungkin, saya-kamu-kita, cuma butuh pergi untuk beberapa lama, untuk (kembali) mengecapi manisnya rindu.

Ah. Manusia. Hanya butuh pergi, butuh berkelana, butuh berpelesir ke sana ke mari, untuk kelak pulang kembali.

Bandung, 17 April 2016, 02.40 AM.

Iklan

Maaf, Saya Benci Orang Congkak

Jakarta, 26 Oktober 2015,

….

And do not walk upon the earth exultantly. Indeed, you will never tear the earth [apart], and you will never reach the mountains in height.

(Al Isra : 37)

….

Suatu ketika, saya pernah mendengar seorang kerabat berkata, “Kenapa Tuhan menciptakan dua telinga dan mulut satu? Agar kita lebih banyak mendengar, daripada berbicara. Walaupun kenyataannya, lebih banyak orang yang bicaranya tinggi, tanpa mendengarkan orang lain”. Hal itu tertanam pekat dalam otak saya, bahwa seorang manusia harus tetap menjaga ucapannya. Menjaga hatinya.

Well, hal ini mengingatkan saya pada beberapa kalangan yang (mungkin) pernah merasakan ada di “bawah”, jobless, enggan melanjutkan pendidikan, dan lain sebagainya; tapi ketika sudah (merasa) berada di puncak karir, dagunya langsung meninggi. Mendongak terus ke atas. Dan, akhirnya, menganggap “kecil” orang-orang di sekitarnya. Padahal, posisi yang mereka dapat sekarang (sebenarnya) berlandaskan unsur nepotisme besar-besaran.

Dan, FYI, saya dapat berita tentang orang-orang congkak ini bukan semata-mata penglihatan subjektif saja, kok. Banyak pihak yang bercerita A, bercerita B, bercerita C, tentang congkaknya orang-orang ini.

Cih! Am feeling disrespectful to those disgusting people!

Dan, kalau boleh jujur, menurut saya, orang-orang semacam itu malah enggak ada harganya sama sekali. Kalau diibaratkan, jika di sebuah toko “barang” semacam itu diobral pun, enggak ada orang yang mau “membeli”-nya. Nol rupiah!

Dulu, saya kira orang-orang congkak semacam itu–yang seperti kacang lupa pada kulitnya–hanya ada di cerita sinetron saja. Nyatanya, orang-congkak-yang-entah-kenapa-mereka-merasa-sombong-padahal-mereka-sama-sekali-enggak-punya-apa-apa-untuk-dibanggakan benar-benar ada di muka bumi ini. Menampakkan diri dalam wujud manusia yang berseliweran di lingkungan saya terdahulu.

Atau, mereka mau adu kesombongan? Yakin, mau adu sombong sama saya, bray? Kalah telak lho nanti! (Terus, aing jadi harus sombong juga gitu? Ya enggak lah!)

Ya. Orang-orang macam mereka memang lebih baik di-flush dan dibuang ke septic tank saja. Dibersihkan habis-habisan di sana. Biar enggak bikin bumi semakin tercemar lagi. Biar enggak bikin tambah polusi.

Oke. Maaf. Ini namanya curhat.

….

“Oh, mereka tinggal di kontrakan? Bedeng, maksudnya?” “Bukan, kontrakan beneran rumah kok!” “Iya, kontrakan petakan kan? Bedeng itu, sama aja!”

“Mau ngasih makan apa dia? Mending urusin dulu keluarganya deh! Keluarganya yang enggak mampu itu!”

Oke, bray, lebih baik, sebelum lo semua ngomong ketinggian–seolah-olah lo manusia tersempurna di jagat raya–mendingan pada ke toko kelontong deh beli cermin dulu. Lihat kehidupan lo yang udah-udah, beneran udah pada sempurna, belum? Udah pada punya rumah dari kocek sendiri, yang mewahnya kaya rumah di sinetron-sinetron? Kalau belum, sebelum ngomentarin orang lain, mendingan lo perbaikin dulu lah hidup lo. Get a life, oke bray?!

Dan, semoga saya-kamu-kita semua bisa tetap menjadi orang membumi, yang enggak akan lupa, kalau saya-kamu-kita adalah manusia yang masih berpijak di tanah. Dan kelak, akan kembali ke tanah.

Amin.

….

-kandela-

Karena Ini Menjelang Pagi dan Kamu Masih Tertidur Lelap

Jakarta, 8 Oktober 2015,

“Maaf aja, aku mah lebih baik pahit di depan, manisnya belakangan. Dari pada sebaliknya.”

“Iya. Aku juga gitu, kok. Enggak butuh yang terlalu manis di depan. Giung, kalau kata orang Sunda mah.”

“Emang kamu mau, susah dan pahit kaya begini?”

“Mau. Kamu mau, ditemenin susah dan pahitnya bareng aku?”

“Mau.”

***

Saya jadi terbayang akan rasa kopi yang kamu senangi–yang sampai saat ini, belum bisa saya racik secara pas, secara tepat. Dua sendok kopi. Satu sendok gula. Airnya, sedikit saja. Panas semua. Diracik dalam sebuah cangkir kecil. Mungil. Katamu, biar kentalnya, rasa kopinya, rasa pahitnya, lebih terasa lekat di lidah.

Ya, mungkin itulah nikmatnya menyesap secangkir kopi. Dan mungkin, bagimu, ditambah lagi dengan sebatang rokok kesukaanmu. Pahit di awal, namun terasa nagih setelah menjelajahi titik-titik lidah perasamu.

Pun, hal itu lah yang membuat saya membuka kembali buku memori, mengingat bahwa kamu pernah berkata sama seperti rasa pahitnya kopi: pahit di awal, lalu berbuah manis. Berbuah euforia.

Memang, kita–saya dan kamu–sama seperti rasa kopi favoritmu: memulai semuanya dengan perasaan yang pahit. Kamu, yang merasa pahit akan keadaan saat itu; dan saya, yang merasa pahit dengan kemungkinan A, kemungkinan B, kemungkinan C, yang akan datang di kemudian harinya. Kamu, yang ditinggalkan; dan saya, yang takut ditinggalkan. Dan, akhirnya, kamu, yang mengikhlaskan; dan saya, yang belajar merelakan.

Tak jarang, saat itu, kamu berkali-kali ingin pergi; dan saya, berulang kali ingin menyerah. Kamu, yang pernah menyuarakan sentak; dan saya yang terdiam, dan membuat kawanan saya–gerombolan air mata–keluar serentak. Tapi, selalu, semua itu berakhir dengan satu kata: maaf.

Mendadak, saya teringat akan pernyataan dari salah seorang teman: Mungkin, kita itu sudah dikasih banyak jodoh sama Tuhan. Cuma, manakah yang benar-benar “the one”-nya kita, adalah yang sama-sama mau berusaha. Sama-sama mau menerima. 

Ya. Dari semua pahit itu, kamu yang selalu tak mau beranjak. Kamu yang enggan menyerah. Kamu yang selalu mau menerima. Pun, kamu yang membuat saya percaya, bahwa kamu, bahwa saya, bisa melewati setiap jengkal rasa pahit itu, bersama.

Dan, karena itu pula, saya masih ingin memelukmu seperti ini sampai 50 tahun lagi. Dan 50 tahun setelahnya lagi. 

Kamu mau, kan?

***

“Udah, kamu mah di Bandung aja, enggak usah ikut susah sama aku. Aku di sini aja dulu sampai bisa ngebahagiain kamu.”

“Enggak mau.”

“Kenapa? Kan kalau di sini kamu jadi ikut susah?”

“Kan, seperti kata kamu, pahit di awal, jadi nanti, manisnya lebih terasa. Dan aku enggak mau ninggalin kamu karena rasa pahit itu. Karena nanti, aku enggak mau melewatkan rasa manis yang mungkin enggak akan dirasain sama orang lain,”

“Sungguh?”

“Sungguh!”

“…”

“…”

***

#NowPlaying: Anda Perdana – Dalam Suatu Masa

🙂

-kandela-

Hari #2: Karena, Kenangannya Kurang Banyak

Suatu Tempat, 15 Agustus 2015,

You’ll never know what you’ve got ’till it’s gone (or ’till you’ve gone, maybe?)

Yeoup! Kutipan kalimat di atas adalah sebuah quote sejuta umat yang diusung oleh para kaum anti-move on; penyesal; dan pecinta masa lampau. Biasanya, kutipan ini berkumandang kencang ketika seseorang sudah melepaskan sesuatu, lantas ia menyesal hebat karenanya. Karena ia tidak pernah menghargai segala sesuatunya, ketika hal tersebut masih ada, masih menunjukkan eksistensinya.

me·nye·sal v merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dsb) krn (telah melakukan) sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb)

sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Whoops!

Tapi, sepertinya, saya enggak terlalu setuju dengan definisi yang diungkapkan di atas. Perasaan sesal atau menyesal belum tentu lahir karena sesuatu yang kurang baik. Bisa jadi, perasaan itu tumbuh karena beragam alasan–mulai dari belum cukupnya waktu yang dihabiskan bersama; belum banyaknya jumlah kata yang ingin terucap; hingga jauhnya jarak yang memisahkan satu pihak dengan pihak lainnya.

Jika ditanya, apakah hal yang saya sesali akhir-akhir ini?

Bukan, bukan karena keputusan penting menyangkut sebuah hal pribadi, yang telah saya pilih untuk saya jalani. Bukan, bukan karena tanggung jawab baru yang kian membebani. Bukan, bukan karena anugerah yang diberikan Tuhan, tentunya.

Ya, saya cuma menyesali relativitas waktu yang berjalan begitu cepat. Begitu kilat. Hingga akhirnya, semua momentum itu saya lewati dalam detik sekelebat.

Lalu, saya–yang kini tak berada dalam momentum itu lagi–merasa ingatan tentang hal ini, hal itu; tentang kalian, mereka; tentang kamu dan kamu, dia dan dia; kurang banyak, kurang berlimpah, kurang lama.

Dan, rutinitas itu kian berganti, dari aktivitas kantoran–datang pukul 9.30 pagi; sarapan lontong isi dengan bumbu kacang; mulai berselancar di dunia maya; membuka Ms. Word dan mengisinya dengan judul yang dikarang-karang; makan siang pukul 12 siang; bercengkerama dengan teman seruangan; heboh mencari ojek dan mengejar objek liputan; minum teh tarik sore-sore sambil bergunjing hangat; lalu menunggu waktu pulang dengan menyicil pekerjaan dan mengontak narasumber–beralih menjadi seorang pencari channel televisi. Pencari acara penghibur di sana. Penyimak isu selebriti yang hangat di layar kaca.

Ketika itu pula, rasanya saya menyesal, waktu saya tak cukup banyak di sana. Relativitas waktu tak berjalan cukup lama di sana. Dan, saya terlalu gemar mengisinya dengan keluh kesah. Ya, saya menyesal, karena ternyata, saya begitu mencintai rutinitas saya.

Dan, rasanya, intensitas kenangan di sana masih kurang banyak. Kurang lekat.

🙂

IMG-20150703-WA0038

IMG-20150730-WA003020150703_181455

Now playing:
Nosstress – Kita.

Saat berpegangan akan lebih kuat kau berdiri.
Walau hanya satu kaki.
Saat berbagi menjadi hal yang sangat dinanti.
Aku, kamu, dan teman-temanmu.

Hari ini kita bertemu, mungkin besok kau jadi temanku.
Sekadar pertemuan tapi bukan itu yang kuharap.

Senyuman adalah letusan.
Kayuhan menjadi penentu.
Jalan hidup di hitamnya dunia.
Dan pertemuan ini jadi inspirasi antara ku dan masa depanmu.

Apa yang kudapatkan tak seberapa.
Maka yang kuberikan memang hanya sederhana.
Dan semoga saja kau tak akan lupa tentang kita.

-kandela-

Hari #1: Tentang Jarak, Tentang Rindu

Tangerang Selatan, 11 Agustus 2015,

Jarak-spasi-ruang itu ada, memberi kesempatan bagi rindu untuk bernafas, untuk bernyawa, untuk menunjukkan keberadaannya.

Rasanya, bukan kali pertama ini saya membahas tentang hubungan antara jarak dan rindu. Tentang  bagaimana mereka saling menciptakan, saling membutuhkan, saling melahirkan. Pasalnya, beberapa tahun ini, saya memang terpisah 120 sekian kilometer dari kota yang saya sebut: rumah.

Namun, belakangan ini, sejak hal A, hal B, hal C terjadi secara bertubi-tubi–seperti bom tersembunyi yang siap meledak dalam rentang waktu tertentu–rasanya sebuah jarak akan terbentang luas kembali dalam setiap lini kehidupan saya: keluarga-pertemanan-pekerjaan.

Pasca terbentuknya jarak, mungkin saya akan seperti seseorang yang mengalami konsep reinkarnasi, konsep terlahir kembali. Menjadi seorang yang baru, yang memiliki kehidupan baru, yang akan meninggalkan rutinitasnya yang sudah terbentuk selama hitungan tahun.

Mengenal jarak yang akan lahir inilah, rasanya sebuah perasaan menyesak mulai terbangun menggeliat. Menyesak karena tahu berbagai kemungkinan yang akan terjadi: kemungkinan dia akan mencibir, dia yang lain akan menjauh, dia yang lainnya akan berbeda, dia yang satunya lagi akan menganggap rendah, dia yang satunya pun akan menghindar perlahan, menjadi kumpulan kasak-kusuk di belakang.

Dari dalam sanalah, ia–sang perasaan sesak–bergerak perlahan, menaik-turunkan suhu tubuh yang terukur dari genggaman tangan, menggelitik bibir untuk tersenyum pahit, membuat wajah memerah hebat, lantas mendorong bulir-bulir air keluar dari rumahnya–kelopak mata.

Karena, pada akhirnya, mereka–dia, dia, dan dia–akan berjarak sangat jauh-jauh-jauh sekali, menyerupai sekian puluh ribu kilometer, dalam kecepatan sekian tahun cahaya.

Dan, fakta itulah–fakta bahwa kelak mereka akan menjauh, menyamar, lantas menghilang–yang membuat rasa rindu yang baru seumur jagung ini makin menjamur, makin meluas, makin membesar, tanpa diminta, tanpa kenal batasnya.

🙂

-kandela-

Dengan kaitkata ,

Melankolia Rutinitas

Jakarta, 21 Mei 2015,

Alah bisa karena biasa.

Memang, kebanyakan orang mengamini peribahasa ini, peribahasa yang berarti: jika telah terbiasa, setiap pekerjaan pun akan menjadi mudah. Ya, terasah karena rutinitas, karena kebiasaan, karena telah dilakukan berulang kali, hingga fasih, hingga khatam, hingga benar-benar ngelotok dalam dan luar kepala.

Namun, sepertinya, tak semua peribahasa berlaku sama pada setiap orang yang berbeda. Salah satunya, saya. Orang yang sudah mulai menekuni bidang tulis-menulis selama hitungan tahun. Yang sedang mencari jati diri, dengan mempelajari cara menulis ini, menulis itu, dan menyadari, bahwa saya sangat mencintai dunia tersebut sepenuhnya.

Ingatan saya jadi melambung jauh ke masa lalu, ke masa-masa di mana saya masih berbalut seragam putih abu. Masa-masa di mana saya masih mengidolakan sebuah bidang perkuliahan yang terhitung cukup berbeda dengan latar belakang keluarga saya. Bahkan berbeda jauh dengan hobi saya kala itu.

Kala itu, saya bertanya kepada seorang teman, yang kebetulan baru memasuki bidang perkuliahan tersebut, di sebuah kampus ternama di Kota Bandung.

“Eh, masuk jurusan XXX kayanya seru ya, iri deh lo masuk sana!”

“Percayalah, Neu, ketika lo udah berada di dalamnya, enggak seseru itu lagi deh!”

“Masa iya? Kan keren aja gitu, kuliahnya kayaknya artsy banget!” (Dahi berkerut, dengan muka tak percaya)

“Beneran deh! Enggak sefenomenal itu. Nanti, ada titik-titiknya lo ngerasa jenuh, ketika hobi yang lo anggap keren itu menjadi sebuah rutinitas. Sebuah kewajiban pengejar nilai.”

Ya, ucapan sang teman seperti tersimpan apik dalam ingatan saya, dan kadang-kadang membandel menyeruak membisikkannya ke gendang telinga. Memaksa saya untuk mengingatnya lagi. Untuk mengiyakan pernyataan sang teman.

Memang, setelah saya bertahun-tahun mengidolakan jurusan tersebut, akhirnya, pada tahun 2005, saya berhasil memasukinya, meskipun bukan di kampus negeri yang saya impikan sejak bocah.

Well, empat setengah tahun saya berkuliah di sana, rutinitas memang berhasil membunuh saya. Membunuh kecintaan saya akan dunia yang pernah saya anggap keren. Dunia yang pernah saya idamkan. Saya impikan. Membuat bisikan di gendang telinga saya berteriak semakin kencang: mungkin, ini bukan tempat yang tepat, Kandela. 

Lantas, cita-cita saya–yang semula menjadi seorang desainer–memudar perlahan. Terutama, sejak saya menyadari, bahwa dari segi skill dan kemampuan, saya sudah tertinggal jauh dengan teman-teman sekitar. Bahwa saya, terlalu malas untuk mengasahnya. Untuk menjadikan peribahasa itu nyata: alah bisa karena biasa.

Alhasil, beberapa bulan saya menganggur, saya seperti kehilangan identitas. Kehilangan cita-cita. Jujur saja, di tahun-tahun itu, saya–yang mulai cemas karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan–mulai melamar semua jenis profesi yang ada di sebuah situs: mulai dari marketing, desainer grafis, karyawan televisi, hingga freelancer di Event Organizer.

Perburuan itu berhenti ketika akhirnya saya mulai menyadari, saya enggak bisa melepaskan satu hobi “dasar” yang sudah saya lakukan sejak kecil. Ya, menulis, mengkhayal, merangkai kata, merupakan hobi yang nyaris terlupakan. Nyaris ditinggalkan. Nyaris menjadi fosil berjamur.

Berawal dari pekerjaan sebagai content writer di sebuah situs yang kini sudah bertitel “mendiang”, saya mulai mencintai profesi baru ini secara perlahan. Mulai belajar mencari berita, melihatnya dari berbagai sudut pandang, dan berlatih merangkai diksi dengan harmonis.

Bahkan, saking cintanya, saya rela mengorek kocek lebih hanya untuk mempelajari proses penulisan feature secara mendalam di sebuah lembaga pelatihan jurnalistik ternama.

Saat itu, peribahasa alah bisa karena biasa masih berlaku. Lambat laun, saya mulai fasih menuliskan diksi-diksi tersebut, merangkaikannya ke dalam sebuah artikel, essay, hingga tulisan fiksi–yang biasa saya torehkan dalam blog. Terutama, ketika awal-awal saya bekerja di tempat saya mendekam sekarang. Ya, bisa dibilang, itulah masa-masa keemasan saya. Masa-masa ketika otak saya masih cukup brilian, dengan bisikan gundah yang enggan lagi mampir dan menggema.

Namun, sekali lagi, sepertinya rutinitas–dan kebutuhan akan materi, tentunya–kembali menjadi pembunuh ulung bagi cita-cita saya. Bagi hasrat terpendam saya. Di tahun ketiga saya bekerja di sini, gundukan emas yang mengisi penuh otak saya sepertinya sudah berkarat. Berubah warna menjadi batu kali hitam pekat, yang membuatnya bebal dan enggan bergerak. Saya tak sebrilian itu. Saya tak secerdas itu. Saya tak sebertalenta itu.

Alah (justru tidak) bisa karena biasa. Ya, tangan saya rasanya enggan menari-nari bebas di atas tuts-tuts hitam lagi; otak saya enggan berkhayal, berputar keras lagi; nyali saya enggan memuncak, meninggi; seperti yang biasa saya lakukan beberapa tahun lalu. Seperti yang biasa saya gadangkan bertahun-tahun lalu.

Ke manakah dia? Ke manakah saya? Semudah itukah terbunuh rutinitas? Terbunuh luapan materi penghancur kualitas?

Lalu, ketika saya mulai membaca tulisan si A, tulisan si B, tulisan si C, sama seperti tahunan lalu–saat saya melihat karya-karya desain para kerabat–rasanya, saya sudah tertinggal jauh di sana-sini. Seperti terjatuh ke sebuah lubang hitam yang sama, untuk kesekian kalinya. Seperti terhisap ke dalamnya, terperosok di sana, lalu terperangkap lekat.

Dan, ketika siuman, saya sadar, saya (kembali) seperti makhluk kopong tanpa isi. Tanpa keinginan. Tanpa kemauan. Tanpa khayalan.

#np ljósið – ólafur arnalds

-kandela-

Lovanometer

Jakarta, 14 Februari 2015,

“Saya cinta kamu.”

“Saya apalagi, lebih cinta sama kamu.”

“Tau dari mana, kamu lebih cinta sama saya, daripada saya yang cinta sama kamu?”

“Tau aja.”

“Sotoy. Emang ada indikator pengukurnya? Cih!”

Ya. Perbincangan biasa yang sudah puluhan kali kita lakukan. Puluhan kali kita lafalkan. Pun, sudah puluhan kali pula kita debatkan. Saya akan berkata: “Saya lebih cinta sama kamu”. Dan, kamu pun akan melawannya: “Saya sepuluh kali lipat lebih cinta sama kamu”.

Lalu, tiba-tiba saya, kamu, berandai-andai. Berkhayal. Bermimpi di siang bolong, sangat siang bolong, tepat di jam 12 siang.

Gimana ya, kalau beneran ada alat pengukur besarnya perasaan cinta? Perasaan sayang?

Itu yang terbesit di pikiran saya. Pikiran kamu. Ya. Pikiran kita.

Mungkin, kalaupun ada, alat itu bernama “Lovanometer”. Mungkin. Dan mungkin, kalaupun “cinta” itu merupakan sebuah besaran, maka satuannya disebut dengan “amor”, diambil dari bahasa Latin untuk kata “cinta”. Ya. Mungkin.

Lantas, coba saya, kamu, ya, kita bersama-sama pikirkan secara matang, bagaimana alat “Lovanometer” itu bekerja. Mungkin dia akan mulai berfungsi jika sudah berkenaan dengan panca indera. Dengan sentuhan. Dengan tatapan. Dengan penciuman. Dengan mendengar. Dengan mengecap rasa.

Mungkin dia seperti jangka sorong, yang akan mengukur berapa diameter pupil mata saya, pupil matamu, saat kita saling bertatap muka. Saling mencuri pandang.

Mungkin dia seperti thermometer, yang akan mengukur suhu tubuh saya, suhu tubuhmu, saat kita berdua bersama. Saling menyentuhkan ujung kelingking masing-masing secara sembunyi-sembunyi.

Mungkin juga dia berfungsi seperti sound level meter, yang akan mengukur seberapa bising debaran di dalam jantung saya, jantungmu, saat saya, saat kamu, saling memanggil nama. Saling menyapa.

Mungkin juga dia berfungsi layaknya amperemeter, yang akan mengukur seberapa besar arus listrik yang akan mengalir antar satu sama lain. Antara saya dan kamu. Saat kita tidak sengaja bertemu. Saat mata kita tidak sengaja “berjanji” untuk saling berjumpa.

Ataukah, dia berfungsi serupa stopwatch, yang akan mengukur berapa relativitas waktu yang kita alami, saat saya, saat kamu, saling bercerita. Saling berbagi kisah tanpa tahu jeda.

Mungkin nilai cinta saya sebesar 1.000.000 Amor. Dan, mungkin nilai cintamu, lebih kecil 1 Amor, dari besaran cinta saya untuk kamu. Nilaimu: 999.999 Amor.

Dan, nilai sesepele itu bisa membuktikan, kalau saya lebih cinta sama kamu, dari pada kamu yang cinta saya.

Mungkin angka 1 Amor-mu tertinggal di jalan. Mungkin angka 1 Amor-mu sudah kamu hibahkan kepada yang memerlukan. Atau mungkin, angka 1 Amor-mu kamu tabung, kamu simpan, agar kelak berlipat ganda, lebih dari nilai cinta yang sudah dimiliki sebelumnya.

Tapi, lagi-lagi, saya, kamu, berpikir keras. Berpikir terlalu keras. Karena kita sama-sama seorang pemikir. Pengkhayal. Pemimpi di siang bolong.

Cinta bukan sesuatu yang bisa diukur, bukan?

Ya. Karena, setiap waktu, angka itu bisa berubah. Bisa bertambah. Bisa berkurang. Bisa juga stagnan. Bisa berpindah. Tapi, bisa juga hanya tersimpan, ya, tersimpan di tempatnya. Di sebuah pandora tersembunyi, yang hanya diketahui saya. Diketahui kamu.

Tapi, yang terpenting–tanpa peduli, siapa yang lebih, siapa yang kurang–satu hal yang saya tahu: saya itu cinta kamu. Tanpa perlu ukuran. Tanpa perlu nominal. Tanpa perlu syarat A. Atau syarat B. Ataupun syarat C.

Dan, saya tahu pasti, untuk saya, untuk kamu, itu lebih dari cukup.

Setuju kan, kamu?

#np Hellogoodbye – Oh, It Is Love

Oh, it is love, from the first time I set my eyes upon yours,
Thinking, oh, is it love?

-kandela-

Dengan kaitkata

Semoga Cepat Sembuh, Kaum Kalajengking!

Jakarta, 11 Februari 2015,

“Gua sih enggak masalah kehilangan temen, karena temen yang sebenernya itu bakal mengerti dengan sendirinya, kok!” 

Kamu mengucapkannya lantang. Seakan tanpa ada kata ragu sekalipun. Memang, kamu bukan orang yang mengenal diksi itu: diksi yang bersifat abu-abu, bersifat nisbi. Raut wajahmu pun datar, seakan hal itu bukan sebuah kisah yang memberatkan pundakmu sama sekali. Lalu, kamu mengakhirinya dengan senyummu yang biasa. Dengan kulit-kulit mengerut di ujung mata. Dengan pupil yang sedikit menyipit. Dengan nada yang tak ada bedanya dengan suaramu saat berbincang biasa.

Tapi, itu keahlian kita, para kaum kelahiran Kalajengking, bukan? Para kaum Scorpio? Keahlian kita, untuk berpura-pura bahwa kita kuat. Kita baik-baik saja. Kita bisa hidup sendiri. Kita tidak lemah, sama sekali tidak lemah, begitu yang akan kita katakan pada diri sendiri, bukan? Yang akan kita yakini dalam hati, meskipun nyatanya kita tidak pernah seyakin itu, bukan?

Karena saya, kamu, kita, adalah pembohong yang handal. Penipu ulung. Pengecoh hebat. Pendusta yang luar biasa. Ya. Mungkin, kamu saat ini tengah memakai topeng bedak 12 senti, gincu yang melebihi bibir, dan pipi buatan yang merah merona, seolah-olah kamu selalu menebar senyum manis di waktu 12 jam-mu bersosialisasi.

Lantas, 12 jam sisanya, kamu lebih suka berdiam, dengan tatapan tanpa arti, dengan bola-bola pikiran yang kamu sembunyikan, yang tak kasat mata. Kamu menikmati dimensimu yang mungkin dipenuhi nelangsa, mungkin disusupi bayangan hitammu, yang tak bisa saya sentuh. Tepatnya, tak boleh saya sentuh. Mungkin, menurutmu, itu ruang pribadimu. Ruang sakralmu. Ruang sucimu.

Mungkin, di dalamnya, di dalam cangkang rahasiamu itu, kamu ingin menangis sekencang-kencangnya. Kamu ingin berteriak sekeras-kerasnya. Kamu ingin menusukkan sembilu ke dalam hatimu yang sebenarnya sudah terluka.

Lalu, saya ingat, ketika ada orang yang berkata: “Dia itu enggak ngerasain sakit. Dia itu enggak ngerasain apa-apa, dia enggak rugi apa-apa”.

Rasanya, saya tahu alasan membenci mereka–orang-orang semacam itu, yang mengambil asumsi sepihak saja. Lalu bertindak A, bertindak B, bertindak C, sesuka hati mereka. Yang hanya asal tolerir. Hanya asal mengusung kata: “Teman itu segalanya”, tanpa tahu duduk permasalahannya. Tanpa tahu cerita dari berbagai pihak. Ya. Berbagai pihak.

How can I believe those people with that thought, anyway? 

Dan, kamu, ya, kamu bukan orang yang seperti itu. Kamu, yang kini berusaha tersenyum, setidaknya, bagi saya, dia, mereka, yang melihatmu sebagai orang biasa, yang bisa merasakan sakit. Pahit. Perih.

Ya. Kamu, yang telah tertusuk dalam, dengan kata-kata sederhana: “Gua udah enggak respek sama lo”, dari seseorang yang sebenarnya sangat berharga untukmu. Untuk seorang kamu–si super hebat yang selalu tersenyum ceria.

Mungkin, sekarang, kamu hanya akan berbalik, melihat saya, dan berkata: “Saya baik-baik aja, kok!”.

Lalu, lagi-lagi, kamu tersenyum seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.

So don’t tell me that I have it easy, I’m just better at hiding it than most. 

(Unknown Quote) 

Di saat-saat tertentu, menangis itu perlu, kok. 🙂

And, of course, I’ll be your shoulder to cry on, whenever, wherever. 

-kandela-

Dengan kaitkata

Kepada: Dunia, Tempat Saya, Tempat Dia, Bisa Menjadi Kita

Jakarta, 10 Februari 2014,

Somewhere in my dreamland was rainy morning there,
your eyes kept on telling me you were scared to go outside.
You held my hand and whispered: “I just never ever want to wake up”

Dia menyebutmu: entah berantah. Sebuah planet, daratan, dunia, dimensi, yang dikerubungi oleh anomali di sana-sini. Ketika gravitasi tak lagi berfungsi. Ketika air hujan tak lagi jatuh ke tanah, tetapi melayang-layang di antaranya. Ketika awan berwarna merah muda berada di atas sana, lalu bisa tersentuh dengan leluasa.

Ya. Kamu–sang entah berantah–adalah gumpalan tanah dengan bunga rumput liar di sepanjang daratannya. Kamu yang akan berdiam, lalu hanya tersenyum, ketika melihat saya, melihat dia, menari-nari di sekitarnya, di sekitar rerumputan berwarna merah muda.

Lalu kamu ikut menyelimuti saya, menyelimuti dia, dengan kumpulan spektrum yang disebut-sebut bernama “pelangi” oleh para kaum bumi.

Dan kamu memerintahkan penghunimu untuk bernyanyi riang, untuk merayakan saya, merayakan dia, yang baru saja bertatap muka denganmu, yang baru menjadi sepasang nomad di daerahmu. Ya. Nomad serupa pasangan yang baru melarikan diri. Kawin lari, istilahnya.

Tentunya, kamu–sang entah berantah–tahu, bahwa saya, bahwa dia, sudah mencarimu sejak sekian lama. Mencarimu, yang desas-desusnya, merupakan dunia di alam bawah sadar saya, alam bawah sadar dia. Tempat saya, tempat dia, tempat kami bisa bercanda-berbincang-saling bertatap-dan tenggelam dalam dimensi rahasia–antara saya, antara dia–dengan bebasnya. Tanpa ada mata yang mematai. Tanpa ada hati yang mendumal dalam-dalam. Tanpa ada lafal yang menyakiti.

Lalu saya, lalu dia, akan terlelap dengan kelingking yang saling bertautan, seperti dua ujung tali yang terikat simpul. Saya, dia, akan saling meninggalkan senyum. Lalu, saling mengucap sepenggal kalimat: “Saya, kamu, telah menjadi kita”. Iya. Kita.

Kemudian, esok harinya, saya akan terbangun di tempat tidur saya, yang penuh dengan sobekan lembaran buku cerita, yang penuh dengan jejak-jejak air mata, yang penuh akan bola-bola mimpi berumur semalam saja.

Dan, dia–di sana–yang entah terbangun di mana. Entah dengan balutan selimut berwarna apa, biru ataukah jingga. Entah dengan limpahan minyak terlontar dari pori-pori kulit wajahnya, ataukah seperti saya–wajah yang sembab akan air mata. Entah dengan kenangan yang sama, atau berbeda. Entah dengan memori yang masih mengingat saya, atau sudah menghapusnya begitu saja. CTRL + ALT + DEL. 

Karena, saya, dia, menjadi kita, cuma ada di sana. Di duniamu. Planetmu. Tempat yang saya, yang dia, sebut, bernama entah berantah.

Jadi, pernahkah kamu ada, walaupun itu hanya berukuran sejengkal tanah?

Somewhere in my dreamland you showered me with thousand kisses
That’s your way to make amends when I thought you never cared
Oh your tears were killing me because I wished I felt the same
Somewhere in my dreamland…

-kandela-

Dengan kaitkata

Mungkin Saya Homesick

Jakarta, 24 Januari 2015,

Homesick
(adjective)
sad or depressed from a longing for home or family while away from them for a long time.

***

Dia termenung di depan layar komputer tabungnya yang telah berdebu. Menatap ke arah kotak-kotak surat imajiner yang hanya ada di dunia digital. Dunia tempatnya berselancar di kala siang. Dunia yang bisa membebaskannya dari ketakutannya akan kehilangan, keresahannya akan masa depan, kesedihannya akan sayapnya yang terkekang kencang.

Dia ingin bebas, secara sebenar-benarnya. Beranjak pergi dari rumahnya, dari tempat ia bermimpi, dari tempat ia melayangkan cita-citanya tepat di depan matanya, dari tempat yang ia anggap menjadi “kurungan” baginya selama ini. 

***

Ya. Kata orang, setiap manusia harus menikmati jarak, menikmati spasi dulu, agar perasaan “rindu” bisa bernapas sebagaimana mestinya.

Tepat 3 x 365 hari yang lalu, saya adalah orang itu, orang yang rasanya ingin kabur dari rumah, melupakan setiap pedih, setiap peluh, setiap air mata, setiap sakit, yang saya nikmati dari hari ke hari.

Saya adalah orang itu, orang yang begitu ingin mengejar mimpinya, mengejar cita-citanya, mengejar tantangan baru yang menghampirinya.

Ya. Saya adalah dia, yang tengah termenung hampa di depan layar komputer tabung tadi, yang menjadikan dunia maya sebagai dunianya, yang merasa berada dalam sebuah kurungan tanpa satupun jeruji besi.

Mungkin, saat ini, saya ingin memakinya, ya, memaki saya yang rasanya tak pernah bersyukur, kala itu. Yang cuma bisa mengeluh, kala itu. Yang cuma bisa ini. Cuma bisa itu.

Mungkin, saat ini, ada seperempat bagian dari saya, yang menyesal akan keputusan itu, keputusan untuk berkata “ya” pada ibukota. Berkata “ya” pada tempat saya berpijak saat ini. Berkata “ya” pada A. Pada B. Pada C.

Mungkin, saat ini, setengah bagian yang tersisa, tengah melanglang jauh ke satu buku memori yang masih ada di sana: di sebuah sudut kota kelahiran, yang berjalan sempit, yang berpohon rindang, yang dijejali bangunan kolonial tua beratap sirap, yang berangkot banyak, yang dipenuhi kedai-kedai kayu kecil sederhana, yang dihuni orang-orang berlogat sama, yang membuat saya-kamu-dia-kami-kalian-mereka enggan berpindah dari sana. Enggan menghapusnya dari pandangan. Dari bayangan. Dari ingatan.

Lalu, seperempat bagian sisanya, mencoba untuk bertahan di sini. Di tempat saya berdiri kini. Di tempat saya berusaha bertahan sendiri. Dengan hiruk pikuk yang ada. Dengan kultur yang jauh berbeda. Dengan rasa sepi yang sering datang dan menyiksa.

#nowplaying Mocca – Home
After a long long walk
I finally found my way
After a long long time
I finally found my place

Warm hug is a home 

I’ve found that I belong here
Warm hug is a home
I knew that I belong here

Warm hug is a home 

I’ve found that I belong here
Warm hug is a home
I knew that I belong here
-kandela-